Skip to main content

Melihat Proses Pengolahan Bambu di Desa Sanankerto

Boonpring, Desa Wisata Sanankerto

Desa Sanankerto merupakan salah satu desa yang letaknya di Kabupaten Malang. Desa ini memiliki ciri khas tersendiri. Bergerak melalui potensi alamnya, kini Sanankerto merubah wajahnya menjadi lebih baik. Sanankerto cukup terkenal dengan kerajinan dari bambunya. Seperti namanya Desa Sanankerto ini diberi julukan sebagai Desa “ Boon Pring”.

Para pemuda setempatlah yang berkerja mengolah bambu-bambu ini

Kini Sanankerto berani bergerak, bermodalkan tekad penduduknya beserta potensi alam, lambat laun Sanankerto mulai dikenal oleh banyak masyarakat. Selain memiliki tempat wisata  bernuansa hutan bambu, Sanankerto juga mengolah hasil bambunya menjadi beberapa kerajinan tangan, mulai dari miniatur pohon bambu, rakitan kapal, asbak rokok dan lain sebagainya.

Kerajinan tangan tersebut dibuat oleh para pemuda-pemuda asli Sanankerto. Para pemuda membuat kerajinan tangan ini dengan sendirinya tanpa ada kursus atau bantuan-bantuan dari luar Sanankerto. Mereka selalu berusaha membuat kerajinan dengan sebaik mungkin. Hal ini dilakukan agar para pemuda bisa aktif dan tidak kehilangan mata pencahariaanya. Sekaligus mengurangi tingkat pengangguran bagi para pemuda khususnya disekitar Sanankerto. 

Alat-alat yang digunakan untuk membuat kerajinan bambu

Selain kerajinan tangan khas bambu, penduduk Sanankerto mayoritas bekerja sebagai pembuat tusuk sate atau tusuk sempol. Tusuk tersebut dibuat dari bambu dengan menggunakan alat tradisional maupun mesin canggih. 

Hasil kerajinan dari bambu

Saya berkesempatan untuk mendatangi rumah bu Jumiasih. Bu Jumiasih sehari-hari bekerja sebagai pembuat tusuk sate atau tusuk sempol. Namun, bu Jumiasih belum menggunakan mesin yang canggih, ia mengaku bahwa harga mesin untuk membuat tusuk sate ini cukup mahal,  sehingga ia masih menggunakan alat yang sederhana dan tentunya membutuhkan tenaga yang lebih. 

Bu Jumiasih sedang meraut bambu tanpa mesin

Tusuk sate atau tusuk sempol ini dihargai perkilonya sebesar lima ribu rupiah. Perhari bu Jumiasih mampu membuat tusuk sate sebanyak hampir lima kilo lebih. Tentu apa yang ia lakukan tidak sebanding dengan upah yang diterima. Namun, tekad dan kerja kerasnya terus ada demi kelangsungan hidupnya.



Setelah mengunjungi bu Jumiasih, saya mampir untuk undur diri dari rumahnya dan melanjutkan perjalanan lagi. Selanjutnya saya mengunjungi rumah pak Pujianwar, ia juga bekerja sebagai pembuat tusuk sate atau tusuk sempol, namun pak Pujianwar berbeda dengan bu Jumiasih. 

Tusuk sate dibuat menggunakan mesin

Pak Pujianwar telah menggunakan mesin yang canggih untuk membuat tusuk sate atau tusuk sempol. Tak jauh berbeda dengan bu Jumiasih, pak Pujianwar juga menjual tusuk satenya sebesar lima ribu rupiah perkilonya. Mesin yang ia beli ini hasil menabung. Dengan menggunakan mesin, pak Pujianwar cukup santai mengerjakan pesanan tusuk satenya karena tidak terlalu mengeluarkan banyak tenaga.
Bambu utuh sebelum diolah


Konsep desa wisata memang patut diacungi jempol, melalui sikap gotong-royongnya, kini Sanankerto menjadi desa wisata yang siap untuk lebih maju. Bukan hanya itu saja, Sanankerto perlahan merubah wajahnya, menjadi desa yang lebih nyaman, makmur dan tentram.

Info selengkapnya : 

 Alamat Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kab. Malang, Jawa Timur

Telp: 0838-4882-4802 (Mas Rudi)/ 08533-167-4242 (Mas Wahyudi)

Comments

  1. Liat pembuatan tusuk sate manual dan pakai mesin beda banget. Pakai mesin dalam satu menit bisa mendapatkan puluhan tusuk sate.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Laiya padahal habistu dibuang 😂, kasihan ibunya mas

      Delete
  2. Produk-produknya menarik ya mbak... tapi yang tak kagumi itu ya semangat gotong-royongnya itu.. dan akhirnya sudah bisa jadi Desa Wisata.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas kris menarik, nah itu kerennya memberdayakan masyarakat setempat.

      Delete
  3. Bahkan bikin tusuk sate juga sudah modern ya. Keren.
    Tapi harganya kayaknya muwurah polll. marebu per kilo :|

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas sudah modern 😆, nah itu kasihan hm semurah itu ya ga sebanding sama jerih payahnya

      Delete
  4. aku kemarin baru ke hutan pinus deket situ
    ternyata sentra kerajinan bambu ada di sana juga
    aku baru tau
    pernah liat orang jual ini di bakso presiden

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah iya mas, kayaknya di Malang semakin banyak hutan² pinus 🙈. Nah iya sepertinya dipasarkan di beberapa tempat

      Delete
  5. Keren mbak. Kreatif tapi tentunya jadi penghasilan.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terimakasih Pembaca Mesra Berkelana
Yuk jangan lupa kasi komentarnya. Siapa tahu kita ketemu dan jadi jalan bareng.

Popular posts from this blog

Begini Cara Membuat Telur Asin Asap di Desa Sanankerto

Setelah mengunjungi Desa Wisata Poncokusumo, tibalah waktunya untuk berangkatmenuju Desa Wisata Sanankerto. Desa Wisata Sanakerto ini terletak di Kecamata Turen, Kabupaten Malang. 
Jadi, apabila kalian mampir ke Turen ( yang terkenal masjid jinnya itu)  jangan lupa sempatkan mampir ke Desa Wisata Sanankerto. *dekat kok*

Saya dan tim #EksplorDeswitaMalang diantar menuju lokasi pembuatan telur asin. Hari itu kami diizinkan melihat proses pembuatan telur asin dari awal. 


Oiya jangan lupa disini tidak hanya menjual telur asin biasa tapi ada telur asin asap juga loh dan jangan lupa ada bebek ungkepnya juga. 

Cara membuatnya begini :
Pertama-tama siapkan telur bebek ( ini mentah loh ya ) , pastikan telur bebeknya sudah dicuci bersih dan siap diproses pada tahap berikutnya.   Setelah itu siapkan batu bata yg telah dihancurkan, jangan lupa beri garam dalam batu bata tersebut, lalu bungkus telur bebek dengan olahan batu bata tersebut.Proses selanjutnya diamkan dan tunggu selama kurang …

Jangan Sampai Tertinggal Bus Titian Mas #28JamMataramPart1

Hari itu kami berdua memutuskan untuk segera memesan tiket bus untuk tujuan ke Mataram. Kenapa kami memilih menggunakan bus ? padahal waktu itu harga tiket pesawat dengan tiket bus tidak jauh beda, mungkin selisih sekitar lima puluh ribuan. Jawabannya adalah ?

Karena perjalanan menggunakan bus menurut kami lebih menyenangkan, dan memiliki waktu panjang dan sekaligus banyak yang bisa kami dapat di perjalanan *Azek* Tentu sebagian orang bertanya-tanya “ Tiket Cuma beda 50, kok ya capek-capek kayak orang susah “ “ Ribet, kelamaan “ Dan perkataan lainnya.. Hahaha


Setelah memesan tiket, penantian begitu panjang yang ditunggu-tunggu akhirnya selesai. Kami siap dan berangkat menuju kota yang dikenal dengan seribu masjid apalagi kalau bukan Kota Mataram.



Siang itu kami menunggu bus di Terminal Bungurasih, bus akan berangkat tepat pukul 16:00 Wib. Sudah sekitar 2 jam kami menunggu bis. Pukul 15:30 Wib kami tetap menunggu diruang tunggu, sambil melihat-lihat dan mencari dari jauh awak bus kami. Kurang …

[REVIEW by Jun] Si Ganteng Pollock

Halo semua, apa kabar? Pada tulisan saya kali ini. Saya akan menulis review atau lebih tepatnya pengalaman pribadi saat menggunakan sepatu gunung Eiger Pollock. Basa-basi dulu ya, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sepatu sangat berperan penting dalam kegiatan petualangan khususnya pendakian gunung. Mungkin banyak yang meremehkan fungsi sepatu pada saat mendaki, dan memilih untuk memakai sandal saja, padahal sepatu sangatlah penting untuk menunjang keselamatan dalam pendakian. Saking pentingnya sepatu, sekarang ini sudah banyak sepatu yang dikhususkan untuk pendakian gunung. Lebih lanjut lagi, saking pentingnya sepatu bagi pendaki gunung, maka ada beberapa tips untuk memilih sepatu untuk pendakian. Diantaranya sebagai berikut: 1.Tips yang pertama adalah, usahakan memilih sepatu yang tipe mid cut atau high cut, untuk pendakian tidak disarankan menggunakan sepatu low cut. Bingung? Yaudah saya jelaskan, yang pertama adalah high cut, jenis sepatu ini memiliki ciri-ciri menutupi bagian tumit sam…