18 Nov 2021

Cara Menyajikan Batagor dengan Cepat dan Gak Ribet


Batagor dihidangkan dengan cepat 


Sebulan setelah berpulangnya Ibu, seluruh pekerjaan domestik secara tidak langsung turun ke saya.  Ya meskipun saya punya adik perempuan, namun bagi saya dia belum bisa diandalkan. Jujur, saya belum bisa memasak dengan baik. Ketika memasak pun, saya lebih memilih agar saya saja yang memasak hasil masakan saya. Karena lagi-lagi menyenangkan rasa untuk semua lidah, cukuplah sulit. 

Saat siang datang, saya berusaha menyediakan makanan yang cepat saji dan gak bikin pusing diri sendiri. Jadilah saya coba membeli frozen food, karena mudah dihidangkan dan tetap sehat jika dikonsumsi. Namun dalam memilih frozen food juga tidak bisa asal-asalan, karena papa dan adik saya tipe yang pemilih soal makanan. Setelah mencari ragam frozen food, saya akhirnya memutuskan untuk membeli Batagor dari Makan Aja melalui Tokopedia. 

Tampilan Box Makan Aja 


Pengemasan Saus Double Jadi Tidak Perlu Khawatir Akan Bocor

Setelah menunggu kira-kira dua hari, akhirnya paket Batagor saya datang. Oh ya Batagor ini dikirim daro Gresik, sementara saya sedang tinggal di Sidoarjo. Batagornya dikemas menggunakan plastik yang telah divacum dengan rapih dan baik, sehingga kondisi serta kualitas makanan tetap terjaga. Ketika datang, akhirnya saya cepat-cepat untuk membuka dan memasaknya. Nah karena kebetulan di rumah ada air frayer, jadilah semakin gak ribet lagi dalam memasak. 

Saya buka bungkus Batagor, lalu saya masukkan ke dalam air fryer dan diatur dalam suhu 170 derajat dan waktunya 10 menit. Awalnya saya ragu, apakah 10 menit saja cukup? Ternyata setelah bel air fryer berbunyi (pertanda waktu selesai), maka air fryer saya buka dan ternyata Batagor tersebut telah matang dengan sempurna baik luar dan dalam, serta teksturnyapun renyah. Sebelum saya hidangkan bersamaan saus kacangnya, sausnya saya hangatkan terlebih dahulu di dalam rice cooker.

 

Secara keseluruhan, Batagor Makan Aja rasanya kaya akan adonan ikan dan tidak dominan tepung. Terbuat dari ikan laut berkualitas sehingga punya citarasa yang unik bagi lidah saya. Sementara kata adik saya, ketika Batagor tersebut digigit, adonannya terasa lembut dan tidak keras. Adik saya bisa berkomentar begitu karena dia sedang menggunakan kawat gigi, yang mana agak pemilih di beberapa makanan. Jika teksturnya keras, maka dia tidak akan mau memakan

Batagor saat disajikan, cukup 10 menit. 

Menurut saya, saus kacangnya juga dibuat dengan kental dan banyak untuk setiap ukuran 10 Batagor.  Rasa sausnya juga tidak pedas, sehingga cocok juga dimakan bagi siapa saja yang kurang menyukai rasa pedas. Beberapa kali saya membeli Batagor, biasanya takaran sausnya cukup terbatas atau teksturnya terlalu banyak air sehingga bumbunya tidak kental. Sementara Batagor dari Makan Aja, saus kacangnya sangat banyak sehingga jangan khawatir apabila sampai kekurangan. 

Salain itu menurut saya, konsep Makan Aja sangat membantu dan praktis. Cocok bagi siapa saja, seperti hendak bepergian, untuk oleh-oleh dan yang tidak kalah penting yaitu cocok bagi siapa saja yang ingin sedia makanan di kulkas sebagai stok. Karena menyajikannya yang sangat mudah dan tidak membutuhkan waktu yang lama. 

Dari segi pengiriman juga mudah, karena tidak membutuhkan box es. Beberapa kali pengalaman saya saat membeli frozen food, prosesnya cukup rumit dan penjual meminta saya untuk membeli box es juga sebagai tambahan dalam mengemasnya. Hal ini dikarenakan kondisi frozen food tersebut ditakutkan menjadi rusak selama dalam masa perjalanan. Sementara di Makan Aja, tidak perlu menggunakan cara seperti itu. Kita cukup order dan penjual akan memproses pengiriman dan melakukan pengemasan sebaik mungkin.

Batagor Makan Aja bisa dibeli melalui Website, Tokopedia, Grab Food maupun Go- Food. Saya sendiri kemarin membeli melalui Tokopedia, senangnya lagi tokonya menyediakan bebas ongkir jadi tidak perlu khawatir lagi.

30 Sep 2021

Berani Berkegiatan Outdoor Tanpa Takut Kulit Kusam dengan Scarlett Brightening


Bangun Pagi, Berolahraga dan Skincarean.

Sejak Juli tahun lalu dan pandemi, saya cukup jarang sekali untuk keluar rumah. Tapi setelah sekian lama, akhirnya saya memutuskan untuk berani keluar rumah lagi dan mengganti kegiatan travelling dengan lebih rajin berolahraga. Saya memilih untuk rutin lari dan bersepeda atau angkat beban. Ketiga rutinitas itu saya usahakan untuk rutin dilakukan. Ketika di pagi hari susah untuk bangun, maka sore harinya saya harus tetap berolahraga. Ketika mulai rajin melakukan aktivitas tersebut, saya merasa banyak perubahan yang terjadi dalam hidup saya. Selain badan saya semakin kuat, lebih segar dan tidak mudah, di sisi lain hal yang tidak disangka yaitu kulit wajah saya semakin lebih sehat. 

Menjaga pola makan, istirahat yang cukup dan rajin olahraga merupakan tiga kombinasi yang pas untuk mendapatkan kulit wajah yang lebih sehat. Semenjak menjalani pola tersebut, saya menjadi tidak khawatir dengan kondisi yang dialami oleh tubuh saya dan lebih berani berkegiatan outdoor jenis apapun itu walau sedang di kondisi panas atau hujan. 

Saya cukup sering membagikan cerita tentang kegiatan outdoor mulai dari naik gunung, berenang di pantai, pergi jalan-jalan ke luar kota maupun ke luar negeri dan masih banyak lagi. Dari beragamnya kegiatan tersebut, tentu saya sangat serius dengan perawatan wajah saya. Karena jujur, saya agak panik kalau terjadi apa-apa dengan wajah saya, karena saya pernah mengalami kecelakaan dan menyebabkan wajah saya cukup rusak. Sehingga hal tersebut membuat saya lebih hati-hati dan menjaga dengan baik. 

Kondisi kulit saya adalah normal to dry,  dengan kondisi kulit tersebut saya harus selalu menjaga kelembabpan kulit dengan baik. Karena ketika berpergian, kadang kala cuaca di tempat membuat kulit saya menjadi kering dan mengelupas. Jika sedang di gunung, saya cukup rajin menggunakan toner maupun pelembab untuk menjaga kelembabpan kulit di wajah hingga lebih baik. 

Belakangan ini skincare  produk lokal cukup ramai dan banyak orang mulai percaya untuk menggunakan, sementara saya masih maju mundur. Sampai di awal tahun 2021 saya mulai mencoba beberapa produk lokal nah salah satunya adalah Scarlett Brightening. 

Saya memilih rangkaian Brightly Series dikarenakan kondisi kulit saya yang lebih ke arah normal to dry (normal - kering) dan tidak berjerawat. Sementara jika kondisi kulit sedang berjerawat, maka bisa menggunakan rangkaian Acne Series yang terdiri dari 3 produk yaitu serum, day cream, dan night cream. Fokus perawatan wajah saya yaitu untuk menghilangkan bekas-bekas jerawat. Brightly Series terdiri dari 3 produk yaitu serum, day cream dan night cream. 

Dalam rangkaian Brightky Series, mereka memiliki beberapa kandungan yang tidak asing bagi saya, seperti adanya Niacinamide yang tujuannya untuk menjaga kelembabapan kulit, mencegah jerawat dan melindungi kulit. Selain itu ada Hexapeptide-8, Glutathione, Rainbow Algae, Aqua Peptide Glow, Rosehip Oil, Poreaway, Triceramide, Natural Vit C dan Green Caviar atau disebut sebagai Anggur Laut yang memiliki manfaat untuk mengatasi kulit kering dan mencegah pori-pori wajah yang membesar. 

Karena kulit wajah saya kadangkala sensistve di beberapa kondisi, maka dalam menggunakan beberapa produk biasaya saya tes dulu pada bagian leher atau pergelangan tangan. Jika tidak terjadi iritasi, maka produk tersebut cocok digunakan. Setelah melakukan uji coba produk Scarlett Brightening tersebut pada tangan saya, syukurnya tidak terjadi apa-apa. Sehingga saya bisa mulai mencoba serangkaian Scarlett Brightening. 

Saya menggunakan 5 produk Scarlett Brightening yaitu Scarlett Brightening Facial Wash (100ml), Scarlett Brightly Toner (100ml), Scarlett Brightly Ever After Serum (15ml), Scarlett Brightly Ever After Cream Day (20g) dan Scarlett Brightly Ever After Cream Night (20g). 


How to Apply : 

Pemakaian di pagi hari, biasanya dimulai dengan mencuci wajah dengan menggunakan Scarlett Brightening Facial Wash. Setelah itu wajah dikeringkan terlebih dahulu hingga kering. Setelah kering, saya menggunakan Scarlett Brightly Essence Toner. Penggunaan toner dilakukan 5-7 kali pemakaian, artinya 5-7 kali dituang ke tangan atau ke kapas hingga kulit benar-benar basah dan lembab. Hal tersebut saya lakukan agar kulit tetap lembab lebih lama mengingat kulit saya juga typical yang gampang kering. 

Dari kiri : Facial Wash, Essence Toner dan Brightly Ever After Serum


Tahapan selanjutnya yaitu menggunakan Scarlett Brightly Ever After Serum. Saya menuangkan 2-3x tetes ke tangan sambil digosok hingga hangat, baru ditap-tap ke wajah sehingga memberi efek relaksasi pada wajah. Saya sangat jarang menuangkan langsung pipet serum ke wajah, karena agar pipet tidak langsung mengenai wajah. 

Terakhir yaitu menggunakan Scarlett Brightly Ever After Cream Day untuk di pagi hari dan dibarengi dengan penggunaan sunscreen. Sementara untuk di malam hari, ulangi proses tersebut dan menggunakan Scarlett Brightly Ever After Cream Night. 



Texture Cream Malam Lebih Padat

Texture Day Cream Tampak Agak Cair ( Seperti Lotion)


Tekstur Scarlett Brightly Ever After Cream Day maupun Scarlett Brightly Ever Aftrer Cream Night mudah diaplikasikan ke wajah dan jujur saya cukup senang dengan aroma night creamnya karena seperti aroma tumbuh-tumbuhan. Sementara untuk Scarlett Brightening Facial Wash, setelah pemakaiannya tidak membuat wajah saya ketarik dan membuat kulit saya menjadi sangat kering. 

Tekstur dari Scarlett Brightly Ever After Serum adalah cair sehingga menurut saya, sebaiknya dalam mengaplikasikan dituang ke tangan saja, baru ditapkan ke wajah. Karena pengalaman saya ketika langsung diteteskan ke wajah, maka serum akan dengan cepat jatuh ke bawah. Sementara untuk Scarlett Brightly Essence Toner teksturnya adalah cair sehingga ketika digunakan memberikan efek segar sekaligus bisa membersihkan debu atau sisa make up yang masih tertinggal di wajah setelah pemakaian facial wash. Oiya dalam penggunaannya saya lebih berhati-hati, jangan sampai terkena area mata atau area mulut. 

Setelah menggunakan Scarlett Brightening kurang lebih selama 2 Minggu, bekas jerawat pada area wajah telah memudar dan kulit wajah saya menjadi lebih cerah. Saya cukup senang melihat dari pengunaan serangkaian Scarlett Brightening. Pada pagi hari kulit terasa lembab, sementara ketika setelah berolahraga, kulit semakin terlihat lebih sehat dan kenyal. Saya cukup percaya bahwa memiliki wajah yang sehat merupakan investasi terbaik bagi diri sendiri, sehingga walaupun senang berkegiatan outdoor dan terpapar sinar matahari secara intens, saya tetap bisa memiliki kulit yang baik dan sehat. 

Bagi kalian yang tertarik tentu kalian bisa membeli produknya pada link berikut


19 Apr 2021

Menuntaskan Merbabu: Sebuah Hutang dan Janji

Sekira bulan Mei 2015, saya sempat mendaki Gunung Merbabu. Kala itu kami berduapuluhan orang, memanfaatkan libur kuliah. Pendakian saat itu tidak sampai puncak, karena kami terjebak hujan hingga menjelang siang di Sabana I, terlebih lagi waktu yang mengejar kami di bawah. Walaupun yang dikejar jadwal kegiatan hanya satu orang, kami berprinsip "jika berangkat bersama, maka pulang harus bersama". Hujan dan Idealisme membuat saya menunda untuk menginjakkan kaki di Kenteng Songo. Saya dan seorang sahabat bergumam "tenang, Merbabu gak akan kemana-mana, suatu saat kita kesini lagi".

Tiga tahun kemudian, pada bulan Agustus 2018 saya berkesempatan untuk mendaki Gunung Merbabu lagi. Saat itu saya sedang ada urusan di Yogyakarta, ketika mas Rifqi Papan Pelangi mengajak saya untuk mendaki Gunung Merbabu. Pendakian kali ini tidak berduapuluhan, tapi hanya berdelapan, yaitu saya, Lidia, mas Rifqi, mbak Dian, mbak Sukma, mbak Igna, Mas Eko, dan mas Aliko yang berangkat sendirian dari Solo. Saat itu, hanya Lidia dan mas Rifqi yang saya kenal, yang lainnya baru pertama kali bertemu, benar-benar asing.

Kami yang dari Yogyakarta memulai perjalanan ketika pagi masih remang, bahkan sebelum matahari menampakkan dirinya. Kami dijemput di sebuah hotel yang kebetulan juga dekat dengan kos mbak Sukma, di Jalan Kaliurang. Mobil mulai berjalan, merayap di jalanan aspal yang masih dingin oleh embun pagi. lurus ke arah utara menuju Magelang. Tak sampai kota Magelang, mobil berebelok kanan menuju arah timur, tepatnya di Muntilan. Dari Muntilan jalanan mulai menanjak walaupun masih cukup landai, dengan ditemani matahari yang mulai membuat perjalanan kami menghangat. Jalanan terus menanjak mengitari lereng barat merapi, kemudian terus ke lereng utara. Pemandangan di jalur ini sangat indah, melewati beberapa pasar tradisional. Keributan pasar tradisional menjadi hiburan tersendiri bagi kami, ditemani dengan suara raungan mesin mobil tua yang kami tumpangi.

Menjelang pukul tujuh atau mungkin pukul delapan, saya tidak ingat pasti, kami sampai di Selo. Sesampainya di Selo kami beristirahat di salah satu rumah warga yang kebetulan sudah menjadi tempat istirahat para pendaki sebelum mulai mendaki ke Merbabu, lupa rumah siapa. Disini kami sarapan nasi pecel, dengan teh hangat yang asapnya seakan berlomba-lomba dengan kabut pagi di luar rumah. Ya, saat itu turun kabut. Saat kabut semakin tebal, ingatan saya melayang ke tahun 2015 saat kesini pertama kali. Ketakutan yang sama muncul kembali, "apakah akan hujan?", "apakah kabut akan terus semakin tebal?", ada rasa kecewa, trauma, dan diikuti rasa ragu. Tapi saya teringat perkataan seorang sahabat, "ragu-ragu mundur!". Saya tersadar dari lamunan, kesadaran yang serta merta menepis rasa keraguan itu, saya membatin, "kali ini aku tidak boleh mundur". Kesadaran sudah kembali, saya habiskan teh hangat yang sudah mulai mendingin.

Sekira pukul sembilan, kami mulai mengemas ulang ransel kami untuk bersiap menuju perizinan. Semua sudah siap, saatnya berdoa, merapal mantra kepasrahan, sebagai puncak pengharapan agar perjalanan baik-baik saja dan tak sia-sia. Kami menuju Pos perizinan, gerbang pertama bagi para pendaki. Kami mendaki dengan santai, tak terburu-buru. Kami nikmati setiap langkah, tiupan angin yang mendesir di daun telinga, debu yang beterbangan karena pijakan kaki sendiri, daun yang bergoyang mengikuti kemana angin mendorongnya. Ingatan kembali melayang ke tahun 2015, kala itu perjalanan menuju Pos 3 kami lewati bersama hujan. Saya kala itu bahkan tak memakai jas hujan, baju basah membuat udara semakin dingin, sungguh pendakian yang penuh perjuangan.

Kembali ke 2018, siang hari kami sampai di Pos 3. Pos 3 ini menjadi tempat beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan melewati tanjakan terparah di jalur Selo. Bagaimana tidak, jalurnya saja nyaris vertikal, tak ada jalur pendakian yang bisa dilihat dari Pos 3, semua terlihat seperti tebing tanah, saking curamnya. Setelah puas beristirahat, kami melanjutkan perjalanan melewati tanjakan yang saya sebutkan tadi. Karena udara saat itu sangat terik, jalur tanah berubah menjadi debu yang sangat ringan, yang mudah sekali melayang mengganggu paru-paru dan hidung yang sedang bekerja keras. Lagi-lagi teringat memori tiga tahun lalu, saat melewati tanjakan ini tak ada debu, tanah menjadi padat. Tak ada yang mengganggu paru-paru bekerja, tapi tanah padat itu menjelma menjadi jalur air yang licin, yang bahkan seorang teman ada yang membaca syahadat, merapal basmalah, dan ada yang istighfar. Sebuah rapalan mantra religius yang sama sekali tidak saya duga akan keluar dari mulut-mulut orang yang -bisa dikatakan- tidak terlalu religius. Bisa dibayangkan bagaimana ketakutan ketika melewati tanjakan saat itu, betapa licinnya, betapa takutnya terpelanting ke bawah, juga bagaimana ketakutan-ketakutan itu sampai membangkitkan perasaan kedekatan dengan Tuhan. Ingatan-ingatan itu membawa saya kembali ke saat ini, yang kontras sekali, debu beterbangan, tak ada rasa takut yag sebesar tiga tahun yang lalu. Namun tetap, rapalan doa itu tertanam di hati.
Tanjakan menuju Sabana I, tahun 2015. Tanah menghitam dan licin.

Sampai di Sabana I hari sudah siang menjelang sore, di Sabana I saya hanya menengok tempat mendirikan tenda tiga tahun yang lalu. Tergambar jelas guyonan-guyonan dan tertawa tiga tahun yang lalu. Kami tak berlama-lama di Sabana I, karena kami tidak ingin sampai di Sabana II dalam keadaan gelap. Dari sinilah saya melepas ingatan-ingatan tiga tahun yang lalu, karena yang akan saya lalui di depan adalah jalur yang benar-benar asing. Jalur menuju Sabana II ternyata berupa tanjakan, namun masih lebih landai daripada sebelumnya. Disini saya sempat bertukar ransel dengan mas Rifqi, yang beratnya mungkin lebih dari 30kilogram. Lumayan terasa, tapi tidak apa-apa, anggap saja olahraga.

Tempat mendirikan tenda di Sabana I, tahun 2015

Sampai di Sabana II tak banyak yang kami lakukan, langsung mendirikan tenda, masak, dan bersiap untuk tidur. Malam hari kami harus istirahat cukup, karena besok perjalanan yang masih lumayan berat harus dilalui. Karena tidak boleh mundur, harus muncak.

Subuh kami sarapan, bersiap melakukan pendakian menuju puncak. Bayangan Kenteng Songo melayang-melayang di pikiran saya, ingatan janji dengan sahabat saya pun teringat. Saya harus menuntaskan hutang ini, walaupun tanpa dia, ya karena kesibukannya akhir-akhir ini. Tanjakan menuju puncak ternyata sama curamnya dengan tanjakan menuju Sabana I dan Sabana II, setidaknya level kecuraman jalur puncak berada di antaranya. Syukurlah, pendakian ke puncak ini tidak membawa beban yang terlalu berat.

Singkat cerita kami sampai di Puncak. Sampai di puncak saya bertanya-tanya dalam hati, "Kenteng Songo yang berupa batu-batu bulat itu di sebelah mana?". Sejauh mata memandang, hanya ada ada plang yang menandakan bahwa itu adalah puncak, tapi tak ada Kenteng Songo. Dalam hati saya berkata, "saya harus menemukan Kenteng Songo". Karena hutang adalah hutang, hutang Kenteng Songo harus pula dibayar dengan Kenteng Songo. Setelah kawan-kawan turun lebih dulu, saya melanjutkan mencari jalur menuju Kenteng Songo, ternyata persimpangan dua puncak ini tidak terlalu jauh. Di persimpangan, saya menelusuri jalan yang berlawanan dengan jalan yang kami lewati tadi. Sampai di atas ada tanah lapang, sayu-sayup terdengar suara pendaki, kemudian terlihat bendera merah putih. Di dasar tiang bendera itu saya melihat banyak batu berbentuk bola yang berlubang, "Kenteng Songo! Akhirnya hutangku lunas".

Kenteng Songo

Kenteng Songo

Tak bisa diungkapkan betapa bahagianya saya saat menginjakkan kaki di Puncak Kenteng Songo, saya pun mengambil beberapa foto, bersiap menunjukkan dan menceritakan kepada sahabat saya, "Mang, aku wes nang Kenteng Songo". Namun kesempatan itu tak pernah sampai, saya tidak pernah menunjukkan dan menceritakan perjalanan Merbabu ini kepada sahabat saya secara langsung. Karena sekitar bulan November 2018, sahabat terdekat saya, Manggala Pudyastawa Almukarromin, dikabarkan meninggal dunia. Kabar itu membuat saya terpukul, tapi tak apa, biarkan saya simpan dulu cerita ini. Hingga akhirnya, saya kembali menceritakan pendakian Merbabu di blog ini, yang anda baca barusan. Semoga menikmati!

Kenteng Songo