29 Nov 2022

Gemar Travelling dan Belajar dengan Tetap Memprioritaskan Kesehatan Mata

Tidak terasa setelah dihitung-hitung saya telah melakukan hobi travel blogging sekitar 7 tahunan. Punya hobi jalan-jalan dan ngeblog membuat saya semakin hidup dan menambah banyak pengalaman. Sejujurnya, hobi travelling saya tidaklah terlalu ekstrim, seperti harus terbang paralayang, diving dengan kedalaman puluhan meter hingga menapaki puncak gunung tertinggi. Namun tetap saja, yang namanya hobi travelling, meskipun hanya naik gunung tidak terlalu tinggi atau mengendarai kendaraan motor dari kota-kota, semuanya tetap memiliki resiko. 


Selain menekuni sebagai Travel Blogger, sebenarnya saya juga berkegiatan sebagai mahasiswa Doktor di salah satu kampus negeri di Yogyakarta. Bisa ditebak bahwa keseharian saya tidak lain adalah membaca buku, mereview jurnal dan menatap layar laptop berjam-jam. Jelas saya cukup sering mendapati masalah mata kering karena terlalu lama berada di ruangan ber- Ac. 

Melakukan kegiatan travelling seperti naik gunung di musim kemarau juga memiliki resiko, selain debu maupun pasir yang bisa terhirup, kadangkala saya juga harus mengalami mata perih akibat pasir-pasir yang terbang. Sehingga tidak jarang, sepulang naik gunung saya mengalami iritasi pada mata. 

Singkat cerita, karena pandemi yang panjang ini, saya sempat berhenti melakukan kegiatan travelling baik itu naik gunung, berkendara dengan sepeda motor ke kota-kota atau sekedar pergi berenang ke laut. 

Kegiatan yang menjadi hobi tadi, mulai berganti sementara menjadi dengan membaca buku dan mengerjakan Disertasi. Selama pandemi, intensitas membaca saya cukup tinggi. Buku-buku yang saya baca kebanyakan jenisnya adalah e-book, sehingga intensitas menatap layar saya semakin banyak, mulai dari membaca buku, menonton film hingga mengerjakan Disertasi. 




Pada suatu hari, saya pernah mengalami kepala pusing yang luar biasa. Awalnya saya mengira bahwa kejadian ini hanya sekedar kurang tidur, kurang air mineral atau stress ringan karena Disertasi. Prihal pengalaman sakit kepala yang berlarut-larut ini, sempat saya biarkan beberapa hari, hingga akhirnya saya mulai menyerah dan pergi ke dokter mata. Dari beberapa medical check up, saya sangat rutin melakukan pemeriksaan terhadap mata, karena saya yakin bahwa mata pun juga punya anatomi yang rumit dan kadangkala kita abai memperhatikannya. 

Rutin memeriksa keadaan mata ini saya lakukan sejak saya duduk di bangku SMP, karena pada saat itu, saya sudah diharuskan menggunakan kacamata akibat mata minus. Selain itu juga, rutinitas periksa mata ini juga sudah menjadi hal lumrah pada keluarga saya, karena pada saat itu saya rutin menemani orangtua untuk mengantar kakek dan nenek mengecek mata akibat katarak mata yang dihadapi. 

Biasanya saya melakukan pemeriksaan mata 1 per-satu tahun sekali atau paling lambatnya ya 1.5 tahun.

Karena kejadian pandemi, baru di tahun 2022 tepatnya di bulan Maret, saya melakukan pemeriksaan mata lagi, setelah mengalami pusing kepala berhari-hari. Waktu itu, posisi saya sedang ada di Sidoarjo dan setelah melakukan survey, pilihan untuk check kesehatan mata yakni di Klinik Mata KMU (Klinik Mata Utama) Sidoarjo yang letaknya di Jl. Perum Pondok Mutiara No. L 12, Banjarbendo, Jati, Kec. Sidoarjo, Jawa Timur. 
 

Pada saat itu proses berlangsung dengan cepat, awalnya saya melakukan booking online kemudian diarahkan untuk datang sekitar jam 9 pagi. Setelah mendapat antrian lagi, saya dipanggil untuk mengisi data dan kemudian diberikan kartu anggota. Pada saat itu saya harus membayar 150 ribu untuk pemeriksaan. Karena saya tidak membawa cash, saya kemudian membayar dengan menggunakan barcode QRIS. 

Secara fasilitas, KMU Sidoarjo memiliki beberapa alat dan layar yang digunakan untuk memeriksa mata sambil mencoba lensanya. Saya masuk ke 2 ruangan yang letakknya di bawah. Masuk ke ruangan pertama, saya dibantu oleh perawat untuk check up mata dan cek ukuran lensa. Sementara di ruangan kedua, saya masuk ke ruangan dokternya untuk dicek ulang sebagai bentuk validasi bahwa minus dan ukuran lensa kacamata saya sudah tepat. Di ruangan dokter Yulianti, saya ditanya beberapa hal, seperti kesibukan harian apa dan intensitas menghadap layarnya berapa jam dalam sehari. Saya sangat senang karena dokternya responsive serta detail menjelaskan. Setelah itu saya juga diberi resep obat mata dan vitamin mata untuk mengurangi tegangan pada otot mata. 
Sebelum tahun 2022, saya telah melakukan cek mata. Pada saat itu mata kanan saya minus 2, sementara sebelah kiri minus 0.75 dengan silinder 0.25. Sementara pada tahun 2022 ini ternyata minus mata saya melonjak naik menjadi 3.75, namun kedua mata saya sudah tidak ada silinder lagi.
Setelah selesai semuanya, saya langsung membayar dengan total biaya 275 ribu, semua biaya tersebut sudah termasuk dengan obatnya, sehingga tidak perlu untuk datang ke apotik dan membeli obatnya lagi. Saya langsung mengganti kaca mata dengan ukuran yang sesuai dan syukurlah keluhan kepala pusing tersebut mulai menghilang.

KMU Sidoarjo 


Ada beberapa tips yang diberikan Dokter Yuli kepada saya, mengenai cara menjaga kesehatan mata, terutama ketika kegiatan kita memiliki intensitas tinggi di hadapan layar monitor diantaranya 
  • Usahakan Menghadap Layar Durasi 2 Jam, setelah 2 jam usahakan untuk mengistirahkan mata, agar otot mata tidak bekerja terlalu keras dan terjadi tegang otot.
  • Ingat untuk mengkedipkan mata berulang untuk mencegah kering mata. Penting untuk melakukan kedipan mata secara sadar beberapa kali, ketika menghadap layar monitor atau melihat sesuatu agar mata tidak kering. 
  • Jika berkegiatan outdoor, gunakan pelindung mata seperti kaca mata anti UV untuk menghindari sinar matahari dan mengahalau debu yang secara tidak sadar masuk ke dalam mata. 
  • Konsumsi Vitamin Mata, secara tidak langsung vitamin mata juga turut membantu menutrisi mata. 
Setelah perjalanan panjang mengenai menjaga mata tadi, saya di beberapa tahun ke depan mulai mempertimbangkan untuk melakukan lasik mata. Selain karena minus yang semakin besar, menggunakan kaca mata dalam jangka waktu yang lama juga sangat melelahkan.  

Semoga pengalaman tadi bisa membantu kalian untuk tetap menjaga dan memprioritaskan kesehatan mata. 

25 Nov 2022

Villa Verde Yogyakarta : Menginap di villa mungil dan akses mudah kemana aja

 

Beberapa hari yang lalu, saya melihat insta stories teman bahwa ada sebuah villa yang letaknya tidak jauh dari daerah Kaliurang, Yogyakarta. Uniknya lagi, tempatnya ini juga dekat dengan beberapa tempat makan. Jadi gak perlu khawatir dan bingung kalau ingin mencoba menginap di villa ini. 




Siang hari, saya berangkat dengan teman menuju lokasi villa. Lokasinya bersebelahan dengan Cinema Bakery hihi. Siapa sih yang gatau Cinema Bakery, anak Jaksel pasti paham dan acungkan tangan Haha. 

Saya membuka pintu villa, kemudian tampak satu bangunan mungil seperti tiny house. Karena Villa Verde ini mungil, jadilah tidak banyak barang yang ada di dalam villa tersebut. Semua yang ada diutamakan fungsinya, seperti tv yang tidak diletakkan di meja namun hanya dipasang braket sehingga bisa diatur, ingin dihadapkan ke arah yang mana.

Saya juga senang sekali, karena villa Verde menyediakan coffee mesin, sebagai anak ngopi tentu gak perlu pusing sih, mikir besok mau ngopi dimana, karena disediakan 4 kapsul. 



Desain kamar mandinya menurut saya unik, karena masih menyatu dengan bentuk bangunan ini. Jadi ya berbentuk kayu dan air langsung jatuh ke tanah. Sebagai cewek yang suka dengan meja rias yang terang, saya senang sekali karena kacanya ada lampu dan bisa diatur tingkat terangnya hihi. 

Villa Verde ini tidak menyediakan breakfast, tapi gak perlu khawatir, karena di sekitar sini banyak sekali tempat makan seperti bersebelahan dengan Cinema Bakery, Kie Raha Tuna dan masih banyak lagi lain. Di depan kloset juga disediakan guide poster sebagai petunjuk yang bisa kalian baca. Jadi ya, sambil panggilan alam jangan lupa membaca guide posternya. 

Salah satu kenapa saya happy banget, karena Villa Verde ini juga punya private pool di setiap bangunannya. Jadi kalian bisa duduk-duduk atau berenang santai tanpa perlu berbagi dengan yang lain. 

Villa Verde ini menurut saya punya vibes yang beda dari siang hingga ketemu pagi. Kalau siang hari, saya merasakan sejuk karena anginnya. Sementara kalau di malam hari terdengar suara serangga seperti saat tidur di pedesaan. Kemudian kalau pagi, udaranya sejuk sekali, karena area ini bisa dibilang di bawah kaki Gunung Merapi. 





Saya merasa nyaman sekali menginap di Villa Verde semalaman. Jadi punya pengalaman yang berbeda dan tahu rasanya tinggal di tiny house. Tidur juga tidak ada kendala sama sekali, karena kasurnya luas untuk 2 orang, water heater untuk mandipun bisa disesuaikan dengan baik tanpa takut kepanasan atau tidak panas. 

Bagi siapapun yang sedang berlibur ke Yogyakarta dan ingin mencoba menginap dengan suasana asri, sejuk dan private. Saya merekomendasikan Villa Verde menjadi tempat beristirahat yang menyenangkan.






Fasilitas:  Mandi Air Panas/Dingin, Kulkas Mini, Piring, Gelas, Mug, Teko Air Panas, AC, TV Android (include Netflix account), Cermin, Mesin Kopi Kapsul, Teh, Gula, Air Mineral 1 Liter, Sabun, Shampoo, Alat Pencuci Tempat Makan, Baygon, Minyak Sereh dll. 

Budget: Harga Villa Verde ini permalamnya dikenai dari 1jt-an, tapi karena ada promo ratenya jadi 750.000 permalam. sering-sering kepoin promonya ya hihi.

Lokasi Jl. Watugede No.2, Wonorejo, Sariharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Contact : villaverdethegarden@gmail.com / 0812-2795-5050

4 Okt 2022

Salametan Labbhuan: Cara Nelayan Bawean untuk Berterima Kasih kepada Tuhan, Megenang Leluhur, Mendidik Generasi Penerus, dan Berbagi kepada Laut

Salametanna Labbhuan, dalam bahasa Indonesia berarti selamatan pelabuhan adalah budaya nelayan di Dusun Dedawang, Pulau Bawean. Budaya ini di daerah lain bisa diartikan kenduri laut atau sedekah laut, prosesinya mirip seperti itu. Labbhuan sendiri adalah tempat berlabuhnya perahu nelayan.

Labbhuan

Sejak lahir dan selama 27 tahun saya menjadi Suku Bawean, jujur baru tahun ini saya mengikuti seluruh prosesi Salametanna Labbhuan ini, bukan tidak ingin ikut, tapi memang tanggalnya tidak pasti. Beda dengan orang Jawa, suku Bawean tidak memilik kalender sendiri. Sehingga dalam perayaan budaya yang bukan perayaan agama, biasanya mengikuti tanda-tanda alam. Akibatnya tanggal perayaan tidak pernah sama setiap tahunnya, walaupun kadang dirayakan di bulan yang sama. 

Salamettanna Labbhuan dirayakan setiap awal musim melaut, saat nelayan sudah memastikan bahwa ikan sudah cukup besar untuk ditangkap. Seringnya, musim melaut dimulai saat bulan Juni atau Juli. Saat minggu pertama musim melaut inilah, Salamettanna Labbhuan dirayakan.

Acara dimulai sejak pagi, dengan prosesi awal yaitu berdoa bersama di musholla dekat laut. Pertama, tokoh agama akan melakukan pidato sebentar, menyebutkan awal mula adanya Salamettanna Labbhuan dan menyebutkan tokoh-tokoh masyarakat terdahulu yang berpengaruh terhadap kejayaan nelayan Dusun Dedawang. Doa dilanjutkan dengan mengirim Al-Fatihah kepada para leluhur, ulama besar Islam, dan tentu saja kepada Nabi Muhammad SAW serta mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas karunia laut yang tiada habisnya. Kemudian doa bersama dilanjutkan dengan membaca doa dalam bahasa arab, sholawatan, dan ditutup dengan makan bersama.

doa bersama

Kedua, setelah doa bersama di musholla, prosesi dilanjutkan di atas perahu di laut. Seluruh nelayan mempersiapkan perahu masing-masing dengan dihiasi berbagai bendera dari kain seadanya,pada saat saya ikut ada sekitar 50an perahu nelayan, dari 50an perahu tersebut ada satu perahu yang mengangkut makanan untuk didoakan dan disantap di tengah laut. Pada prosesi ini, seluruh warga diperbolehkan ikut ke atas perahu. Kemudian, seluruh perahu bergerak mengelilingi Labbhuan (tempat berlabuhnya perahu nelayan saat musim melaut). Setelah mengitari labbhuan, perahu dilanjutkan mengitari Pula Cina dan Pulau Lolobi, dua pulau tak berpenghuni di lepas pantai Dusun Dedawang.

keliling mengitari laut

Terakhir, setelah prosesi mengitari laut selesai, perahu yang membawa makanan berhenti di salah satu tiang pancang pengikat perahu di tengah laut, mendoakan makanan yang dibawa, menyantap makanannya, dan meletakkan kepala sai yang sudah matang di tiang pancang tersebut. Sampai di sini, mungkin banyak yang berpikir bahwa kepala sapi tersebut adalah bentuk persembahan yang mengarah pada perilaku syirik. Padahal tidak sama sekali, karena kepala sapi yang diikat sudah diambil bagian-bagiannya yang bisa dimakan, sedangkan sisa yang tidak bisa dimakan itu digantung di laut. Bukan untuk makhluk halus, melainkan agar bisa dimakan oleh burung-burung laut atau mungkin makhluk hidup lain.


keliling mengitari laut

Setelah prosesi selesai, seluruh warga kembali pulang ke rumah masing-masing.

Perayaan ini sangat berkesan bagi saya, karena sebagai Suku Bawean baru pertama kali saya menyasikan langsung perayaan ini. Selain itu, banyak filosofi yang bisa dipetik dari perayaan ini, seperti yang termuat dalam judul tulisan. Jika dibedah, maka dapat diambil pelajaran bahwa berdoa bersama adalah bentuk rasa terima kasih kepada Yang Maha Segalanya. Mendoakan para leluhur dan tokoh masyarakat terdahulu bertujuan untuk mengenang jasa-jasa leluhur. Keliling laut menggunakan perahu dan diikuti oleh elemen masyarakat bisa mendidik anak-anak untuk menjadi generasi penerus yang tangguh, setangguh batu karang dan sekeras ombak, namun tetap selembut angin laut. Menggantung kepala sapi yang sudah dimanfaatkan sebelumnya untuk dimakan hewan-hewan laut, adalah bentu berbgai kepada semesta.

Generasi penerus

Terakhir, saya akan mengutip sebuah kalimat yang sangat populer, yaitu "Sabbe satta bhavantu sukhitatta" yang berarti "Semoga Semua Makhluk Bebahagia"