30 Sep 2021

Berani Berkegiatan Outdoor Tanpa Takut Kulit Kusam dengan Scarlett Brightening


Bangun Pagi, Berolahraga dan Skincarean.

Sejak Juli tahun lalu dan pandemi, saya cukup jarang sekali untuk keluar rumah. Tapi setelah sekian lama, akhirnya saya memutuskan untuk berani keluar rumah lagi dan mengganti kegiatan travelling dengan lebih rajin berolahraga. Saya memilih untuk rutin lari dan bersepeda atau angkat beban. Ketiga rutinitas itu saya usahakan untuk rutin dilakukan. Ketika di pagi hari susah untuk bangun, maka sore harinya saya harus tetap berolahraga. Ketika mulai rajin melakukan aktivitas tersebut, saya merasa banyak perubahan yang terjadi dalam hidup saya. Selain badan saya semakin kuat, lebih segar dan tidak mudah, di sisi lain hal yang tidak disangka yaitu kulit wajah saya semakin lebih sehat. 

Menjaga pola makan, istirahat yang cukup dan rajin olahraga merupakan tiga kombinasi yang pas untuk mendapatkan kulit wajah yang lebih sehat. Semenjak menjalani pola tersebut, saya menjadi tidak khawatir dengan kondisi yang dialami oleh tubuh saya dan lebih berani berkegiatan outdoor jenis apapun itu walau sedang di kondisi panas atau hujan. 

Saya cukup sering membagikan cerita tentang kegiatan outdoor mulai dari naik gunung, berenang di pantai, pergi jalan-jalan ke luar kota maupun ke luar negeri dan masih banyak lagi. Dari beragamnya kegiatan tersebut, tentu saya sangat serius dengan perawatan wajah saya. Karena jujur, saya agak panik kalau terjadi apa-apa dengan wajah saya, karena saya pernah mengalami kecelakaan dan menyebabkan wajah saya cukup rusak. Sehingga hal tersebut membuat saya lebih hati-hati dan menjaga dengan baik. 

Kondisi kulit saya adalah normal to dry,  dengan kondisi kulit tersebut saya harus selalu menjaga kelembabpan kulit dengan baik. Karena ketika berpergian, kadang kala cuaca di tempat membuat kulit saya menjadi kering dan mengelupas. Jika sedang di gunung, saya cukup rajin menggunakan toner maupun pelembab untuk menjaga kelembabpan kulit di wajah hingga lebih baik. 

Belakangan ini skincare  produk lokal cukup ramai dan banyak orang mulai percaya untuk menggunakan, sementara saya masih maju mundur. Sampai di awal tahun 2021 saya mulai mencoba beberapa produk lokal nah salah satunya adalah Scarlett Brightening. 

Saya memilih rangkaian Brightly Series dikarenakan kondisi kulit saya yang lebih ke arah normal to dry (normal - kering) dan tidak berjerawat. Sementara jika kondisi kulit sedang berjerawat, maka bisa menggunakan rangkaian Acne Series yang terdiri dari 3 produk yaitu serum, day cream, dan night cream. Fokus perawatan wajah saya yaitu untuk menghilangkan bekas-bekas jerawat. Brightly Series terdiri dari 3 produk yaitu serum, day cream dan night cream. 

Dalam rangkaian Brightky Series, mereka memiliki beberapa kandungan yang tidak asing bagi saya, seperti adanya Niacinamide yang tujuannya untuk menjaga kelembabapan kulit, mencegah jerawat dan melindungi kulit. Selain itu ada Hexapeptide-8, Glutathione, Rainbow Algae, Aqua Peptide Glow, Rosehip Oil, Poreaway, Triceramide, Natural Vit C dan Green Caviar atau disebut sebagai Anggur Laut yang memiliki manfaat untuk mengatasi kulit kering dan mencegah pori-pori wajah yang membesar. 

Karena kulit wajah saya kadangkala sensistve di beberapa kondisi, maka dalam menggunakan beberapa produk biasaya saya tes dulu pada bagian leher atau pergelangan tangan. Jika tidak terjadi iritasi, maka produk tersebut cocok digunakan. Setelah melakukan uji coba produk Scarlett Brightening tersebut pada tangan saya, syukurnya tidak terjadi apa-apa. Sehingga saya bisa mulai mencoba serangkaian Scarlett Brightening. 

Saya menggunakan 5 produk Scarlett Brightening yaitu Scarlett Brightening Facial Wash (100ml), Scarlett Brightly Toner (100ml), Scarlett Brightly Ever After Serum (15ml), Scarlett Brightly Ever After Cream Day (20g) dan Scarlett Brightly Ever After Cream Night (20g). 


How to Apply : 

Pemakaian di pagi hari, biasanya dimulai dengan mencuci wajah dengan menggunakan Scarlett Brightening Facial Wash. Setelah itu wajah dikeringkan terlebih dahulu hingga kering. Setelah kering, saya menggunakan Scarlett Brightly Essence Toner. Penggunaan toner dilakukan 5-7 kali pemakaian, artinya 5-7 kali dituang ke tangan atau ke kapas hingga kulit benar-benar basah dan lembab. Hal tersebut saya lakukan agar kulit tetap lembab lebih lama mengingat kulit saya juga typical yang gampang kering. 

Dari kiri : Facial Wash, Essence Toner dan Brightly Ever After Serum


Tahapan selanjutnya yaitu menggunakan Scarlett Brightly Ever After Serum. Saya menuangkan 2-3x tetes ke tangan sambil digosok hingga hangat, baru ditap-tap ke wajah sehingga memberi efek relaksasi pada wajah. Saya sangat jarang menuangkan langsung pipet serum ke wajah, karena agar pipet tidak langsung mengenai wajah. 

Terakhir yaitu menggunakan Scarlett Brightly Ever After Cream Day untuk di pagi hari dan dibarengi dengan penggunaan sunscreen. Sementara untuk di malam hari, ulangi proses tersebut dan menggunakan Scarlett Brightly Ever After Cream Night. 



Texture Cream Malam Lebih Padat

Texture Day Cream Tampak Agak Cair ( Seperti Lotion)


Tekstur Scarlett Brightly Ever After Cream Day maupun Scarlett Brightly Ever Aftrer Cream Night mudah diaplikasikan ke wajah dan jujur saya cukup senang dengan aroma night creamnya karena seperti aroma tumbuh-tumbuhan. Sementara untuk Scarlett Brightening Facial Wash, setelah pemakaiannya tidak membuat wajah saya ketarik dan membuat kulit saya menjadi sangat kering. 

Tekstur dari Scarlett Brightly Ever After Serum adalah cair sehingga menurut saya, sebaiknya dalam mengaplikasikan dituang ke tangan saja, baru ditapkan ke wajah. Karena pengalaman saya ketika langsung diteteskan ke wajah, maka serum akan dengan cepat jatuh ke bawah. Sementara untuk Scarlett Brightly Essence Toner teksturnya adalah cair sehingga ketika digunakan memberikan efek segar sekaligus bisa membersihkan debu atau sisa make up yang masih tertinggal di wajah setelah pemakaian facial wash. Oiya dalam penggunaannya saya lebih berhati-hati, jangan sampai terkena area mata atau area mulut. 

Setelah menggunakan Scarlett Brightening kurang lebih selama 2 Minggu, bekas jerawat pada area wajah telah memudar dan kulit wajah saya menjadi lebih cerah. Saya cukup senang melihat dari pengunaan serangkaian Scarlett Brightening. Pada pagi hari kulit terasa lembab, sementara ketika setelah berolahraga, kulit semakin terlihat lebih sehat dan kenyal. Saya cukup percaya bahwa memiliki wajah yang sehat merupakan investasi terbaik bagi diri sendiri, sehingga walaupun senang berkegiatan outdoor dan terpapar sinar matahari secara intens, saya tetap bisa memiliki kulit yang baik dan sehat. 

Bagi kalian yang tertarik tentu kalian bisa membeli produknya pada link berikut
https://linktr.ee/scarlett_whitening


19 Apr 2021

Menuntaskan Merbabu: Sebuah Hutang dan Janji

Sekira bulan Mei 2015, saya sempat mendaki Gunung Merbabu. Kala itu kami berduapuluhan orang, memanfaatkan libur kuliah. Pendakian saat itu tidak sampai puncak, karena kami terjebak hujan hingga menjelang siang di Sabana I, terlebih lagi waktu yang mengejar kami di bawah. Walaupun yang dikejar jadwal kegiatan hanya satu orang, kami berprinsip "jika berangkat bersama, maka pulang harus bersama". Hujan dan Idealisme membuat saya menunda untuk menginjakkan kaki di Kenteng Songo. Saya dan seorang sahabat bergumam "tenang, Merbabu gak akan kemana-mana, suatu saat kita kesini lagi".

Tiga tahun kemudian, pada bulan Agustus 2018 saya berkesempatan untuk mendaki Gunung Merbabu lagi. Saat itu saya sedang ada urusan di Yogyakarta, ketika mas Rifqi Papan Pelangi mengajak saya untuk mendaki Gunung Merbabu. Pendakian kali ini tidak berduapuluhan, tapi hanya berdelapan, yaitu saya, Lidia, mas Rifqi, mbak Dian, mbak Sukma, mbak Igna, Mas Eko, dan mas Aliko yang berangkat sendirian dari Solo. Saat itu, hanya Lidia dan mas Rifqi yang saya kenal, yang lainnya baru pertama kali bertemu, benar-benar asing.

Kami yang dari Yogyakarta memulai perjalanan ketika pagi masih remang, bahkan sebelum matahari menampakkan dirinya. Kami dijemput di sebuah hotel yang kebetulan juga dekat dengan kos mbak Sukma, di Jalan Kaliurang. Mobil mulai berjalan, merayap di jalanan aspal yang masih dingin oleh embun pagi. lurus ke arah utara menuju Magelang. Tak sampai kota Magelang, mobil berebelok kanan menuju arah timur, tepatnya di Muntilan. Dari Muntilan jalanan mulai menanjak walaupun masih cukup landai, dengan ditemani matahari yang mulai membuat perjalanan kami menghangat. Jalanan terus menanjak mengitari lereng barat merapi, kemudian terus ke lereng utara. Pemandangan di jalur ini sangat indah, melewati beberapa pasar tradisional. Keributan pasar tradisional menjadi hiburan tersendiri bagi kami, ditemani dengan suara raungan mesin mobil tua yang kami tumpangi.

Menjelang pukul tujuh atau mungkin pukul delapan, saya tidak ingat pasti, kami sampai di Selo. Sesampainya di Selo kami beristirahat di salah satu rumah warga yang kebetulan sudah menjadi tempat istirahat para pendaki sebelum mulai mendaki ke Merbabu, lupa rumah siapa. Disini kami sarapan nasi pecel, dengan teh hangat yang asapnya seakan berlomba-lomba dengan kabut pagi di luar rumah. Ya, saat itu turun kabut. Saat kabut semakin tebal, ingatan saya melayang ke tahun 2015 saat kesini pertama kali. Ketakutan yang sama muncul kembali, "apakah akan hujan?", "apakah kabut akan terus semakin tebal?", ada rasa kecewa, trauma, dan diikuti rasa ragu. Tapi saya teringat perkataan seorang sahabat, "ragu-ragu mundur!". Saya tersadar dari lamunan, kesadaran yang serta merta menepis rasa keraguan itu, saya membatin, "kali ini aku tidak boleh mundur". Kesadaran sudah kembali, saya habiskan teh hangat yang sudah mulai mendingin.

Sekira pukul sembilan, kami mulai mengemas ulang ransel kami untuk bersiap menuju perizinan. Semua sudah siap, saatnya berdoa, merapal mantra kepasrahan, sebagai puncak pengharapan agar perjalanan baik-baik saja dan tak sia-sia. Kami menuju Pos perizinan, gerbang pertama bagi para pendaki. Kami mendaki dengan santai, tak terburu-buru. Kami nikmati setiap langkah, tiupan angin yang mendesir di daun telinga, debu yang beterbangan karena pijakan kaki sendiri, daun yang bergoyang mengikuti kemana angin mendorongnya. Ingatan kembali melayang ke tahun 2015, kala itu perjalanan menuju Pos 3 kami lewati bersama hujan. Saya kala itu bahkan tak memakai jas hujan, baju basah membuat udara semakin dingin, sungguh pendakian yang penuh perjuangan.

Kembali ke 2018, siang hari kami sampai di Pos 3. Pos 3 ini menjadi tempat beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan melewati tanjakan terparah di jalur Selo. Bagaimana tidak, jalurnya saja nyaris vertikal, tak ada jalur pendakian yang bisa dilihat dari Pos 3, semua terlihat seperti tebing tanah, saking curamnya. Setelah puas beristirahat, kami melanjutkan perjalanan melewati tanjakan yang saya sebutkan tadi. Karena udara saat itu sangat terik, jalur tanah berubah menjadi debu yang sangat ringan, yang mudah sekali melayang mengganggu paru-paru dan hidung yang sedang bekerja keras. Lagi-lagi teringat memori tiga tahun lalu, saat melewati tanjakan ini tak ada debu, tanah menjadi padat. Tak ada yang mengganggu paru-paru bekerja, tapi tanah padat itu menjelma menjadi jalur air yang licin, yang bahkan seorang teman ada yang membaca syahadat, merapal basmalah, dan ada yang istighfar. Sebuah rapalan mantra religius yang sama sekali tidak saya duga akan keluar dari mulut-mulut orang yang -bisa dikatakan- tidak terlalu religius. Bisa dibayangkan bagaimana ketakutan ketika melewati tanjakan saat itu, betapa licinnya, betapa takutnya terpelanting ke bawah, juga bagaimana ketakutan-ketakutan itu sampai membangkitkan perasaan kedekatan dengan Tuhan. Ingatan-ingatan itu membawa saya kembali ke saat ini, yang kontras sekali, debu beterbangan, tak ada rasa takut yag sebesar tiga tahun yang lalu. Namun tetap, rapalan doa itu tertanam di hati.
Tanjakan menuju Sabana I, tahun 2015. Tanah menghitam dan licin.

Sampai di Sabana I hari sudah siang menjelang sore, di Sabana I saya hanya menengok tempat mendirikan tenda tiga tahun yang lalu. Tergambar jelas guyonan-guyonan dan tertawa tiga tahun yang lalu. Kami tak berlama-lama di Sabana I, karena kami tidak ingin sampai di Sabana II dalam keadaan gelap. Dari sinilah saya melepas ingatan-ingatan tiga tahun yang lalu, karena yang akan saya lalui di depan adalah jalur yang benar-benar asing. Jalur menuju Sabana II ternyata berupa tanjakan, namun masih lebih landai daripada sebelumnya. Disini saya sempat bertukar ransel dengan mas Rifqi, yang beratnya mungkin lebih dari 30kilogram. Lumayan terasa, tapi tidak apa-apa, anggap saja olahraga.

Tempat mendirikan tenda di Sabana I, tahun 2015

Sampai di Sabana II tak banyak yang kami lakukan, langsung mendirikan tenda, masak, dan bersiap untuk tidur. Malam hari kami harus istirahat cukup, karena besok perjalanan yang masih lumayan berat harus dilalui. Karena tidak boleh mundur, harus muncak.

Subuh kami sarapan, bersiap melakukan pendakian menuju puncak. Bayangan Kenteng Songo melayang-melayang di pikiran saya, ingatan janji dengan sahabat saya pun teringat. Saya harus menuntaskan hutang ini, walaupun tanpa dia, ya karena kesibukannya akhir-akhir ini. Tanjakan menuju puncak ternyata sama curamnya dengan tanjakan menuju Sabana I dan Sabana II, setidaknya level kecuraman jalur puncak berada di antaranya. Syukurlah, pendakian ke puncak ini tidak membawa beban yang terlalu berat.

Singkat cerita kami sampai di Puncak. Sampai di puncak saya bertanya-tanya dalam hati, "Kenteng Songo yang berupa batu-batu bulat itu di sebelah mana?". Sejauh mata memandang, hanya ada ada plang yang menandakan bahwa itu adalah puncak, tapi tak ada Kenteng Songo. Dalam hati saya berkata, "saya harus menemukan Kenteng Songo". Karena hutang adalah hutang, hutang Kenteng Songo harus pula dibayar dengan Kenteng Songo. Setelah kawan-kawan turun lebih dulu, saya melanjutkan mencari jalur menuju Kenteng Songo, ternyata persimpangan dua puncak ini tidak terlalu jauh. Di persimpangan, saya menelusuri jalan yang berlawanan dengan jalan yang kami lewati tadi. Sampai di atas ada tanah lapang, sayu-sayup terdengar suara pendaki, kemudian terlihat bendera merah putih. Di dasar tiang bendera itu saya melihat banyak batu berbentuk bola yang berlubang, "Kenteng Songo! Akhirnya hutangku lunas".

Kenteng Songo

Kenteng Songo

Tak bisa diungkapkan betapa bahagianya saya saat menginjakkan kaki di Puncak Kenteng Songo, saya pun mengambil beberapa foto, bersiap menunjukkan dan menceritakan kepada sahabat saya, "Mang, aku wes nang Kenteng Songo". Namun kesempatan itu tak pernah sampai, saya tidak pernah menunjukkan dan menceritakan perjalanan Merbabu ini kepada sahabat saya secara langsung. Karena sekitar bulan November 2018, sahabat terdekat saya, Manggala Pudyastawa Almukarromin, dikabarkan meninggal dunia. Kabar itu membuat saya terpukul, tapi tak apa, biarkan saya simpan dulu cerita ini. Hingga akhirnya, saya kembali menceritakan pendakian Merbabu di blog ini, yang anda baca barusan. Semoga menikmati!

Kenteng Songo

13 Mar 2021

Legit Resto : Rekomendasi Makan di Jogja ala Fresh From Garden




Ketika ada teman datang ke Jogja, saya sering sekali menjadi tour guide dadakan untuk sekedar mengantar mereka makan dan ngopi. Tapi, kadang saya lihat-lihat juga teman saya ini gaya bepergiannya seperti apa dan pengennya bagaimana. Saya langsung dengan cepat membawa ke salah satu resto yang letaknya di Utara Terminal Concat, apalagi kalau bukan Legit Resto. 

Baca juga ngopi di Jogjahttp://www.mesraberkelana.com/2020/01/preety-odd-coffee-bar.html

Legit Resto ini memiliki kebun juga yang letaknya didekat dapur untuk memasak. Kebun ini digunakan untuk menanam beragam sayuran atau jenis tanaman lain yang digunakan sebagai bahan masakan jadi semacam fresh from garden gitu.


Saya selalu menikmati beberapa kudapan di Legit Resto, tapi dari beragam kudapannya. Saya paling suka dengan suasana yang ditawarkan di Legit Resto. Jujur, saya lebih suka makan di Legit Resto pas setelah hujan atau sedang gerimis. Karena Legit Resto menawarkan tempat yang tentu banyak ijo-ijonya karena mereka punya kebun sendiri sehingga banyak tumbuhannya gitu. Berasa lagi makan cantik ala-ala di kebun. Tapi, tentu kalau lagi hujan kami tidak bisa duduk-duduk di luar dong. Ya gamasalah yang penting ambil bagian yang di luar tapi dengan atap tertutup. 


Baca juga Pizza di Jogjahttp://www.mesraberkelana.com/2021/02/cicipi-pizza-dengan-suasana-beda-di.html

Menu-menu Legit Resto ini cukup beragam, banyak sekali menu sayuran, cumi, tahu-tempe dan banyak lagi. Rasanya pun beragam, nanti bisa langsung tanya ke pelayannya aja. Model makan di sini bukan kita duduk lalu pesan, tapi dibuat model prasmanan gitu. Jadi nanti tinggal ambil beberapa menu dan kalau selesai tinggal bayar. Buat yang sedang menjalani vegan atau vegetarian menu di sini mengakomodir kok. Oiya buat yang gasuka makan nasi putih di sini juga tersedia nasi merah. Suka pedes-pedes, tenang aja karena ada menu yang pedes juga kok atau boleh tambah sambel. Mereka juga punya beragam menu camilan, jadi apabila memang lagi kenyang dan cuma ingin cemil kalian bisa mencoba.




Buat saya di sini enak sih, selain tempatnya bersih dan ada musolla juga jadi ga perlu khawatir apabila mau agak lama di Legit Resto. Selain menu makanan, Legit Resto juga punya beberapa menu minuman bisa pilih wedang-wedang atau yang jamu. Tinggal dipilih saja lebih suka yang mana. 

Referensi kedai kopi di Jogja; http://www.mesraberkelana.com/2018/01/suasana-tenang-di-kedai-kopi-aegis.html

Bagaimana Rasanya ?

Karena saya datangnya sore, beberapa menu mulai habis jadi hanya pesan beberapa saja misal ikan pindang bumbu cabe ijo,ayam suwir bumbu merah dan tahu kecap dikasih bawang bombay. Kesemua rasanya menurut saya enak tapi saya belum menemukan rasa khas pada beberapa masakan yang ditawarkan. Jadi, mungkin saya harus lebih sering ke sana ya biar bisa mencoba beragam menunya. 





Berapa Budget yang harus dikeluarkan?

Biaya yang dikeluarkan perindividu sekitar Rp. 50.000 karena tergantung menu apa saja yang diambil. Harga menunya dari Rp. 6000. 

Dimana Lokasinya ?

 - Legit Resto Jl. Sidomukti, Tiyosan, Condongcatur, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

 

22 Feb 2021

Cicipi Pizza dengan Suasana Beda di Nanamia Pizzeria Yogyakarta



Karena pandemi belum berakhir, setiap akhir pekan kami memilih beberapa tempat baru untuk sekedar bersantai, membaca buku atau mencicipi hidangan yang unik. Karena saya lagi pengen banget makan pizza dan ingin suasana baru. Akhirnya saya memutuskan untuk mengajak Jun pergi ke Nanamia Pizzeria. Nanamia ini letaknya agak jauh kalau dari pusat UGM, lokasinya mengarah ke Selatan lagi ya daerah Prawirotaman.  Kami melakukan perjalanan kira-kira 20 menit, sampai akhirnya tiba di Nanamia Pizzeria. 


Jujur beberapa tempat makan di Jogja sudah menerapkan protokol kesehatan, ya tinggal masing-masingnya saja mau berjaga atau tidak. Meski di Nanamia ini sering ramai, tapi untungnya di masa pandemi ini kami bisa saling berjarak dengan pengunjung lain. Jadi gausa khawatir kalo bakal dempet-dempetan kayak di angkot ya haha




Waktu sampai di Nanamia Pizzeria, saya langsung menuju ruang cuci tangan. Jadi sebelum masuk, satpam mengarahkan kami untuk cuci tangan terlebih dahulu. Lalu diukur suhunya dan kami bisa scan barcode untuk lihat-lihat menu. Karena kemarin buru-buru, akhirnya saya gak scan barcode dan ya lihat menunya di buku menu yang telah disediakan. Petugas di Nanamia juga menggunakan masker, meja di bersihkan terlebih dahulu dan di sana setiap meja juga dikasih hand sanitizer. Jadi menurutku mereka betul-betul menjaga dan menerapkan dengan baik. 



Kami berdua melihat-lihat menu di bukunya, ternyata menu di Nanamia Pizzeria ini banyak sekali saya pun sampai bingung mau pesan pizza rasa apa dan topping apa. Oiya di sini juga jual beragam minuman dan beer, kalau mau chill bersama teman-teman sambil makan pizza Nanamia Pizzeria juga bisa lho. Karena sudah cukup melihat menunya, akhirnya saya pesan pizzanya dengan topping tuna, paprika, tomat dll, intinya saya lupa nama menunya haha. Saya menunggu kira-kira 20-40 menit, waktu itu agak lama karena kami ke Nanamia Pizzerianya di hari Minggu jadi agak ramai.

Setelah menunggu sekitar 40 menitan, makanan pun datang. Saya dari jauh melihat bagaimana mereka menyajikan menu. Intinya buat saya, Nanamia Pizzeria gak bikin khawatir karena semua disajikan dengan hiegenis. Karena di masa seperti ini terkadang pilihan untuk makan di luar memang berat, tapi ya karena lagi pengen suasana dan rasa yang beda, ya gapapa dicoba aja.




menu lain bisa dicek di https://pizzeriananamia.com/


Bagaimana Rasanya ?


Pizza saya dari Nanamia Pizzeria sudah datang yeey. Pertama sih yang datang Bruchetee semacam roti dengan tekstur keras dan dikasih paprika, tomat dan saus di atasnya, lalu baru deh datang pizzanya. Saya pilih pizza dengan pinggiran renyah, overall saya suka sekali dengan Nanamia Pizzeria. Rasanya unik dan tempatnya juga sejuk karena banyak tanaman diserkitarnya. Kalau memang ingin tempat yang outdoor, kalian juga bisa pilih duduk di bagian outdoor.  Oiya kalau Jun sendiri bilang kurang pas dengan rasa Nanamia Pizzeria ya dia lebih pilih Pizza Hut katanya secara bumbu lebih kuat Pizza Hut. Tapi memang sih, soal makanan dan rasa cocok-cocokan dan sesuai selera masing-masing. Kalau aku jujur approved banget.






Berapa Budget Yang Harus dikeluarkan ?

Aku menghabiskan kira-kira Rp.112.000 (seratus dua belas ribu rupiah), dengan nominal segitu aku dapat 2 minuman yaitu air mineral 600 ml,  beras kencur madu, Nanamia Pizzeria ukuran Large dan Bruchetee isi 4.  Menu di sini bervariatif, mungkin bisa menghabiskan start Rp. 75.000/person.


Dimana lokasinya ?

Tirtodipuran St No.1, Mantrijeron, Yogyakarta City, Special Region of Yogyakarta 55143








8 Jan 2021

Jalan Santai Ke Gunung Api Purba Ngelanggeran



Aslinya rencana jalan santai ke Gunung Api Purba ini super mendadak. Awalnya saya minta kado ulang tahun dari Jun pergi naik Andong saja, tapi karena Desember memang bulan musim hujan, jadilah pergi ke Gunung Api Purba. Jujur saya tipikal jarang punya ekspetasi tinggi untuk sebuah destinasi. Jadi ya saya gak kecewa-kecewa amat kalau nantinya zonk. 

Seperti biasa kami bangun terlalu siang, harusnya sih pengen mulai jalan jam 6 pagi. Tapi, karena kesiangan akhirnya ya berangkat jam set 8 pagi. Kami menuju Gunung Api Purba menggunakan sepeda motor, kami melakukan perjalanan sekitar 1 jam saya. Memang sedekat itu kalau misal berangkat dari Kota Jogja. Karena gak sempat sarapan, di tengah perjalanan, saya menghabiskan Cinnamon Rolls yang semalam saya beli di Starbuck. Rutenya gampang banget, tinggal ikuti arahan google maps. Karena saya pake petunjuk sepeda motor, jadilah saya sempat masuk ke hutan dan perkampungan warga gitu. 

Tiba di perkampungan warga, kami berdua berhenti sejenak untuk isi bahan bakar dan membeli jajanan di sebuah warung. Sudah beli-beli jajan, perjalanan kami lanjutkan lagi. Gak sampe 15 menit, kami sudah tiba di loket Gunung Api Purba. Tinggal di Jogja 3 tahun, saya belum pernah sama sekali naik Gunung Api Purba. Ya karena belum ada waktu aja haha.

Waktu nyampe di lokasi, kami berdua bingung. Kok sepi ya, wah asik nih berarti ga ada orang naik gitu. Yasuda, kami langsung menuju loket untuk membayar tiket masuk. Di sini sebetulnya sudah bisa bayar pake dompet digital, tapi lagi-lagi karena petugasnya yang melayani saya belum bisa alias gatau caranya, jadilah saya bayar cash saja. Kemarin sih untuk 2 orang dan parkir motor, kami kena tarif 22.000. Jadi, 10.000 per-orang dan tarif parkirnya 2000 saja. Setelah selesai membayar, kami berdua langsung menuju pintu masuk dan langsung jalan santai. 

Awal masuk, kami berjalan menaiki tangga-tangga, jalanannya sesekali datar, dan sesekali masuk sempit-sempitan lewati batu besar haha. Sebenernya seru sih, cuma ternyata di sini banyak nyamuknya, jadi saran saya jangan lupa bawa lotion nyamuk. Oiya, saat ke sini kondisi tanahnya licin sekali, karena memang lagi  musim hujan, jadi harus berhati-hati.






Jalan santai menuju puncak ini butuh waktu kira-kira 1 jam saja kalau sama turunnya ya kurang dari 2 jam saja. Waktu tiba di pos kedua, saya kaget karena ternyata pendakian ini tidak sepi-sepi amat. Ada beberapa  gerombolan orang juga naik sampai ke puncak, ya kalo dihitung-hitung ada 10 orang lah ya. Saat menuju puncak di perjalanan terakhir saya harus menaiki tangga kayu, tangganya gak sempat saya foto soalnya buru-buru naik haha. 

Oiya karena licin banget, Jun sempat berdiri di sebuah bukit gitu dan hasilnya pas dia turun, akhirnya dia terpeleset. Aku tertawa dibalik masker haha, dia langsung berdiri dan mangkel dengan sendirinya. Sepanjang perjalanan Jun mangkel dengan sendirinya, karena banyak nyamuk, licin dan tentunya hutannya ini gak dingin justru malah panas suasananya. 

Tiba di puncak saya cepat-cepat memotret pemandangan di sekitar. Gak lama-lama, karena ternyata banyak orang. Emang sih banyak orang versi perjalanan covid dan gak covid terasa bedanya. Dulu 10 orang itu terasa dikit, tapi karena sekarang lagi Covid, jadilah saya horor sedikit. Saya berusaha menjauh dari orang-orang, cuek juga karena males dimintai tolong foto-foto haha. 

Jun masih dengan posisi kesal dan gak mau mengulang lagi ke sini haha, saya juga sebel sih karena emang panas banget. Padahal ini musim hujan lho dan sehabis hujan, kayak gak ada dingin-dingin dikitnya gitu. Setelah selesai foto-foto di atas dan tidak selfie berdua juga, karena lagi-lagi kami pengen cepet turun dan mengakhiri perjalanan ini.

Karena licin banget,  ini juga jadi kehati-hatian saya buat berjalan turun. Duh saya itu suka naik gunung, tapi emang gak jago kalo disuruh turun, kayak takut terpeleset gituloh. Jadilah kemarin hati-hati banget. Sepanjang perjalanan turun, biar gak sama-sama badmood, akhirnya Jun cerita materi-materi diklat waktu dia gabung di Majapala, mulai dari teknik berjalan yang benar, tumbuhan apa yang bisa dimakan di alam bebas dan masih banyak lagi. 




Oiya jalanan naik dan turun di Gunung Api Purba ini bedaloh rutenya, jadi kalau sudah sebel sama jalur berangkatnya, nanti gausa sebel lagi sama jalur turunnya. Soalnya turun ini lebih slow gitu jalanannya. Kami berhenti beberapa kali untuk tarik nafas sebentar dan berjalan lagi sampe berjumpa dengan rumah penduduk. Kalau sudah kelihatan halaman rumah penduduk, itu artinya kalian sudah sampai dan siap jalan ke parkiran. Oiya dari halaman rumah penduduk menuju tempat parkir itu, kami harus berjalan kira-kira 500 meter. Jadi jangan senang dulu haha

Setelah berjalan, kami menyempatkan untuk cuci tangan di tempat yang sudah disediakan. Sayangnya menurutku tempat cucinya ini belum siap sempurna gitu, karena sabunnya terlalu banyak air gitu dan tempatnya kurang bersih. Saranku sih, kalau mau pergi di masa covid gini, jangan lupa bawa sabun cuci tangan sendiri saja yang kecil, lalu tetap bawa hand sanitizer juga ya. 


(Perjalanan dilakukan tanggal 11 Desember 2020)