Agustus merupakan bulan yang sudah memasuki masa kemarau. Jadilah kami akhirnya berangkat ke Merbabu bareng dengan Mas Rifqy dan jamaahnya. Kami berangkat dari Yogyakarta sekitar pukul 5 pagi dan tiba di Selo, Boyolali sekitar jam 8 pagi. Waktu itu tiket masuknya perhari sekitar 8rban, dilanjut ke base camp awal dulu untuk sarapan bareng temen-temen yang lainnya. Kalo tiba di Selo dan belum sarapan, gak perlu bingung. Kalian bisa sarapan saja di base camp selo.


Sarapan di Selo, Nasi Pecel Telur


Merbabu via selo emang selo-selow sedep sih. Tapi gak perlu takut buat yang pemula dan pengen merasakan sensasi naik gunung yang tinggi ini. Merbabu via selo cenderung aman kok untuk pemula, akan tetapi saya menyarankan agar menggunakan sepatu gunung atau sandal gunung. Pokoknya jangan pakai sepatu-sepatu sneakers deh kalo gak pengen kaki kamu turun dengan terluka hiks.

Pagi jam 9-an kami berangkat dari pos pertama. Setelah membayar retribusi lanjutlah kami berfoto-foto dulu di depan gapura Selamat Datang Pendaki Gunung Merbabu. Medan di tahap awal ini masih lewat hutan-hutan terbuka, bisa melihat ladang, ada ibu-ibu juga biasanya bawa kayu atau sedang mengambil hasil panennya. Eh di persimpangan jalan kadang ada orang jualan cilok lho haha. Jalanan relatiif menanjak, tapi gak nanjak banget sih karena saya masih kuat bawa tas 38 liter Osprey Kestrel.

Masih di awal perjalanan

Kalau musim kemarau gini banyak sekali debu-debu. Untungnya gak berangin sih waktu di perjalanan mau ke pos 1 ini jadi tetap aman. Tapi pastikan saat masuk musim kemarau, bawalah masker dan kacamata agar mata terlindungi dari pasir-pasir.


Akhirnya kami sampai di Pos 1. 


Beberapa pos yang paling mengesankan menurut saya sih pos 3. Di Pos 3 ini iman dan taqwa diuji karena ngelihat tanjakannya udah pengen balik aja pulang ke rumah. Tapi untungnya, pas sebelum berangkat ke Sabana, kami semua beristirahat kurang lebih 1 jam lah. Tidur-tiduran sambil makan jajan bareng temen-temen yang lainnya. Pas kemarau gini, pos 3 ini kalo lagi kenceng angina debunya sih banyak banget. Pas naik pun kelihat debu-debu pasir terbang-terbang, malahan bungkus jajan atau kresek bisa sampai terbang-terbang karena anginnya bener-bener kenceng.


Medan menuju Sabana 1

Intinya setiap naik mau ke Sabana 1 ini pastikan gak perlu lihat-lihat ke atas lagi, dinikmati aja kalo memang tinggi dan licin karena berpasir. Ini alasannya mengapa saya menyarankan agar gunakan sepatu gunung atau sandal gunung saja, karena kalau sepatu biasa atau sandal biasa tentu alas bawahnya tidak bergerigi gitu, cenderung rata dan itu justru bikin licin.  

Di beberapa tikungan pas menuju Sabana 1 ini bener-bener isinya pasir banget dan untuk menapak jalanannya pun kadang sulit. Jadi musti berhati-hati ya.
Sabana 1 dan beberapa tenda.

Paling bahagia pas sudah tiba di Sabana 1. Kami tiba di Sabana 1 jam set 5 sore. Awalnya saya mengira kami akan mendirikan tenda di Sabana 1, ternyata tidak dong. Semua sepakat untuk bergegas jalan dan mendirikan tenda di Sabana 2.

Lihat jalanan menanjak lagi, kok rasanya mulai loyo yah. Etapi pas mau sunset di Sabana 1 ini pemandangannya bagus banget. Kerasa indahnya pemandangan ketinggian di Merbabu ini. Disambut lihat juga gunung Merapi yang mulai ketutup awal. Untungnya sore itu angina gak lagi kencang-kencangnya. Saya sempet duduk dan foto-foto kok beberapa kali.

Dikit demi dikit tanjakan mulai habis, akhirnya tiba lah di Sabana 2. Oiya apabila ingin ke Merbabu via selo pastikan membawa persediaan air yang cukup ya, karena di sini gak ada sumber air dan kalau lagi kemarau pasti tenggorokan ini rasanya kering banget.

Sabana 2 waktu itu sepi pengunjung, hanya ada 2 rombongan saja termasuk rombongan kami. Kami bergegas menyiapkan peralatan untuk mendirikan tenda sekaligus bersiap masak untuk makan malam. Kalau lagi musim kemarau gini, suhu udara di gunung tentunya makin dingin sih semakin malam dan anginnya juga pas jam 11 malam hingga jam 2 relatif agak kencang. Usahakan bawa baju hangat-hangat sesuai dengan yang dibutuhkan, bawa jaket yang tahan angina juga dan jangan lupa sih bawa lotion atau lip balm agar kulit dan bibir gak kering pecah-pecah.

Malam harinya, beberapa dari kami banyak yang keluar untuk ambil gambar milkyway, etapi saya memilih tidur sih. Karena sudah keburu capek dan ingin segera tidur nyenyak saja.


Saat matahari akan terbit, tampak lautan awan.


Pagi setelah subuhan, saya keluar tenda bersama yang lainnya. Enaknya pas musim kemarau gini, pemandangan di Merbabu bagus sekali dan gak mendung sih. Saya melihat lautan awan di ketinggian indah sekali. Meski angina bertiup kencang, untungnya  di tempat saya melihat awan ini gak begitu berpasir, jadi aman lah dan gak perlu kelilipan debu.

Merapi dari Merbabu.

Matahari makin lama makin naik ke atas dan kondisi lagi cerah sekali. Saya melihat gagahnya Merapi dari Merbabu sabana 2 ini. Setelah memotret beberapa pemandangan akhirnya kami berfoto dengan latar Merapi di belakangnya.

Tentu ke menjejak ke Merbabu ini perlu dicoba, meski angina kencang, cerah dan banyak sekali pasirnya tapi saya lebih menyarankan untuk ke Merbabu saat musim kemarau sih dibanding pada saat musim hujan.

Intinya persiapkan barang bawaan dengan baik dan selengkap mungkin demi keselamatan.

Buat yang berangkat dari Yogyakarta dan bingung mau naik apa untuk sampai ke sana. Kalian bisa menyewa mobil langganan kami ini sih. Hubungi Pak Ambon : 0858-6543-5969. 



Mungkin ini adalah tulisan pertama saya yang niat di tahun 2019. Awal-awal tahun 2019 ya saya menulis, tapi tidak dengan hati yang riang gembira. Di tulisan kali ini saya akan berbagi kisah alias curhat tentang fase yang sedang saya alami, apakah kalian pernah merasakan ini ?

Mari kita mulai . . .

Saya sedang merasakan fase tidak mencintai diri saya sendiri secara sepenuhnya. Harusnya hari-hari hidup saya, ya saya isi dengan hal-hal yang saya sukai. Tapi tidak dengan yang sekarang. Apa yang saya lakukan sekarang, saya rasa masih belum butuh-butuh amat. 

Padahal ada pepatah yang mengatakan “ hidup hanya sekali, maka lakukan lah hal yang paling kamu cintai ”. 

Semoga kalian tidak ya :p


Kadang, tiba-tiba saja saya mulai pesimis, takut akan masa depan dan beberapa hal kecil lainnya. Sebagai contoh “ takut besok pesta perkawinan saya tidak semeriah teman saya yang mengundang hampir 1500 orang’’. Aneh sih, kalau sudah di tahap ini. Belum lagi, ketakutan “ tidak lulus S2 seperti sepupu saya yang sudah empat tahun” dan beragam ketakutan lainnya. 

Entah ya, apakah ini yang dinamakan penyakit takut usia 25 tahunan haha. Jujur, saat S1 saya hampir tidak pernah memiliki ketakutan tersebut. Saya ya jalan saja, apa kata orang. Tapi, makin ke sini terkadang saya susah memilah obrolan orang. Obrolan mana yang sebaiknya saya simpan atau saya keluarkan saja. 



Saya sempat kaget, ketika ada seseorang menegur dan berkata “ hidup mu bukan untuk diri sendiri, kamu makhluk sosial ‘’. Seketika malam itu saya bubar, lantas memikirkan tentang “ Bagaimana kalau saya menikah dan hanya mengundang teman terdekat saja yang secuprit itu, tapi intim dan lega tanpa bridesmaid ? dan neko-neko lainnya, atau Bagaimana kalau saya menikah di usia yang lebih lama dari mayoritas keluarga saya ? atau Bagaimana kalau pekerjaan saya tidak sesuai yang diharapkan oleh orang tua ? dan bagaimana lainnya”.

Sungguh aneh . . .

Semenjak kejadian tersebut. Saya lebih sering bengong dan diam. Terkadang pun ketika diajak ngobrol oleh Jun, saya hanya menganggukkan kepala. Karena isi kepala saya terlalu banyak hal yang gak penting untuk dipikirkan. Jun pun sering nyeletuk " kamu itu gak bisa dengan hal seperti ini, kamu harus pergi, lakukan hobi mu itu "
 
Entah Jun itu lelaki dari planet mana.

Saya yakin, kalau saat ini saya tidak mencintai diri sepenuh hati. 

Oh begini ya rasanya. (sambil nyanyi :p)

Ternyata tidak mencintai diri sepenuh hati ini, juga berpengaruh pada hormon tubuh saya. Saya yang mulanya jarang sekali jerawatan. Sekarang, jadi mudah terkena jerawat. Saya pun akhirnya pusing sendiri dengan diri ini. Kok bisa gitu. 

Tidak mencintai diri ini, juga dilanjut dengan pengaruh suka makan dan jajan. Jujur, saya tipikal anak yang tidak terlalu suka makan dan jajan. Sejak kecil pun, ketika akan berangkat ke sekolah. Bapak selalu memaksa saya untuk makan terlebih dahulu. Tapi, karena saya anaknya malas. Akhirnya nasi yang telah disiapkan oleh bapak, saya suapkan ke adik saya huheheh ..
 
Tapi kalo makan ini, gak nolak sih  haha Sate Tuna Mak Sih
Sejak kecil saya lebih suka melakukan perjalanan. Saya teringat waktu kecil, bapak sering mengajak saya untuk pergi ke jembatan penyebrangan hanya untuk melihat truk atau mobil lewat. Kakek pun juga sering mengajak saya keliling kota Madiun dengan motor orange kantor pos sambil membawa kamera analognya. 

Kebiasaan-kebiasaan itulah yang akhirnya membuat diri saya mencintai perjalanan. Tapi, karena saya sedang di fase tidak mencintai diri sendiri, ya akhirnya saya suka beli-beli jajan dan melupakan kesenangan tersebut. Mau beli tiket untuk pergi jauh ya ragu-ragu, sudah booking pun ya saya biarkan saja tanpa saya bayar karena ragu. 



Malam ini, saat menulis ini saya agak tersadar. Mulai hari ini saya harus mencintai diri saya sepenuhnya dan ikhlas se-ikhlasnya. Saya harus sayang pada diri ini dan tidak memberikan aneka pekerjaan yang memang tidak saya sukai maupun cintai.

Tapi Lid, melakukan pekerjaan kan memang ada suka dan tidak sukanya ? 

Jadi begini. Saya pernah bilang ke bapak gini “ Pak, aku ini nanti lulus bakal kerja apa ya ? kok ya temenku susah semua cari kerja”. Bapak dengan entengnya menjawab “ Kerja itu gampang dek, yang susah itu kuliah ‘’.  Saya gak tahu, obrolan bapak itu guyon, serius atau hanya menenangkan. Semenjak kejadian itu, bapak selalu bilang ke saya “ Dek, semua itu dikerjakan gapapa asalkan senang. Daripada kepikiran lalu sakit jantung ? Seperti ayah ini, meski  banyak  jatuhnya ya tetap optimis, kita gak perlu takut karena Tuhan pasti kasih makan, beberapa pekerjaan tentu ada senang dan tidaknya. Tapi, setidaknya kita bisa meminimalisir hal yang tidak kita sukai dengan lebih berhati-hati ”. 
 
Cerita lainnya. 

Jadi begini. Pada suatu hari, saya pernah duduk di depan TV. Saya mengamati Yangkung (kakek) saya yang sedang menyiapkan baju untuk siaran di RRI. Saya pun bilang “ loh kung, kan hujan angin, di telfon aja ijin gak usah siaran”. Yangkung pun menjawab “ enggak yah (dyah-lidia), kan  yangkung punya jas hujan gak masalah lah, kalo sudah suka  ya semua dilakukan dengan hati senang”. Saya pun hanya duduk sambil menggelengkan kepala dan menitip pesan agar nama saya dipanggil saat siaran.  



Saya percaya, bahwa mencintai diri sendiri dan semua yang dilakukan untuk diri ini memang perlu adanya. Jangan lah terlalu bawa arus dengan obrolan orang yang terkadang tidak selayaknya untuk diikuti dan dilanjutkan. 

Kunci hidup bahagia emang mencintai diri sendiri dulu kali yak ? 

Berati pepatah “ Ikuti kata hati mu “ betul adanya dong ? 

Apakah kalian pernah di fase ini ? kira-kira obatnya kalian apa ?

Menurut KBBI Daring, teknologi adalah metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis atau keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Saat ini, teknologi tidak hanya ada di barang-barang elektronik saja, melainkan juga pakaian sehari-hari manusia. Anggap saja baju, celana, jaket, dan bahkan tas. Pakaian yang memakai teknologi tertentu biasanya adalah pakaian olahraga luar ruang, agar sesuai dengan pengertian teknologi di atas tadi, yaitu menunjang kenyamanan hidup manusia.

Disini saya akan memberikan informasi tentang teknologi apa saja yang diterapkan di pakaian yang cocok dipakai saat mendaki gunung. Mendaki gunung itu kegiatan yang beresiko, penyebabnya adalah suhu udara yang dingin dan cuaca gunung yang tidak bisa ditebak. Jadi, sangat penting mengetahui pakaian yang cocok untuk pendakian gunung, bukan untuk gaya, hanya saja untuk menghindari dan meminimalisir terjadinya kecelakaan dalam pendakian.

Jadi langsung saja, di bawah ini pembahasan mengenai teknologi serta produk yang memakai teknologi tersebut.
  1. Gore-Tex

Ditemukan tahun 1969, Gore-Tex adalah sebuah teknologi pakaian yang menjamin penggunanya tetap kering namun tidak kepanasan. Sebenarnya Gore-Tex bukan jenis kain pembentuk sebuah pakaian, melainkan sebuah membran yang dihasilkan dari polytetrafluoroethylene (PTFE) yang direnggangkan sehingga menghasilkan bahan yang disebut expanded polytetrafluoroethylene (ePTFE). Membrane PTFE yang sudah direnggangkan ini memiliki pori-pori yang 20.000 kali lebih kecil dari tetesan air dan 700 kali lebih besar dari uang air, itulah yang menyebabkan membrane Gore-Tex mampu menahan air dan tetap bisa mengeluarkan suhu panas yang dihasilkan oleh tubuh. Berhubung Gore-tex hanya berupa membran. Maka penerapan dalam pakaian outoor biasanya diletakkan di bawah outer dan di atas inner, jadi berada di antara outer dan inner. Jadi, pakaian outdoor yang menggunakan membrane ini biasanya memiliki 3 lapis kain.
Sumber: wiggle.com

Saat ini, banyak sekali perlengkapan pendakian gunung yang memakai teknologi ini, dan sebagian besar digunakan pada jaket, walaupun ada juga yang digunakan di sepatu gunung. Berikut beberapa produk yang memakai teknologi Gore-Tex:
a.       Jaket The North Face Apex Flex GTX® 2.0
Jaket keluaran The North Face yang tersedia untuk pria maupun wanita, jaket ini dibanderol dengan harga $249.00 atau setara dengan Rp. 3.559.766,25.
b.      Sepatu Gunung The North Face Hedgehog Fastpack Gore-Tex®
Sepatu gunung yang juga keluaran The North Face yang tersedia untuk pria maupun wanita, dan menurut saya sepatu seri Hedgehog ini termasuk yang paling banyak dicari, harganya sendiri senilai $130.00 atau setara dengan Rp. 1.858.512,50.
c.       Celana Marmot Lightray
Celana outdoor merek Marmot, termasuk merek legendaris yang tidak didistribusikan di Indonesia, celana ini dibanderol dengan harga $275.00 atau setara dengan Rp. 3.931.468,75
d.      Jaket Marmot Spire
Jaket yang juga diproduksi oleh merek Marmot, tidak dijual resmi di Indonesia, dibanderol dengan harga $400.00 atau setara dengan Rp. 5.718.500,00
e.       Jaket Arc’teryx Macai
Sama seperti Marmot, Arc’teryx termasuk salah satu merek legendaris di dunia pendakian gunung, jaket ini tidak dijual secara resmi di Indonesia. Dibanderol dengan harga $949.00 atau setara dengan Rp. 13.567.141,25

2. Texapore
Sumber: outdoorkit.blogspot.com

Memiliki fitur yang sama seperti Gore-Tex, yaitu windproof, waterproof dan breathable. Tidak dijelaskan teknologi ini dibuat dari bahan apa dan bagaimana cara kerjanya, tetapi teknologi ini diklaim memiliki kemampuan tahan angin atau windproof dengan nilai 5/5, tahan air atau waterproof dengan nilai 3/5 dan kemampuan melepaskan uap panas tubuh atau breathable dengan nilai 2/5.
Teknologi ini dikembangkan sendiri oleh merek outdoor terkemuka asal Jerman, Jack Wolfskin. Walaupun teknologinya dikembangkan sendiri dan dipakai di produk-produknya, namun produk-produk Jack Wolfskin yang memakai teknologi ini tidakdibanderol dengan harga murah. Berikut produk yang memakai teknologi Texapore:
a.       Jaket Jack Wolfskin The Humboldt
Jaket termahal yang memakai teknologi Texapore. Dibanderol dengan harga 449.95 € atau setara dengan Rp. 7.269.910,29.
b.      Jaket Jack Wolfskin Pine Creek
Jaket termurah yang memakai teknologi Texapore. Dibanderol dengan harga 69.95 € atau setara dengan Rp. 1.130.192,74.
c.       Sepatu Jack Wolfskin Wilderness Texapore Mid
Sepatu termahal yang menggunakan teknologi Texapore. Dibanderol dengan harga 219.95 € atau setara dengan Rp. 3.553.765,46.
d.      Sepatu Jack Wolfskin Vojo Hike 2 Texapore
Sepatu termurah yang menggunakan teknologi Texapore. Dibanderol dengan harga 94.95 € atau setara dengan Rp. 1.534.121,53.

3. Tropical Outdoor Gear
sumber: medium.com
Kita patut bangga dengan produsen lokal, karena Eiger menjadi salah satu atau mungkin bahkan satu-satunya produsen peralatan outdoor di dunia yang mengembangkan teknologi pakaian outdoor khusus untuk daerah beriklim tropis. Teknologi Eiger memiliki karakter bahan yang berbeda dengan produk yang dikembangkan untuk negara dengan empat musim. Tak tanggung-tanggung, total ada 14 teknologi yang diterapkan Eiger, yaitu:
a.       Tropic Drainage (perlindungan terhadap air).
b.      Tropic Scratch Shield (tahan goresan ringan).
c.       Tropic Insect Shield (tahan gigitan dan sengatan serangga).
d.      Tropic Windblock (tahan angin).
e.       Tropic Lite (bobot yang ringan).
f.        Tropic Waterproof (tahan air).
g.      Tropic Odor Shield (menyerap bau keringat).
h.      Tropic Air Flow (system sirkulasi udara).
i.        Tropic Repellent (menolak penyerapan cairan berlebih).
j.        Tropic Vent (bereaksi pada keringat dan menurunkan suhu badan).
k.      Tropic Insulation (menjaga tubuh tetap hangat).
l.        Tropic Dry (membuat material tetap kering dan nyaman).
m.    Tropic Uv Shield (menahan sinar Ultraviolet).
n.      Tropic Shell (tahan air dan melepaskan uap air, mirip prinsip Gore-Tex dan Texapore).
Tidak tanggung-tanggung, Eiger mengembangkan teknologi ini berdasarkan riset, yaitu Ekspedisi Black Borneo dan Ekspedisi 28 Gunung Indonesia. Melibatkan banyak tokoh yang aktif dan berpengalaman dalam kegiatan outdoor, sebut saja Bongkeng dan Don Hasman.
Sungguh, menuliskan 14 teknologi Tropical Gear ini yang paling bikin capek. Karena banyak sekali produk Eiger baik offline maupun online, maka saya tidak perlu menampilkan produk-produk apa saja yang menggunakan teknologi tersebut, tinggal dating saja ke tokonya dan tanya ke pegawainya.

4. AIRism dan Heattech

Tiga teknologi yang dikembangkan oleh Uniqlo.
sumber: uniqlo.com
AIRism adalah teknologi yang dikembangkan agar tubuh tetap kering dan nyaman. Teknologi ini menggunakan bahan mikro-poliester yang dikembangkan oleh Toray Industries, yang berfungsi untuk melepaskan panas, evaporasi kelembapan, dan memberikan rasa lembut dan nyaman di tubuh. Ada tiga pilihan tipe AIRism, yaitu AIRism, AIRism Mesh, dan AIRism Seamless. Produk yang menggunakan AIRism sendiri kebanyakan pakaian dalam, namun ada beberapa yang pakaian luar dan casual. Menurut saya, yang cocok untuk dipakai saat berkegiatan mendaki gunung adalah yang berjenis pakaian dalam, seperti kaos dalam dan celana dalam. Harganya mulai dari Rp. 149.000,00 – Rp. 299.000,00.
sumber: uniqlo.com
Heattech merupakan teknologi penahan panas, bukan saja menahan panas, teknologi ini bahkan bisa menghasilkan panas dari uap air yang dihasilkan oleh tubuh. Ada tiga tingkatan teknologi Heattech, yaitu Heattech Reguler, HEattech Extra Warm dan yang tertinggi adalah Heattech Ultra Warm. Dibuat dari serat khusus yang tidak diberitahukan oleh Uniqlo, dan dilengkapi dengan micro-acrylic yang ditata sedemikian rupa sehingga mampu menyimpan panas. Sama seperti AIRism, pakaian ini cocok untuk dijadikan pakaian dalam saat mendaki gunung, dan lebih tepat lagi dipakai saat tidur di dalam tenda. Harga pakaian dalam dengan teknologi ini mulai dari Rp. 59.000,00 – Rp. 399.000,00.
Pembahasan di atas adalah murni pendapat saya berdasarkan apa yang saya baca dan apa yang saya alami selama melakukan kegiatan pendakian gunung. Jadi apabila ada pendapat lain, mari kita diskusikan di kolom komentar.

Bulan Januari lalu saya menghabiskan waktu di Gresik, karena kuliah sedang libur akhir semester. Seperti biasanya, rutinitas hidup di Gresik hanya sebatas ngopi dan ngopi.

Suatu hari, saya diajak teman saya untuk ngopi di Surabaya, ada tempat ngopi yang baru buka katanya. Jadilah kami berangkat pagi ke Surabaya, selain karena bosan dengan kopi Gresik-an, tawaran promo juga jadi pertimbangan saya, hahaha.

Siang hari kami tiba di Pacar Keling, tempat kedai kopi itu berada.  Awalnya saya mengira tempatnya kecil, karena sebenarnya kedai kopi ini berkonsep coffe to go seperti yang saya lihat di akun instagramnya, dengan gelas plastik khas kedai kopi coffee to go. Ternyata saya salah, walaupun berkonsep coffee to go, tetapi kedai kopi ini tetap menyediakan meja dan kursi untuk nongkrong.
Kedai Kopi Kolonial

Oh iya, namanya Kedai Kopi Kolonial. Saya awalnya bertanya-tanya, kenapa ada nama Kolonial di kota pahlawan, mengingat puluhan tahun yang lalu kolonialisme pernah bergesekan dengan warga Kota Pahlawan. Setelah saya tanya, ternyata arti Namanya tidak sedangkal itu, lebih dalam lagi, anak-anak muda pemilik kedai ini berpikir bahwa Kolonialisme lah yang membangkitkan semangat juang para pahlawan, sehingga Indonesia menikmati kemerdekaannya. Semangat juang itulah yang berusaha dimunculkan oleh pemilik kedai, khususnya untuk membangkitkan dunia entrepreneur di Indonesia khususnya Surabaya. Jadi, biarkan Kolonial menjadi pengingat bahwa perjuangan tidak boleh berhenti ketika Indonesia merdeka saja, tetapi seterusnya. Cukup relevan sih menurut saya, mengingat dunia entrepreneur negeri ini masih berada di bawah produk-produk luar negeri.

Disini saya memesan Kopi Susu Pacar Keling, salah satu menu signature mereka. Rasanya? Enak, kopinya sangat terasa, dengan rasa manis yang bukan rasa manisnya gula, melainkan manis susu. Tapi memang dasarnya saya tidak begitu suka dengan kopi campur susu, setelah minuman pertama habis, saya memesan lagi americano. Rasa kopi dari americano-nya cukup kuat, tidak seperti americano kebanyakan yang biasanya lebih seperti kopi yang terlalu banyak air. Walaupun sebenarnya saya gak tau biji kopi dari daerah mana yang mereka gunakan. Saya menyesal tidak ambil foto sebelum saya minum, hahaha maklum lupa.

meja kursi di bagian tengah


Oh iya, disini ada empat meja dengan masing-masing empat kursi, dan juga meja panjang yang menempel di tembok dengan lima kursi, ya bayangkan sendiri lah. Fasilitas lainnya ada tempat colokan listrik di meja yang dekat dengan tembok, toilet kecil dan bersih ada di pojok sebelah kanan meja barista. Bagian depan dibiarkan terbuka dengan dinding yang diganti pagar besi, karena terbuka maka kedai ini hanya menggunakan kipas angin, gak pakai AC. Jadi kalian bisa bebas merokok dan vaping disana. Karena gak pake AC, jadi agak panas saat siang hari. Saya tidak bisa menyalahkan pengelola untuk hal ini, ya karena kalian tau sendiri bagaimana panasnya kota metropolitan kedua terbesar di Indonesia itu saat siang. Jadi, waktu yang tepat berkunjung kesana adalah pagi, sore, dan malam hari.

meja panjang yang menempel di tembok

Jadi untuk kalian yang lagi jalan-jalan ke Surabaya, sambil menelusuri jejak-jejak kolonialisme Kota Pahlawan, nongkrong di Kedai Kopi Kolonial pasti akan semakin membangkitkan daya juang hidupmu.

Untuk daftar menu bisa kalian lihat sendiri di akun instagramnya @kolonial.kopi




Semenjak tahu enaknya naik kereta ekonomi premium, makin ke sini saya jadi ketagihan ketimbang naik yang ekonomi. Selain waktu tempuhnya yang agak cepat disbanding ekonomi, suasana di dalam keretanya pun tidak terlalu ramai. Mirip-mirip lah dengan fasilitas KAI yang kelas Bisnis. 


Saya cukup jarang sekali naik kereta bisnis, karena harganya yang agak mahal dan kadang selisih sedikit dengan harga tiket pesawat. Beberapa kali ke Jakarta pun kalau dari Surabaya, saya lebih memilih untuk naik pesawat karena lebih menghemat waktu dan harganya selisih sedikit. 

Tapi, karena sekarang sudah muncul ekonomi premium, ya saya makin ketagihan dong. Ekonomi premium kali ini yang saya coba yakni tujuan terakhir Banyuwangi. Wijayakusuma ini diberangkatkan dari Cilacap lewat jalur selatan. Nah, jadilah kereta ini lewat Yogyakarta dong.

Saya pun mencoba naik dari Yogyakarta sekitar pukul 18:16 Wib dari Stasiun Yogyakarta dan turun di Stasiun Sidoarjo. Saya kira sih interior kereta ini akan mirip dengan kereta Sancaka yang biasanya saya tumpangi. Tapi saat saya masuk ke dalam kereta ternyata berbeda. 

Saat itu saya duduk di kursi 3D dengan posisi jalan maju ke arah selatan. Ruang kaki di bawahnya saya rasa lebih luas. Toiletnya pun ruangnya lebih luas dibanding kereta ekonomi Sancaka. 

Soal harga, ekonomi premium antara Sancaka dan Wijayakusuma tidak terlalu berbeda. Dibandrol dari harga Rp. 160.000-an. (Rute Yogyakarta – Sidoarjo)

baca juga : http://www.mesraberkelana.com/2019/01/pengalaman-naik-kereta-joglosemarkerto.html

Makin ke sini naik kereta jadi semakin menyenangkan. Saya jadi teringat masa-masa dahulu saat awal kali naik kereta, toilet kotor, banyak pengamen, pengemis dan tukang sapu illegal.  Tapi sejujurnya, kadang saya kangen sih dengan hal itu haha meski ada hal memalukan misal pernah berantem sama pengamen di kereta dan untung saya tidak jadi ditonjok karena dihadang teman-teman saya haha

 

Fasilitas lain di Ekonomi Premium Wijayakusuma kurang lebih sama dengan Sancaka. Enaknya sih kalo di gerbong ekonomi ini, setiap gerbongnya ada tempat untuk meletakkan koper yang besar-besar, atau tempat untuk menggantungkan kursi roda, tempat sepeda lipat begitu.Sedangkan posisi tempatnya tersebut terletak di dekat kursi paling belakang. 

Apabila ingin ke Banyuwangi menggunakan kereta Wijayakusuma ini, saya sangat menyarankan sih. Meski nantinya sangat bosan karena akan tiba keesokan harinya. Tapi jangan salah, kereta ini kalo malam hari makin nyaman sekali karena lampu-lampu gerbongnya mulai dimatikan semuanya. Ah seperti naik kelas eksekutif saja, lalu tinggal pakai selimut hihi

Semoga kedepannya kereta api makin oke dan memuaskan. 



Awalnya saya bingung saat hendak ke Wonosobo, baiknya menggunakan transportasi apa yang murah dan aman. Hasil browsing di beberapa konten blog, ternyata ada 2 (dua) pilihan apabila ingin ke Wonosobo. Bisa menggunakan Travel atau Bis. Karena saya orangnya ingin murah meriah, jadilah saya memutuskan untuk naik bis, walau harus dioper 2-3x oper.  
Saya pergi ke Wonosobo karena ada ajakan untuk mendaki Gunung Prau bareng Papan Pelangi ( Mas Rifqy) sekalian keliling Dieng. Waktu itu, hanya saya saja yang berangkat dari Yogyakarta. Karena teman lainnya berangkat dari beda kota, ada yang dari Jakarta, Malang, Sidoarjo dan Surabaya. 

Saya memilih berangkat ke Wonosobo lebih awal satu hari, aslinya sih bisa saja ditempuh di hari yang sama. Tapi, karena saya orangnya bukan tipe “ Morning Person” akhirnya saya memilih hari sebelumnya saja, agar tidak terlalu terburu-buru dan lebih santai. 

Siang hari setelah pulang kuliah, sekitar pukul 12:30 Wib. Saya langsung berangkat menuju Terminal Jombor. Tiba di Jombor, saya langsung mencari bis eksekutif untuk berangkat menuju Magelang. Tidak terlalu lama saya sudah mendapat bis dan langsung duduk. 
Pak kernet pun menghampiri “ Mba, turun mana ? ‘’
Saya pun menimpali “ Turun Magelang Pak, berapa ya ?”
Pak kernet pun menjawab “ 12.000 ya Mba “

Lalu saya membayar

Kira-kira membutuhkan waktu 1 jam setengah untuk tiba di Terminal Magelang. Syukurnya waktu itu tidak terlalu macet dan bis pun tidak terlalu penuh sesak. Saya hanya duduk dan mendengarkan musik, sambil membaca buku Tempo seri Wiji Thukul. Bagi saya, musik dan buku adalah teman yang pas saat posisi berpergian. Buku dan music membuat saya makin melek, karena saya cukup trauma sekali apabila kelewatan dari tujuan saya atau saya sudah masuk garasi bis saja. 
Tiba di Terminal Magelang. Saya turun dengan santai, tetiba ada bule menghampiri saya dan bertanya, “ hello,  Is this Magelang ?” saya pun menjawab “ yes, where do you want to go ? “ dia pun menjawab “ I will go to Semarang “. Saya, ‘’ oke, you must  take the bus “( sambil menunjuk bis berwarna merah). 

Setelah ngobrol sebentar, saya langsung menghampiri bis kecil. Saya  pun memastikan apakah bis ini bisa sampai ke Terminal Wonosobo, “ Pak ini sampe Terminal Wonosobo kan ? atau nanti oper pak ?” . Bapak pun menjawab “ Iya Mba, naik saja habis ini berangkat kok“. 

Saya pun langsung naik ke bis. Perjalanan ini kiranya ditempuh selama 3 jam kalo tidak salah. Memang agak lama sih, waktu itu kondisi jalanan sore sangat macet dan bis ini pun sampai masuk ke gang-gang sempit karena ada perbaikan jalan. Kernet pun datang menagih uang ongkos, waktu itu kalo tidak salah ingat saya dikenai tarif sebesar 23000. Kalau kata teman saya, harusnya sih 15000. 

Perjalanan pun dimulai, saya duduk tepat di pinggir jendela. Karena bis ini tidak ber Ac, saya pun makin senang karena bisa menghirup angin-angin segar. Jujur pemandangannya bagus sekali saat sudah memasuki area Parakan, jalanannya pun tidak terlalu macet.  
Saat sudah memasuki Parakan, banyak anak sekolah yang mulai naik bis mini ini. Saya pun akhirnya merasa seperti naik bis sekolah, karena banyaknya anak sekolah yang naik bis ini.
 
Sebetulnya untuk menuju Wonosobo ini ada 2 (dua ) opsi, sebagai berikut :
  • Opsi pertama
Terminal Jombor (Yogyakarta) – Terminal Magelang – Parakan – Terminal Mendolo (Wonosobo)
  • Opsi kedua
Terminal Jombor (Yogyakarta) – Terminal Magelang – Terminal Mendolo ( Wonosobo)

Saya duduk sambil sesekali mengobrol dengan bapak kernetnya. Perjalanan makin asik, pemandangan bukit-bukit, persawahan dan tak lupa juga saya melewati jalanan menuju  base camp Sindoro. Dari kejauhan saya  melihat beberapa pendaki mulai menggendong tasnya bersama rombongannya.

Kira-kira sudah 3 jam, saya hampir tiba di Terminal Mendolo. Saya mengeluarkan gawai dan mulai menghubungi teman saya  dan minta tolong untuk dijemput. Sejak awal berangkat, teman saya sudah memberi pesan untuk turun di depan Terminal saja.

Akhirnya tibalah saya di Terminal Mendolo, saya minta untuk turun di depan saja. Lalu saya turun dan pergi menuju gardu.

::Tips

Bis untuk ke Wonosobo dari Yogyakarta ini tidak ada yang langsung dan semuanya memang harus sambung-menyambung. Saat tiba di Magelang, sebaiknya bertanya terlebih dahulu, apakah bis tersebut berangkat sampai ke Terminal Mendolo (Wonosobo) atau hanya sampai di Parakan saja. Karena beberapa bis kadang tidak tertulis nama tujuan di bagian depan atau belakangnya.

Tarif pertahun 2018 :
Bis Jombor – Magelang : 12000  BIS AC
Bis Magelang – Terminal Mendolo ( Wonosobo) : 23000  Tidak AC

ps: maaf foto-foto perjalanan banyak yang terhapus jadi coba sendiri saja ya haha :))