16 Jan 2022

Review Suunto 3 : Sebuah Pengalaman Hidup Sehat dengan Jam Tangan



Di awal tahun 2019 saya kebingungan untuk memilih jam tangan yang bisa membantu, mengatur serta memantau aktivitas olahraga. Waktu itu, saya sudah tahu beberapa brand yang ya kira-kira budget saya bisa masuk untuk membeli jam tangan tersebut tanpa perlu menabung lama. Nah singkat cerita brand satu ini banyak sekali penggunanya, tapi dengan harga yang ditawarkan ya sekitar 500ribuan saya gak cukup yakin dengan ketahanannya. 

Pertimbangan ini cukup lama, sampai suatu hari saya menemukan keluh kesah teman saya di Twitter tentang jam tangan yang hendak saya pinang itu. Setelah kejadian tersebut saya pun mundur. Tapi suatu hari, saya tiba-tiba ingin membeli jam tersebut lagi. Faktornya tidak lain adalah karena murah dan kerabat saya pun ada yang pakai. Saya sempat berasumsi "kayaknya beneran bagus deh". Tapi lagi-lagi saya masih mengurungkan niat untuk membeli. 

Singkat cerita pertengahan tahun 2020, Jun memberi saya rekomendasi beberapa merek jam tangan. Jelas saya terkejut melihat harganya berkali-lipat dibanding dengan harga jam yang saya incar sendirinya. Dengan gaya marketing ala Jun, saya memulai riset brand satu ini yaitu Suunto. 

Awal ketertarikan dengan brand asal Finlandia ini dimulai dari melihat brand ambasadornya. Saya follow Brand Ambasador Suunto semuanya, mereka ada yang atlet,  ada juga yang memang antusias dalam berkegiatan outdoor. Saya pun melihat aktivitas mereka yang terbilang cukup ekstrim. Dengan kegiatan ekstrim tersebut, si jam tangan ini terlihat aman, baik aktivitas di lautan maupun di udara hingga di pegunungan es. Ya saya memang gak akan seekstrim mereka sih, tapi dari situ saya mulai sedikit percaya kalau jam tangan Suunto ini kualitasnya gak kaleng-kaleng. 



 Beberapa Ambassador yang saya follow



Setelah melihat aktivitas para Brand Ambassador di Instagram, saya mulai melihat review-review di Youtube, kebetulan jam tangan yang hendak saya beli ini masih keluaran baru, jadilah belum banyak mereview. Saya melihat bagaimana jam dibawa ke dalam suhu yang dingin, dibawa ke lautan, dibanting dan cara-cara lainnya untuk membuktikan bahwa jam tersebut ketahanannya tidak diragukan. 

Saya cukup berpikir lama sambil menabung, sampai akhirnya "oke dicoba dulu deh beli". Ya saya membeli SUUNTO 3.

Oiya waktu itu saya membeli jam Suunto itu secara online, karena kondisi masih pandemi. Setelah barang datang, saya langsung membuka dan mengoprasikan jam tersebut. Jangan lupa download aplikasi Suunto dulu di handphone, setelah itu lakukan pairing maka jam dan handphone akan terhubung. Oiya, ternyata semuanya berjalan dengan gampang, pun dalam perbarui software juga gak seribet yang dibayangkan. 






Kenapa SUUNTO 3. 

Pertama, Karena Suunto 3 termasuk keluaran baru di tahun 2020. Jadi edisi sebelumnya itu sudah ada yaitu Suunto 3 Fitness dan harganya jauh lebih murah dibanding Suunto 3. Namun pertimbangan saya, ternyata Suunto 3 yang baru ini ternyata lebih unggul dibanding sebelumnya. Kedua, karena saya bukan atlet atau yang akan berkegiatan di alam bebas setiap hari misal naik gunung setiap hari dan sebagainya. Maka Suunto 3 ini menurut saya cocok karena bisa seimbang antara harian dan aktivitas outdoor. Ketiga, sayapun juga senang karena di Suunto 3 ini menyediakan 83 aktivitas dari outdoor maupun indoor, mulai dari hiking, weight training, kayaking dan masih banyak lagi yang gak bisa disebutin karena gak hafal dan belum kepake semuanya. Jujur dengan beragam aktivitas outdoor tersebut, saya juga tertantang untuk mencoba semuanya.


Gimana Batreinya.

Awalnya saya gak ekspetasi banyak terhadap keawetan batre jam ini, apalagi digunakan setiap hari. Karena beberapa teman saya yang menggunakan brand lain pun mengeluh kalau malas menggunakan smart watch atau apapun itu karena harus mengecharge. Sepengalaman saya pribadi, dulu pernah saya pakai untuk naik gunung durasi 4 hari 3 malam. Ketika turun batre masih 50%. Kalau pemakaian harian dan olahraga 3-4x paling tidak harus dicas seminggu sekali. Nah kalau olahraganya cuma seminggu sekali atau gak sama sekali ya ngechargenya 2 Minggu sekali. Menurut saya ini awet sih karena ada beberapa brand, dimana kita harus ngecharge 2-3 hari sekali. 


Ketahanan.

Jam tangan ini pernah jatuh dari atas, saya juga lupa ketinggian berapa tapi untungnya tidak terjadi kerusakan maupun pecah kacanya. Kalaupun dibawa ke laut belum pernah, karena selama pandemi ini saya gak pernah snorkling maupun diving. Paling mentok ya berenang aja di kolam 2 Meter. Karena jam ini water resisten 30 Meter, jadilah tidak ada kendala.

Saat Naik Arjuno

Turun Arjuno, 22k langkah dari Lembah Kijang

Suunto 3 ini menawarkan beberapa fitur yang diunggulkan juga, misal training guide jadi ada jadwal kalo hari ini kita harus olahraga dengan durasi sekian menit. Lalu mobile notifications untuk tahu misal ada pesan atau apapun, tapi ya kita gak bisa jawab pesan itu. Sleep Quality yang ngecek gimana kualitas tidur kita. Ada juga stress dan recovery, jadi kalau kita setelah olahraga dan terasa yang capek sekali, nanti ada pengingat bahwa kita harus istarahat berapa jam dan gak boleh untuk olahraga. Saya pernah cek ketika turun dari Arjuno, ada pengingat di jam saya bahwa saya harus recovery 48 jam ya selama itu saya tidak diperkenankan untuk berolahraga dulu.


Suunto ini menurut saya softwarenya tidak ada kendala dan selalu mendapat updatean yang baru. Dulu jam ini tidak bisa untuk mengontrol lagu, nah sekarang karena dapet updatean software, jam ini bisa untuk mengontrol lagu. Misal saya sedang mendengarkan musik dan ingin menganti lagunya, nah gak perlu tuh ganti lagu lewat handphone, cukup klik tombol yang ada di jam tangan ini. 


Buat tipe Suunto 3, tracking GPSnya harus tersambung dengan hp. Jika enggak tersambung jadilah si jam gak tahu kita sedang lari dimana atau jalan dimana. Ini sih kekuranganya. Nah kalau mau yang bisa tracking GPS belilah yang tipe atasnya dan harganya 2x lipat dari jam ini. Tapi ya menurut saya tracking GPS ini belum jadi masalah, asalkan handphone dalam keadaan aktif ya jam tetap bisa membaca arah kita. Waktu saya naik gunung pun tidak bisa mendeteksi trackingnya jadi cuma terbaca kilometernya, waktu tempuh dan kecepatan. 


Oh ya untuk strap jam tanganya ini terbuat dari bahan karet tapi ada lobang-lobang banyak sehingga keringat tetap bisa keluar dan gak bikin gatal. Sepertinya hal ini sudah dipertimbangkan ya dari tim Suunto. 


Lari di sekitaran UGM



Intinya saya merasa puas dengan Suunto 3 ini, jika memang akan ganti, nantinya saya akan ganti ke tipe terbarunya atau di atas Suunto 3. Saya juga senang, berkat jam ini, saya makin rajin olahraga karena ada yang mengingatkan. Selain diingatkan oleh jam, saya juga terbayang-bayang karena jam ini belinya gak murah haha jadi ada merasa "wanjay dah beli jam mahal tapi gak olahraga". Akhirnya saya rajin deh olahraga sampai menjadi kebiasaan selama 2 tahunan lebih ini. ya cara orang menyemangati diri sendiri memang beda-beda nah syukurnya cara ini cukup ampuh bagi saya. 

Sekian review singkat Suunto 3 ini, semoga bermanfaat. :))

10 Jan 2022

Hidup Dicukupkan, Sehat dan Bahagia

Kehidupan di 2021 kemarin rasanya seperti ombak, kadang menjadi ombak yang tenang dan tiba-tiba menjadi ombak yang dahsyat. Ya, tahun lalu ibu berpulang, ketika saya sedang berada di Yogyakarta. Sejak awal bulan September, ibu selalu bertanya " Dek kamu gak pulang ta?", Lagi-lagi jawaban saya masih sama "Belum bisa bu, karena sekarang masih ngurus admin biar bisa daftar sidang proposal Disertasi, Ibu sabar ya, setelah itu aku pasti bisa pulang lama". 

Siapa yang menyangka, bahwa kepulangan saya itu sungguh dinantikan orangtua. Saya menyadari bahwa saya memang belum mempunyai anak, jadi saya tidak begitu tahu rasanya merindukan anak. Tapi terlepas dari itu, saya merasa beruntung karena kondisi saya sedang berada di Indonesia. Bagaimana jika saya sudah pergi ke negara lain, dengan aturan karantina yang berganti-berganti. Saya cukup puas dan berterima kasih pada semesta. 


Difoto dari Gunung Merbabu 2018


Kehidupan di tahun 2020 hingga 2021 ini menurut saya mengajarkan banyak hal bagi saya. Tentang hidup apa adanya, hidup mengikuti arus dan yang paling jelas adalah bahwa menjadi sehat itu murah. Ya saya 2 tahun belakangan ini tidak pernah sakit, saya cukup kaget dengan tubuh saya. Kuncinya apa ? Saya cukup rajin berolahraga, menjaga pola makanan dan tidak stress. 

Saya merasa bahwa hidup yang dijalani sekarang ya cukup untuk kondisi yang sekarang. Saya cukup menikmati membuat jadwal kegiatan sendiri dan tidak perlu terpaku dengan jadwal dari orang lain. Banyak hal yang bisa dilakukan dengan waktu 24 jam, termasuk tidur cukup, olahraga, nonton Netflix 2 jam dan banyak hal lain.

Sering kali teman datang dan bertanya kepada saya " Mol emang kamu lihat teman-temanmu menikah, ngurus anak, dah punya rumah, punya segalanya apa kamu gak pernah tertekan?". Saya selalu menjawab dengan sama dari dulu " Tidak, karena hidup yang saya jalani sekarang ya pilihan saya, saya senang pagi-pagi bisa yoga, lari pagi, lalu kembali ke rumah untuk membaca buku-buku, merawat 4 kura-kura, kalau ada kerjaan ya saya kerjakan, kalo tidak ya tidak, semua terlihat normal dan baik-baik saja". 

Saat di Candi 


Pernah juga ada teman bertanya "Emang lo udah sukses ya Mol?", lalu saya jawab " Mari kita duduk bersama, menyamakan persepsi, sukses seperti apa yang kamu maksud dan sukses seperti apa yang ku maksud". 

Sosial media secara tidak sadar, membuat beberapa orang tertekan. Tapi bagi saya ya biasa saja, itu hiburan dan ya itu adalah pilihan hidupnya. Apa saya pernah sambat ? wah ya pernah, tapi cukup jarang orang tahu kalo saya sedang sambat. Dulu saya menutup diri ketika ditanya " Lid, S3 kayaknya gampang ya, kalo tak lihat-lihat? " Ku jawab " oh ya jelas gampang". 

Tapi pada suatu hari saya pernah juga ditanya "Kenapa Lid, kok lama nyusun kerangka teoritik?". Barulah saya menjawab "Pusinglah aku, kuliah dari S1 kok kayaknya pas S3 jadi ngerasa gak bisa apa-apa haha dulu pas lulus S1 kayak dah paling pinter ternyata malah kelihatan gak bisanya hahah". Tapi terlepas dari sambatan itu, saya cukup bahagia, pertanda saya masih bisa merasakan rasanya kesulitan. 

Meski tahun 2021 kemarin intensitas pergi menurun, tapi saya tetap senang karena akhirnya di tahun 2021 saya bisa naik gunung. Saya tipikal orang yang senang menabung memori, rasanya foto-foto perjalanan kemarin bisa jadi kenangan memori di saat saya mulai bertambah umur. Saya berterima kasih juga pada teman-teman terdekat, kehadiran mereka selalu membuat bahagia, 

Berfoto dengan latar Gunung Merapi 

Saya mulai mengambil kesimpulan, mengapa saya bisa merasa cukup. Saya merasa bahwa apa yang ada dalam diri saya adalah hal berharga. Kesimpulan ini saya renungkan ketika saya membaca buku Failosophy.   Di buku itu dijelaskan misal gagal bagi sebagian orang adalah sebuah hal yang buruk, namun sebenernya ketika kita mau melihat bahwa itu ya adalah sebuah kebaikan, maka secara tidak sadar akan menghargai dan mau untuk terus berjalan. 

Semoga 2022 ini senantiasa diberi hidup cukup, sehat dan bahagia.