Pukul 9 pagi saya sudah bersiap menemui teman-teman rombongan di sekitar Terminal Wonosobo. Saya datang lebih awal ke Wonosobo dan menginap di rumah teman lama namanya Mardot. Kebetulan kami sudah 5 tahun tak berjumpa, jadi saya menyempatkan diri untuk berjumpa dengannya. Sebelum diantar ke Terminal, saya diajak berkeliling di sekitaran alun-alun Wonosobo. Sempat saya diajak oleh Mardot untuk minum es kelapa muda, tapi saya menolaknya karena takut teman rombongan saya nantinya datang lebih awal.

Setelah menolak, akhirnya saya hanya berkeliling saja lalu berangkat menuju titik temu. Dalam pendakian kali ini saya berangkat bersama 7 teman, 2 berangkat dari Jakarta Mas Adi dan Mba Eka, dan 4 berangkat dari Surabaya yaitu Mas Rifqy, Mas Eko, Mas Rendra dan Mba Fikha, dan 1 teman asli Dieng yaitu Mas Muhajir. Setelah menunggu beberapa menit, tiba-tiba mobil abu-abu berhenti. Saya melihat Mas Rifqy mulai turun dari mobil dan memanggil saya. Lalu sayapun menghampirinya, tiba-tiba teman yang lainnya saling mengulurkan tangan, menjabat tangan saya dan kami saling berkenalan. 

Setelah berkenalan, saya langsung berpamitan dengan Mardot. Saya masuk ke dalam mobil dan perjalanan baru dimulai. Sebelum menuju Base camp Patak Banteng, kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Beberapa kali kami berhenti untuk mencari warung yang buka ternyata banyak warung yang tutup pada saat itu. Akhirnya semua memutuskan untuk langsung menuju Base Camp  dan makan di sana. 

Perjalanan semakin berkelok-kelok, saya sudah merasa mual karena bau bensin yang menyengat hingga menusuk hidung. Sesekali saya mencoba minum susu yang saya bawa sembari mendengarkan lagu dengan kencang, agar rasa mual itu hilang. Tapi nyatanya, aroma bensin makin menusuk hidung, dan saya makin tidak bisa menahan rasa mual itu. Setibanya di Base Camp, saya langsung lari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perut, hingga perut saya terasa benar-benar kosong. Setelah itu barulah saya minum air putih dan makan keripik kentang. Teman-teman lainnya sudah mengambil makananya, saya hanya melihat sambil mengiyakan ajakan makan tersebut.

Sambil menunggu adzan dhuhur, beberapa dari kami mandi, ada yang sedang makan atau sekedar merebahan diri sejenak. Saya sedang duduk sambil mencium aroma minyak kayu putih. Setelah beberapa mulai berangkat untuk solat Jum’at,barulah saya mengambil nasi dan mencoba makan 3-5 sendok, karena perut masi terasa tidak enak dan kembung. Setelah saya paksa untuk makan, barulah saya minum vitamin agar tubuh segar kembali. 

Kira-kira jam 14:00 Wib, barulah kami mempacking ulang barang bawaan kami. Perlengkapan dicek satu persatu, setelah dirasa sudah rapih, barulah kami keluar dari warung sambil menunggu Mas Rifqy dan Mas Muhajir mendaftar ke Pos Pendakian. Setelah mendaftar, kami mengawali pendakian ini dengan berfoto di depan tulisan Patak Banteng. Setelah itu kami berdoa bersama, sebelum berangkat menuju Gunung Prau.

Dari kiri : Mas Rifqy, Mas Adi, Saya, Mba Fikha, Mba Eka, Mas Rendra dan Mas Eko 

Jalan menuju Gunung Prau via Patak Banteng ini bisa lewat dua jalur, ada jalur yang agak jauh namun landai, ada jalur pendek namun menanjak terus. Kami akhirnya memilih jalur yang jauh dan agak landai, sebelum berangkat Mba Eka dan Mas Muhajir pergi ke toko sayur dan membeli beberapa logistik untuk makan malam nanti. Setelah membeli barulah kami semua berjalan. 

Per-orang dikenai tarif sebesar Rp.10.000/hari, cukup menyerahkan data diri nama anggota dan leader, tidak perlu surat keterangan sehat
Via Patak Banteng bisa lewat 2 jalur, bisa milih lewat pemukiman penduduk yang jalurnya lebih landai namun agak lama, atau langsung memasuki kawasan perkebunan dan menanjak lewati tangga. 

Perjalanan baru dimulai pada pukul 14:30 Wib. Belum lima menit berjalan, kami bertemu dengan petani wortel, seorang nenek yang pulang dari memanen wortel. Mas Muhajir menyapanya, lalu meminta beberapa wortel, dan nenek tersebut dengan senang hati memberikan beberapa wortelnya kepada kami, untuk kami makan saat malam nanti. Setelah berbincang panjang lebar, akhirnya kami berpisah dengan nenek tersebut.

Mas Muhajir dan Petani Dieng
Saya mendapati pemandangan yang indah, melihat perkebunan kentang, wortel disetiap perjalanan pendakian Gunung Prau ini. Kira-kira sudah 20 menit kami berjalan, jalanan makin menanjak dan tidak ada bonus alias jalan mendatar. Cuaca saat itu sedang bersahabat tidak hujan dan cukup cerah. Tak terasa tibalah di Pos 1, pemandangan Dieng dari atas semakin terlihat, perkebunan yang luas dan subur memanjakan pandangan ini. 

Di Pos 1 saya beristirahat sebentar, mengatur nafas dan minum. Setelah cukup beristirahat, saya melanjutkan perjalanan lagi. Jarak dari Pos 1 ke Pos 2 menurut saya tidak terlalu jauh, tapi jalannya menanjak terus dan tidak ada bonus, jadi alangkah baiknya tetap mengatur nafas dengan baik.

Foto ini diambil di Pos 3

Saya sempat mendapati beberapa warung didirikan, dan juga disediakan kamar mandi. Warung yang didirikanpun menyediakan tempat duduk layaknya warung lesehan beserta gorengan yang sudah dihidangkan di piring dan juga beberapa potongan buah. Saya berjalan terus mengikuti Mba Fikha, kebetulan saya berada di urutan ketiga. Kira-kira sudah 1,5 jam saya berjalan, dan tibalah di Pos 3. Pos 3 ini disebut dengan Pos Cacingan, mungkin karena jalannya dilalui akar-akar pohon yang menyerupai cacing sehingga disebut sebagai Pos Cacingan.



Di Pos 3 ini saya duduk dan merebah sebentar sambil menunggu yang lainnya. Mas Rifqy, Mas Adi, Mas Eko dan Mba Eka masih di belakang. Saya, Mba Fikha, Mas Rendra dan Mas Muhajir sudah lebih dulu tiba. Sambil merebah, saya memutar lagu berjudul Stupid Ritmo milik Float, kira-kira begini liriknya 

Why don’t we just dream away
If that could make us stay ?
Why can’t we just dream away
We’re not real anyway

Saat formasi sudah lengkap, kami beristirahat sebentar. Beberapa dari kami mulai melempar canda agar tidak merasa bosan dan cepat capek. Setelah 15 menit berlalu kami melanjutkan perjalanan lagi. Jalan makin menanjak, tapi tidak membuat kami patah semangat karena pemandangan Dieng dari atas makin terlihat cantik. Rumah-rumah penduduk yang dikelilingi hamparan sawah dan perkebunan, sekaligus dari kejauhan terlihat asap Sikidang.




Beberapa kali kami berhenti dan mengabadikan pemandangan Dieng dari atas. Rasanya lelah cukup terbayarkan dengan pemandangan ini. Jam sudah menujukkan pukul 17:00 Wib. Kabut mulai menghampiri, dan jalanan mulai datar, itu tandanya kami sudah tiba di Pos 4. Tenda-tenda sebagian pendaki mulai didirikan, kami berjalan terus sampai menemukan lokasi yang tepat untuk mendirikan tenda. Aroma penggorengan mulai masuk ke hidung, beberapa pendakipun sudah mulai memasak untuk mengisi perut mereka.



Saya berjalan terus sambil memotret beberapa kabut disekitaran Pos 4. Mas Muhajir menunjuk tempat untuk mendirikan tenda yaitu di atas bukit. Sayapun bersama yang lainnya bergegas menghampiri. Setelah tiba di atas bukit, semuanya melepas kerilnya. Saya sibuk memotret beberapa pemandangan dan rona jingga di langit yang membentang. Sindoro sesekali terlihat dan sesekali tertutup kabut, sayapun tidak sempat mengabadikan Sindoro di Sore itu. 

Para lelaki sudah mengeluarkan tenda dan bersiap memasangnya. Sedangkan kami bertiga  yaitu Saya, Mba Eka dan Mba Fikha mengeluarkan pisau dan sayur-sayuran untuk dipotong dan dimasak malam ini. Menu malam ini sayur sop beserta lauk tahu tempe goreng dan sambal kecap. Setelah semua bahan telah dipersiapkan, saya mulai masuk ke dalam tenda dan menata tas lainnya sekaligus merapikan matras. 

Setelah itu bahan-bahan diangkut ke dalam tenda, dan kamipun mulai memasak di teras tenda. Angin di luar makin kencang udaranya semakin dingin, kami semua sudah masuk ke tenda masing-masing. Mas Rifqy dan Mas Adi kebagian memasak nasi dan menggoreng tahu tempe, sedangkan kami yang perempuan memasak sayur sup dan membuat sambal. 

Sekitar jam 19:30 Wib, masakan baru saja matang. Saya sudah bersiap untuk makan karena siang hari saya hanya makan 3-5 sendok saja. Mba Eka sudah tertidur pulas, akhirnya sayapun makan bersama Mba Fikha. Diselingi banyak obrolan, tak terasa kamipun kenyang. Sebelum tidur kami buang hajat terlebih dahulu. Udara di luar tenda semakin  terasa dingin,  dan saya keluar tenda tanpa mengenakan kaos kaki. Setelah buang hajat, kami kembali ke dalam tenda dan tidur. 

Malam itu saya belum bisa tidur, saya masih melihat video-video lucu dan tertawa dengan sendiri. Sekitar pukul 23:00 Wib, Mba Eka terbangun dan minta diantarkan untuk buang hajat. Saya keluar tenda dan melihat area sekitar tenda, kabut semakin pekat, dan lampu-lampu tenda pendaki lainnya terlihat samar.

Setelah mengantarkan, saya kembali menonton video sebentar. Karena mulai menguap sayapun berusaha untuk tidur. Saat tidur saya merasa kurang nyaman, kaki terasa dingin sekali, sesekali saya menggosokkan kaki ke sleeping bag, dan hasilnya sayapun tertidur. Di jam 2:00 Wib, saya sempat terbangun, angin di luar semakin kencang dan terasa gesekannya hingga ke dalam tenda. Sayapun sempat mendengar langkah kaki seseorang yang mengelilingi tenda. Saya tetap memejam mata agar kembali tertidur. 

Beberapa kali saya terbangun dari tidur karena udara makin dingin. Kaki saya mulai dingin sekali karena saya tidak mengenakan kaos kaki sama sekali. Sleeping bag rasanya kurang berfungsi dengan sempurna. Pagi sekitar jam 2:30 Wib saya sempat kebelet, tapi saya menahannya karena takut keluar sendiri. Entah benar atau salah, tiba-tiba suara resleting tenda seperti buka tutup itu semakin jelas, saya cuek saja dan berharap itu hanya imajinasi. Saya memasang earphone dan mulai mendegarkan lagu agar lupa dengan hal-hal yang aneh. 

Saya berusaha tidur dan memejam mata. Beberapa kali saya terbangun dan berharap sudah jam 5:00 Wib, tapi nyatanya jam masi menujukkan pukul 4:00 Wib. Tiba-tiba Mba Fikha dan Mba Eka sudah terbangun, saya akhirnya mengajak Mba Fikha untuk buang hajat sebelum pagi datang. Mata saya memandang ke sekitar dan kabutnya makin tebal. Di dalam tenda kami saling bercerita hingga tak terasa jam sudah menujukkan pukul 5:30 Wib.

Catatan :
* Tidak ada sumber mata air di area camp, pastikan persedian air tercukupi  ~ Perjalanan ini dilakukan pada 14 April 2018. 

Saya saat melakukan pendakian ke Gn.Prau 
Pengalaman tidak nyaman dalam menggunakan jaket saat sedang bertualang, membuat saya harus memutar otak dan mencari jaket yang pas dan cocok untuk dipakai saat berkegiatan outdoor. Beberapa tahun terakhir ini brand Eiger sedang bersemangat mengeluarkan seri “Women Series” nya. Karena jaket saya yang lama sudah waktunya diistirahatkan, akhirnya saya memutuskan untuk memilih brand ini untuk jaket saya.

Awalnya saya tidak terpikir untuk membeli jaket Eiger ini, atas saran dari Jun akhirnya saya memutuskan untuk membeli jaket ini dan juga karena keunggulan teknologinya yang cocok dan sesuai untuk wanita yang gemar berpetualang. 

Saat kemunculan jaket ini belum ada yang mereview sama sekali, namun saya memberanikan diri saja untuk membelinya, meski harganya lumayan di kantong untuk mahasiswa macam saya yaitu sekitar Rp.595.000. Warna yang disediakanpun ada 2 yaitu abu-abu dan biru, saya akhirnya memutuskan untuk membeli Eiger WS Transeat Jacket yang berwarna biru.

Eiger mengeluarkan dua model jaket seri Women Seriesnya, yang pertama Eiger WS Fly- Weight Wind Breaker Jacket, dan yang kedua Eiger WS Transeat Jacket. Nah pada kesempatan kali ini saya akan mereview seri Eiger WS Transeat Jacket

Eiger Transeat WS ini merupakan jaket windproof yang dirancang secara anatomis untuk para wanita yang senang melakukan kegiatan luar ruangan maupun aktifitas sehari-hari. Salah satu keunggulan jaket ini mampu menjaga tubuh dari paparan angin saat sedang melakukan kegiatan camping, hiking, trekking maupun kegiatan luar ruangan lainnya seperti berjalan ringan di kota-kota.

Bagian depan jaket beserta saku dada  

Bagian dalam jaket 

Bagian dalam jaket 

Bagian ujung lengan yang dapat disesuaikan 

Logo Women Series pada lengan sebelah kanan 


Eiger Transeat WS ini memiliki beberapa fitur diantaranya :
  • Tahan angin.
  • Teknik seam sealed di area kritis untuk menahan air agar tidak masuk melalui jahitan.
  • Penutup kepala yang dapat disesuaikan
  • Saku dada
  • Dua saku samping
  • Tali di bagian bawah jaket yang dapat disesuaikan
  • Ujung lengan yang dapat disesuaikan
  • Ada 2 Teknologi yaitu : Tropic Repellent dan Tropic Windblock


Material yang digunakan Eiger WS Transeat Jacket : Shell : Polyster, Lining, Polymesh & Taffeta.

Pertama-tama saya akan menjelaskan apa itu Tropic Repellent dan Tropic Windblock. Tropic Repellent merupakan salah satu teknologi yang ditawarkan oleh Eiger dalam brandnya. Tropic Repellent ini merupakan salah satu teknologi yang mampu membantu si pengguna jaket agar tetap dalam keadaan bersih dan kering karena daya serap cairan yang lebih pada bahan jaketnya, serta mencegah perubahan warna pada jaket. Sedangkan untuk Tropic Windblock, sesuai dengan namanya “wind” atau angin, teknologi dalam jaket ini berfungsi untuk menahan terpaan angin sekaligus mencegah dingin, sementara suhu yang ada di dalam tubuh tetap bisa keluar, sehingga tidak membuat pengguna berkeringat atau makin panas suhu tubuhnya.

Alasan saya memilih jaket ini adalah karena fitur yang ditawarkan lebih banyak daripada jaket seri Eiger WS Fly-Weight Wind Breaker Jacket. Bahannyapun lembut dan tidak kasar. Jujur saya agak berhati-hati dalam memilih jaket terutama untuk melakukan aktifitas outdoor yang harus beradu pada beberapa cuaca. Testimoni awal saya saat menggunakan jaket ini adalah nyaman, di siang haripun tidak terlalu panas meski menggunakannya saat berkendara ke kota-kota. 

Saya sering menggunakan jaket ini saat berkendara terutama di malam hari. Saya merasakan angin tidak masuk langsung ke dalam tubuh. Rasanya teknologi dalam jaket ini betul-betul berfungsi. Pernah juga saya pakai saat gerimis, dan hasilnyapun air tidak langsung masuk ke dalam tubuh saya, melainkan diserap oleh teknologi seam sealed yang ada di dalam jaket ini. Tapi jangan membayangkan jaket ini waterproof ya, karena memang jaket ini bukan jaket waterproof. Jadi apabila hanya gerimis saja  dan tidak hujan deras, maka tubuh tidak akan basah.

Pada kegiatan hiking, saya mengujinya di pendakian Gn. Prau, Wonosobo, Jawa Tengah. Setibanya di Pos 4 pada ketinggian 2.565 mdpl, saya mengeluarkan jaket ini dan memakainya. Saat saya berjalan menuju tempat didirikannya tenda, kabutpun mulai datang bersamaan dengan angin yang kencang. Saya merasakan jaket ini mampu menahan terpaan angin dengan baik.

Pada saat malam haripun sekitar pukul 11 malam, saya keluar tenda untuk mengantarkan teman saya buang hajat. Suasana malam itu sangat dingin sekali, dingin ini terasa pada kaki saya, karena saya hanya menggunakan sandal tanpa kaos kaki. Tapi syukurlah badan saya tetap aman dari terpaan angin karena Eiger WS Transeat Jacket, dan jaket inipun saya pakai saat tidur sampai keesokan paginya. 

Pagi sekitar jam 4, saya keluar tenda lagi dan terpaan anginnya lebih kencang daripada jam 11 malam. Pandangan saya disekitar semakin meredup karena kabut yang makin pekat, dan tentu udaranya semakin dingin dan lebih dingin dari jam 11. Kondisi tubuh saya tetap terjaga dengan baik dan angin tetap terhalang oleh teknologi dalam jaket ini.


Tampak jelas kantong di bagian depan 

Saya saat di Batu Ratapan Angin, Wonosobo, Jawa Tengah

Saat packingpun, Eiger WS Transeat Jacket ini tidak terlalu memakan banyak tempat dan tidak menggelembung sampai susah untuk dilipat, karena ukuran keril saya hanya 25l jadi sangat cukup. Dari beberapa keunggulan yang sudah ditawarkan Eiger WS Transeat Jacket, untuk kekurangannya bagi saya adalah tidak adanya saku dada di bagian dalam, karena menurut saya saku di bagian dalam ini lebih memberikan keamaan untuk meletakkan beberapa barang yang sekiranya tidak dimasukkan ke dalam tas. Selebihnya saya merasa nyaman dan enak dipakai untuk beberapa kegiatan outdoor.

Semoga review ini dapat membantu ~