Karena banyaknya tugas, pernah disela-sela liburan saya mencoba untuk menginap di salah satu Airy Rooms di Yogyakarta. Saya mencari penginapan yang sekiranya desain interiornya unik, terasa nyaman dan gak kaku banget buat kawula muda yang mau menginap santai.


Saat Airyroom bagi-bagi voucher diskon, saya langsung buka aplikasi dan mencari, kira-kira mana ya yang desain kamarnya unik, dan gak jauh-jauh dari jalan utama. Kalau seperti ini menginap kapan aja bisa dengan Airy.
 
Pilihan saya jatuh pada Airy Caturtunggal Kenari 4. Hostel ini nama aslinya Woodpecker Pavilion. Saya lihat foto-foto kamarnya, dan menurut saya unik, desainnya simple ada tulisan-tulisan juga di dinding kamarnya. Tanpa berbasa-basi akhirnya saya booking tiket dan langsung bayar via Indomaret. 


Download aplikasinya di Play Store untuk memudahkan pemesananmu #KapanAjaBisa atau bisa cek di https://www.airyrooms.com/


Cara pemesanan Airy


Untuk bayarnya sendiri, Airyroom ini punya banyak cara. Jadi, gak perlu khawatir kalaupun misalnya di rekeningmu lagi kosong dana, kamu bisa mampir ke Indomaret dan bayar di sana. Oh ya Airy ini tidak pernah pelit, dan suka bagi-bagi promo. Kalau yang butuh promo-promonya bisa dicek di laman bagian ' Promo'.



Nah bisa dicek promo apa aja yang disediain oleh Airy di https://www.airyrooms.com/

Keesokan harinya saya langsung berangkat menuju Airy Caturtunggal 4 Kenari. Awal kedatangan, saya disambut dengan ramah sekali, oleh resepsionisnya. Ini merupakan pertama kalinya, saya mencoba menginap di Airy. Setelah check in, saya diberi card untuk masuk ke dalam kamar. 
 
Resepsionis 


 
Tempat mengambil sarapan di pagi hari, satu ruangan dengan resepsionis.

Ruang resepsionisnya tidak terlalu besar, hanya ada satu kursi panjang untuk tamu duduk dan tv. Di sebelah kiri meja resepsionis terdapat piring-piring untuk sarapan. Ruangannya mungil, namun tertata rapi. 

Untuk naik ke lantai atas, kamu tidak perlu capek-capek naik tangga. Karena di Airy room ini disediakan lift, jadi kamu bisa pergunakan lift untuk naik ke lantai selanjutnya. 

Di lantai dua terdapat cafe mini, tapi saat itu cafe sedang dalam proses perbaikan, jadinya saya belum bisa lihat dan coba-coba menu di sana. 

Saya kedapatan kamar di lantai 3, kamarnya dekat dengan lift. Saya mentap kartu dan mendorong pintu. Pintupun terbuka dan saya langsung melihat desain interior kamarnya. Kamarnya minimalis, nuansanya nyaman, meski tidak terlalu luas tapi saya tidak merasa sesak. Ada tulisan-tulisan di dindingnya. Saya masuk ke area kamar mandi, di kamar mandi ini sudah disediakan handuk dan ada alat mandi dari Airy room ini gratis loh. 

Saya sempat menyalakan shower kamar mandi, dan mengecek apakah berfungsi dengan baik, hasilnyapun air keluar dengan lancar dan jangan khawatir buat yang gak suka mandi pake air dingin, di sini bisa mandi pakai air hangat. 
 
Kamar tidak terlalu sempit #KapanAjaBisa

#KapanAjaBisa menginap di Airy

Bagian dalam kamar Airy #KapanAjaBisa 


Kamar Mandi
disediakan alat mandi gratis dari Airy #KapanAjaBisa

Saya melihat box biru di meja, dan waktu saya buka ternyata isinya camilan dari Airy room. Ternyata menginap di Airy betul-betul dimanjakan dengan fasilitas yang baik, namun harga tetap ringan di kantong. 
 
Menginap di Airy pastikan dapat snack, boxnya jangan dibawa pulang ya :) #KapanAjaBisa

Di sebelah meja terdapat pintu, dan waktu saya buka, ternyata di sini atap atasnya terbuka, kamupun bisa duduk-duduk di sini, atau yang ingin merokok, kamu bisa merokok di luar sini, karena ini bentuknya teras terbuka. 

Ruangan terbuka di area kamar
Buat yang ngerokok bisa duduk bersantai di sini

TV , Wifi, dan Acpun tidak ada gangguan sama sekali, ketika saya menginap di sini. Semua aman terkendali. Buat yang suka membaca, di kamar ini disediakan beberapa majalah. Mau santai-santai minum teh atau kopi juga bisa, karena ada heater untuk memasak air, dan di kamarpun sudah disediakan 2 botol air mineral. 

Ada tempat solat juga apabila ingin solat di luar kamar
Bisa duduk-duduk santai di luar saat sore ataupun malam hari. #KapanAjaBisa
Kalau lapar di siang atau malam hari, di sekitaran Airy ini banyak orang berjualan, jadi tidak perlu takut kelaparan. Akses ke jalan utama juga tidak begitu jauh, mungkin ini bisa jadi pertimbangan untuk para pejalan santai yang ingin menginap dengan budget murah tanpa share bathroom

Sekian pengalaman menginap santai saya di Airy, Kapan aja bisa dengan Airy. Semoga pengalaman menginap ini dapat membantu kalian yang ingin menginap di Airy. 
 



Saya mengambil air di tepi Ranu untuk bekal perjalanan selanjutnya menuju Kalimati. Setelah sarapan, kami membereskan tenda sekaligus bersiap-siap untuk berangkat. Sebelum berangkat, saya buang hajat dulu di bilik hijau kotak yang terbuat dari seng besi, bilik ini memang disediakan untuk buang hajat, tidak ada ember untuk tempat air, jadi harus membawa air sendiri. Toilet ini disediakan di campsite Ranu Kumbolo. Jangan pernah berpikiran kalau jamban ala-ala ini bakal bersih dan wangi seperti yang di mall, salah besar. Karena di sini sangat bau dan siap-siap saja tutup hidung, atau kalau tidak kuat mungkin akan  mu**h.

Setelah semuanya sudah siap, kami berdoa terlebih dulu dan siap berjalan. Awal perjalanan kami harus melewati tanjakan cinta, tanjakannya tidak curam dan agak landai, tapi saat mendaki tetap harus mengatur nafas agar bisa berjalan terus dengan baik. Kalau tidak kuat karena beban yang dibawa terlalu berat, berjalan saja satu-dua langkah lalu berhenti untuk ambil nafas, setelah itu lanjut berjalan lagi. 

Tiba di bagian atas bukit ini saya memandang sekitar, sambil mengambil gambar. Mbak Ais dan Mas Ma'ruf sudah berjalan cepat di depan, sedangkan kami bertiga asik berfoto-foto. Tiba di depan pohon besar, kami bertiga, Saya, Mbak Yosi dan Mas Adi, saling berganti untuk berfoto. Setelah berfoto kami melanjutkan perjalanan lagi, sampai di oro-oro ombo saya melihat lepas pemandangannya, kalau kata Jun “ Oro-oro Ombo itu manis dan romantis’’.



Tanaman yang berwarna ungu itu sudah tidak lagi ungu. Awal mengira bahwa bunga itu adalah lavender, setelah diselidiki bunga tersebut bukanlah lavender, melainkan Bunga Verbena Brasiliensis Vel. 


Saya berjalan terus sampai tiba di padang yang luas sekali, untunglah waktu itu matahari tidak terlalu terik. Di tengah perjalanan lagi-lagi kami saling berfoto, sampai di Cemoro Kandang, kami beristirahat sebentar. Di Cemoro Kandang ini ada yang berjualan, mulai dari minuman rasa-rasa, buah sampai gorengan, buat yang suka gorengan tentu momen makan gorengan di ketinggian ini bisa dicoba. 



Setelah beristirahat, kami melanjutkan perjalanan lagi. Kira-kira butuh waktu tiga jam lagi untuk sampai di Kalimati, tempat menginap terakhir sebelum melanjutkan ke Puncak Mahameru. Perjalanan kali ini agak menanjak, sebisa mungkin mengatur nafas dengan baik. Sebelum berangkat ke Gn. Semeru, saya sudah menyuruh teman-teman yang lain untuk lari, agar nantinya tidak terlalu capek. Beberapa kali Mbak Yosi meminta kami untuk berhenti, dan akhirnya kami berhenti sekedar beristirahat 5-7 menit. 

Semakin berjalan jauh, jalanan semakin menanjak trek ke Kalimati ini sungguh menguras tenaga. Mbak Ais dan Mas Ma’ruf sudah berjalan duluan di depan, saya berjalan di urutan keempat, depan saya Mbak Yosi, dan belakangnya Mas Adi. Jalanan semakin menanjak dan Mbak Yosi sering meminta break, dan akhirnya Mas Adi ijin untuk berjalan duluan ke depan agar beban yang dibawa tidak terlalu terasa berat. 



Saya akhirnya jalan berdua saja di tengah hutan itu, ketika Mbak Yosi sudah benar-benar capek, saya membantu membawakan tasnya, saya menggotong tas di depan berukuran 35L dan menggendong Carier kuning saya. Saya berjalan di belakang Mbak Yosi, sambil menyemangati dan mengatakan “ Tenang mbak, sedikit lagi kita sampai”. Empat langkah berhenti, lalu jalan lagi. Hal ini kami lakukan terus sampai tiba di Pos yang bertuliskan “ Kalimati”. 







Tiba di Kalimati, banyak pendaki yang sedang beristirahat sambil makan berbagai buah dan gorengan yang dijual. Minuman-minuman manis botol juga dijual di sini. Karena waktu itu sempat sepi, saya meminta Mbak Yosi untuk memfoto saya dengan latar Gn.Semeru. Gn. Semeru tampak gagah  dan rasanya lebih dekat untuk digapai, cuaca saat itu sedang cerah, langitnya tampak biru . Kami saling bergantian untuk berfoto, setelah berfoto kamipun melanjutkan perjalanan lagi, melawati hutan-hutan menuju campsite.





Jam setengah empat sore, kami sudah tiba di campsite, tenda sudah didirikan, dan Mas Ma’ruf sedang mengupaskan semangka untuk kami makan bersama. Saya sudah di dalam tenda, sambil membersihkan wajah dan minum air jeruk. Setelah itu kami saling berlarian dan duduk-duduk di hammock yang sudah diikatkan di dua pohon besar.

Langit sudah mulai gelap, saya masuk ke dalam tenda. Tiba-tiba hujan turun, setelah itu kami memutuskan untuk tidur dan bangun jam 21:00 untuk makan malam. Waktu itu saya tidak tidur, hanya berbaring dengan kaki lurus sambil memutar lagu Payung Teduh yang berjudul “ Angin Pujaan Hujan” , liriknya ini mengatar saya sampai tertidur. 

Sang pujaan tak juga datang, angin berhembus bercabang, rinduku berbuah lara.. ku lara


Terbangun di jam 21:00, hujan di luar makin deras. Saya berpikiran besok tidak mungkin cerah. Mas Ma’ruf mulai menyalakan kompor, dan memasakkan kami nasi sekaligus mie kuah. Yang lain sibuk tertawa dan saling melempar canda ke Mbak Ais. Waktu itu Mbak Ais statusnya sudah punya pacar, Mbak Ais suka dengan kegiatan naik Gunung, sedangkan pacarnya tidak. Akhirnya kami melempar candaan bahwa ini akan jadi pendakian terakhir buatnya, karena di tahun depan dia akan menikah dan tidak  lagi naik gunung. 


Selesai bercanda, Mas Ma’ruf dibantu oleh Mbak Ais menyiapkan makan malam, kamipun makan bersama. Saya hanya bertugas mengambil air, jadi kalau urusan masak memasak saya tidak ikut, karena takut gagal. Dulu saya pernah mencoba membantu memasak nasi, hasilnya nasinyapun kurang matang, sehingga agak keras dan tidak enak dimakan, tapi berhubung lapar, mau tidak mau harus dimakan. 


Makanpun selesai, waktunya duduk-duduk  sambil menunggu sampai tiba jam 00:00 dan bersiap-siap menuju puncak.
Dari sore cuaca sudah tidak bersahabat, kabut yang sangat tebal ditemani hujan, membuat kami menunda perjalanan untuk beberapa jam kedepan. Kami berlima, sembari menunggu hujan reda, memesan bakso dan makan bersama. Setelah makan bersama, kami menata ulang barang-barang serapih mungkin agar beban sesuai dan tidak membuat punggung sakit.

Sekiranya hujan tinggal rintik-rintik, kami berlima bersiap untuk berangkat. Saya, Mbak Ais, Mbak Yosi, Mas Adi dan Mas Ma’ruf bersiap untuk berangkat. Sebelum berangkat tak lupa untuk berdoa. Waktu itu saya yang memimpin doa, setelah itu masing-masing tangan diletakkan di tengah dan kami berucap “ Horas, kita pasti lancar dan pulang dengan selamat ".

Kabut-kabut hutan

Entah mengapa, dari dulu saya selalu menyukai perjalanan di hutan-hutan pada malam hari. Yang bikin enak jalan di malam hari adalah suasananya yang dingin dan jalanan gelap membuat gak terasa, dan tau-tau sudah nyampe aja di pos. Tapi saat ke Semeru ini, saya selalu berhalusinasi bertemu dengan macan kumbang. 

Perjalanan baru dimulai, kami lewat jalan pintas yang memotong jalan, agar cepat sampai di pos pertama. Meskipun harus naik-naik dan melewati semak-semak, kami tetap menikmati. Semakin lama, ritme jalan teman-teman yang lain semakin cepat, sehingga sayapun tertinggal bersama Mbak Yosi. Karena merasa sudah tertinggal terlalu jauh, saya berteriak minta ditunggu, karena pada saat itu langit hampir gelap.

Saya dan Mbak Ais beristirahat sebentar 


Setibanya di pos pertama, kami beristirahat sambil makan beberapa camilan yang sudah dibawa. Lima belas menit berlalu, kami akhirnya melanjutkan perjalanan. Makin gelap, jarak pandang saya makin susah, mau gak mau saya harus pakai headlamp. Perjalanan masih diteruskan, kami jarang sekali berhenti, pemberhentian selanjutnya saat kami mendengarkan adzan isya, berhenti lalu meluruskan kaki. Jalanan menanjak mulai tampak, untungnya malam dan gelap sehingga meski menanjak, rasanya tidak terlalu membuat saya capek berlebihan.

Tiba di Watu Rejeng, Mbak Yosi minta untuk istirahat sebentar, sebenernya saya takut sendiri apalagi denger ceritanya orang-orang. Akhirnya saya membujuk, kalau sedikit lagi sudah sampai di Ranu Kumbolo. Di perjalanan, mereka semua sedang asik menyanyi, mulai menyanyi bolang bocah petualang, sampai menyanyi lagu-lagu indie. Saya lagi asik sendiri dan makan coklat kitkat, mengunyah coklat saat melakukan pendakian memang enak, membuat saya lupa dengan capeknya perjalanan.

Jam sudah menunjukkan waktu pukul 10 malam, dan saya beserta rombongan belum sampai di Ranu Kumbolo. Semakin larut malam, perjalanan jadi membosankan. Mbak Ais dan teman-temannya mulai diam, tidak ramai seperti tadi. Beberapa menit kemudian ada suara “ Break dong.. break” . Sayapun berhenti dan istirahat sejenak, sambil minum air, dan mendengarkan musik. 

Waktu pergi kemanapun, playlist saya gak jauh-jauh dari lagunya Fiersa Besari. Malam itu saya mendengarkan lagu berjudul “ Sepasang Pendaki”, kurang lebih liriknya begini

Kita melangkah susuri hutan berdua,melarikan diri dari penatnya kota, sang senja mengintip dari balik dedaunan, tersipu malu sebab kau lebih elok darinya

Setelah istirahat sejenak kami melanjutkan perjalanan. Area perkemahan pertama sudah terlihat, Mbak Ais dan teman-temannya mulai senang, karena sebentar lagi mereka tinggal tidurnya. Tapi sayang, Area perkemahan itu belum di Ranu Kumbolonya, kami masih harus jalan lagi untuk sampai ke Ranu Kumbolo. Awalnya saya di urutan ke empat, setelah itu saya geser barisan menjadi yang paling di depan. Karena terlalu sepi, saya jadi gak sadar kalau saya terlalu didepan dan yang lain tertinggal. Karena takut di tengah hutan sendirian, akhirnya saya putuskan untuk jalan sampai ke Ranu Kumbolo. 

Tiba di Ranu Kumbolo, saya menjatuhkan tas dan berbaring sambil lihat bintang-bintang. Untungnya malam itu cerah dan Ranu Kumbolo terlihat cantik sekali. Karena gelap, saya kembali berjalan menuju plang tulisan Ranu Kumbolo sambil menunggu Mbak Ais dan teman-temannya.  Udara cukup dingin, kami cepat-cepat mencari tempat dan membangun tenda.

Ranu Kumbolo dipagi hari

Setelah membangun tenda, kami masuk ke dalam tenda dan beristirahat. Yang lain sedang asik makan mangga, sayapun hanya makan beberapa saja dan lanjut tidur sampai pagi. Matahari sudah muncul, sampai betul-betul terik saya baru bangun. Teman-teman yang lain sudah berfoto-foto, sayapun masih pakai sleeping bag. 

Ada suara dari luar

Lid, ayo kok bangun ini udaranya seger sejuk ‘’

Bukit-bukit di Ranu Kumbolo

Minion ke Ranu Kumbolo


Mbak Ais membangunkan saya, sambil memukul tenda. Dan akhirnya saya bangun sambil duduk-duduk melihat Ranu Kumbolo. Pagi itu ramai, area camp betul-betul penuh, ada yang menyetel musik kencang sekali, dan ada yang berfoto sambil tertawa-tawa. 

Saya duduk disamping tenda sambil menghirup udara segar dan melihat orang-orang disekitar .


Catatan :
Apabila ingin ke Gn. Semeru, pastikan perlengkapanmu sudah siap, terutama bawaan pribadi seperti sleeping bag, jaket, sandal, sepatu dll. Saat mau mendaki, pastikan kamu sudah reservasi terlebih dahulu di web, dan penuhi syarat-syaratnya seperti surat keterangan sehat, fotocopy ktp.

Selamat Mendaki 


Menjenguk Ranu Kombolo

by on March 01, 2018
Dari sore cuaca sudah tidak bersahabat, kabut yang sangat tebal ditemani hujan, membuat kami menunda perjalanan untuk beberapa jam kedepan....