Agustus merupakan bulan yang sudah memasuki masa kemarau. Jadilah kami akhirnya berangkat ke Merbabu bareng dengan Mas Rifqy dan jamaahnya. Kami berangkat dari Yogyakarta sekitar pukul 5 pagi dan tiba di Selo, Boyolali sekitar jam 8 pagi. Waktu itu tiket masuknya perhari sekitar 8rban, dilanjut ke base camp awal dulu untuk sarapan bareng temen-temen yang lainnya. Kalo tiba di Selo dan belum sarapan, gak perlu bingung. Kalian bisa sarapan saja di base camp selo.


Sarapan di Selo, Nasi Pecel Telur


Merbabu via selo emang selo-selow sedep sih. Tapi gak perlu takut buat yang pemula dan pengen merasakan sensasi naik gunung yang tinggi ini. Merbabu via selo cenderung aman kok untuk pemula, akan tetapi saya menyarankan agar menggunakan sepatu gunung atau sandal gunung. Pokoknya jangan pakai sepatu-sepatu sneakers deh kalo gak pengen kaki kamu turun dengan terluka hiks.

Pagi jam 9-an kami berangkat dari pos pertama. Setelah membayar retribusi lanjutlah kami berfoto-foto dulu di depan gapura Selamat Datang Pendaki Gunung Merbabu. Medan di tahap awal ini masih lewat hutan-hutan terbuka, bisa melihat ladang, ada ibu-ibu juga biasanya bawa kayu atau sedang mengambil hasil panennya. Eh di persimpangan jalan kadang ada orang jualan cilok lho haha. Jalanan relatiif menanjak, tapi gak nanjak banget sih karena saya masih kuat bawa tas 38 liter Osprey Kestrel.

Masih di awal perjalanan

Kalau musim kemarau gini banyak sekali debu-debu. Untungnya gak berangin sih waktu di perjalanan mau ke pos 1 ini jadi tetap aman. Tapi pastikan saat masuk musim kemarau, bawalah masker dan kacamata agar mata terlindungi dari pasir-pasir.


Akhirnya kami sampai di Pos 1. 


Beberapa pos yang paling mengesankan menurut saya sih pos 3. Di Pos 3 ini iman dan taqwa diuji karena ngelihat tanjakannya udah pengen balik aja pulang ke rumah. Tapi untungnya, pas sebelum berangkat ke Sabana, kami semua beristirahat kurang lebih 1 jam lah. Tidur-tiduran sambil makan jajan bareng temen-temen yang lainnya. Pas kemarau gini, pos 3 ini kalo lagi kenceng angina debunya sih banyak banget. Pas naik pun kelihat debu-debu pasir terbang-terbang, malahan bungkus jajan atau kresek bisa sampai terbang-terbang karena anginnya bener-bener kenceng.


Medan menuju Sabana 1

Intinya setiap naik mau ke Sabana 1 ini pastikan gak perlu lihat-lihat ke atas lagi, dinikmati aja kalo memang tinggi dan licin karena berpasir. Ini alasannya mengapa saya menyarankan agar gunakan sepatu gunung atau sandal gunung saja, karena kalau sepatu biasa atau sandal biasa tentu alas bawahnya tidak bergerigi gitu, cenderung rata dan itu justru bikin licin.  

Di beberapa tikungan pas menuju Sabana 1 ini bener-bener isinya pasir banget dan untuk menapak jalanannya pun kadang sulit. Jadi musti berhati-hati ya.
Sabana 1 dan beberapa tenda.

Paling bahagia pas sudah tiba di Sabana 1. Kami tiba di Sabana 1 jam set 5 sore. Awalnya saya mengira kami akan mendirikan tenda di Sabana 1, ternyata tidak dong. Semua sepakat untuk bergegas jalan dan mendirikan tenda di Sabana 2.

Lihat jalanan menanjak lagi, kok rasanya mulai loyo yah. Etapi pas mau sunset di Sabana 1 ini pemandangannya bagus banget. Kerasa indahnya pemandangan ketinggian di Merbabu ini. Disambut lihat juga gunung Merapi yang mulai ketutup awal. Untungnya sore itu angina gak lagi kencang-kencangnya. Saya sempet duduk dan foto-foto kok beberapa kali.

Dikit demi dikit tanjakan mulai habis, akhirnya tiba lah di Sabana 2. Oiya apabila ingin ke Merbabu via selo pastikan membawa persediaan air yang cukup ya, karena di sini gak ada sumber air dan kalau lagi kemarau pasti tenggorokan ini rasanya kering banget.

Sabana 2 waktu itu sepi pengunjung, hanya ada 2 rombongan saja termasuk rombongan kami. Kami bergegas menyiapkan peralatan untuk mendirikan tenda sekaligus bersiap masak untuk makan malam. Kalau lagi musim kemarau gini, suhu udara di gunung tentunya makin dingin sih semakin malam dan anginnya juga pas jam 11 malam hingga jam 2 relatif agak kencang. Usahakan bawa baju hangat-hangat sesuai dengan yang dibutuhkan, bawa jaket yang tahan angina juga dan jangan lupa sih bawa lotion atau lip balm agar kulit dan bibir gak kering pecah-pecah.

Malam harinya, beberapa dari kami banyak yang keluar untuk ambil gambar milkyway, etapi saya memilih tidur sih. Karena sudah keburu capek dan ingin segera tidur nyenyak saja.


Saat matahari akan terbit, tampak lautan awan.


Pagi setelah subuhan, saya keluar tenda bersama yang lainnya. Enaknya pas musim kemarau gini, pemandangan di Merbabu bagus sekali dan gak mendung sih. Saya melihat lautan awan di ketinggian indah sekali. Meski angina bertiup kencang, untungnya  di tempat saya melihat awan ini gak begitu berpasir, jadi aman lah dan gak perlu kelilipan debu.

Merapi dari Merbabu.

Matahari makin lama makin naik ke atas dan kondisi lagi cerah sekali. Saya melihat gagahnya Merapi dari Merbabu sabana 2 ini. Setelah memotret beberapa pemandangan akhirnya kami berfoto dengan latar Merapi di belakangnya.

Tentu ke menjejak ke Merbabu ini perlu dicoba, meski angina kencang, cerah dan banyak sekali pasirnya tapi saya lebih menyarankan untuk ke Merbabu saat musim kemarau sih dibanding pada saat musim hujan.

Intinya persiapkan barang bawaan dengan baik dan selengkap mungkin demi keselamatan.

Buat yang berangkat dari Yogyakarta dan bingung mau naik apa untuk sampai ke sana. Kalian bisa menyewa mobil langganan kami ini sih. Hubungi Pak Ambon : 0858-6543-5969.