Dua anak manusia yang suka berkelana, untuk menceritakan bahwa selalu ada kemesraan di setiap sisi bumi. Jun sebagai Fotografer dan Lidia sebagai Penulis. Salam Mesra

8 Jan 2017

Icipi Pendakian Ringan di sisi Timur Pulau Jawa



Karena saya tidak memiliki rencana untuk bertahun baru, pada akhirnya saya mengiyakan ajakan sepupu saya untuk bermain ke kota yang dikenal dengan Sunrise of Java.
Hari-hari itu saya tidak pikir panjang, akhirnya saya memesan tiket dan berangkatlah saya bersama sepupu saya. Sepupu saya berangkat dari Semarang, dan saya berangkat dari Stasiun Wonokromo.

Tujuan utamanya yaitu ke Kawah Ijen (2.443 Mdpl)  dan ke Taman Nasional Baluran. Awal-awalnya saya agak ragu karena cuaca yang sedang labil, sedikit-sedikit hujan tiba-tiba panas.

Tips :


  1. Disarankan yang ingin ke Kawah Ijen melalui jalur Timur (Banyuwangi), kalau berangkat dari Surabaya kereta sore saja, yaitu kereta Sri Tanjung keberangkatan pukul 14:36 Wib dari Stasiun Gubeng/ St. Wonokromo, harga tiket Rp.94.000. * Ini khusus naik kereta ya* kalau bis saya kurang tahu. 
  2. Dan jangan lupa ya, pilih turun di Stasiun Karangasem. Karena St. Karangasem lebih dekat untuk menuju Desa Licin. Kalau turun Banyuwangi Baru nanti terlalu jauh, karena St. Banyuwangi Baru letaknya dekat dengan pelabuhan Ketapang. 
  3. Sampainya di St. Karangasem, untuk menuju ke Licin, kalian bisa memilih bisa menyewa motor, atau menggunakan jasa travel. Untuk sewa motor dan menginap kalian bisa datang ke Karangasem INN, sewa motor perhari harga yang ditawarkan Rp.70.000, disini juga sedia penginapan loh permalamnya Rp.100.000 (sudah kamar mandi dalam), kalau mau rame-rame juga bisa, yaitu nginep ala-ala backpacker, biasanya disini banyak para pejalan sekedar beristirahat mandi dll.


Lanjut cerita

Kami tiba di St. Karangasem sekitar pukul 21:15, lalu kami beristirahat bentar. Berhubung kami ada yang jemput, jadi santai-santai tidak usah menyewa motor. Kami berangkat menuju ke Licin sekitar pukul 22:10. 

Perjalanan ke Licin dari St. Karangasem dapat ditempuh kira-kira 1.1/5 (Satu setengah ) Jam. Perjalanan yang meliuk-meliuk dan pemandangan lampu-lampu perkotaan yang sempat saya lihat indah sekali. Namun saya lupa untuk mengabadikan.
Memasukin kawasan desa wisata Licin, perorang dikenai tarif masuk senilai Rp.2000. Dari pos desa wisata kami masi melanjutkan perjalanan lagi sampai ke pos kawasan kawah ijen atau Bumi Perkemahan Paltuding, waktu tempuhnya sekitar 45-60 menit.

Jalanan menuju desa wisata cukuplah curam, jadi lebih berhati-hati ya untuk yang memakai kendaraan bermotor. Untuk yang menggunakan mobil juga berhati-hati karena rawan sekali untuk mendorong mobil ( alias gak kuat mobilnya ) hahaha...

Tiba di pos Ijen sekitar pukul 23:30, suhu udara yang dingin membuat saya ngantuk. Akhirnya saya mendirikan tenda sebentar untuk rebahan sambil menunggu pintu pendakian dibuka.
Saat ini ada peraturannya yaitu boleh naik mulai dari pukul 1:00 pagi.
 
Pintu pendakian di pagi hari
Akhirnya saya pun baru mulai berangkat pada pukul 1:30 pagi, karena antri yang cukup panjang. Jalanannya sudah datar dan banyak disekeliling saya ojek trolly yang menawarkan untuk diantarkan sampai atas. Jadi, buat yang gak kuat bisa nih naik ojek trolly. Tarifnya per orang Rp.50.000, kalo PP ya Rp.100.000. 

Penampakan Ojek Trolly di pagi hari di awal pintu masuk
 
Pak senyum pak, Semangat pak.

Ohya jangan heran ya, disini anak-anak usia 4 tahun juga sudah diajak oleh orangtuanya untuk jalan sampai ke kawah. Waktu itu betul-betul ramai, semua usia sepertinya ada, mulai dari yang muda hingga tua.Kalau bawa keluarga kesini dijamin aman, karena trek jalanannya sudah baik, kalau capek ya tinggal naik ojek trolly.

Jarak yang ditempuh dari pintu masuk hingga ke kawah ijen sekitar 3 km kurang lebih perjalanannya sekitar satu setengah jam sampai dua jam dengan jalan normal dan berhenti secukupnya ya.
 
Pemandangan di pagi hari setelah ke kawah

Pemandangan menuju kawah ijen ( ini diambil saat turun ya )

Jalanannya yang sudah baik, sehingga cocok untuk siapa saja.

Masih pemandangan sebelum menuju kawah ijen

Sampai di atas aroma belerang mulai tercium, udara dingin, dan kabut yang agak pekat. Sampailah dijalanan menurun menuju kawahnya, banyak sekali yang menawarkan persewaan masker Rp.25.000. semenjak ada pengunjung yang meninggal karena gas belerang jadinya sekarang kalau ingin melihat bluefire harus menggunakan masker tersebut.
 
Suasana di pagi hari sekitar kawah ijen

Sekitar kawah


Jalanan menurun antriannya begitu panjang, macet dan sesak. Dalam hati saya, yasudahlah kapan-kapan saja lihatnya, kawah juga tidak akan pindah. Beberapa temen saya menyesalkan hal itu.

" Ah kenapa kamu gak lihat Bluefire ? "

" Itu kan Bluefire kedua yang ada di dunia, rugi kamu."

" Yah kesana gak lihat Bluefire sama aja bohong.. "

Saya dalam hati cuma tertawa haha..
Kalau gak dapat ya gpp, toh lain kali bisa, daripada berdesak-desakan, sesak seperti itu. Toh kawah ijen bukan tentang blue firenya saja.
 
Terbangun oleh datangnya pagi, langsung ambil gambar.
Saya tiba diatas sekitar pukul set 4  pagi, karena penuh dan sesak. Saya memutuskan untuk duduk-duduk dibatuan sampai menunggu pagi. Melihat orang-orang disekitar. Sampai pada akhirnya saya tertidur lelap. 

Pagi itu saya dibangunkan dengan warna langit yang terang, hahah tau-tau udah pagi saja. Akhirnya saya bergegas jalan-jalan disekitaran kawah.

Banyak orang mengabadikan moment

Masih tentang kabut kawah
 
Menikmati alamnya dengan cara masing-masing, seperti bapak ini asalnya dari bogor.
Setelah melihat-melihat dan berfoto, berbincang dengan kuli, dan akhirnya saya turun.

Bapak yang kuat

Kawah Ramai

Dan saya ( Lidia ) yang sedang asik berdiri 
Kawah Ijen, 31 Desember 2016
 
Jalanan Kawah Ijen
Pemandangan pagi itu cukup segar dimata, jadi jalan saya sedikit lambat.
Sesekali saya menyapa dan berjalan sambil mengobrol dengan orang-orang yang akan turun juga.
 
Ayo lari pagi di Ijen
Ada yang bawa 5 anaknya bersama istrinya, ada yang dari bogor, ada yang sambil menggendong anak dipundaknya dan lain-lain.

Setidaknya ijen ini cocok bagi siapa saja yang ingin mencicipi pendakian ringan sambil membawa kerabat keluarganya.

Rincian Biaya   
Masuk Desa Wisata : Rp.2000
Biaya tiket masuk Ijen : Rp. 5000




Fasilitas 
Musolla 
Warung Makan
Kamar Mandi 
Tempat Peristirahatan 


20 Des 2016

Suatu Waktu di Nol Kilometermu


Kemarin sebelum pulang ke Surabaya, seperti biasa saya menghabiskan waktu untuk duduk-duduk di 0 Kilometer Jogja hampir 4 Jam. 
Entah sekedar mengambil gambar, memandang orang berjualan disekitar, orang-orang yang sedang berfoto, dan apapun yang ada disana satu persatu saya amati.
 
0 Km Yogyakarta

Suasana 0 km Yogyakarta
0 Km yang tidak pernah sepi

Saya duduk di salah satu tempat dekat dengan para pedangan asongan yang berjualan. 
Perkenalkan beliau adalah Ibu Dimas, beliau berjualan arum manis di 0 kilometer dan seorang pendatang dari Banten. Beliau banyak bercerita bahwa Jogja telah membuatnya nyaman hingga dalam kurun waktu 2 tahun, beliau sama sekali belum pulang ke Banten dan memilih menetap di Jogja. 
Ibu Dimas berjualan arum manis, awal mulanya pejalan asal Banten yang datang ke Yogyakarta

Saya begitu antusias dengan Bu Dimas. Beberapa menit kami mengobrol. Banyak pelajaran yang didapat dari Bu Dimas. 

Bu Dimas sesekali menghibur pedangang asongan yang lain. Ada salah satu pedangang asongan, dia sudah beberapa jam berjualan disitu dan belum sama sekali laku dagangannya. Dia sesekali mengeluh, dan sedih karena terkadang para pembelinya menawar terlalu sadis. 

Para pedagang asongan lainnya
 
Masih ada tawa dan semangat.


Pada akhirnya Bu Dimas ini tetap membantu mempromosikan dagangan temannya, sambil menghibur. 

" Ayo beli kacamatanya, buat yang gak pede pakai saja kacamata

Yang membuat perasaan saya kagum adalah pada percakapan Ibu Dimas dengan pedangan asongan yang lain. 

Beliau sempat berkata, bahwa hidup ini ya disyukuri saja toh kita sudah usaha kan ? Pastilah dikasih rejeki ama Tuhan. 

Entah semangat seperti apa yang telah tersimpan dalam Bu Dimas. Saya terkagum-kagum. 

Lalu beberapa menit kemudian beliau melihatku. Saya yang waktu itu sedang asik mengambil gambar di area 0 Kilometer Jogja. 

Bu Dimas bertanya " Itu fotonya bagus, siapa yang ngambil ? Ibarat cerita, itu foto memiliki banyak makna ya ". 

Ini foto yang dibilang bagus oleh Ibu Dimas

Lalu saya dan Jun saling berebut mengakui hasil karya. Padahal itu ya karya saya. 
Sambil tertawa bersama dengan bu Dimas. 

Bu Dimas berkata "kalau yang ngaku, biasanya bukan yang ngambil nih, hahaha"

Akhirnya kamipun tertawa. 

Bu Dimas sempat bercerita tentang kenyamanan dan keramahan Kota Jogjakarta. 
Entah mengapa Jogja membuatnya enggan kembali ke Kota asalnya di Banten. Galerinya ditutup, dan dia memilih untuk hidup dan bertahan di Jogja. 
Bu Dimas bilang, beliau masi begitu penasaran mengapa Jogja begitu kuat membawa dampak nyaman bagi orang-orang yang datang sampai-sampai malas untuk kembali. Begitu juga saya dan Jun sepakat. 

Bu Dimas pernah  bertanya kepada abdi dalem Keraton tentang Sejarah Jogja dan kekuatan apa yang membuat pendatangnya bisa betah dan nyaman. Tapi dia masi belum puas dengan jawabannya. 

Beliau juga menyarankan kami agar main-main ke Imogiri, karena disana banyak sesepuh orang Jogja. 

Baik bu, kami akan kesana dalam waktu dekat. Jawab saya dengan Jun. 

Banyak yang diceritakan oleh Bu Dimas kepada kami. Tentang arti hidup, kerja keras dan saran-saran kehidupan untuk kedepannya. 

Saya dan Ibu Dimas sebelum pulang
Bu Dimas memberi saran kepada kami, bahwa ya sebaiknya mulai sekarang ini rajin-rajin merintis usaha. Agar kedepannya lapangan kerja banyak dibuka, dan banyak menolong orang. Toh hidup adalah tolong-menolong kan ?

Beliau bercerita bahwa hidup ini betul-betul kejam. Maka dari itu harus dipersiapkan, dan tetap jangan mengeluh, berusahalah, karena tidak ada usaha yang sia-sia.

14 Des 2016

Garebeg Maulud Yogyakarta, Ketika Istana, Agama, dan Budaya Membentuk Harmoni


Seminggu sebelum acara Garebeg dimulai, kami berdua akhirnya memutuskan untuk menonton serangkaian acara adat budayanya Yogyakarta. Tentu sebagian orang sudah paham, kalau Garebeg ini identik dengan perebutan gunungan. Konon kata banyak orang, barang siapa yang bisa mendapatkan gunungan dari Gerebeg Maulud ini maka hidupnya akan penuh dengan keberkahan.
Pagi itu sekitar pukul 10, kami sudah bergegas menuju keraton. Karena edisi Long Weekend, maka bersiaplah menghadapi lautan manusia, macet dan ramai yang tidak ada hentinya.
Nb. Jadi bagi yang gak suka keramaian, jangan kesini ya ! Serius pasti langsung pulang Hahah
Kami berdua menuju ke keraton, sekaligus bertemu dengan Mas Hanif insan wisata, setelah selesai berbincang di warung makan. Akhirnya kami bertiga jalan mencari spot untuk mengambil gambar.
Pandangan kami bertiga tertuju pada mobil tanki air. Akhirnya kami bertiga naik ke mobil tersebut. Waktu itu saya betul-betul merasakan bahagia yang tidak terkira, meski penuh sesak tapi akhirnya bisa melihat dengan jelas dari atas mobil. 
 
Suasana di Keraton saat Garebeg Maulud

Suasana Garebeg Maulud
Selang beberapa menit, akhirnya semua orang yang berada diatas mobil tanki air disuruh turun oleh aparat keamanan. Yah sedih deh..
Kemudian saya turun, dan yasudah penuh sesak lagi. Saya dibarisan nomor 2 dari depan. Jun dan Mas Hanif berada di barisan pertama. 

Pengaman acara Garebeg Maulud

Pengaman acara Garebeg Maulud
Menunggu cukup lama, rasanya tidak sabar dan penasaran. Tapi ya tetep harus dibuat bahagia. Lebih-lebih keadaan lambung sudah meronta alias lapar.
Setelah menunggu sekitar 40-50 menit, akhirnya para prajurit dari dalam keluar dengan kostum yang beraneka macam. 

Para prajurit keluar

Yang pertama keluar dengan kostum merah putih dengan topi runcingnya, pemimpin dibagian depan membawa bendera resmi Nagari Ngayogyakarta Hardinigrat. Bendera ini jarang sekali dikeluarkan kecuali di acara khusus semacam Garebeg Maulud. Sedangkan pasukan lainnya membawa beberapa senjata, seperti senapan panjang, tombak.

Para prajurit

Para prajurit

Para prajurit membawa tombak runcing
Selanjutnya disusul dengan pasukan prajurit berbaju putih dengan garis-garis merah dan menggunakan topi berwarna hitam. Seperti biasa dibagian depan terdapat pemimpin membawa bendera resmi, dan para pasukan lainnya membawa alat musik sambil dimainkan.

Garebeg Maulud, Para prajurit berbaju putih

Garebeg Maulud, Para prajurit berbaju putih

Garebeg Maulud, Para prajurit berbaju putih

Garebeg Maulud, Para prajurit berbaju putih
Selanjutnya ada prajurit menggunakan kostum berwarna abu-abu dan merah, beserta celana putihnya dan topi hitam lengkap membawa senapan. Disusul dengan pasukan yang sama sambil memainkan alat musiknya.

Garebeg Maulud, Para prajurit berbaju garis abu-abu

Garebeg Maulud, Para prajurit berbaju garis abu-abu

Garebeg Maulud, Para prajurit berbaju garis abu-abu
Selanjutnya sekawanan dari Kebun Binatang Gembiraloka pun turut meramaikan acara Garebeg Maulud. Ada gajah, dan kuda-kuda lainnya yang sudah cantik dan diberi aneka hiasan di badan mereka.

Gajah dari Kebun Binatang Gembiraloka turut meramaikan

Gajah ikut Garebeg Maulud

Kuda Cantik siap ikut Garebeg Maulud
Lalu lanjut, abdi dalem menggunakan blankon hitam, membawa tombak dan menggunakan baju berwarna putih dan jarik batiknya. Dan prajurit berbaju serba merah.

Garebeg Maulud dan sesepuhan 

Garebeg Maulud dan Sesepuhan

Garebeg Maulud, Para prajurit berbaju serba merah
Makin kesini makin ramai acaranya. Meskipun panas makin menjadi-jadi tetap saja antusias penonton gak kalah seru dengan supporter sepak bolah loh.
Tembakan kearah langit pun dilakukan, untuk menyambut gunungan yang akan dibawa ke Masjid Gede Kauman, dan Paku Alaman.

Gunungan di acara Garebeg Maulud

Gunungan yang siap dibawa ke Masjid Gede Kauman untuk didoakan
Ada 4 Gunungan yang disediakan, yaitu Gunungan Lanang, Gunungan Wadon dan Gunungan Gepak dan Pawohan. 1 diantaranya dibawa ke Paku Alaman. Sisanya dibawa ke Masjid Gede Kauman untuk didoakan dan dibagikan.

Gunungan di gotong oleh beberapa prajurit

Gunungan lainnya
Gunungan ini berisi dari hasil bumi. Yang saya lihat dibagian atas sendiri ada tumpukan telur-telur, daging ayam, dan sayur-sayuran beserta jajanan lainnya.
Gunungan ini melambangkan bahwa raja mengayomi rakyatnya dan memberikan kemakmuran bagi rakyatnya.

Gunungan di Garebeg Maulud 12 Desember 2016
Sejatinya banyak sekali makna yang terkandung dalam pelaksanaan Garebeg ini, bukan sekedar perayaan peringatan kelahiran Nabi Muhammad saja. Melainkan terkandung juga makna seorang raja yang berbagi hasil bumi untuk memakmurkan rakyatnya.

Yogyakarta, 12 Desember 2016