Saya mengambil air di tepi Ranu untuk bekal perjalanan selanjutnya menuju Kalimati. Setelah sarapan, kami membereskan tenda sekaligus bersiap-siap untuk berangkat. Sebelum berangkat, saya buang hajat dulu di bilik hijau kotak yang terbuat dari seng besi, bilik ini memang disediakan untuk buang hajat, tidak ada ember untuk tempat air, jadi harus membawa air sendiri. Toilet ini disediakan di campsite Ranu Kumbolo. Jangan pernah berpikiran kalau jamban ala-ala ini bakal bersih dan wangi seperti yang di mall, salah besar. Karena di sini sangat bau dan siap-siap saja tutup hidung, atau kalau tidak kuat mungkin akan  mu**h.

Setelah semuanya sudah siap, kami berdoa terlebih dulu dan siap berjalan. Awal perjalanan kami harus melewati tanjakan cinta, tanjakannya tidak curam dan agak landai, tapi saat mendaki tetap harus mengatur nafas agar bisa berjalan terus dengan baik. Kalau tidak kuat karena beban yang dibawa terlalu berat, berjalan saja satu-dua langkah lalu berhenti untuk ambil nafas, setelah itu lanjut berjalan lagi. 

Tiba di bagian atas bukit ini saya memandang sekitar, sambil mengambil gambar. Mbak Ais dan Mas Ma'ruf sudah berjalan cepat di depan, sedangkan kami bertiga asik berfoto-foto. Tiba di depan pohon besar, kami bertiga, Saya, Mbak Yosi dan Mas Adi, saling berganti untuk berfoto. Setelah berfoto kami melanjutkan perjalanan lagi, sampai di oro-oro ombo saya melihat lepas pemandangannya, kalau kata Jun “ Oro-oro Ombo itu manis dan romantis’’.



Tanaman yang berwarna ungu itu sudah tidak lagi ungu. Awal mengira bahwa bunga itu adalah lavender, setelah diselidiki bunga tersebut bukanlah lavender, melainkan Bunga Verbena Brasiliensis Vel. 


Saya berjalan terus sampai tiba di padang yang luas sekali, untunglah waktu itu matahari tidak terlalu terik. Di tengah perjalanan lagi-lagi kami saling berfoto, sampai di Cemoro Kandang, kami beristirahat sebentar. Di Cemoro Kandang ini ada yang berjualan, mulai dari minuman rasa-rasa, buah sampai gorengan, buat yang suka gorengan tentu momen makan gorengan di ketinggian ini bisa dicoba. 



Setelah beristirahat, kami melanjutkan perjalanan lagi. Kira-kira butuh waktu tiga jam lagi untuk sampai di Kalimati, tempat menginap terakhir sebelum melanjutkan ke Puncak Mahameru. Perjalanan kali ini agak menanjak, sebisa mungkin mengatur nafas dengan baik. Sebelum berangkat ke Gn. Semeru, saya sudah menyuruh teman-teman yang lain untuk lari, agar nantinya tidak terlalu capek. Beberapa kali Mbak Yosi meminta kami untuk berhenti, dan akhirnya kami berhenti sekedar beristirahat 5-7 menit. 

Semakin berjalan jauh, jalanan semakin menanjak trek ke Kalimati ini sungguh menguras tenaga. Mbak Ais dan Mas Ma’ruf sudah berjalan duluan di depan, saya berjalan di urutan keempat, depan saya Mbak Yosi, dan belakangnya Mas Adi. Jalanan semakin menanjak dan Mbak Yosi sering meminta break, dan akhirnya Mas Adi ijin untuk berjalan duluan ke depan agar beban yang dibawa tidak terlalu terasa berat. 



Saya akhirnya jalan berdua saja di tengah hutan itu, ketika Mbak Yosi sudah benar-benar capek, saya membantu membawakan tasnya, saya menggotong tas di depan berukuran 35L dan menggendong Carier kuning saya. Saya berjalan di belakang Mbak Yosi, sambil menyemangati dan mengatakan “ Tenang mbak, sedikit lagi kita sampai”. Empat langkah berhenti, lalu jalan lagi. Hal ini kami lakukan terus sampai tiba di Pos yang bertuliskan “ Kalimati”. 







Tiba di Kalimati, banyak pendaki yang sedang beristirahat sambil makan berbagai buah dan gorengan yang dijual. Minuman-minuman manis botol juga dijual di sini. Karena waktu itu sempat sepi, saya meminta Mbak Yosi untuk memfoto saya dengan latar Gn.Semeru. Gn. Semeru tampak gagah  dan rasanya lebih dekat untuk digapai, cuaca saat itu sedang cerah, langitnya tampak biru . Kami saling bergantian untuk berfoto, setelah berfoto kamipun melanjutkan perjalanan lagi, melawati hutan-hutan menuju campsite.





Jam setengah empat sore, kami sudah tiba di campsite, tenda sudah didirikan, dan Mas Ma’ruf sedang mengupaskan semangka untuk kami makan bersama. Saya sudah di dalam tenda, sambil membersihkan wajah dan minum air jeruk. Setelah itu kami saling berlarian dan duduk-duduk di hammock yang sudah diikatkan di dua pohon besar.

Langit sudah mulai gelap, saya masuk ke dalam tenda. Tiba-tiba hujan turun, setelah itu kami memutuskan untuk tidur dan bangun jam 21:00 untuk makan malam. Waktu itu saya tidak tidur, hanya berbaring dengan kaki lurus sambil memutar lagu Payung Teduh yang berjudul “ Angin Pujaan Hujan” , liriknya ini mengatar saya sampai tertidur. 

Sang pujaan tak juga datang, angin berhembus bercabang, rinduku berbuah lara.. ku lara


Terbangun di jam 21:00, hujan di luar makin deras. Saya berpikiran besok tidak mungkin cerah. Mas Ma’ruf mulai menyalakan kompor, dan memasakkan kami nasi sekaligus mie kuah. Yang lain sibuk tertawa dan saling melempar canda ke Mbak Ais. Waktu itu Mbak Ais statusnya sudah punya pacar, Mbak Ais suka dengan kegiatan naik Gunung, sedangkan pacarnya tidak. Akhirnya kami melempar candaan bahwa ini akan jadi pendakian terakhir buatnya, karena di tahun depan dia akan menikah dan tidak  lagi naik gunung. 


Selesai bercanda, Mas Ma’ruf dibantu oleh Mbak Ais menyiapkan makan malam, kamipun makan bersama. Saya hanya bertugas mengambil air, jadi kalau urusan masak memasak saya tidak ikut, karena takut gagal. Dulu saya pernah mencoba membantu memasak nasi, hasilnya nasinyapun kurang matang, sehingga agak keras dan tidak enak dimakan, tapi berhubung lapar, mau tidak mau harus dimakan. 


Makanpun selesai, waktunya duduk-duduk  sambil menunggu sampai tiba jam 00:00 dan bersiap-siap menuju puncak.