Awalnya saya iseng, dan tercelutuk obrolan soal perjalanan. Dari obrolan perjalanan tersebut, keluarlah keinginan-keinginan naik kereta. Saya punya teman kebetulan dia berasal dari kota Bima, Nusa Tenggara Barat. Dia bercerita bahwa selama hidupnya ia tidak pernah naik kereta api sama sekali, padahal ia sudah 4 tahun  tinggal di Jogja. 

Akhirnya melalui pertimbangan yang singkat, saya mengajak Sidah untuk naik kereta. Saya berpikiran untuk mengajaknya ke kota Solo, karena harga tiketnya yang murah, dan tidak perlu menginap. Jadi, kami melakukan perjalanan singkat di Solo selama 1 hari, dan sorenya kami balik ke Yogyakarta lagi. 

Sehari sebelum keberangkatan sidah sudah berpesan, “ Mol pokok aku manut kamu aja loh ya, semuanya yang nentuin kamu loh, aku gatau apa-apa ‘’. Dengan cepat saya membalas, “ beres deh santai ‘’. Malam harinya saya memikirkan rute perjalanan untuk besok, di kepala saya sudah banyak tempat yang ingin saya tuju.

Pagi harinya kami berkumpul jam set 7 pagi, namun sebelumnya saya sengaja bilang agar kumpul jam 6 pagi, hal ini untuk mengantisipasi tertinggal kereta atau bangun kesiangan. Setelah berkumpul saya dan teman-teman lainnya bersiap berangkat menuju stasiun. Begitu juga Mbak Nana ( Pink Traveller), kami sudah saling kontak dan bertemu di Stasiun Lempuyangan.

Stasiun Lempuyangan

Jam 7 kurang kami sudah tiba di Stasiun Lempuyangan. Setelah melakukan chek in, kami masuk dan menunggu datangnya kereta. Saat kereta datang, saya sudah siap dan masuk ke dalam gerbong, dengan aura yang uyel-uyelan dan berdiri, saya jadi ketawa sendiri dan menikmati perjalanan. Saat berangkat kami tidak mendapatkan kursi kosong, dan akhirnya saya, Mbak Na, dan 2 teman saya berdiri, sedangkan sidah dia mendapatkan kursi. Batin saya “ ah syukurlah kalau begitu semoga menjadi moment yang baik di awal naik kereta api ‘’. 

Kurang lebih 45 menit saya berdiri, setibanya di Stasiun Purwosari, para penumpang mulai turun. Beberapa kursi sudah mulai kosong, akhirnya saya bisa duduk walau hanya sebentar, karena Stasiun Solo Balapan merupakan tujuan akhir saya. 

Tiba di Solo Balapan, Mbak Na langsung memesan taxi online, dengan perasaan agak cemas karena posisi kami masi dekat dengan stasiun, akhirnya kami dibentak-bentak oleh supir taxi konvensional. Dan berujung kami agak berjalan jauh sedikit dari Stasiun Solo Balapan.

Tujuan awal saya adalah mengunjungi Pasar Gede. Karena Pasar Gede sendiri letaknya tidak terlalu jauh dari Stasiun Solo Balapan, sekitar 2 km. Tiba di pasar Gede, saya sangat antusias dan langsung berfoto di depan bangunan Pasar Gede. Pasar Gede sendiri letaknya di daerah Jl. Jend. Urip Sumoharjo. 

Wajah Pasar Gede

Saya selalu suka dengan bangunan di sekitar Pasar Gede. Bangunan kuno-kuno ini selalu memanjakan mata saya. Masuk ke area Pasar Gede, saya langsung mampir ke tempat jajanan pasar, setelah memilih, saya memutuskan untuk membeli timus. Timus merupakan jajanan yang terbuat dari ubi yang sudah dilumatkan lalu di dalamnya diisi coklat, sehingga setelah melalui proses penggorengan, coklat di dalam timus akan meleleh. Jajanan di Pasar Gede rata-rata dibandrol dari harga Rp.1.500. Timus sendiri rasanya manis, tapi menurut saya sih lebih enak disajikan saat dalam keadaan panas, jadi lumer coklatnya terasa.

Aneka jajanan pasar

Selanjutnya saya pindah ke penjual lenjongan. Lenjongan merupakan campuran aneka jajan pasar yang isinya terdiri dari gethuk, cenil, kelepon dan lainnya. Selanjutnya bagian atasnya ditaburi parutan kelapa dan diberi gula merah, perporsinya dipatok dengan harga Rp. 5000.

Lenjogan

Dari lenjongan, saya mampir ke pecel ndeso. Pecel ndeso ini menurut saya unik, karena bumbu pecelnya sendiri bukan terbuat dari kacang, melainkan dari wijen. Dan bumbu pecelnya pun berwarna hitam. Dua teman saya memesan pecel ndeso, Famus memesan pecel ndeso dengan isi bihun dan mie, sedangkan Sidah memesan pecel ndeso dengan isi nasi merah. Saat di pecel ndeso ternyata ada menu lain yang dijual yaitu brambangan asem. Brambangan asem sendiri merupakan makanan yang berisi sayuran berupa kangkung ( kalau gak salah) dan dibumbui bumbu manis-manis, selanjutnya diberi tempe mendoan. Untuk harga perporsinya semuanya ini dipatok seharga Rp. 5000.

dua teman saya sedang memesan pecel ndeso

Pecel Ndeso tanpa nasi

Brambangan Asem

Setelah membeli beberapa makanan, tidak afdol rasanya kalau belum minum es dawet. Saya mampir ke es dawet milik bu Pon. Es dawet ini seperti es dawet pada umumnya. Yang membedakan adalah es dawet ini diberi selasih. Mungkin selasih inilah yang membuat rasa es dawet lebih segar. Semangkok es dawet ini di hargai Rp.6000.

Es dawet selasih Bu Pon

Setelah memesan es dawet, waktunya saya mencoba beberapa menu makanan yang telah dibeli.  Awal saya mencoba es dawet, es dawet sendiri porsinya kecil, menurut saya rasanya tidak terlalu manis, karena ada selasihnya, selasih ini membuat es dawet semakin segar, ditambah ketan hitamnya yang enak. 

Selanjutnya saya mencoba brambangan asem. Brambangan asem sendiri isinya terdiri dari sayuran dan mendoan, lalu disiram saus manis pedas. Untuk pecel ndesonya saya mencoba yang isinya bihun dan mie kuning, menurut saya sih untuk mienya kurang enak seperti sudah terlalu lama, untuk sayuran yang telah disiram bumbu pecel rasanya enak. Awalnya saya mengira bumbu pecel dari wijen ini rasanya akan aneh di lidah, ternyata tidak.

Gempol Pleret Bu Yami

Ibu Yami, Penjual Gempol Pleret di depan pintu masuk utama pasar gede

Sebelum pulang tak lupa saya mencoba minuman yaitu gempol pleret, isi gempol pleret sendiri ini terdiri dari kuah santan, ketan putih dan potongan dari serabi. Rasanya siang-siang seperti ini nikmat kalau minum es gempol pleret, buat yang tidak terlalu suka manis, boleh mencoba gempol pleret yang di jual oleh Ibu Yani. Perporsinya di beri harga Rp. 5000, mau mencoba ? sempatkan mampir saja ke Pasar Gede.

Setelah makan dan minum, saya memotret area Pasar Gede dan melakukan perjalanan selanjutnya.


 Bisa tonton selengkapnya di video ini

Jadi, kalian pernah jajan apa waktu ke Pasar Gede ? 

Bus keluar dari kapal dan melanjutkan perjalanan lagi menuju Terminal Mandalika Mataram. Sebetulnya Mataram bukanlah tujuan akhir, Bus ini akan berhenti terakhir di Terminal Bima.


Jalanan demi jalanan sudah dilalui, akhirnya satu persatu penumpang turun, termasuk dua mbak-mbak yang duduk diatas sound system.
Lagi-lagi saya mengantuk dan mulai lelah, nasi kotak yang saya dapat bus tadi pagi tidak saya makan. Mulut rasanya sudah pahit, badan juga mulai lelah dan ingin segera mandi.


Kurang lebih empat puluh menit perjalanan, akhirnya kamipun mengakhiri perjalanan dan tiba di Terminal Mandalika.Kami tidak turun didalam Terminal, kami turun di depan pintu masuk Terminal. Beberapa barang bawaan saya pegang dan saya bawa dengan erat, hal ini dilakukan untuk menghindari pengangkut barang yang terkadang meminta bayaran yang berlebihan.

Misal sudah diberi Rp.5000, minta tambahan Rp.10.000 dan seterusnya. 


Bawa barang bawaanmu dengan baik

Pengalaman ini juga pernah saya dapat dari ceritanya Mas Inggit (lajurpejalan.com) , waktu itu di Bima mas Inggit pernah dimintai uang secara paksaan, dan kondisi keuangan sudah menipis, jadi Mas inggit menggertak kuli barang tersebut. Awalnya sudah diberi uang, tapi masi mengeluh kurang. Padahal tidak minta dibawakan barangnya.

Setelah turun dengan selamat, akhirnya kami berjalan menuju ke warung untuk membeli beberapa kebutuhan sekaligus mencari informasi mengenai angkot yang akan kami tumpangi nanti. Setelah mendapatkan informasi saatnya kami mulai berjalan kaki untuk keluar dari Terminal Mandalika.


Kami berjalan untuk sampai ke sisi jalan raya tempat bemo lewat. Setelah itu kami menunggu bemo berwarna putih, setelah mendapatkan bemo dan bernego harga, dapatlah harga deal Rp.12000  perorang rute dari Jalanan depan masuk Terminal Mandalika sampai Pelabuhan menuju Gili Trawangan.

Sangat murah meriah

Karena perjalanan cukup jauh, pertama melewati perkotaan disusul masuk ke hutan yang berkelak-kelok dan lainnya.

Waktu tempuh kami sangat lama, saat hendak menuju pelabuhan karena bemo ini berhenti-berhenti terus untuk mengambil barang-barang yang akan diantar ke Gili. Sampai-sampai pada akhirnya Jun sudah mulai lelah dan kesal sendiri dengan bapak supir.

Saya sampai ingat betul, melewati Toko MJM saja sudah lebih dari 6x sampai saya mulai hafal dengan jalanan itu. Tapi bagaimanapun juga harus tetap bersabar.

Setelah kurang lebih satu jam berputar-putar keliling, akhirnya mobilpun berhenti di pertokoan sepeda. setelah bapak supir memasukkan beberapa barang, Jun akhirnya bertanya " Pak, mau sampai kapan ini ? Masih lama ya "

Pak supir, " Oh, engga ini sungguhan yang terakhir, habistu berangkat, tunggu ya "

Dengan wajah yang sudah mulai lelah Jun hanya menganggukkan kepala.

Dan pada akhirnya mobilpun berjalan menuju pelabuhan.


Tips 
  • Sebelum turun dari bis, chek barang-barang kamu agar tidak ada yang tertinggal di bis.
  • Saat turun di Terminal Mandalika, usahakan bawa barang-barangmu dengan baik, pastikan tidak terbawa oleh kuli barang (dibawakan) dan minta upah. karena terkadang mereka bisa meminta upah dengan harga tidak wajar. (Kecuali memang minta dibawakan ya)
  • Saat turun di Terminal Mandalika, sebaiknya turun di depan Gerbang saja, agar nantinya saat keluar mencari bemo, kamu tidak terlalu berjalan jauh.
  • Pilihlah angkutan/ bemo yang ramai agar kamu cepat diantarkan sampai ke Tujuanmu, karena kalau sepi seperti saya tadi (kosong penumpang), bisa-bisa bemo/angkutan tersebut memilih ngetem dulu dan menunggu penumpang. 






Pukul 11:00 Wib saya dan Sidah bergegas berangkat ke Stasiun Lempuyangan. Keberangkatan kami kali ini untuk memesan tiket Prameks. Kami sengaja tidak memesan tiket secara go showGo Show adalah pemesanan tiket yang dilakukan pada hari keberangkatan ( minimal 3 jam sebelum keberangkatan ), karena menurut saya memesan tiket go show sangat ribet dan takut tidak kebagian tiket, maka saya memilih memesan H-1 keberangkatan.

Tiba di stasiun, saya mengambil nomor antrian terlebih dahulu, selanjutnya saya mengisi formulir untuk membeli tiket. Formulir dapat diisi hanya 4 data penumpang, data yang diisi diantaranya meliputi nama, no KTP atau SIM, untuk data pemesan yang diisi adalah nama, no telepon, dan alamat.





Awalnya saya mencari info terlebih dahulu mengenai pemesanan tiket prameks, saya bertanya-bertanya ke grup, sempat ada yang mengirimkan screenshoot dan tertera tulisan “ Maksimal pemesan memesan empat tiket”. Namun tulisan tersebut saya abaikan saja.

Saat itu saya mendapatkan nomor antri 290, sedangkan antrian yang dipanggil baru nomor urut 170, itu berarti saya harus menunggu 100 antrian lagi untuk bisa membeli tiket di loket. Sambil menunggu antrian saya dipanggil, saya mengisi data diri, berulang kali saya mengecek data diri dan memastikan benar. Selanjutnya saya browsing jam keberangkatan dan kepulangan dari Lempuyangan – Solo Balapan dan sebaliknya.

Saya akhirnya memesan tiket Prameks keberangkatan pagi untuk jam 7:18 Wib dari Lempuyangan, dan turun di Stasiun Solo, sebaliknya untuk kepulangan saya memesan untuk jadwal sore hari pada hari yang sama pukul 16:10.

Setelah penantian hampir 2 jam, nomor urut saya dipanggil, lalu saya dan Sidah maju ke loket 4 untuk melakukan transaksi. Pada saat itu saya menyerahkan dua lembar formulir yang berisi lima data penumpang, total yang harus saya pesan adalah sepuluh tiket PP untuk keesokan harinya.

Saat memesan saya sempat bingung, karena petugas menawarkan mau kertas yang atas nama Sidah atau Maulidia yang dipesan. Lalu saya bilang “ Mbak, semuanya total ada 10 tiket ya” , si Mbak menjawab “ Gak boleh mbak, maksimal 4 tiket”, saya masih saja tidak faham maksudnya, lalu saya menjawab “ Oh yasudah mbak itu nama saya, mau saya tulis ulang di kertasnya Sidah ‘’. Si mbak mengangguk, tapi saya masih saja bingung.  Lalu si Mbak menjelaskan kembali kembali kepada saya “ Begini mbak, mbaknya hanya boleh beli tiket berjumlah 4, apabila mbaknya ingin beli tiket lagi, mbak harus ambil nomor antrian lagi”.

Setelah melalui penjelasan yang rinci dan jelas akhirnya saya faham, untungnya sebelum dipanggil nomor antrian 290, saya sempat iseng mengambil nomor antrian lagi dan mendapatkan nomor antri 337. Untunglah nomor antrian tersebut belum saya buang, selanjutnya nomor antrian tersebut saya berikan ke Sidah.

Transaksi di loketpun telah berakhir, Sidah masi belum mendapatkan tiket sama sekali. Akhirnya kami berdua menunggu antrian lagi untuk nomor antri ke 337. Sambil menunggu, Sidah menulis ulang data diri di kertas formulir yang baru untuk 3 tiket keberangkatan saja, dan kami memilih tiket pulang dibeli pada keesokan harinya.

Setelah hampir satu jam, nomor antrian kami dipanggil maju ke loket nomor 3. Sebelum maju ke loket, saya sempat melihat ibu-ibu membeli tiket lebih dari 4 lembar sekaligus, saya sempat gemas dan jengkel, karena saya tahu jelas bahwa ibu tersebut membeli tiket dengan satu nomor antrian.

Setelah di depan loket, Sidah menyerahkan data form kepada mbak petugas, lalu mbak petugas menanyakan “ Ini apa beli tiket PP?, jam dan waktunya sudah tepat ya ? data dirinya sudah lengkap ? ‘’, lalu Sidah menjawab “ Oh iya mbak PP ini, boleh ya mbak ?’’, petugas menjawab “ Oh iya mbak gak apa-apa, totalnya Rp 48.000”, Sidah menjawab “ Oh iya mbak ini” petugas menjawab “ Mohon dicek lagi ya mbak ?” Sidah menjawab “ Oke mbak sudah benar terima kasih”.

Setelah tiga jam menunggu akhirnya kami pulang, untunglah kami tidak jadi membeli tiket go show untuk kepulangan besok, dari Stasiun Balapan Solo.

Tips
  1. Pastikan kamu berangkat lebih awal, agar mendapatkan nomor antri yang tidak terlalu lama dan jangan berangkat sore hari apabila ingin membeli tiket di loket ( bukan untuk go show) karena dipastikan nomor antrian sudah habis terlebih dahulu.
  2. Sebelum ke Stasiun jangan lupa membawa bolpoint (karena biasanya tidak ada), dan pastikan sudah mengecek jadwal keberangkatan dan kepulangan.
  3. Apabila kamu ingin memesan lebih dari empat tiket, pastikan kamu mengambil nomor antrian lagi, karena satu nomor antrian hanya boleh empat tiket. (terkecuali petugas memberikan kelonggaran sehingga kamu bisa beli lebih dari empat tiket dalam satu nomor antrian)






Sekitar pukul 20:00 Wib tibalah kami di kota Situbondo, berhenti sebentar untuk istirahat dan makan malam. Setelah 15 Menit kami makan, kami melanjutkan perjalanan kami kembali.

Pada awalnya bis terisi penuh sesuai dengan kursi yang ada, namun ketika sampai di Banyuwangi penumpang bus makin lama makin banyak, rasanya bus ini mulai sesak. Yang harusnya digunakan untuk ruang jalan didalam bis, nyatanya pihak bus menambahkan kursi-kursi plastik untuk penumpang tambahan. Dan juga ada yang duduk diatas sound system.

Waktu itu saya hanya tertawa dan batin, karena PO ini ngakunya bis eksekutif namun yang terjadi adalah seperti naik bis ekonomi. Sesak, agak panas dikit, terlebih kaki tidak bisa berselonjor sedikit dikarenakan bis sudah penuh dan sesak, ditambah depan saya adalah penumpang-penumpang kursi plastik, belum lagi depan toilet digunakan untuk orang tidur jadi ketika akan ke toilet saya harus membangunkan orangnya.

Anggap saja ini lelucon potret keragaman transportasi Indonesia

Bus melanju cukup cepat, kami tiba di Gilimanuk sekitaran pukul 22:00 dan segera berangkat menuju pulau Bali.
Perjalanan Jawa- Bali ditempuh kurang lebih satu jam setengah menggunakan kapal ferry. Tiba di Pelabuhan Ketapang bus melaju dengan kencang, sekitar  pukul 6:00 Pagi tibalah kami di Terminal Denpasar.
Perasaan saya saat itu hanya senang, karena perjalanan yang menyebalkan ini sebentar lagi akan berakhir.

Di Denpasar beberapa penumpang turun, tidak bagi dua mbak-mbak yang duduk di belakang saya (duduk di atas sound system ) .
Perjalanan dilanjutkan dari Bali menuju Pelabuhan Padang Bai lalu menuju Pelabuhan Lembar.

Durasi waktu dari Bali menuju Padang Bai sekitar tiga jam, setibanya di Pelabuhan Padang Bai kami diberi nasi kotakan berisikan ayam suwir, sambal dan kerupuk. Saya tidak memakannya karena lambung kondisi tidak enak, mulai lelah dan mual-mual.

Waktu itu saya duduk disebelah Ibu-Ibu, kebetulan tujuan kami sama. Pagi itu Ibu banyak bercerita, memberi tahu kami agar tetap berhati-hati saat turun di Terminal Mandalika. Tas-tas harus tetap dibawa sendiri, karena biasanya kuli-kuli tas sering nakal. Mereka suka seenaknya mengambil tas para penumpang yang turun untuk dibantu membawa namun lucunya disini adalah kuli-kuli ini sering sekali meminta uang jasa yang cukup banyak untuk sekali angkat, dan ada juga yang memaksa.

Diperjalanan kami hanya dimintai untuk berhati-hati, dan tipsnya adalah selalu sigap membawa tasnya dan bilang sudah dijemput, begitu kata beliau.

Perjalanan Bali menuju pulau Lombok menggunakan kapal ferry membutuhkan waktu sekitar enam jam. Hawa saya hanya mengantuk, tidak bergairah dan gerah sekali karena saya mengenakan flannel agak tebal.


Saya terkantuk-kantuk, mata sudah cukup merah. Tapi Jun masi dengan asiknya mengajak ngobrol saya. Hingga pandangan jun hilang dari saya dan saya tertidur pulas di kursi meja-meja yang letaknya di sisi kiri kapal ferry.

Ini wajah lelah dan ngantuk saya tapi masi mau nahan ketawa 

Saya hanya merasakan hembusan angin laut, tidur saya lelap. Dua jam saya sukses tertidur di kursi sambil melipat tangan dengan keadaan menatap meja. Setelah cukup lama tidur saya terbangun, kapal masi belum saja merapat ke Pelabuhan. Pada akhirnya saya memotret lautan dan bukit-bukit yang ada.

“ Kapal akan segera merapat, mohon periksa barang-barang anda ''

Para penumpang bergegas untuk turun ke bawah, dan masuk ke kendaraan masing-masing.


Hati saya semakin senang, karena ingin segera membersihkan badan dan perjalanan selama 28 Jam ini akan berakhir.

Kalau berbicara tentang Yogyakarta memang tidak akan pernah ada habisnya, sekalinyapun ingin berlibur ke Yogya saat libur panjang tidak perlu takut kehabisan hotel. Yogya memang dikenal dengan berbagai macam tempat wisatanya sehingga para pelancongnya tidak pernah habis.

Menginap di Tjokro Style Yogyakarta bisa menjadi ide menarik saat menghabiskan libur panjang. Dengan  desain hotelnya yang simple dan menarik, membuat rasa nyaman tetap selau ada. Berbicara soal Tjokro Style, hotel ini terletak di Jl. Menteri Supeno No.48 Yogyakarta.

Saat memasuki lobby Tjokro Style, saya mendapati banyak sekali keunikan yang ada dalam hotel ini. Di beberapa dinding terdapat tulisan kata-kata, ada becak besar yang cocok untuk berfoto narsis pokoknya instagramable banget. Sewaktu chek in di bagian reservasi saya melihat keunikan pada dindingnya. Dinding tersebut dipasang kayu-kayu, dan kayu-kayu tersebut ditata sebagus dan serapih mungkin.

Hiasan kayu-kayu di dinding reservasi


Oiya jika kesini jangan khawatir tidak dapat berfoto, karena Tjokro Style sendiri disetiap areanya memiliki tempat yang instagramable banget, hal ini memang sesuai dengan konsep yang ditawarkan oleh Tjokro Style yaitu hotel dengan tampilan yang simple dan santai apalagi untuk para traveller yang sedang melancong.

Lagi lagi spot untuk berfoto 


Tjokro Style memiliki berbagai jenis kamar mulai dari tipe deluxe room dan superior room. Yang saya sukai dari kamarnya adalah tidak terlalu sempit, ada kulkasnya juga, dan ada beberapa snacknya, jadi bisa bersantai di dalam kamar sambil ngunyah. Untuk kamar mandinya didalamnya sudah disediakan seperangkat alat mandi (sikat gigi, pasta gigi, sabun, sampo dll)  dan ada juga hairdryernya.

Area Kamar

Area Kamar 

Kamar Mandi


Kamar Mandi


Untuk yang ingin mengadakan agenda meeting, Tjokro Style juga memiliki ruangan untuk meeting dan juga disediakan proyektor untuk memudahkan agenda meeting. Buat yang ingin mengadakan acara pesta, Tjokro Style sendiri memiliki ball room yang cukup luas dan dapat menampung sekitar 350 orang. Tjokro Style sendiri memiliki paket acara wedding mulai dari harga Rp. 15.000.000 untuk 150/pc.

Salah satu ruangan meeting


Ini di Ball room Tjokro Style, instagramable banget dan di dekorasi batik


Yang paling saya suka di Tjokro Style sendiri adalah desain restonya yang unik dengan atap yang dilapisi jendela-jendela kayu rumah jaman dahulu. Saya terkagum-kagum melihat desain atap resto Citrus di Tjokro Style yang terkesan simple dan instagramable dimana beberapa hiasannya terbuat dari barang-barang bekas yang dicat dan ditata sebaik mungkin.

Hiasan atap yang didekor menggunakan jendela bekas 


Menu-menu sarapannya juga beraneka macam mulai dari nasi, roti, mie, omelet, bubur dan lain sebagainya. Untuk menu favorit sendiri resto Citrus punya menu miendes tapi sayang waktu itu menu sedang kosong jadi saya belum berkesempatan untuk mencoba menu favoritnya.

Mie Ayam Resto Citrus

Sarapan pagi 

Aneka Kopi dan Teh


Hiasan di dinding Resto Citrus

Keunikan yang lain di  resto Citrus Tjokro Style adalah resto ini menyediakan menu jus healty dimana para pengunjung hotel bisa menikmati aneka jus yang sehat dengan cara menghidangkannya sendiri, mulai dari mengupas, memotong hingga memblender jusnya. Namun apabila tidak mau rumit, pengunjung boleh meminta bantuan untuk disajikan. Jenis buah atau sayur yang di jus juga bisa di mix mulai dari wortel, brokoli, pisang, apel, pepaya dan buah lainnya.

Salah satu menu sarapan di Resto Citrus, buat jusmu sendiri

Untuk pagi hari atau sore harinya paling asik duduk-duduk santai di area kolam berenang. Buat yang bisa berenang boleh renang sepuasnya, kolam renangnya juga tidak terlalu dalam hanya 1.5 meter saja untuk yang dewasa, sedangkan untuk yang anak-anak hanya setengah meter saja. Di area kolam renang juga tersedia ruangan  untuk spa, jadi bagi yang ingin merileksasikan tubuh agar kembali bugar bisa mencoba spa di Tjokro Style.


Kolam renang di Tjokro Style

Santai duduk-duduk di depan kolam Tjokro Style

Satu lagi, ternyata Tjokro Style ini juga memiliki area roof top. Nah buat yang ingin bersantai sore hari untuk lihat sunset juga bisa duduk-duduk di roof top ini. Dan yang tidak kalah asiknya di area roof top akan ada tempat karaokenya.

Salah satu area di roof top

Bisa lihat sekitaran Yogya dari atas

Intinya Tjokro Style ini cocok untuk siapa saja yang membutuhkan tempat penginapan yang nyaman, santai, namun tetap berkelas. Waktu saya tanya ke Mbak Silvie dia sempat bercerita bahwa konsep hotel ini memang apa adanya, dan menjauhkan dari kesan hotel-hotel yang umumnya orang-orangnya eksekutif dan berjas-jas.



Tjokro Style Yogyakarta 
Jl. Menteri Supeno No.48 Yogyakarta
Telp. (0274) 386200, Fax: (0274) 386858
HP Reservation : 081 226 30 30 30
reservation.yogyakarta@tjokrostyle.com
www.tjokrostyle.com