Menelanjangi Senja di Pantai Ngeden Gunungkidul

/ December 20, 2018
 
Wadaw pelosok dan sepi banget ini
Rencana awal bermula pada saat teman kami yang dari Jakarta ingin pergi ke pantai. Jun mencari-cari lewat google, kira-kira pantai apa yang kiranya bisa ditempuh dengan cepat, bagus, sepi dan tidak terlalu jauh dari lokasi kami.

Setelah menemukan tujuan yaitu Pantai Ngeden, akhirnya kami berangkat bersama dua teman kami Isna dan Yudha. Kami berangkat dari kossan Yudha yakni sekitaran ISI, Bantul pada pukul 14:00. 

Kami mengikuti arahan dari google maps dan lewat jalan dalam. Pemandangan sawah, perbukitan, sungai disajikan disetiap perjalanan. Saya posisi duduk dan dibonceng oleh Jun mulai merasakan capek karena duduk terlalu lama. Maklum sejujurnya saya lebih suka untuk membawa motor sendiri dibandingkan dengan dibonceng yang hanya duduk. 

Perjalanan kami lalui sekitar kurang lebih satu jam setengah. Memasuki perkampungan warga, disusul jalanan yang masih belum rata dan juga pekarangan warga. Banyak terlihat kandang-kandang sapi saat melewati jalanan menuju Pantai Ngeden. 

Arahan ke Pantai Ngeden ini tampak sangat jelas, papan penujuk jalan yang bercat dan tulisannya pun jelas. Tapi jangan mengharapkan lampu penerangan disetiap jalanannya ya, karena jalanan menuju pantai ini tidak ada lampu penerangannya sama sekali. Kondisi jalanan menuju pantai ngeden sudah lumayan baik, mobil pun bisa masuk sampai ke lokasi parkiran pantai ngeden. 

Jam 4;30 kami semua sampai di Pantai Ngeden. Pantainya sangat sepi, hanya terlihat beberapa motor kurang lebih 6 motor termasuk 2 motor kami dan juga 2 mobil. Saat masuk ke area pantai, kami tidak dikenai tarif retribusi masuk ke pantai, hanya saja kami dikenai tarif parker motor sebesar Rp.3000.

Saya kaget pantainya sepi sekali, hanya tampak beberapa orang saja bermain-main pasir pantai, dan juga orang-orang yang membawa alat memancing. Kami berempat berjalan menuju tempat tertinggi di pantai. Untungnya cuaca tidak mendung, langit tampak cerah dan warna birunya jelas. Warna laut juga terlihat jelas hijau kebiru-biruan, aah rasanya saya ingin berenang saya menceburkan diri. 

Tampak Villa di atas bukit

Saat berjalan saya melihat jalanan setapak menuju rumah yang dibangun di atas bukit. Karena saya penasaran akhirnya saya bertanya ke mbak penjual dan ternyata rumah tersebut merupakan villa pribadi milik orang. 

Saya berjalan dengan semangat menantikan senja di Pantai Ngeden. Senja dengan percampuran warna langit antara biru, jingga dan ungu yang menebar di langit. Suasana deburan ombak yang kencang dan bau air laut yang khas. 

Saya duduk lama di tebing sekitaran pantai Ngaden, melihat sekitar sekaligus melihat orang-orang sedang melempar umpannya untuk memancing. Di sela-sela duduk, Jun mengajak saya turun ke bawah untuk membasuh wajah menggunakan air laut. 

Ahh segarnya, akhirnya merasakan air laut. Kata Jun. 



Saya memotret dia yang sedang asik bermain air laut, membasuh rambutnya menggunakan air laut.
Batu-batuan pantai saya pijaki, bayangan saya cukup buruk apabila pantai ini suatu saat batu-batuannya dicat warna-warni seperti batuan-batuan di beberapa tempat rekreasi yang mulai ngehits.  Semoga ini tidak terjadi, ya. 

Setelah menemani Jun turun ke bawah, kami berdua kembali ke atas. Saya tetap duduk disalah satu batu sambil memutar lagu “ Langit dan Laut ‘’ milik Banda Neira. Mendapati senja matahari yang tidak seperti biasanya, warnanya sempurna. Disela-sela tenggelam matahari, saya melihat nelayan dengan perahunya melewati sinar Matahari yang mulai menurun.

Matahari mulai menurun, adzan pun mulai terdengar. Langit mulai gelap dan kami pun akhirnya memutuskan untuk pulang.

Sampai jumpa Senja, akhirnya kutelanjangi indah tubuhmu di Pantai Ngeden tanpa keluh kesah, dan dengan penuh gairah.

Catatan 
Pantai Ngeden lokasinya di Gunungkidul, apabila ingin ke Ngeden kalian bisa siapkan waktu sekitar 2 jam jika berangkat dari Yogyakarta. Alat Transportasi Mobil atau Motor bisa digunakan jika ingin ke Pantai Ngeden. Tidak ada biaya retribusi, pengunjung hanya dikenai tarif parkir untuk motor atau mobil.
Di sana disediakan kamar mandi yang berbayar, apabila haus dan lapar kalian bisa beli jajanan di beberapa warung. 
Sebaiknya lebih berhati-hati apabila pulang terlalu malam, karena jalanan sekitaran Pantai Ngeden belum diberi lampu penerangan. Akses sinyal juga belum begitu baik, kecuali beberapa provider.

 
Wadaw pelosok dan sepi banget ini
Rencana awal bermula pada saat teman kami yang dari Jakarta ingin pergi ke pantai. Jun mencari-cari lewat google, kira-kira pantai apa yang kiranya bisa ditempuh dengan cepat, bagus, sepi dan tidak terlalu jauh dari lokasi kami.

Setelah menemukan tujuan yaitu Pantai Ngeden, akhirnya kami berangkat bersama dua teman kami Isna dan Yudha. Kami berangkat dari kossan Yudha yakni sekitaran ISI, Bantul pada pukul 14:00. 

Kami mengikuti arahan dari google maps dan lewat jalan dalam. Pemandangan sawah, perbukitan, sungai disajikan disetiap perjalanan. Saya posisi duduk dan dibonceng oleh Jun mulai merasakan capek karena duduk terlalu lama. Maklum sejujurnya saya lebih suka untuk membawa motor sendiri dibandingkan dengan dibonceng yang hanya duduk. 

Perjalanan kami lalui sekitar kurang lebih satu jam setengah. Memasuki perkampungan warga, disusul jalanan yang masih belum rata dan juga pekarangan warga. Banyak terlihat kandang-kandang sapi saat melewati jalanan menuju Pantai Ngeden. 

Arahan ke Pantai Ngeden ini tampak sangat jelas, papan penujuk jalan yang bercat dan tulisannya pun jelas. Tapi jangan mengharapkan lampu penerangan disetiap jalanannya ya, karena jalanan menuju pantai ini tidak ada lampu penerangannya sama sekali. Kondisi jalanan menuju pantai ngeden sudah lumayan baik, mobil pun bisa masuk sampai ke lokasi parkiran pantai ngeden. 

Jam 4;30 kami semua sampai di Pantai Ngeden. Pantainya sangat sepi, hanya terlihat beberapa motor kurang lebih 6 motor termasuk 2 motor kami dan juga 2 mobil. Saat masuk ke area pantai, kami tidak dikenai tarif retribusi masuk ke pantai, hanya saja kami dikenai tarif parker motor sebesar Rp.3000.

Saya kaget pantainya sepi sekali, hanya tampak beberapa orang saja bermain-main pasir pantai, dan juga orang-orang yang membawa alat memancing. Kami berempat berjalan menuju tempat tertinggi di pantai. Untungnya cuaca tidak mendung, langit tampak cerah dan warna birunya jelas. Warna laut juga terlihat jelas hijau kebiru-biruan, aah rasanya saya ingin berenang saya menceburkan diri. 

Tampak Villa di atas bukit

Saat berjalan saya melihat jalanan setapak menuju rumah yang dibangun di atas bukit. Karena saya penasaran akhirnya saya bertanya ke mbak penjual dan ternyata rumah tersebut merupakan villa pribadi milik orang. 

Saya berjalan dengan semangat menantikan senja di Pantai Ngeden. Senja dengan percampuran warna langit antara biru, jingga dan ungu yang menebar di langit. Suasana deburan ombak yang kencang dan bau air laut yang khas. 

Saya duduk lama di tebing sekitaran pantai Ngaden, melihat sekitar sekaligus melihat orang-orang sedang melempar umpannya untuk memancing. Di sela-sela duduk, Jun mengajak saya turun ke bawah untuk membasuh wajah menggunakan air laut. 

Ahh segarnya, akhirnya merasakan air laut. Kata Jun. 



Saya memotret dia yang sedang asik bermain air laut, membasuh rambutnya menggunakan air laut.
Batu-batuan pantai saya pijaki, bayangan saya cukup buruk apabila pantai ini suatu saat batu-batuannya dicat warna-warni seperti batuan-batuan di beberapa tempat rekreasi yang mulai ngehits.  Semoga ini tidak terjadi, ya. 

Setelah menemani Jun turun ke bawah, kami berdua kembali ke atas. Saya tetap duduk disalah satu batu sambil memutar lagu “ Langit dan Laut ‘’ milik Banda Neira. Mendapati senja matahari yang tidak seperti biasanya, warnanya sempurna. Disela-sela tenggelam matahari, saya melihat nelayan dengan perahunya melewati sinar Matahari yang mulai menurun.

Matahari mulai menurun, adzan pun mulai terdengar. Langit mulai gelap dan kami pun akhirnya memutuskan untuk pulang.

Sampai jumpa Senja, akhirnya kutelanjangi indah tubuhmu di Pantai Ngeden tanpa keluh kesah, dan dengan penuh gairah.

Catatan 
Pantai Ngeden lokasinya di Gunungkidul, apabila ingin ke Ngeden kalian bisa siapkan waktu sekitar 2 jam jika berangkat dari Yogyakarta. Alat Transportasi Mobil atau Motor bisa digunakan jika ingin ke Pantai Ngeden. Tidak ada biaya retribusi, pengunjung hanya dikenai tarif parkir untuk motor atau mobil.
Di sana disediakan kamar mandi yang berbayar, apabila haus dan lapar kalian bisa beli jajanan di beberapa warung. 
Sebaiknya lebih berhati-hati apabila pulang terlalu malam, karena jalanan sekitaran Pantai Ngeden belum diberi lampu penerangan. Akses sinyal juga belum begitu baik, kecuali beberapa provider.

Continue Reading



Jujur, dulu cari tiket pesawat memang sulit dan butuh tenaga yang ekstra. Tentunya kita sendiri lebih terbiasa membeli tiket di offline travel agent (OTA) di kota tempat kita tinggal atau dengan mengunjungi online travel agent, saat ini beli tiket pesawat bisa dilakukan di toko online (olshop) yang kerap menawarkan diskon dan promo.

Harga tiket pesawat murah di toko online seperti, Bukalapak (BL) bisa didapat dengan lebih mudah dan lebih sering. Pasalnya, toko online seperti BL selalu saja ikut menggelar promo-promo. Promo menarik lainnya seperti : promo harbolnas, promo Natal dan Tahun Baru, promo 9.9, 10.10, dan 11.11. Promo 9.9 adalah promo dilangsungkan pada tanggal 9 bulan 9, begitu seterusnya untuk angka-angka yang lainnya.



Karena kita sudah berada di penghujung tahun dan mendekati tahun baru, sebagian besar kita pasti merencanakan liburan ke tempat tertentu. Tapi buat kamu yang kebetulan hingga saat ini belum tahu mau liburan tahun baru ke mana?

Kamu bisa memilih 5 negara destinasi liburan tahun baru populer di bawah ini, yang harga tiket pesawatnya lumayan murah jika membeli di toko online Bukalapak.


5 negara yang menarik dan populer sebagai tujuan liburan tahun baru

1. Malaysia

Di Malaysia beberapa tempat yang menarik untuk merayakan tahun baru diantaranya:

     Menara kembar Petronas atau KLCC

     Di wilayah Penang yang terkenal dengan jembatannya yang panjang serta menawan

     Di Kawasan Bukit Bintang

     Putra Jaya yang merupakan kawasan kompleks pemerintahan Malaysia, serta

     Dataran Merdeka


2. Thailand

Berlibur untuk mengisi tahun baru ke Thailand juga cukup seru dan menyenangkan. Karena beberapa tempat berikut ini merupakan tempat paling menakjubkan untuk menikmati suasana pergantian tahun yang meriah. Beberapa pilihannya antara lain:

     Chiang Mai yang terkenal dengan sebagai tempat menikmati tahun baru bernuansa lampion

     Bangkok

     Asiatique bangkok

     Phuket

     Sungai Chao Phraya


3. Taiwan

Harga tiket pesawat menuju Taiwan juga cukup terjangkau sehingga saya


sengaja menyertakan negara ini sebagai pilihan selanjutnya, yang bisa kamu pertimbangkan jika ingin mencari tempat menikmati suasana tahun baru yang meriah.

Tempat-tempat menarik di Taiwan yang sebaiknya kamu kunjungi saat tahun baru diantaranya adalah:

     Taipei 101, yang menjadi salah satu gedung pencakar langit yang selalu menghadirkan nuansa meriah setiap tahun baru

     Pelabuhan Keelung

     Kota Taoyuan yang selalu diremehkan dengan pagelaran musik dan kehadiran artis-artis populer

     Kota Hsinchu adalah alternatif tempat merayakan tahun baru dengan suasana konser yang meriah

     Kamu juga bisa mempertimbangkan Sun Moon Lake - Nantou, jika ingin menikmati meriahnya pesta menyambut tahun baru dengan kembang api

4. Jepang

Di Jepang 5 tempat paling populer untuk merayakan tahun baru diantaranya adalah:

     Tokyo Disneyland dan Tokyo Disneysea (Chiba)

     Yokohama Hakkeijima Sea Paradise (Kanagawa)

     Nagashima Spa Land yang selalu menghadirkan pertunjukan musik atau konser serta kemeriahan kembang api
     Huis Ten Bosch (Nagasaki)

     Universal Studios Japan di Osaka
 
5. Korea


Bagi kamu yang selama ini memimpin memberikan untuk berwisata ke Korea, saat ini mimpimu akan semakin mudah diwujudkan karena toko online seperti Bukalapak menyediakan tiket pesawat murah dengan rute ke Seoul.

Di Korea, beberapa tempat yang selalu ramai dikunjungi untuk merayakan tahun baru antara lain:

     Bosingak, Jongno-gu, Seoul

     Busan yang terletak di ujung timur Semenanjung Korea

     Pulau Jeju yang memiliki pemandangan indah, serta

     Jeongdongjin yang terkenal dengan pantai romantisnya


Jika ingin menikmati serunya tahun baru di negara-negara yang telah saya sebutkan di atas, kamu bisa mengecek tiket pesawat promo di toko online Bukalapak. Karena menjelang akhir tahun seperti ini, biasanya banyak sekali promo-promo menarik yang bisa kamu nikmati. Tapi ingat, cobalah untuk mencari dan membeli dengan menggunakan aplikasi Bukalapak. Karena apabila menggunakan browser, biasanya kita tidak bisa menikmati diskon maupun cash back yang mereka tawarkan.




Hidup adalah pilihan, Tuhan saja memberikan ruang untuk memilih, kenapa kamu yang repot

Mungkin ini adalah postingan pertama saya tentang hal-hal di luar tema “Perjalanan”. Maaf lho, tapi hal-hal begini memang tidak bisa kalau dibiarkan secara terus-menerus. Nanti jadi jamuran, lalu penyakitan.

Saya ingin berpesan rasanya, baiknya pertanyaan-pertanyaan yang mengandung unsur “kapan” dan berbau sensitif itu tidak usalah ditanyakan. Mending bertanya yang lain, karena kita tidak akan tahu batas perasaan seseorang itu sampe mana. Ya kalo baik-baik saja, kalo misalnya psikisnya terganggu ? gimana hayo ?

Ya sudah mari dilanjut, jadi begini.  

Sejak beberapa minggu yang lalu mata saya agak gatal, karena membaca pesan singkat dari teman saya. Sejujurnya, saya tidak pernah mempermasalahkan pertanyaan-pertanyaan yang terlintas ke diri saya. Tapi, untuk kali ini pesan tersebut sungguh menganggu fokus saya.

Kami cukup lama tidak bersua, terakhir berjumpa entah berapa tahun yang lalu. Saya selalu berusaha menjaga pertanyaan-pertanyaan yang menjurus pada sensitif diri. Apabila terlanjur kepo, saya selalu berusaha untuk mencari kesibukan lain agar lupa dengan rasa penasaran yang amat tidak penting itu.

Pesan pun masuk ke gawai saya. Saya yang lagi fokus-fokusnya mengerjakan Proposal Tesis, seketika ambyar.

“ Lid, kok sekolah terus buang-buang duit ‘’
“ Lid, kok sekolah terus, ati-ati lupa nikah, ingat nikah itu separuh agama ‘’

Baik, mari saya jelaskan.

Bagaimana Indonesia mau maju kalau bangsanya berpikiran bahwa sekolah itu buang-buang uang ?

Apakah iya sekolah terlalu lama menyebabkan saya lupa menikah ? Saya kuliah ini jurusannya Hukum Keluarga lho, setiap hari yang saya kerjakan dalam tugas kuliah dan semacamnya ini sangat bersinggungan dengan TEMA PERNIKAHAN. Sungguh aneh apabila saya lupa ingatan dengan PERNIKAHAN.

Bukan berati, yang tidak kuliah jurusan Hukum keluarga lantas lupa dengan Pernikahan. Tidak Ferguso, tidak ingatlah itu.  

Tenang, saya tidak lupa !

Tentu semua orang memiliki rencana kehidupan. Apa yang ia lakukan pasti sudah tahu akan konsekuensinya. Saya makin menghargai pilihan hidup seseorang, pikiran saya makin lama semakin tersadarkan. Kejadinya bermula ketika saya mentweet tentang perceraian. Malam itu saya sedang suntuk-suntuknya membaca aneka gugatan perceraian. Seketika saya beranggapan buruk, tanpa memikirkan bahwa sebetulnya ada banyak pertimbangan dalam keputusan perceraian yang diambil orang tersebut.

Lalu, sahutan di twitter pun muncul. Kira-kira begini “ eh jangan salah, aku dulu melakukan itu juga banyak pertimbangan panjang, luapan kesedihan, penyesalan dan banyak hal, tapi ya gimana lagi, mungkin ini memang jalannya ‘’

Semenjak itu dan melihat balasan tersebut. Saya mulai tertampar, saya merasa terlalu menghakimi pilihan hidup orang, seolah-olah apa yang saya utarakan tersebut sepenuhnya benar. Padahal senyatanya saya tidak berada di posisi tersebut. Mungkin, apabila saya berada di posisi tersebut, bisa saja saya mengambil keputusan yang serupa. 

Itu baru soal perceraian, masih ada hal lain. 

Jadi, dulu saya pernah keceplosan ngobrol di salah satu grup WA, kira-kira begini: " Nikah lah, nikah lah jangan sampe ketuaan, kasihan besok anaknya". Lalu ada salah satu yang menjawab " Lid, ada loh yang nikah muda, uda punya anak juga, ternyata pas usia 25 dia dipanggil Tuhan, ada juga yang nikah usia 30 tapi bisa membesarkan anaknya sampe usia 80 tahun".

Seketika saya langsung "DEG" kok ya bahlul (bodoh),bisa-bisanya saya mengatakan seperti itu. meskipun konteksnya bercanda, tapi tak selayaknya saya ucapkan. Oke, dari situ saya belajar, bener juga ya " mau menikah muda atau tua, usia adalah rahasia Tuhan".

Lanjut kecibiran lainnya

***

 “ Lid, kok sekolah terus sih, buang-buang duit” .

 Ya Memang saya buang-buang duit ? Terus kenapa ? Wkwkw  Gak deng. 

Jadi begini. Jujur saya  memang berkeinginan S2 ini sejak SMP. Saya tidak pernah menyangka Tuhan akan mengabulkan keinginan saya yang satu ini. Bukan berati saya tidak percaya doa saya tidak dikabulkan lho. Bagi saya, ini adalah kesempatan emas, kapan lagi sekolah masih dibayarin orang tua, tak perlu saya mencari beasiswa-beasiswa itu. Bersyukur dan disyukuri nikmat dari-Nya.

Setelah terpuruk dan terjatuh di masa sekolah SMA, saya selalu berusaha agar setidaknya keinginan S2 tersebut suatu saat bisa tercapai. Terkadang orang melihat saya terlalu aneh, ambisius, dan lebay kalau menginginkan sesuatu. Tapi, bagi saya pribadi sih gak masalah toh ini tentang mimpi dan semua orang berhak memilih keinginan-keinginan dalam hidupnya.

Keinginan sekolah S2 ini pun awalnya tidak dianjurkan oleh Ibu saya. Di awal semester 6, Ibu saya berpesan bahwa sebaiknya setelah lulus ini, saya bekerja saja. Di masa tersebut saya betul-betul kecewa, sampai akhirnya cita-cita S2 ini saya abaikan begitu saja. 

Namun, suatu sore saat saya hendak berangkat mengajar. Tiba-tiba ibu saya bertanya tentang skripsi saya dan kapan kelulusan saya. Saya menjawab saja dengan perkiraan, karena sejujurnya saya sendiri sudah merasa kecewa, karena gagal lulus 3,5 thn.  

Sore itu, Eh lakok tiba-tiba ibu saya bertanya lagi “ Lalu daftar kuliah mu kapan lho kalo kayak gini ?
Saya pun tiba-tiba kaget dan menjawab “ hah kuliah apa ?” 
Ibu saya menjawab “ ya kuliah S2, itu uang buat daftaran sudah tak siapkan, tinggal kamu pilih mau kampus yang mana ?
Saya “ lho katanya kerja saja, ya gpp kalo memang mau kerja
Ibu saya pun tetap dengan tegasnya mengatakan “ gausa kerja, nanti saja kerjanya’’

Setelah kejadian sore itu, saya pun terdiam dan masih tidak percaya. Kira-kira kelulusan hampir dekat, bapak saya mulai menyingung masalah S2. Malam itu saya betul-betul disuruh untuk mencari info, kampus mana yang sekiranya masih buka. Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya saya pun lanjut S2.  

Bagi saya, melanjutkan S2 setelah lulus tanpa bekerja lebih dahulu adalah soal pilihan hidup saya. Di awal kuliah pun, saya menghadapi sindrom, cemas dan takut apabila tidak bisa mengimbangi. Lebih-lebih saya pindah kosentrasi, dari yang awalnya saya ambil Hukum Pidana sekarang beralih ke Hukum Keluarga. Saya pun menyadari tentang kekurangan saya, tapi ya balik lagi. Ini adalah pilihan saya, saya harus memperjuangkan.

Kecemasan-kecemasan yang lain tentang tidak jadinya lulus 3,5 tahun, gagal menjadi lulusan terbaik dan semacamnya saya abaikan. Ternyata dibalik itu semua, Tuhan telah menyiapkan S2 ini yang telah saya impikan sejak SMP. 

Makin ke sini, saya semakin sadar. Bahwa setiap manusia punya keputusan dan jalan hidupnya masing-masing.  Saya ya bahagia-bahagia saja kalau mendengar teman-teman saya mulai diterima kerja, ada juga yang memulai usaha, mencoba sekolah desain dan sebagainya.

Kita tidak bisa menghakimi bahwa pilihan hidup orang lain itu salah dan kita lah yang paling benar. Bukan berati ketika orang lain memilih jalan hidup beda dengan kita, lantas kita paling benar dan keputusan orang lain salah. Tentu tidak Ferguso. 

Jujur, saya mengira semakin bertambah dewasanya seseorang, semakin bijaklah seseorang itu dalam menerima keputusan orang. Eh tapi tidak juga ya ternyata. 

Banyak sekali pertanyaan yang berbau “ KAPAN ‘’ membuat hati seseorang yang ditanya itu baper. Sebetulnya itu bukan baper sih, tapi lebih ke “ Mengapa kamu menanyakan hal itu ? ya kalo beda dengan kamu lantas kenapa ? “ Ini sama menyayat hatinya lho dengan pertanyaan " Kok Gendutan ya kamu ? "

Kurang-kurangi lah, bertanya-tanya tentang hal yang dirasa sangat sensitif untuk ditanyakan. Ya gak bertanya aja sih, berkomentar pun sebaiknya tetap ada batasannya. Baik hal tersebut ditujukan kepada teman dekat, teman jauh, atau teman-teman lainnya. Tema obrolan itu sebetulnya banyak lho, tinggal bagaimana kita mau memulainya saja sampai terhindar dari pertanyaan  atau komentar yang membuat hati tertusuk.

Apabila bingung mulai membahas apa saat menghubungi kawan lama, opsi di bawah ini bisa dijadikan pilihan, misal :
  • Skincare
  • Perjalanan
  •   Memasak
  •   Isu terkini, berita-berita nasional
  •   Buku terbaru
  •   Gadget terbaru
  •    Fashion terbaru
  •    Film
  •    Kamera
Dan masih banyak lagi. 

Banyak bergaul dengan orang yang tidak sekeyakinan pun, mungkin bisa dijadikan alternatif pembelajaran agar lebih bisa menghargai, pilihan keyakinan hidup seseorang. 
Tanpa embel-embel " Ya semoga kamu berhijrah ya, atau terbuka pintu hatinya untuk mualaf ", TIDAK.

Miris saya tuh dengan hal-hal berbau begini. Kasihan gitu lihatnya. Mungkin ada benarnya pepatah mengatakan “ pergi-pergilah yang jauh agar kau banyak belajar ‘’. 

Saya membenarkan sih, kalau memang berpergian itu membuat seseorang banyak belajar, tapi ya balik lagi apakah seseorang tersebut sudah siap menerima pelajaran itu ? atau malah kaget.

Baik-baik deh dengan pilihan orang, karena setiap orang punya waktu dan kesempatan masing-masing. Hargai setiap keputusan seseorang, apabila kalian merasa tidak sejalan dengan pemikiranmu, kira-kira siapa yang salah ya ? Ferguso ? 

***