Dua anak manusia yang suka berkelana, untuk menceritakan bahwa selalu ada kemesraan di setiap sisi bumi. Jun sebagai Fotografer dan Lidia sebagai Penulis.




Kami suka mengaitkan pengalaman perjalanan dengan potret Indonesia. Menurut kami, ketika ingin jadi pemimpin di Negeri ini, kami harus belajar memahami Indonesia dari segi apapun, karena Indonesia bukan sekedar tentang undang-undang saja, tapi tentang ragam budaya, suku dan lainnya. 





Dan kesemuanya paling nikmat dipelajari sambil kami berkelana dan bermesraan dengan apa yang ada di setiap sudut negeri ini.

Kami yakin setiap perjalanan memiliki sejuta makna, tidak ada perjalanan yang tidak memiliki daya tarik. Hal itu semua tergantung bagaimana kita bisa menikmatinya, bermesraan di setiap langkah berkelana ini.

Karena kami percaya bahwa kemesraan selalu ada di sisi bumi, maka kami akan menceritakannya, baik kemesraan antara manusia dan manusia, manusia dan Tuhan, ataupun manusia dan Alam.


Kerja sama hubungi :
mesraberkelana@gmail.com



Mesra Berkelana

by on February 26, 2016
Dua anak manusia yang suka berkelana, untuk menceritakan bahwa selalu ada kemesraan di setiap sisi bumi. Jun sebagai Fotografer dan Lidia ...
Setelah bagian satu dan dua saatnya saya menceritakan bagian ke-3 dari pendakian arjuno desember 2015 yang lalu.
Kami melakukan perjalanan selama sekitar 5 hari, tapi kali ini saya merasakan pendakian yang enak karena tanpa muncak, dan hanya sekedar camping bahagia. Dengan membawa perbekalan yang cukup banyak layaknya camping ceria makan-makan, saya merasakan efeknya yaitu berat badan naik drastis. Saya berpikiran ketika turun dari pendakian berat saya bisa turun 2 kiloan nah ini mala tambah 4 kilo jadi intinya naik arjuno itu bikin gendut, coba aja.
Next perjalanan hari kedua saya sudah tiba di pondokan cuaca saat itu sedang hujan gerimis manja, dan keesokan harinya kami semua beristirahat sekedar meracik makanan, membuat pop corn, minum sirup dan lainnya layaknya hidup di kerendahan.
 
Pop Corn ala ketinggian
Masak mieee aakkkk

Si Ndok lagi jelasin resep ketinggian
Jangan pernah berpikiran kalo di gunung cuma bisa makan mie, roti atau oat meal, tapi kita bisa masak-masak semuanya sesuka hati.
Camp kali ini nikmat sekali kerjaannya sekedar bercerita satu sama lain, tidur-tiduran di hotel ala-ala ketinggian ( Read : Tenda ), makan-makan, dan lainnya ( GIMANA GAK GENDUT AAAK).
Santai tapi menikmati mungkin judul pendakian yang cocok bagi kami.
Keesokan harinya beberapa dari kami sangat mager untuk menuju welirang, karena alasan sudah pernah muncak ke welirang sehingga  pendakian kali ini hanya sekedar santai-santai. Jadi, yang jalan menuju welirang hanya Arya (si cewek berjilbab hitam).
Jadilah Arya yang muncak ke welirang, dengan semangat yang tinggi dia bergegas berangkat bersama teman-teman Majapala (SMAN 1 Gresik).


Menurut cerita arya, pendakiannya hanya setegah perjalanan saja, karena angin yang begitu kencang dan rombongan pendaki dari Majapala mengkhawatirkan situasi yang buruk, akhirnya memutuskan untuk turun saja.
Beberapa hari di tenda membuat saya dan teman-teman menjadi sangat akrab, kami berempat menceritakan pendakian kami ke Arjuno di tahun-tahun yang lalu kepada Arya.
Maklum Arya ini baru pertama kali naik ke Arjuno dan dia datang jauh dari Jogjakarta. Jadi cerita kami membuat motivasi tersendiri untuk Arya mendaki ke Arjuno.
Selang beberapa jam akhirnya dengan penasarannya Arya, Arya melanjutkan perjalanan lagi ke Arjuno. Ntah mengapa temanku yang satu ini meski cewek tapi ga ada capek-capeknya.

Dan sukses Akhirnya Arya sampe di Puncak Arjuno dengan bahagia, dia meceritakan pada kami bahwa pendakian di gunung Jawa timur sangatlah berbeda dengan pendakian-pendakian di Jawa Tengah. Dia sangat antusias sekali dengan pendakian Arjunonya.




Corat-Coret Hobi Jaman Sekarang :3

Lembah kidang yang dirindukan

Menurut saya sendiri lembah kidang selalu menjadi tempat yang asik untuk berdiam diri sejenak, sambil melamun-melamun ria. Dengan suasana yang asri pikiran penatpun hilang seketika.
Setelah menuntaskan muncak Arjuno Welirang dalam sehari, akhirnya malam haripun kami berpesta-ria memasak berbagai menu dan makan-makan. Sungguh malam natal yang luar biasa.

Husst... mereka lagi sibuk sendiri meracik masakan.( Dari kiri : Arya, Manggala dan Ndok )


Akhirnya pendakianpun berakhir dengan gembira....

Pendakian ini bersama : @bhumiardarma (Cek Instagram)

Note : bhumiadarma ini adalah salah satu partner travel yang didirikan oleh beberapa manusia-manusia yang berusaha mengabdi kepada bumi, mereka ini memiliki motto yaitu " Mengabdi untuk bumi, Mual kalau hanya diam, memunguti sampahpun kami lakukan".
Mereka bisa membantu menemani perjalanan kalian.
Info selanjutnya Hub Email: bhumiadarma@gmail.com atau CP :085649736277 / 082131684826.






Oke, setelah banyak cerita yg nyeritai si Moli semua, sekarag giliran saya yang cerita. Kenalin, saya jun, yaudah gitu aja perkenalannya.
Agustus 2015 lalu, sepulang dari Lombok, saya nganggur, liburan masih panjang, dan ditinggal temen-temen ndaki Argopuro. Setelah mikir cukup lama, akhirnya nemu ide buat melipir tipis-tipis ke Pulau Bawean dan ngajakin 2 orang temen, Yogi dan Manggala. Siang hari saya berangkat beli tiket, besoknya berangkat. Untuk mencapai Pulau Bawean ini bisa dicapai dengan menggunakan kapal cepat dari Pelabuhan Gresik, sekarang bisa juga naik pesawat perintis dari Bandara Djuanda Surabaya. Singkat cerita, setelah 3 jam dimabuk lautan akhirnya saya sampai di Pulau Bawean. Sesampainya di Bawean saya langsung dijemput oleh saudara sepupu saya, maklum disana banyak keluarga, kan saya asli sana, hehehe.
Banyak bedanya Pulau Bawean dengan Pulau Jawa, baik dari segi lingkungan maupun budayanya. Perbedaan paling mencolok pertama apabila melalui jalur laut adalah warna laut, ya, warna laut. Kalo kita lihat di Pelabuhan Gresik lautnya itu kotor. Oli, tanah, minyak, nyampur jadi satu, karangnya gak keliatan, binatang lautnya susah napas, kasihan. Nah kalo di bawean, Pelabuhannya bersih, airnya masih iru, binatang lautnya sehat-sehat, ya walaupun belum sempet meriksa sih, pokoknya sehat. Nah perbedaan kedua adalah bahasanya, walaupun Pulau Bawean masuk dalam wilayah kabupaten gresik, tapi bahsanya lebih miirp Bahasa Madura walaupun sebenernya masih beda logat sama Madura.
Jadi masih bingung Orang Bawean termasuk suku apa? Yauda deh saya jelasin. Orang Bawen ya masuk Suku Bawean, bukan keturunan Madura atau Jawa. Nenek moyang orang Bawean adalah orang Bugis dan orang Melayu. Jadi ceritanya gini, dulu Pulau Bawean tidak berpenghuni, Pulau Ini hanya menjadi tempat singgah bagi kapal-kapal perantau Suku Bugis dan kapal pedagang dari sumatera dan Kalimantan. Nah, sebagian dari pelaut-pelaut itu menetap di Bawean dan menurunkan Suku Bawean, Suku Bawean ini ada jauh sebelum para prajurit majapahit dari jawa menemukan pulau ini. Udah gitu aja sejarahnya.
Di Bawean, saya gak sempet explore lebih banyak, tapi tetep ada yang diceritain kok. Kebetulan waktu itu saya nginep di rumah saya di Dusun Dedawang, disana susah sinyal, jadi asik suasana no gadget gitu. Yang paling asik di Dusun Dedawang ini pas lagi senja, warna langitnya manja-manja gitu, senja hari pertama di Dusun Dedawang ini saya menikmatinya di pinggir sawah, nah sawahnya ini langsung berbatasan dengan pantai dan laut, jadi senjanya jelas banget kalo dari sawah. Alasan lain kenapa senja di Dusun Dedawang ini bagus adalah karena Dusun Dedawang terletak di sisi barat Pulau Bawean, tau sendiri kan kalo senja pasti adanya di barat.
sunset dari kawasan persawahan dusun Dedawang
Besoknya, saya lanjut explore bawean, tujuan explore hari pertama ini yaitu menuju Tanjung Ga’ang, perjalanan dari Dusun Dedawang ke Tanjung Ga’ang ini memakan waktu sekitar 1 jam, karena jalannya jauh, harus melewati sawah, pedesaan, pinggiran, dan hutan jati, baru deh ketemu Pantai Tanjung Ga’ang. Oh iya Pantai Tanjung Ga’ang ini area yang berpasir cuma sedikit, kurang lebih hanya 20 meter, sedangkan area yang lain didominasi batu karang yang kokoh, bukan batu sih, tapi bukit, tapi dari batu, bingung? Sama.
Waktu saya dan temen saya kesana, pantainya sepi, Cuma ada kami ber-empat (saya, yogi, manggala, dan sepupu saya). Saking sepinya bahkan saya bisa telanjang di pantai itu, iya telanjang bulat.
area berpasir pantai tanjung ga'ang
area tebing karang di tanjung ga'ang

Sehabis dari Tanjung Ga’ang, karena keasyikan bermain dan berenang, ternyata pas balik udah sore, jadi langsung pulang aja, capek kan seharian jadi anak pantai, hahahaha.
Hari ke-2 kami berencana untuk keliling Pulau China dan menikmati senja disana. Pulau China ini terletak hanya sekitar 1 km arah barat dari rumah saya, jadi masih terletak di Dusun Dedawang. Pulau China pantainya gak ada yang bagus, 99% pantai berbatu dan licin, yang bagus dari Pulau China adalah sunsetnya, karena terletak di sisi barat Pulau Bawean dan langsung menghadap ke laut lepas. Selain sunsetnya, yang bagus lagi dari pulau ini adalah terumbu karangnya, tapi saat saya kesana ombak sedang besar, jadi kao snorkeling takut kebawa arus, dan saya waktu itu tidak membawa peralatan snorkeling. Jadilah saya hanya menikmati sunsetnya saja, ya walaupun batre kamera udah lowbat sih.
tebing batu di pulau cina
sunset di pulau cina
Hari ke-3, saya lanjut explore Bawean lagi, kali ini menuju danau vulkanik terluas ke 2 di Provinsi Jawa Timur, yaitu Danau Kastoba. Untuk mencapai Danau Kastoba dari Dusun Dedawang dibutuhkan waktu sekitar 30 menit. Sampai di desa terakhir, saya langsung parkir motor, dan langsung menaiki anak tangga yang konon katanya sudah berusia ratusan tahun, setelah meniki tangga dan tracking di dalam hutan selama 10 menit, akhirnya saya sampai ke Danau Kastoba. Sebenernya danau ini merupakan kawasan cagar alam, tapi gak tau undang-undangnya masih berlaku atau tidak. Danau Kastoba ini letaknya di tengah hutan yang belum terjamah, suasanya sepi dan sejuk. Kalo pengen kesini disarankan berangkat pagi hari karena sinar matahari belum terlalu terik, sehingga suasana hutan yang sejuk masih sangat terasa, pokoknya bener-bener damai deh di danau ini.
bermesraan dengan alam di Danau Kastoba #ceilaaaah, udah gak pake baju aja nih, siap bercumbu #flirtingwithnature

Bulan lalu saya berkunjung ke Kota Semarang, sekedar melipir tipis bersama saudara. Saat akhir pekan saya diajak ke Kabupaten Semarang, tepatnya di Tuntang. Sekalian berkunjung ke rumah teman, saya diajak mengunjungi Goa Rong.  Goa kecil ini terletak di Desa Delik, Tuntang, Kab. Semarang. Goa Rong ini terletak diatas sebuah bukit di tengah perkebunan karet yang luas.



Awal memasuki kawasan Goa Rong, akan terlihat pemandangan lima gunung yang indah-indang berjejer ria yaitu Gunung Ungaran, Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, Gunung Andong dan Gunung Telomoyo. Dan juga terlihat juga Rawa Peningnya loh.
Tarif untuk memasuki kawasan ini cukup murah hanya Rp.3000 untuk per-orangnya.


Mau bersantai ria, duduk-duduk, makan, berpiknik bersama keluarga cocok untuk datang kesini. Karena dengan ketinggian yang sekian ini tidak perlu kalian bersusah payah untuk jalan kaki. Bawa mobil juga oke.


Menurut saya tempat ini bikin hati sejuk gembira, dengan pemandangan yang hijau biru tanpa polusi cocok untuk ngilangin stress tipis-tipis.
Dari atas goa rong ini, untuk menuju goa rongnya saya harus menuruni beberapa anak tangga dulu. Sekitar 200an anak tangga harus saya lewati untuk mencapai goa rong.




Setelah menuruni anak tangga, sampailah ke Goa Rongnya. Disini saya melihat beberapa sesajen, mungkin Goa Rong ini digunakan sebagai tempat bertapa. Sayangnya dibagian beberapa batu di Goa Rongnya ada coretan-coretan, pelaku Vandalismenya ini aduhai kenapa ya gak sadar-sadar jadi sedih lihatnya. Dan ada beberapa bungkus makanan dan sampah kecil-kecil yang tidak dibuang pada tempatnya.


Abaikan posenya, jangan dibayangkan Goa Rong itu besar. Waktu saya tiba di lokasi ternyata goa rong itu kecil. Yang indah di tempat ini menurut saya adalah lokasi diatas goa rongnya.


Jadi buat yang ingin segerin mata sejenak, bisa berkunjung ria kesini. Kalau sekedar mau ngopi atau ngeteh ? jangan khawatir diatas goa rong ini ada cafe kecil yang menghadap ke lima gunung dan rawa peningnya loh.

Cara menuju kesana ? 


Minggu lalu kami berkunjung ke Kota Surakarta. Tempat yang kami kunjungi adalah Keraton Hadiningrat Surakarta. Mungkin sudah banyak yang mengenal tempat ini, dengan gaya bangunan tuanya serta cerita masa lalunya.

Waktu memasuki museum ini perasaan saya agak takut, maklum banyak sesajen juga disetiap celah barang-barang antiknya, membuat aroma mistis menjadi kental.  




Ada beberapa ruangan yang tampak gelap dan banyak juga sesajennya disetiap sudut ruangannya. Museum ini menjadi cerita yang abadi. Tentang pertikaian yang luar perbiasa dan perebutan tahta, kata kakek saya dulu hidup di lingkungan kerajaan ada suka dan dukanya.

Didalam Museum Keraton




Area Keraton

Patung pemberian dari Negara Belanda

Sesajen dimana-mana
Disini juga bisa asyik duduk-duduk sambil ngobrol ama kekasih hati eeuyy

Ceritanya keraton ini didirikan pada tahun 1744 oleh Susuhunan Pakubuwana II, bangunan ini dibangun sebagain ganti bangunan keraton yang terkena porak-poranda akibat geger pecinan pada tahun 1743.