Menjejak Merbabu Saat Kemarau

/ May 06, 2019


Agustus merupakan bulan yang sudah memasuki masa kemarau. Jadilah kami akhirnya berangkat ke Merbabu bareng dengan Mas Rifqy dan jamaahnya. Kami berangkat dari Yogyakarta sekitar pukul 5 pagi dan tiba di Selo, Boyolali sekitar jam 8 pagi. Waktu itu tiket masuknya perhari sekitar 8rban, dilanjut ke base camp awal dulu untuk sarapan bareng temen-temen yang lainnya. Kalo tiba di Selo dan belum sarapan, gak perlu bingung. Kalian bisa sarapan saja di base camp selo.


Sarapan di Selo, Nasi Pecel Telur


Merbabu via selo emang selo-selow sedep sih. Tapi gak perlu takut buat yang pemula dan pengen merasakan sensasi naik gunung yang tinggi ini. Merbabu via selo cenderung aman kok untuk pemula, akan tetapi saya menyarankan agar menggunakan sepatu gunung atau sandal gunung. Pokoknya jangan pakai sepatu-sepatu sneakers deh kalo gak pengen kaki kamu turun dengan terluka hiks.

Pagi jam 9-an kami berangkat dari pos pertama. Setelah membayar retribusi lanjutlah kami berfoto-foto dulu di depan gapura Selamat Datang Pendaki Gunung Merbabu. Medan di tahap awal ini masih lewat hutan-hutan terbuka, bisa melihat ladang, ada ibu-ibu juga biasanya bawa kayu atau sedang mengambil hasil panennya. Eh di persimpangan jalan kadang ada orang jualan cilok lho haha. Jalanan relatiif menanjak, tapi gak nanjak banget sih karena saya masih kuat bawa tas 38 liter Osprey Kestrel.

Masih di awal perjalanan

Kalau musim kemarau gini banyak sekali debu-debu. Untungnya gak berangin sih waktu di perjalanan mau ke pos 1 ini jadi tetap aman. Tapi pastikan saat masuk musim kemarau, bawalah masker dan kacamata agar mata terlindungi dari pasir-pasir.


Akhirnya kami sampai di Pos 1. 


Beberapa pos yang paling mengesankan menurut saya sih pos 3. Di Pos 3 ini iman dan taqwa diuji karena ngelihat tanjakannya udah pengen balik aja pulang ke rumah. Tapi untungnya, pas sebelum berangkat ke Sabana, kami semua beristirahat kurang lebih 1 jam lah. Tidur-tiduran sambil makan jajan bareng temen-temen yang lainnya. Pas kemarau gini, pos 3 ini kalo lagi kenceng angina debunya sih banyak banget. Pas naik pun kelihat debu-debu pasir terbang-terbang, malahan bungkus jajan atau kresek bisa sampai terbang-terbang karena anginnya bener-bener kenceng.


Medan menuju Sabana 1

Intinya setiap naik mau ke Sabana 1 ini pastikan gak perlu lihat-lihat ke atas lagi, dinikmati aja kalo memang tinggi dan licin karena berpasir. Ini alasannya mengapa saya menyarankan agar gunakan sepatu gunung atau sandal gunung saja, karena kalau sepatu biasa atau sandal biasa tentu alas bawahnya tidak bergerigi gitu, cenderung rata dan itu justru bikin licin.  

Di beberapa tikungan pas menuju Sabana 1 ini bener-bener isinya pasir banget dan untuk menapak jalanannya pun kadang sulit. Jadi musti berhati-hati ya.
Sabana 1 dan beberapa tenda.

Paling bahagia pas sudah tiba di Sabana 1. Kami tiba di Sabana 1 jam set 5 sore. Awalnya saya mengira kami akan mendirikan tenda di Sabana 1, ternyata tidak dong. Semua sepakat untuk bergegas jalan dan mendirikan tenda di Sabana 2.

Lihat jalanan menanjak lagi, kok rasanya mulai loyo yah. Etapi pas mau sunset di Sabana 1 ini pemandangannya bagus banget. Kerasa indahnya pemandangan ketinggian di Merbabu ini. Disambut lihat juga gunung Merapi yang mulai ketutup awal. Untungnya sore itu angina gak lagi kencang-kencangnya. Saya sempet duduk dan foto-foto kok beberapa kali.

Dikit demi dikit tanjakan mulai habis, akhirnya tiba lah di Sabana 2. Oiya apabila ingin ke Merbabu via selo pastikan membawa persediaan air yang cukup ya, karena di sini gak ada sumber air dan kalau lagi kemarau pasti tenggorokan ini rasanya kering banget.

Sabana 2 waktu itu sepi pengunjung, hanya ada 2 rombongan saja termasuk rombongan kami. Kami bergegas menyiapkan peralatan untuk mendirikan tenda sekaligus bersiap masak untuk makan malam. Kalau lagi musim kemarau gini, suhu udara di gunung tentunya makin dingin sih semakin malam dan anginnya juga pas jam 11 malam hingga jam 2 relatif agak kencang. Usahakan bawa baju hangat-hangat sesuai dengan yang dibutuhkan, bawa jaket yang tahan angina juga dan jangan lupa sih bawa lotion atau lip balm agar kulit dan bibir gak kering pecah-pecah.

Malam harinya, beberapa dari kami banyak yang keluar untuk ambil gambar milkyway, etapi saya memilih tidur sih. Karena sudah keburu capek dan ingin segera tidur nyenyak saja.


Saat matahari akan terbit, tampak lautan awan.


Pagi setelah subuhan, saya keluar tenda bersama yang lainnya. Enaknya pas musim kemarau gini, pemandangan di Merbabu bagus sekali dan gak mendung sih. Saya melihat lautan awan di ketinggian indah sekali. Meski angina bertiup kencang, untungnya  di tempat saya melihat awan ini gak begitu berpasir, jadi aman lah dan gak perlu kelilipan debu.

Merapi dari Merbabu.

Matahari makin lama makin naik ke atas dan kondisi lagi cerah sekali. Saya melihat gagahnya Merapi dari Merbabu sabana 2 ini. Setelah memotret beberapa pemandangan akhirnya kami berfoto dengan latar Merapi di belakangnya.

Tentu ke menjejak ke Merbabu ini perlu dicoba, meski angina kencang, cerah dan banyak sekali pasirnya tapi saya lebih menyarankan untuk ke Merbabu saat musim kemarau sih dibanding pada saat musim hujan.

Intinya persiapkan barang bawaan dengan baik dan selengkap mungkin demi keselamatan.

Buat yang berangkat dari Yogyakarta dan bingung mau naik apa untuk sampai ke sana. Kalian bisa menyewa mobil langganan kami ini sih. Hubungi Pak Ambon : 0858-6543-5969. 




Agustus merupakan bulan yang sudah memasuki masa kemarau. Jadilah kami akhirnya berangkat ke Merbabu bareng dengan Mas Rifqy dan jamaahnya. Kami berangkat dari Yogyakarta sekitar pukul 5 pagi dan tiba di Selo, Boyolali sekitar jam 8 pagi. Waktu itu tiket masuknya perhari sekitar 8rban, dilanjut ke base camp awal dulu untuk sarapan bareng temen-temen yang lainnya. Kalo tiba di Selo dan belum sarapan, gak perlu bingung. Kalian bisa sarapan saja di base camp selo.


Sarapan di Selo, Nasi Pecel Telur


Merbabu via selo emang selo-selow sedep sih. Tapi gak perlu takut buat yang pemula dan pengen merasakan sensasi naik gunung yang tinggi ini. Merbabu via selo cenderung aman kok untuk pemula, akan tetapi saya menyarankan agar menggunakan sepatu gunung atau sandal gunung. Pokoknya jangan pakai sepatu-sepatu sneakers deh kalo gak pengen kaki kamu turun dengan terluka hiks.

Pagi jam 9-an kami berangkat dari pos pertama. Setelah membayar retribusi lanjutlah kami berfoto-foto dulu di depan gapura Selamat Datang Pendaki Gunung Merbabu. Medan di tahap awal ini masih lewat hutan-hutan terbuka, bisa melihat ladang, ada ibu-ibu juga biasanya bawa kayu atau sedang mengambil hasil panennya. Eh di persimpangan jalan kadang ada orang jualan cilok lho haha. Jalanan relatiif menanjak, tapi gak nanjak banget sih karena saya masih kuat bawa tas 38 liter Osprey Kestrel.

Masih di awal perjalanan

Kalau musim kemarau gini banyak sekali debu-debu. Untungnya gak berangin sih waktu di perjalanan mau ke pos 1 ini jadi tetap aman. Tapi pastikan saat masuk musim kemarau, bawalah masker dan kacamata agar mata terlindungi dari pasir-pasir.


Akhirnya kami sampai di Pos 1. 


Beberapa pos yang paling mengesankan menurut saya sih pos 3. Di Pos 3 ini iman dan taqwa diuji karena ngelihat tanjakannya udah pengen balik aja pulang ke rumah. Tapi untungnya, pas sebelum berangkat ke Sabana, kami semua beristirahat kurang lebih 1 jam lah. Tidur-tiduran sambil makan jajan bareng temen-temen yang lainnya. Pas kemarau gini, pos 3 ini kalo lagi kenceng angina debunya sih banyak banget. Pas naik pun kelihat debu-debu pasir terbang-terbang, malahan bungkus jajan atau kresek bisa sampai terbang-terbang karena anginnya bener-bener kenceng.


Medan menuju Sabana 1

Intinya setiap naik mau ke Sabana 1 ini pastikan gak perlu lihat-lihat ke atas lagi, dinikmati aja kalo memang tinggi dan licin karena berpasir. Ini alasannya mengapa saya menyarankan agar gunakan sepatu gunung atau sandal gunung saja, karena kalau sepatu biasa atau sandal biasa tentu alas bawahnya tidak bergerigi gitu, cenderung rata dan itu justru bikin licin.  

Di beberapa tikungan pas menuju Sabana 1 ini bener-bener isinya pasir banget dan untuk menapak jalanannya pun kadang sulit. Jadi musti berhati-hati ya.
Sabana 1 dan beberapa tenda.

Paling bahagia pas sudah tiba di Sabana 1. Kami tiba di Sabana 1 jam set 5 sore. Awalnya saya mengira kami akan mendirikan tenda di Sabana 1, ternyata tidak dong. Semua sepakat untuk bergegas jalan dan mendirikan tenda di Sabana 2.

Lihat jalanan menanjak lagi, kok rasanya mulai loyo yah. Etapi pas mau sunset di Sabana 1 ini pemandangannya bagus banget. Kerasa indahnya pemandangan ketinggian di Merbabu ini. Disambut lihat juga gunung Merapi yang mulai ketutup awal. Untungnya sore itu angina gak lagi kencang-kencangnya. Saya sempet duduk dan foto-foto kok beberapa kali.

Dikit demi dikit tanjakan mulai habis, akhirnya tiba lah di Sabana 2. Oiya apabila ingin ke Merbabu via selo pastikan membawa persediaan air yang cukup ya, karena di sini gak ada sumber air dan kalau lagi kemarau pasti tenggorokan ini rasanya kering banget.

Sabana 2 waktu itu sepi pengunjung, hanya ada 2 rombongan saja termasuk rombongan kami. Kami bergegas menyiapkan peralatan untuk mendirikan tenda sekaligus bersiap masak untuk makan malam. Kalau lagi musim kemarau gini, suhu udara di gunung tentunya makin dingin sih semakin malam dan anginnya juga pas jam 11 malam hingga jam 2 relatif agak kencang. Usahakan bawa baju hangat-hangat sesuai dengan yang dibutuhkan, bawa jaket yang tahan angina juga dan jangan lupa sih bawa lotion atau lip balm agar kulit dan bibir gak kering pecah-pecah.

Malam harinya, beberapa dari kami banyak yang keluar untuk ambil gambar milkyway, etapi saya memilih tidur sih. Karena sudah keburu capek dan ingin segera tidur nyenyak saja.


Saat matahari akan terbit, tampak lautan awan.


Pagi setelah subuhan, saya keluar tenda bersama yang lainnya. Enaknya pas musim kemarau gini, pemandangan di Merbabu bagus sekali dan gak mendung sih. Saya melihat lautan awan di ketinggian indah sekali. Meski angina bertiup kencang, untungnya  di tempat saya melihat awan ini gak begitu berpasir, jadi aman lah dan gak perlu kelilipan debu.

Merapi dari Merbabu.

Matahari makin lama makin naik ke atas dan kondisi lagi cerah sekali. Saya melihat gagahnya Merapi dari Merbabu sabana 2 ini. Setelah memotret beberapa pemandangan akhirnya kami berfoto dengan latar Merapi di belakangnya.

Tentu ke menjejak ke Merbabu ini perlu dicoba, meski angina kencang, cerah dan banyak sekali pasirnya tapi saya lebih menyarankan untuk ke Merbabu saat musim kemarau sih dibanding pada saat musim hujan.

Intinya persiapkan barang bawaan dengan baik dan selengkap mungkin demi keselamatan.

Buat yang berangkat dari Yogyakarta dan bingung mau naik apa untuk sampai ke sana. Kalian bisa menyewa mobil langganan kami ini sih. Hubungi Pak Ambon : 0858-6543-5969. 


Continue Reading

Mungkin ini adalah tulisan pertama saya yang niat di tahun 2019. Awal-awal tahun 2019 ya saya menulis, tapi tidak dengan hati yang riang gembira. Di tulisan kali ini saya akan berbagi kisah alias curhat tentang fase yang sedang saya alami, apakah kalian pernah merasakan ini ?

Mari kita mulai . . .

Saya sedang merasakan fase tidak mencintai diri saya sendiri secara sepenuhnya. Harusnya hari-hari hidup saya, ya saya isi dengan hal-hal yang saya sukai. Tapi tidak dengan yang sekarang. Apa yang saya lakukan sekarang, saya rasa masih belum butuh-butuh amat. 

Padahal ada pepatah yang mengatakan “ hidup hanya sekali, maka lakukan lah hal yang paling kamu cintai ”. 

Semoga kalian tidak ya :p


Kadang, tiba-tiba saja saya mulai pesimis, takut akan masa depan dan beberapa hal kecil lainnya. Sebagai contoh “ takut besok pesta perkawinan saya tidak semeriah teman saya yang mengundang hampir 1500 orang’’. Aneh sih, kalau sudah di tahap ini. Belum lagi, ketakutan “ tidak lulus S2 seperti sepupu saya yang sudah empat tahun” dan beragam ketakutan lainnya. 

Entah ya, apakah ini yang dinamakan penyakit takut usia 25 tahunan haha. Jujur, saat S1 saya hampir tidak pernah memiliki ketakutan tersebut. Saya ya jalan saja, apa kata orang. Tapi, makin ke sini terkadang saya susah memilah obrolan orang. Obrolan mana yang sebaiknya saya simpan atau saya keluarkan saja. 



Saya sempat kaget, ketika ada seseorang menegur dan berkata “ hidup mu bukan untuk diri sendiri, kamu makhluk sosial ‘’. Seketika malam itu saya bubar, lantas memikirkan tentang “ Bagaimana kalau saya menikah dan hanya mengundang teman terdekat saja yang secuprit itu, tapi intim dan lega tanpa bridesmaid ? dan neko-neko lainnya, atau Bagaimana kalau saya menikah di usia yang lebih lama dari mayoritas keluarga saya ? atau Bagaimana kalau pekerjaan saya tidak sesuai yang diharapkan oleh orang tua ? dan bagaimana lainnya”.

Sungguh aneh . . .

Semenjak kejadian tersebut. Saya lebih sering bengong dan diam. Terkadang pun ketika diajak ngobrol oleh Jun, saya hanya menganggukkan kepala. Karena isi kepala saya terlalu banyak hal yang gak penting untuk dipikirkan. Jun pun sering nyeletuk " kamu itu gak bisa dengan hal seperti ini, kamu harus pergi, lakukan hobi mu itu "
 
Entah Jun itu lelaki dari planet mana.

Saya yakin, kalau saat ini saya tidak mencintai diri sepenuh hati. 

Oh begini ya rasanya. (sambil nyanyi :p)

Ternyata tidak mencintai diri sepenuh hati ini, juga berpengaruh pada hormon tubuh saya. Saya yang mulanya jarang sekali jerawatan. Sekarang, jadi mudah terkena jerawat. Saya pun akhirnya pusing sendiri dengan diri ini. Kok bisa gitu. 

Tidak mencintai diri ini, juga dilanjut dengan pengaruh suka makan dan jajan. Jujur, saya tipikal anak yang tidak terlalu suka makan dan jajan. Sejak kecil pun, ketika akan berangkat ke sekolah. Bapak selalu memaksa saya untuk makan terlebih dahulu. Tapi, karena saya anaknya malas. Akhirnya nasi yang telah disiapkan oleh bapak, saya suapkan ke adik saya huheheh ..
 
Tapi kalo makan ini, gak nolak sih  haha Sate Tuna Mak Sih
Sejak kecil saya lebih suka melakukan perjalanan. Saya teringat waktu kecil, bapak sering mengajak saya untuk pergi ke jembatan penyebrangan hanya untuk melihat truk atau mobil lewat. Kakek pun juga sering mengajak saya keliling kota Madiun dengan motor orange kantor pos sambil membawa kamera analognya. 

Kebiasaan-kebiasaan itulah yang akhirnya membuat diri saya mencintai perjalanan. Tapi, karena saya sedang di fase tidak mencintai diri sendiri, ya akhirnya saya suka beli-beli jajan dan melupakan kesenangan tersebut. Mau beli tiket untuk pergi jauh ya ragu-ragu, sudah booking pun ya saya biarkan saja tanpa saya bayar karena ragu. 



Malam ini, saat menulis ini saya agak tersadar. Mulai hari ini saya harus mencintai diri saya sepenuhnya dan ikhlas se-ikhlasnya. Saya harus sayang pada diri ini dan tidak memberikan aneka pekerjaan yang memang tidak saya sukai maupun cintai.

Tapi Lid, melakukan pekerjaan kan memang ada suka dan tidak sukanya ? 

Jadi begini. Saya pernah bilang ke bapak gini “ Pak, aku ini nanti lulus bakal kerja apa ya ? kok ya temenku susah semua cari kerja”. Bapak dengan entengnya menjawab “ Kerja itu gampang dek, yang susah itu kuliah ‘’.  Saya gak tahu, obrolan bapak itu guyon, serius atau hanya menenangkan. Semenjak kejadian itu, bapak selalu bilang ke saya “ Dek, semua itu dikerjakan gapapa asalkan senang. Daripada kepikiran lalu sakit jantung ? Seperti ayah ini, meski  banyak  jatuhnya ya tetap optimis, kita gak perlu takut karena Tuhan pasti kasih makan, beberapa pekerjaan tentu ada senang dan tidaknya. Tapi, setidaknya kita bisa meminimalisir hal yang tidak kita sukai dengan lebih berhati-hati ”. 
 
Cerita lainnya. 

Jadi begini. Pada suatu hari, saya pernah duduk di depan TV. Saya mengamati Yangkung (kakek) saya yang sedang menyiapkan baju untuk siaran di RRI. Saya pun bilang “ loh kung, kan hujan angin, di telfon aja ijin gak usah siaran”. Yangkung pun menjawab “ enggak yah (dyah-lidia), kan  yangkung punya jas hujan gak masalah lah, kalo sudah suka  ya semua dilakukan dengan hati senang”. Saya pun hanya duduk sambil menggelengkan kepala dan menitip pesan agar nama saya dipanggil saat siaran.  



Saya percaya, bahwa mencintai diri sendiri dan semua yang dilakukan untuk diri ini memang perlu adanya. Jangan lah terlalu bawa arus dengan obrolan orang yang terkadang tidak selayaknya untuk diikuti dan dilanjutkan. 

Kunci hidup bahagia emang mencintai diri sendiri dulu kali yak ? 

Berati pepatah “ Ikuti kata hati mu “ betul adanya dong ? 

Apakah kalian pernah di fase ini ? kira-kira obatnya kalian apa ?

Menurut KBBI Daring, teknologi adalah metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis atau keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Saat ini, teknologi tidak hanya ada di barang-barang elektronik saja, melainkan juga pakaian sehari-hari manusia. Anggap saja baju, celana, jaket, dan bahkan tas. Pakaian yang memakai teknologi tertentu biasanya adalah pakaian olahraga luar ruang, agar sesuai dengan pengertian teknologi di atas tadi, yaitu menunjang kenyamanan hidup manusia.

Disini saya akan memberikan informasi tentang teknologi apa saja yang diterapkan di pakaian yang cocok dipakai saat mendaki gunung. Mendaki gunung itu kegiatan yang beresiko, penyebabnya adalah suhu udara yang dingin dan cuaca gunung yang tidak bisa ditebak. Jadi, sangat penting mengetahui pakaian yang cocok untuk pendakian gunung, bukan untuk gaya, hanya saja untuk menghindari dan meminimalisir terjadinya kecelakaan dalam pendakian.

Jadi langsung saja, di bawah ini pembahasan mengenai teknologi serta produk yang memakai teknologi tersebut.
  1. Gore-Tex

Ditemukan tahun 1969, Gore-Tex adalah sebuah teknologi pakaian yang menjamin penggunanya tetap kering namun tidak kepanasan. Sebenarnya Gore-Tex bukan jenis kain pembentuk sebuah pakaian, melainkan sebuah membran yang dihasilkan dari polytetrafluoroethylene (PTFE) yang direnggangkan sehingga menghasilkan bahan yang disebut expanded polytetrafluoroethylene (ePTFE). Membrane PTFE yang sudah direnggangkan ini memiliki pori-pori yang 20.000 kali lebih kecil dari tetesan air dan 700 kali lebih besar dari uang air, itulah yang menyebabkan membrane Gore-Tex mampu menahan air dan tetap bisa mengeluarkan suhu panas yang dihasilkan oleh tubuh. Berhubung Gore-tex hanya berupa membran. Maka penerapan dalam pakaian outoor biasanya diletakkan di bawah outer dan di atas inner, jadi berada di antara outer dan inner. Jadi, pakaian outdoor yang menggunakan membrane ini biasanya memiliki 3 lapis kain.
Sumber: wiggle.com

Saat ini, banyak sekali perlengkapan pendakian gunung yang memakai teknologi ini, dan sebagian besar digunakan pada jaket, walaupun ada juga yang digunakan di sepatu gunung. Berikut beberapa produk yang memakai teknologi Gore-Tex:
a.       Jaket The North Face Apex Flex GTX® 2.0
Jaket keluaran The North Face yang tersedia untuk pria maupun wanita, jaket ini dibanderol dengan harga $249.00 atau setara dengan Rp. 3.559.766,25.
b.      Sepatu Gunung The North Face Hedgehog Fastpack Gore-Tex®
Sepatu gunung yang juga keluaran The North Face yang tersedia untuk pria maupun wanita, dan menurut saya sepatu seri Hedgehog ini termasuk yang paling banyak dicari, harganya sendiri senilai $130.00 atau setara dengan Rp. 1.858.512,50.
c.       Celana Marmot Lightray
Celana outdoor merek Marmot, termasuk merek legendaris yang tidak didistribusikan di Indonesia, celana ini dibanderol dengan harga $275.00 atau setara dengan Rp. 3.931.468,75
d.      Jaket Marmot Spire
Jaket yang juga diproduksi oleh merek Marmot, tidak dijual resmi di Indonesia, dibanderol dengan harga $400.00 atau setara dengan Rp. 5.718.500,00
e.       Jaket Arc’teryx Macai
Sama seperti Marmot, Arc’teryx termasuk salah satu merek legendaris di dunia pendakian gunung, jaket ini tidak dijual secara resmi di Indonesia. Dibanderol dengan harga $949.00 atau setara dengan Rp. 13.567.141,25

2. Texapore
Sumber: outdoorkit.blogspot.com

Memiliki fitur yang sama seperti Gore-Tex, yaitu windproof, waterproof dan breathable. Tidak dijelaskan teknologi ini dibuat dari bahan apa dan bagaimana cara kerjanya, tetapi teknologi ini diklaim memiliki kemampuan tahan angin atau windproof dengan nilai 5/5, tahan air atau waterproof dengan nilai 3/5 dan kemampuan melepaskan uap panas tubuh atau breathable dengan nilai 2/5.
Teknologi ini dikembangkan sendiri oleh merek outdoor terkemuka asal Jerman, Jack Wolfskin. Walaupun teknologinya dikembangkan sendiri dan dipakai di produk-produknya, namun produk-produk Jack Wolfskin yang memakai teknologi ini tidakdibanderol dengan harga murah. Berikut produk yang memakai teknologi Texapore:
a.       Jaket Jack Wolfskin The Humboldt
Jaket termahal yang memakai teknologi Texapore. Dibanderol dengan harga 449.95 € atau setara dengan Rp. 7.269.910,29.
b.      Jaket Jack Wolfskin Pine Creek
Jaket termurah yang memakai teknologi Texapore. Dibanderol dengan harga 69.95 € atau setara dengan Rp. 1.130.192,74.
c.       Sepatu Jack Wolfskin Wilderness Texapore Mid
Sepatu termahal yang menggunakan teknologi Texapore. Dibanderol dengan harga 219.95 € atau setara dengan Rp. 3.553.765,46.
d.      Sepatu Jack Wolfskin Vojo Hike 2 Texapore
Sepatu termurah yang menggunakan teknologi Texapore. Dibanderol dengan harga 94.95 € atau setara dengan Rp. 1.534.121,53.

3. Tropical Outdoor Gear
sumber: medium.com
Kita patut bangga dengan produsen lokal, karena Eiger menjadi salah satu atau mungkin bahkan satu-satunya produsen peralatan outdoor di dunia yang mengembangkan teknologi pakaian outdoor khusus untuk daerah beriklim tropis. Teknologi Eiger memiliki karakter bahan yang berbeda dengan produk yang dikembangkan untuk negara dengan empat musim. Tak tanggung-tanggung, total ada 14 teknologi yang diterapkan Eiger, yaitu:
a.       Tropic Drainage (perlindungan terhadap air).
b.      Tropic Scratch Shield (tahan goresan ringan).
c.       Tropic Insect Shield (tahan gigitan dan sengatan serangga).
d.      Tropic Windblock (tahan angin).
e.       Tropic Lite (bobot yang ringan).
f.        Tropic Waterproof (tahan air).
g.      Tropic Odor Shield (menyerap bau keringat).
h.      Tropic Air Flow (system sirkulasi udara).
i.        Tropic Repellent (menolak penyerapan cairan berlebih).
j.        Tropic Vent (bereaksi pada keringat dan menurunkan suhu badan).
k.      Tropic Insulation (menjaga tubuh tetap hangat).
l.        Tropic Dry (membuat material tetap kering dan nyaman).
m.    Tropic Uv Shield (menahan sinar Ultraviolet).
n.      Tropic Shell (tahan air dan melepaskan uap air, mirip prinsip Gore-Tex dan Texapore).
Tidak tanggung-tanggung, Eiger mengembangkan teknologi ini berdasarkan riset, yaitu Ekspedisi Black Borneo dan Ekspedisi 28 Gunung Indonesia. Melibatkan banyak tokoh yang aktif dan berpengalaman dalam kegiatan outdoor, sebut saja Bongkeng dan Don Hasman.
Sungguh, menuliskan 14 teknologi Tropical Gear ini yang paling bikin capek. Karena banyak sekali produk Eiger baik offline maupun online, maka saya tidak perlu menampilkan produk-produk apa saja yang menggunakan teknologi tersebut, tinggal dating saja ke tokonya dan tanya ke pegawainya.

4. AIRism dan Heattech

Tiga teknologi yang dikembangkan oleh Uniqlo.
sumber: uniqlo.com
AIRism adalah teknologi yang dikembangkan agar tubuh tetap kering dan nyaman. Teknologi ini menggunakan bahan mikro-poliester yang dikembangkan oleh Toray Industries, yang berfungsi untuk melepaskan panas, evaporasi kelembapan, dan memberikan rasa lembut dan nyaman di tubuh. Ada tiga pilihan tipe AIRism, yaitu AIRism, AIRism Mesh, dan AIRism Seamless. Produk yang menggunakan AIRism sendiri kebanyakan pakaian dalam, namun ada beberapa yang pakaian luar dan casual. Menurut saya, yang cocok untuk dipakai saat berkegiatan mendaki gunung adalah yang berjenis pakaian dalam, seperti kaos dalam dan celana dalam. Harganya mulai dari Rp. 149.000,00 – Rp. 299.000,00.
sumber: uniqlo.com
Heattech merupakan teknologi penahan panas, bukan saja menahan panas, teknologi ini bahkan bisa menghasilkan panas dari uap air yang dihasilkan oleh tubuh. Ada tiga tingkatan teknologi Heattech, yaitu Heattech Reguler, HEattech Extra Warm dan yang tertinggi adalah Heattech Ultra Warm. Dibuat dari serat khusus yang tidak diberitahukan oleh Uniqlo, dan dilengkapi dengan micro-acrylic yang ditata sedemikian rupa sehingga mampu menyimpan panas. Sama seperti AIRism, pakaian ini cocok untuk dijadikan pakaian dalam saat mendaki gunung, dan lebih tepat lagi dipakai saat tidur di dalam tenda. Harga pakaian dalam dengan teknologi ini mulai dari Rp. 59.000,00 – Rp. 399.000,00.
Pembahasan di atas adalah murni pendapat saya berdasarkan apa yang saya baca dan apa yang saya alami selama melakukan kegiatan pendakian gunung. Jadi apabila ada pendapat lain, mari kita diskusikan di kolom komentar.