Vietnam merupakan salah satu negara di Asia Tenggara dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Negara beribukota Hanoi ini pun juga mengembangkan sektor pariwisata sebagai pemasukan negara. 

Kota-kota tujuan wisata di Vietnam antara lain Kota Hanoi dan Kota Ho Chi Minh, kota terbesar di Vietnam. Selain itu daerah pantai di Vietnam merupakan tujuan utama wisatawan dan populer dengan tour pantainya.

Vietnam merupakan salah satu negara di Asia Tenggara dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Negara beribukota Hanoi ini pun juga mengembangkan sektor pariwisata sebagai pemasukan negara. Kota-kota tujuan wisata di Vietnam antara lain Kota Hanoi dan Kota Ho Chi Minh, kota terbesar di Vietnam. Selain itu daerah pantai di Vietnam merupakan tujuan utama wisatawan dan populer dengan tour pantainya. 

Namun, tahukah kamu bahwa Vietnam memiliki hal-hal unik yang perlu kamu ketahui sebelum kamu berlibur ke Vietnam?

Rumah Tinggi
sumber:dreamstime.com

Jika kamu berkunjung ke Vietnam, kamu akan menemukan rumah-rumah di daerah perkotaan berbentuk kecil namun tinggi menjulang. Rata-rata besar rumah tersebut hanya 4 meter, namun dibangun tinggi ke atas. Harga tanah yang mahal menyebabkan rumah-rumah di Vietnam dibangun demikian. Umumnya mereka membangun tanah warisan mereka menjadi rumah dengan beberapa lantai dengan harapan dapat menjadi tempat tinggal seluruh anggota keluarga.

Wanita-wanita cantik
Jika kamu melihat banyak wanita-wanita cantik bermain di film Vietnam, demikian pula yang akan kamu temukan sehari-hari di negara ini. Wanita-wanita Vietnam umumnya cantik-cantik dan memiliki kulit putih langsat. Selain itu mereka juga ramah dan sering mengenakan pakaian seksi.

Helm Khusus Perempuan
sumber:anitafeast.com

Ciri perempuan Vietnam kebanyakan berambut lurus dan panjang. Untuk itulah dibuat helm khusus perempuan yang bentuknya menyerupai topi dengan lubang dibelakang untuk kuncir kuda rambut mereka, sehingga saat berkendara mereka tidak perlu melepas ikatan rambut mereka.

Kopi Vietnam
Bagi kamu penggemar kopi, wajib mencicipi kopi Vietnam yang populer. Banyak yang bilang jika Vietnam merupakan surga kopi dan menghasilkan kopi terenak di dunia. Selain itu harga kopi Vietnam tidak begitu mahal. Ciri kopi Vietnam adalah rasanya yang khas namun ringan. Jadi jangan lewatkan menyesap kopi terenak di dunia ini.

Nama-nama Vietnam
sumber:mashable.com
Seperti yang banyak orang tahu, bahwa nama-nama orang Vietnam sulit diucapkan oleh lidah orang Eropa, maka para pekerja di sektor wisata mempunyai nama alias untuk memudahkan perkenalan saat melayani para wisatawan mancanegara.

Agama warga Vietnam
Menurut sensus kependudukan, mayoritas warga Vietnam mengaku tidak beragama. Sebagian kecil beragama Budha, Kristen dan Islam. Namun yang unik hampir di setiap rumah di Vietnam memiliki tempat sembahyang seperti persembahyangan Budha.

Kabel listrik
sumber:atimes.com

Jika kamu berwisata ke daerah perkotaan, kamu akan menemukan pemandangan kabel listrik yang semrawut bergelantungan di atas trotoar. Kabel-kabel itu terhubung satu dengan yang lain dan saling bertumpuk. Yang lebih unik lagi, kabel-kabel di atas terhubung pula dengan kabel-kabel di bawah tanah sehingga tampak banyak kabel yang menjuntai.

Kondisi Lalu lintas
sumber:maryscullyreports.com
Lalu lintas menjadi permasalahan besar di Vietnam. Membludaknya jumlah kendaraan membuat lalu lintas di Vietnam selalu macet dan semrawut. Ditambah lagi dengan banyaknya pengendara yang tidak mematuhi peraturan lalu lintas. Harap berhati-hati saat menyebrang jalan, karena banyak kendaraan yang menyerobot dari kiri dan kanan, serta tidak ada jembatan penyeberangan di Vietnam.

Semakin penasaran menikmati riuhnya negeri Vietnam? Segera atur jadwal liburanmu, dan temukan tiket pesawat yang tepat. Salah satu maskapai Indonesia yang menawarkan penerbangan ke Vietnam adalah Lion Air. 

Kamu bisa menemukan banyak penawaran tiket pesawat Lion Air menuju Vietnam dengan harga yang beragam. Harga tiket pesawat Lion Air ini bisa dipengaruhi oleh waktu pemesanan dan  musim liburan. Jika kamu memesan jauh-jauh hari, mungkin kamu bisa mendapatkan tiket pesawat Lion Air dengan harga rendah.

Selamat menjelajah Vietnam! 


Dari depan Surabaya North Quay
Siapa yang tak suka memandang rona senja di pinggir laut saat matahari tenggelam ? lebih-lebih saat otak sedang penat dan membutuhkan penyegaran.
Siang setelah berkeliling dengan mbak Aqied, kami melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Tanjung Perak. Jarang sekali saya menikmati sunset di pelabuhan ini, karena jarak yang jauh dari rumah, membuat saya malas untuk kesana. Memasuki pintu loket, saya dikenai tarif sebesar Rp.5000 (lima ribu rupiah) sudah termasuk satu kendaraan bermotor dan saya.

Waktu itu hari sabtu, pelabuhan masi sepi. Sepertinya tidak ada jadwal keberangkatan atau memang para penumpang belum ada yang datang. Setelah sampai di parkiran, saya, mbak Aqied dan mbak Okta langsung berebut ingin saling berfoto di depan pelabuhan.

Mbak Aqid di depan Pelabuhan
Jarang-jarang saya mendapatkan momen pas sepi-sepinya pelabuhan. Beberapa kali saya kesana, pelabuhan selalu ramai. Banyak orang memadati jalanan dan pintu masuk pelabuhan. Ada yang sedang tidur-tidur, membawa kasur lipat, membawa tikar dan sebagainya untuk menunggu jadwal keberangkatan kapal.

Memotret kapal-kapal dari dalam pelabuhan
Kondisi pelabuhan sudah berubah wajah, rasanya saat masuk seperti memasuki bandara, tampak bersih dan tidak kumuh lagi. Eskalatorpun berfungsi dengan baik, mesin-mesin atm juga sudah disediakan.Setelah berjalan agak jauh, saya memasuki ruangan dan menaiki eskalator. Sambil memotret ruangan disekitar, tiba-tiba mata saya tertuju ke arah lautan. Beberapa kapal sedang bersandar, dan ada juga yang sedang berjalan melanjutkan perjalanan berikutnya.

Lanjut ke lantai berikutnya tampak area food court. Food court ini biasanya setiap malam menampilkan penyanyi-penyanyi. Di dalam food court disediakan berbagai menu, jadi tinggal pilih ingin menyatap yang mana dan tak perlu takut kelaparan tentunya saat berkunjung ke Surabaya North Quay.

Saya berjalan lagi dan berkeliling disekitar pelabuhan. Karena cuaca yang masih cukup panas, saya memutuskan untuk duduk-duduk terlebih dahulu di rumput-rumput sintesis. Angin sepoy-sepoy membuat saya ngantuk, rasanya ingin rebahan dan tidur saja di sini. Saya, mbak Aqied dan mbak Okta saling berbincang, sesekali melihat situasi disekitar. Surabaya North Quay bisa menjadi opsi menikmati liburan bersama keluarga, melihat kapal-kapal yang bersandar atau sekedar duduk-duduk menikmati angin pelabuhan sambil rehat sejenak.
Beberapa kapal sedang bersandar di Pelabuhan
Berfoto di depan kaca-kaca

Menghabiskan sore di Surabaya North Quay merupakan ide yang bagus, karena semakin sore pesona sunset semakin terlihat cantik. Saya akhirnya mengambil posisi untuk sesegera mungkin mengabadikan momen sunset di pelabuhan ini, sesekali saya memandangi lautan dan matahari yang akan tenggelam. Beberapa gambar sudah saya abadikan, semakin larut malam para pengunjung yang berdatangan semakin ramai.
Abadikan sunset di Surabaya North Quay

Mau lihat sunset di Surabaya ? datang saja kesini




Tidak hanya sunset, saya juga menikmati gemerlapnya lampu-lampu di pelabuhan. Ah kalau kata mbak Aqied, lampu-lampu ini seperti lampu-lampu di Hongkong hahah. Beberapa kali kami saling bergantian untuk berfoto sambil menikmati malam panjang di Surabaya North Quay. Jadi apabila kalian bingung ingin menghabiskan sore santai dimana ? datang saja ke Surabaya North Quay.

Tips :
  1. Apabila ingin mengabadikan sunset dengan baik, setidaknya bisa datang lebih awal. karena jalanan kota Surabaya sering macet. Paling tidak jam 3 sore sudah tiba di lokasi.
  2. Tidak perlu takut kelaparan, karena ada banyak jajan di food court. Kamar Mandi, Musolla dan ATM juga tersedia.
  3. Biasanya kalau malam minggu lebih padat dan ramai, karena ada live music di food court. Apabila ingin datang waktu sepi, datanglah saat weekdays.
Tampak bagian depan sebelum memasuki area Pasar Malam Sekaten

Pasar Malam Sekaten merupakan Tradisi yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Demak (abad ke-16), Pasar Malam Sekaten ini diadakan setahun sekali menjelang Maulud Nabi.
Tahun 2016 lalu, tepat di bulan Desember saya dan Jun merencanakan untuk pergi ke Yogyakarta. Tujuannya tak lain adalah ingin melihat Gerebeg Maulud berserta prosesi lainnya. Akhirnya kami memutuskan untuk berangkat sehari sebelum prosesi Gerebeg Maulud dimulai.

Karena Gerebeg Maulud dilaksanakan keesokan harinya, akhirnya saya memutuskan untuk melihat Pasar Malam Sekaten. Memang terlihat biasa saja, namun Sekaten punya keunikan tersendiri lebih-lebih Sekaten ini hanya ada di Yogyakarta.

Tahun ini 2017, saya dan Jun kembali lagi ke Pasar Malam Sekaten. Pasar Malam Sekaten ini letaknya di area Alun-Alun Utara dekat dengan Keraton. Kami berangkat lebih awal yaitu setelah maghrib agar bisa menikmati Pasar Malam Sekaten dengan santai dan tidak terlalu berdesak-desakan. Tapi yang lebih penting adalah tempat parkiran belum begitu penuh sehingga kami bisa mendapatkan tempat parkir yang tidak terlalu jauh dari gerbang pintu masuk Pasar Malam Sekaten.

Bianglala di Pasar Malam Sekaten

Pasar Malam Sekaten cocok dikunjungi bagi yang suka keramaian. Semakin malam Pasar Sekaten ini semakin ramai dikunjungi, sehingga alangkah baiknya apabila membawa kendaraan diusahakan datang lebih awal, karena apabila datang terlalu malam, parkiran kendaaran sudah banyak yang penuh.

Pasar Malam Sekaten ini rutin diadakan setiap menjelang perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Hal ini diyakini bahwa dengan ikut merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, maka akan mendapatkan pahala. Di tahun 2017, sekaten diadakan mulai dari tanggal 10 November sampai 30 November yaitu puncak malam Maulud Nabi.

Saat mengunjungi Pasar Malam Sekaten, tidak perlu bingung. Karena di sini tersedia aneka jajanan, makanan, dan minuman. Jajanan di Pasar Malam Sekaten tersedia berbagai macam, mulai dari telor bulet, sempol ayam, kerak telor, bakso dll. Harga aneka jajanan ini dimulai dari harga Rp.5000. Begitu juga minuman yang dijual ada banyak variannya, mulai dari thai tea, mangoo boom, air mineral, es krim dll, minumannya pun dimulai dari harga Rp.2500.


Aneka Jajanan

Arum Manis

Bagi yang ingin mencoba aneka wahana permainan rakyat, Pasar Malam Sekaten menghadirkan, mulai dari Bianglala, Ombak Banyu, Kora-Kora dan masih banyak lagi. Harga perwahana berbeda-beda dimulai dari harga Rp.8000.


Kapal Sumbu yang dijual di Pasar Malam Sekaten

Bagi penggemar pakaian bekas branded, kalian juga bisa cari di Pasar Malam Sekaten, biasanya disebut dengan Awul-awul. Di tempat ini kalian bisa menemukan banyak sekali yang menjual barang bekas, mulai dari jaket outdoor, flannel, celana jins dan masih banyak lagi, rata-rata harganya dimulai dari Rp20.000, hal terpenting harus sabar dan teliti apabila  ingin mendapatkan barang yang bagus.

Stand Pakaian Bekas atau disebut Awul-Awul 

Bagi penggemar pementesan setiap malam panggung di dekat Keraton selalu menampilkan pagelaran, mulai dari tari-menari yang dibawakan oleh anak-anak dari sanggar tari Jogja, dan anak-anak SD, atau melihat berbagai pementasan budaya.

Pementasan Tari-tarian

Ternyata banyak sekali yang bisa dilakukan di Pasar Malam Sekaten. Saya dan Jun selalu menikmati malam meriahnya Pasar Malam Sekaten. Jadi, kapan kalian mampir ke Pasar Malam Sekaten ?


Kami Berfoto di Pasar Malam Sekaten


Catatan :

  1. Usahakan datang lebih awal, jangan terlalu malam apabila ingin mendapatkan tempat parkir yang tidak terlalu jauh dari area Pasar Malam Sekaten. Rata-rata tarif parkirnya Rp.5000 per-motor.
  2. Amankan barang bawaanmu dengan baik, yang menggunakan ransel sebaiknya diletakkan di depan, agar tasmu tetap aman, karena Pasar Malam Sekaten selalu ramai dan terkadang berdesak-desakan.
  3. Apabila ingin membeli makanan atau minuman, usahakan bertanya mengenai harganya terlebih dahulu, karena terkadang harganya terlalu mahal dan rasanya tidak sesuai dengan harganya.
  4. Apabila ingin membeli pakaian bekas branded, pastikan teliti sebelum membeli karena ada beberapa stand yang tidak menerima pengembalian barang. Usahakan teliti mulai dari jahitan atau kancing.



Boonpring, Desa Wisata Sanankerto

Desa Sanankerto merupakan salah satu desa yang letaknya di Kabupaten Malang. Desa ini memiliki ciri khas tersendiri. Bergerak melalui potensi alamnya, kini Sanankerto merubah wajahnya menjadi lebih baik. Sanankerto cukup terkenal dengan kerajinan dari bambunya. Seperti namanya Desa Sanankerto ini diberi julukan sebagai Desa “ Boon Pring”.

Para pemuda setempatlah yang berkerja mengolah bambu-bambu ini

Kini Sanankerto berani bergerak, bermodalkan tekad penduduknya beserta potensi alam, lambat laun Sanankerto mulai dikenal oleh banyak masyarakat. Selain memiliki tempat wisata  bernuansa hutan bambu, Sanankerto juga mengolah hasil bambunya menjadi beberapa kerajinan tangan, mulai dari miniatur pohon bambu, rakitan kapal, asbak rokok dan lain sebagainya.

Kerajinan tangan tersebut dibuat oleh para pemuda-pemuda asli Sanankerto. Para pemuda membuat kerajinan tangan ini dengan sendirinya tanpa ada kursus atau bantuan-bantuan dari luar Sanankerto. Mereka selalu berusaha membuat kerajinan dengan sebaik mungkin. Hal ini dilakukan agar para pemuda bisa aktif dan tidak kehilangan mata pencahariaanya. Sekaligus mengurangi tingkat pengangguran bagi para pemuda khususnya disekitar Sanankerto. 

Alat-alat yang digunakan untuk membuat kerajinan bambu

Selain kerajinan tangan khas bambu, penduduk Sanankerto mayoritas bekerja sebagai pembuat tusuk sate atau tusuk sempol. Tusuk tersebut dibuat dari bambu dengan menggunakan alat tradisional maupun mesin canggih. 

Hasil kerajinan dari bambu

Saya berkesempatan untuk mendatangi rumah bu Jumiasih. Bu Jumiasih sehari-hari bekerja sebagai pembuat tusuk sate atau tusuk sempol. Namun, bu Jumiasih belum menggunakan mesin yang canggih, ia mengaku bahwa harga mesin untuk membuat tusuk sate ini cukup mahal,  sehingga ia masih menggunakan alat yang sederhana dan tentunya membutuhkan tenaga yang lebih. 

Bu Jumiasih sedang meraut bambu tanpa mesin

Tusuk sate atau tusuk sempol ini dihargai perkilonya sebesar lima ribu rupiah. Perhari bu Jumiasih mampu membuat tusuk sate sebanyak hampir lima kilo lebih. Tentu apa yang ia lakukan tidak sebanding dengan upah yang diterima. Namun, tekad dan kerja kerasnya terus ada demi kelangsungan hidupnya.



Setelah mengunjungi bu Jumiasih, saya mampir untuk undur diri dari rumahnya dan melanjutkan perjalanan lagi. Selanjutnya saya mengunjungi rumah pak Pujianwar, ia juga bekerja sebagai pembuat tusuk sate atau tusuk sempol, namun pak Pujianwar berbeda dengan bu Jumiasih. 

Tusuk sate dibuat menggunakan mesin

Pak Pujianwar telah menggunakan mesin yang canggih untuk membuat tusuk sate atau tusuk sempol. Tak jauh berbeda dengan bu Jumiasih, pak Pujianwar juga menjual tusuk satenya sebesar lima ribu rupiah perkilonya. Mesin yang ia beli ini hasil menabung. Dengan menggunakan mesin, pak Pujianwar cukup santai mengerjakan pesanan tusuk satenya karena tidak terlalu mengeluarkan banyak tenaga.
Bambu utuh sebelum diolah


Konsep desa wisata memang patut diacungi jempol, melalui sikap gotong-royongnya, kini Sanankerto menjadi desa wisata yang siap untuk lebih maju. Bukan hanya itu saja, Sanankerto perlahan merubah wajahnya, menjadi desa yang lebih nyaman, makmur dan tentram.

Info selengkapnya : 

 Alamat Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kab. Malang, Jawa Timur

Telp: 0838-4882-4802 (Mas Rudi)/ 08533-167-4242 (Mas Wahyudi)

Awalnya saya iseng, dan tercelutuk obrolan soal perjalanan. Dari obrolan perjalanan tersebut, keluarlah keinginan-keinginan naik kereta. Saya punya teman kebetulan dia berasal dari kota Bima, Nusa Tenggara Barat. Dia bercerita bahwa selama hidupnya ia tidak pernah naik kereta api sama sekali, padahal ia sudah 4 tahun  tinggal di Jogja. 

Akhirnya melalui pertimbangan yang singkat, saya mengajak Sidah untuk naik kereta. Saya berpikiran untuk mengajaknya ke kota Solo, karena harga tiketnya yang murah, dan tidak perlu menginap. Jadi, kami melakukan perjalanan singkat di Solo selama 1 hari, dan sorenya kami balik ke Yogyakarta lagi. 

Sehari sebelum keberangkatan sidah sudah berpesan, “ Mol pokok aku manut kamu aja loh ya, semuanya yang nentuin kamu loh, aku gatau apa-apa ‘’. Dengan cepat saya membalas, “ beres deh santai ‘’. Malam harinya saya memikirkan rute perjalanan untuk besok, di kepala saya sudah banyak tempat yang ingin saya tuju.

Pagi harinya kami berkumpul jam set 7 pagi, namun sebelumnya saya sengaja bilang agar kumpul jam 6 pagi, hal ini untuk mengantisipasi tertinggal kereta atau bangun kesiangan. Setelah berkumpul saya dan teman-teman lainnya bersiap berangkat menuju stasiun. Begitu juga Mbak Nana ( Pink Traveller), kami sudah saling kontak dan bertemu di Stasiun Lempuyangan.

Stasiun Lempuyangan

Jam 7 kurang kami sudah tiba di Stasiun Lempuyangan. Setelah melakukan chek in, kami masuk dan menunggu datangnya kereta. Saat kereta datang, saya sudah siap dan masuk ke dalam gerbong, dengan aura yang uyel-uyelan dan berdiri, saya jadi ketawa sendiri dan menikmati perjalanan. Saat berangkat kami tidak mendapatkan kursi kosong, dan akhirnya saya, Mbak Na, dan 2 teman saya berdiri, sedangkan sidah dia mendapatkan kursi. Batin saya “ ah syukurlah kalau begitu semoga menjadi moment yang baik di awal naik kereta api ‘’. 

Kurang lebih 45 menit saya berdiri, setibanya di Stasiun Purwosari, para penumpang mulai turun. Beberapa kursi sudah mulai kosong, akhirnya saya bisa duduk walau hanya sebentar, karena Stasiun Solo Balapan merupakan tujuan akhir saya. 

Tiba di Solo Balapan, Mbak Na langsung memesan taxi online, dengan perasaan agak cemas karena posisi kami masi dekat dengan stasiun, akhirnya kami dibentak-bentak oleh supir taxi konvensional. Dan berujung kami agak berjalan jauh sedikit dari Stasiun Solo Balapan.

Tujuan awal saya adalah mengunjungi Pasar Gede. Karena Pasar Gede sendiri letaknya tidak terlalu jauh dari Stasiun Solo Balapan, sekitar 2 km. Tiba di pasar Gede, saya sangat antusias dan langsung berfoto di depan bangunan Pasar Gede. Pasar Gede sendiri letaknya di daerah Jl. Jend. Urip Sumoharjo. 

Wajah Pasar Gede

Saya selalu suka dengan bangunan di sekitar Pasar Gede. Bangunan kuno-kuno ini selalu memanjakan mata saya. Masuk ke area Pasar Gede, saya langsung mampir ke tempat jajanan pasar, setelah memilih, saya memutuskan untuk membeli timus. Timus merupakan jajanan yang terbuat dari ubi yang sudah dilumatkan lalu di dalamnya diisi coklat, sehingga setelah melalui proses penggorengan, coklat di dalam timus akan meleleh. Jajanan di Pasar Gede rata-rata dibandrol dari harga Rp.1.500. Timus sendiri rasanya manis, tapi menurut saya sih lebih enak disajikan saat dalam keadaan panas, jadi lumer coklatnya terasa.

Aneka jajanan pasar

Selanjutnya saya pindah ke penjual lenjongan. Lenjongan merupakan campuran aneka jajan pasar yang isinya terdiri dari gethuk, cenil, kelepon dan lainnya. Selanjutnya bagian atasnya ditaburi parutan kelapa dan diberi gula merah, perporsinya dipatok dengan harga Rp. 5000.

Lenjogan

Dari lenjongan, saya mampir ke pecel ndeso. Pecel ndeso ini menurut saya unik, karena bumbu pecelnya sendiri bukan terbuat dari kacang, melainkan dari wijen. Dan bumbu pecelnya pun berwarna hitam. Dua teman saya memesan pecel ndeso, Famus memesan pecel ndeso dengan isi bihun dan mie, sedangkan Sidah memesan pecel ndeso dengan isi nasi merah. Saat di pecel ndeso ternyata ada menu lain yang dijual yaitu brambangan asem. Brambangan asem sendiri merupakan makanan yang berisi sayuran berupa kangkung ( kalau gak salah) dan dibumbui bumbu manis-manis, selanjutnya diberi tempe mendoan. Untuk harga perporsinya semuanya ini dipatok seharga Rp. 5000.

dua teman saya sedang memesan pecel ndeso

Pecel Ndeso tanpa nasi

Brambangan Asem

Setelah membeli beberapa makanan, tidak afdol rasanya kalau belum minum es dawet. Saya mampir ke es dawet milik bu Pon. Es dawet ini seperti es dawet pada umumnya. Yang membedakan adalah es dawet ini diberi selasih. Mungkin selasih inilah yang membuat rasa es dawet lebih segar. Semangkok es dawet ini di hargai Rp.6000.

Es dawet selasih Bu Pon

Setelah memesan es dawet, waktunya saya mencoba beberapa menu makanan yang telah dibeli.  Awal saya mencoba es dawet, es dawet sendiri porsinya kecil, menurut saya rasanya tidak terlalu manis, karena ada selasihnya, selasih ini membuat es dawet semakin segar, ditambah ketan hitamnya yang enak. 

Selanjutnya saya mencoba brambangan asem. Brambangan asem sendiri isinya terdiri dari sayuran dan mendoan, lalu disiram saus manis pedas. Untuk pecel ndesonya saya mencoba yang isinya bihun dan mie kuning, menurut saya sih untuk mienya kurang enak seperti sudah terlalu lama, untuk sayuran yang telah disiram bumbu pecel rasanya enak. Awalnya saya mengira bumbu pecel dari wijen ini rasanya akan aneh di lidah, ternyata tidak.

Gempol Pleret Bu Yami

Ibu Yami, Penjual Gempol Pleret di depan pintu masuk utama pasar gede

Sebelum pulang tak lupa saya mencoba minuman yaitu gempol pleret, isi gempol pleret sendiri ini terdiri dari kuah santan, ketan putih dan potongan dari serabi. Rasanya siang-siang seperti ini nikmat kalau minum es gempol pleret, buat yang tidak terlalu suka manis, boleh mencoba gempol pleret yang di jual oleh Ibu Yani. Perporsinya di beri harga Rp. 5000, mau mencoba ? sempatkan mampir saja ke Pasar Gede.

Setelah makan dan minum, saya memotret area Pasar Gede dan melakukan perjalanan selanjutnya.


 Bisa tonton selengkapnya di video ini

Jadi, kalian pernah jajan apa waktu ke Pasar Gede ? 

Bus keluar dari kapal dan melanjutkan perjalanan lagi menuju Terminal Mandalika Mataram. Sebetulnya Mataram bukanlah tujuan akhir, Bus ini akan berhenti terakhir di Terminal Bima.


Jalanan demi jalanan sudah dilalui, akhirnya satu persatu penumpang turun, termasuk dua mbak-mbak yang duduk diatas sound system.
Lagi-lagi saya mengantuk dan mulai lelah, nasi kotak yang saya dapat bus tadi pagi tidak saya makan. Mulut rasanya sudah pahit, badan juga mulai lelah dan ingin segera mandi.


Kurang lebih empat puluh menit perjalanan, akhirnya kamipun mengakhiri perjalanan dan tiba di Terminal Mandalika.Kami tidak turun didalam Terminal, kami turun di depan pintu masuk Terminal. Beberapa barang bawaan saya pegang dan saya bawa dengan erat, hal ini dilakukan untuk menghindari pengangkut barang yang terkadang meminta bayaran yang berlebihan.

Misal sudah diberi Rp.5000, minta tambahan Rp.10.000 dan seterusnya. 


Bawa barang bawaanmu dengan baik

Pengalaman ini juga pernah saya dapat dari ceritanya Mas Inggit (lajurpejalan.com) , waktu itu di Bima mas Inggit pernah dimintai uang secara paksaan, dan kondisi keuangan sudah menipis, jadi Mas inggit menggertak kuli barang tersebut. Awalnya sudah diberi uang, tapi masi mengeluh kurang. Padahal tidak minta dibawakan barangnya.

Setelah turun dengan selamat, akhirnya kami berjalan menuju ke warung untuk membeli beberapa kebutuhan sekaligus mencari informasi mengenai angkot yang akan kami tumpangi nanti. Setelah mendapatkan informasi saatnya kami mulai berjalan kaki untuk keluar dari Terminal Mandalika.


Kami berjalan untuk sampai ke sisi jalan raya tempat bemo lewat. Setelah itu kami menunggu bemo berwarna putih, setelah mendapatkan bemo dan bernego harga, dapatlah harga deal Rp.12000  perorang rute dari Jalanan depan masuk Terminal Mandalika sampai Pelabuhan menuju Gili Trawangan.

Sangat murah meriah

Karena perjalanan cukup jauh, pertama melewati perkotaan disusul masuk ke hutan yang berkelak-kelok dan lainnya.

Waktu tempuh kami sangat lama, saat hendak menuju pelabuhan karena bemo ini berhenti-berhenti terus untuk mengambil barang-barang yang akan diantar ke Gili. Sampai-sampai pada akhirnya Jun sudah mulai lelah dan kesal sendiri dengan bapak supir.

Saya sampai ingat betul, melewati Toko MJM saja sudah lebih dari 6x sampai saya mulai hafal dengan jalanan itu. Tapi bagaimanapun juga harus tetap bersabar.

Setelah kurang lebih satu jam berputar-putar keliling, akhirnya mobilpun berhenti di pertokoan sepeda. setelah bapak supir memasukkan beberapa barang, Jun akhirnya bertanya " Pak, mau sampai kapan ini ? Masih lama ya "

Pak supir, " Oh, engga ini sungguhan yang terakhir, habistu berangkat, tunggu ya "

Dengan wajah yang sudah mulai lelah Jun hanya menganggukkan kepala.

Dan pada akhirnya mobilpun berjalan menuju pelabuhan.


Tips 
  • Sebelum turun dari bis, chek barang-barang kamu agar tidak ada yang tertinggal di bis.
  • Saat turun di Terminal Mandalika, usahakan bawa barang-barangmu dengan baik, pastikan tidak terbawa oleh kuli barang (dibawakan) dan minta upah. karena terkadang mereka bisa meminta upah dengan harga tidak wajar. (Kecuali memang minta dibawakan ya)
  • Saat turun di Terminal Mandalika, sebaiknya turun di depan Gerbang saja, agar nantinya saat keluar mencari bemo, kamu tidak terlalu berjalan jauh.
  • Pilihlah angkutan/ bemo yang ramai agar kamu cepat diantarkan sampai ke Tujuanmu, karena kalau sepi seperti saya tadi (kosong penumpang), bisa-bisa bemo/angkutan tersebut memilih ngetem dulu dan menunggu penumpang. 






Pukul 11:00 Wib saya dan Sidah bergegas berangkat ke Stasiun Lempuyangan. Keberangkatan kami kali ini untuk memesan tiket Prameks. Kami sengaja tidak memesan tiket secara go showGo Show adalah pemesanan tiket yang dilakukan pada hari keberangkatan ( minimal 3 jam sebelum keberangkatan ), karena menurut saya memesan tiket go show sangat ribet dan takut tidak kebagian tiket, maka saya memilih memesan H-1 keberangkatan.

Tiba di stasiun, saya mengambil nomor antrian terlebih dahulu, selanjutnya saya mengisi formulir untuk membeli tiket. Formulir dapat diisi hanya 4 data penumpang, data yang diisi diantaranya meliputi nama, no KTP atau SIM, untuk data pemesan yang diisi adalah nama, no telepon, dan alamat.





Awalnya saya mencari info terlebih dahulu mengenai pemesanan tiket prameks, saya bertanya-bertanya ke grup, sempat ada yang mengirimkan screenshoot dan tertera tulisan “ Maksimal pemesan memesan empat tiket”. Namun tulisan tersebut saya abaikan saja.

Saat itu saya mendapatkan nomor antri 290, sedangkan antrian yang dipanggil baru nomor urut 170, itu berarti saya harus menunggu 100 antrian lagi untuk bisa membeli tiket di loket. Sambil menunggu antrian saya dipanggil, saya mengisi data diri, berulang kali saya mengecek data diri dan memastikan benar. Selanjutnya saya browsing jam keberangkatan dan kepulangan dari Lempuyangan – Solo Balapan dan sebaliknya.

Saya akhirnya memesan tiket Prameks keberangkatan pagi untuk jam 7:18 Wib dari Lempuyangan, dan turun di Stasiun Solo, sebaliknya untuk kepulangan saya memesan untuk jadwal sore hari pada hari yang sama pukul 16:10.

Setelah penantian hampir 2 jam, nomor urut saya dipanggil, lalu saya dan Sidah maju ke loket 4 untuk melakukan transaksi. Pada saat itu saya menyerahkan dua lembar formulir yang berisi lima data penumpang, total yang harus saya pesan adalah sepuluh tiket PP untuk keesokan harinya.

Saat memesan saya sempat bingung, karena petugas menawarkan mau kertas yang atas nama Sidah atau Maulidia yang dipesan. Lalu saya bilang “ Mbak, semuanya total ada 10 tiket ya” , si Mbak menjawab “ Gak boleh mbak, maksimal 4 tiket”, saya masih saja tidak faham maksudnya, lalu saya menjawab “ Oh yasudah mbak itu nama saya, mau saya tulis ulang di kertasnya Sidah ‘’. Si mbak mengangguk, tapi saya masih saja bingung.  Lalu si Mbak menjelaskan kembali kembali kepada saya “ Begini mbak, mbaknya hanya boleh beli tiket berjumlah 4, apabila mbaknya ingin beli tiket lagi, mbak harus ambil nomor antrian lagi”.

Setelah melalui penjelasan yang rinci dan jelas akhirnya saya faham, untungnya sebelum dipanggil nomor antrian 290, saya sempat iseng mengambil nomor antrian lagi dan mendapatkan nomor antri 337. Untunglah nomor antrian tersebut belum saya buang, selanjutnya nomor antrian tersebut saya berikan ke Sidah.

Transaksi di loketpun telah berakhir, Sidah masi belum mendapatkan tiket sama sekali. Akhirnya kami berdua menunggu antrian lagi untuk nomor antri ke 337. Sambil menunggu, Sidah menulis ulang data diri di kertas formulir yang baru untuk 3 tiket keberangkatan saja, dan kami memilih tiket pulang dibeli pada keesokan harinya.

Setelah hampir satu jam, nomor antrian kami dipanggil maju ke loket nomor 3. Sebelum maju ke loket, saya sempat melihat ibu-ibu membeli tiket lebih dari 4 lembar sekaligus, saya sempat gemas dan jengkel, karena saya tahu jelas bahwa ibu tersebut membeli tiket dengan satu nomor antrian.

Setelah di depan loket, Sidah menyerahkan data form kepada mbak petugas, lalu mbak petugas menanyakan “ Ini apa beli tiket PP?, jam dan waktunya sudah tepat ya ? data dirinya sudah lengkap ? ‘’, lalu Sidah menjawab “ Oh iya mbak PP ini, boleh ya mbak ?’’, petugas menjawab “ Oh iya mbak gak apa-apa, totalnya Rp 48.000”, Sidah menjawab “ Oh iya mbak ini” petugas menjawab “ Mohon dicek lagi ya mbak ?” Sidah menjawab “ Oke mbak sudah benar terima kasih”.

Setelah tiga jam menunggu akhirnya kami pulang, untunglah kami tidak jadi membeli tiket go show untuk kepulangan besok, dari Stasiun Balapan Solo.

Tips
  1. Pastikan kamu berangkat lebih awal, agar mendapatkan nomor antri yang tidak terlalu lama dan jangan berangkat sore hari apabila ingin membeli tiket di loket ( bukan untuk go show) karena dipastikan nomor antrian sudah habis terlebih dahulu.
  2. Sebelum ke Stasiun jangan lupa membawa bolpoint (karena biasanya tidak ada), dan pastikan sudah mengecek jadwal keberangkatan dan kepulangan.
  3. Apabila kamu ingin memesan lebih dari empat tiket, pastikan kamu mengambil nomor antrian lagi, karena satu nomor antrian hanya boleh empat tiket. (terkecuali petugas memberikan kelonggaran sehingga kamu bisa beli lebih dari empat tiket dalam satu nomor antrian)






Sekitar pukul 20:00 Wib tibalah kami di kota Situbondo, berhenti sebentar untuk istirahat dan makan malam. Setelah 15 Menit kami makan, kami melanjutkan perjalanan kami kembali.

Pada awalnya bis terisi penuh sesuai dengan kursi yang ada, namun ketika sampai di Banyuwangi penumpang bus makin lama makin banyak, rasanya bus ini mulai sesak. Yang harusnya digunakan untuk ruang jalan didalam bis, nyatanya pihak bus menambahkan kursi-kursi plastik untuk penumpang tambahan. Dan juga ada yang duduk diatas sound system.

Waktu itu saya hanya tertawa dan batin, karena PO ini ngakunya bis eksekutif namun yang terjadi adalah seperti naik bis ekonomi. Sesak, agak panas dikit, terlebih kaki tidak bisa berselonjor sedikit dikarenakan bis sudah penuh dan sesak, ditambah depan saya adalah penumpang-penumpang kursi plastik, belum lagi depan toilet digunakan untuk orang tidur jadi ketika akan ke toilet saya harus membangunkan orangnya.

Anggap saja ini lelucon potret keragaman transportasi Indonesia

Bus melanju cukup cepat, kami tiba di Gilimanuk sekitaran pukul 22:00 dan segera berangkat menuju pulau Bali.
Perjalanan Jawa- Bali ditempuh kurang lebih satu jam setengah menggunakan kapal ferry. Tiba di Pelabuhan Ketapang bus melaju dengan kencang, sekitar  pukul 6:00 Pagi tibalah kami di Terminal Denpasar.
Perasaan saya saat itu hanya senang, karena perjalanan yang menyebalkan ini sebentar lagi akan berakhir.

Di Denpasar beberapa penumpang turun, tidak bagi dua mbak-mbak yang duduk di belakang saya (duduk di atas sound system ) .
Perjalanan dilanjutkan dari Bali menuju Pelabuhan Padang Bai lalu menuju Pelabuhan Lembar.

Durasi waktu dari Bali menuju Padang Bai sekitar tiga jam, setibanya di Pelabuhan Padang Bai kami diberi nasi kotakan berisikan ayam suwir, sambal dan kerupuk. Saya tidak memakannya karena lambung kondisi tidak enak, mulai lelah dan mual-mual.

Waktu itu saya duduk disebelah Ibu-Ibu, kebetulan tujuan kami sama. Pagi itu Ibu banyak bercerita, memberi tahu kami agar tetap berhati-hati saat turun di Terminal Mandalika. Tas-tas harus tetap dibawa sendiri, karena biasanya kuli-kuli tas sering nakal. Mereka suka seenaknya mengambil tas para penumpang yang turun untuk dibantu membawa namun lucunya disini adalah kuli-kuli ini sering sekali meminta uang jasa yang cukup banyak untuk sekali angkat, dan ada juga yang memaksa.

Diperjalanan kami hanya dimintai untuk berhati-hati, dan tipsnya adalah selalu sigap membawa tasnya dan bilang sudah dijemput, begitu kata beliau.

Perjalanan Bali menuju pulau Lombok menggunakan kapal ferry membutuhkan waktu sekitar enam jam. Hawa saya hanya mengantuk, tidak bergairah dan gerah sekali karena saya mengenakan flannel agak tebal.


Saya terkantuk-kantuk, mata sudah cukup merah. Tapi Jun masi dengan asiknya mengajak ngobrol saya. Hingga pandangan jun hilang dari saya dan saya tertidur pulas di kursi meja-meja yang letaknya di sisi kiri kapal ferry.

Ini wajah lelah dan ngantuk saya tapi masi mau nahan ketawa 

Saya hanya merasakan hembusan angin laut, tidur saya lelap. Dua jam saya sukses tertidur di kursi sambil melipat tangan dengan keadaan menatap meja. Setelah cukup lama tidur saya terbangun, kapal masi belum saja merapat ke Pelabuhan. Pada akhirnya saya memotret lautan dan bukit-bukit yang ada.

“ Kapal akan segera merapat, mohon periksa barang-barang anda ''

Para penumpang bergegas untuk turun ke bawah, dan masuk ke kendaraan masing-masing.


Hati saya semakin senang, karena ingin segera membersihkan badan dan perjalanan selama 28 Jam ini akan berakhir.