22 Feb 2021

Cicipi Pizza dengan Suasana Beda di Nanamia Pizzeria Yogyakarta



Karena pandemi belum berakhir, setiap akhir pekan kami memilih beberapa tempat baru untuk sekedar bersantai, membaca buku atau mencicipi hidangan yang unik. Karena saya lagi pengen banget makan pizza dan ingin suasana baru. Akhirnya saya memutuskan untuk mengajak Jun pergi ke Nanamia Pizzeria. Nanamia ini letaknya agak jauh kalau dari pusat UGM, lokasinya mengarah ke Selatan lagi ya daerah Prawirotaman.  Kami melakukan perjalanan kira-kira 20 menit, sampai akhirnya tiba di Nanamia Pizzeria. 


Jujur beberapa tempat makan di Jogja sudah menerapkan protokol kesehatan, ya tinggal masing-masingnya saja mau berjaga atau tidak. Meski di Nanamia ini sering ramai, tapi untungnya di masa pandemi ini kami bisa saling berjarak dengan pengunjung lain. Jadi gausa khawatir kalo bakal dempet-dempetan kayak di angkot ya haha




Waktu sampai di Nanamia Pizzeria, saya langsung menuju ruang cuci tangan. Jadi sebelum masuk, satpam mengarahkan kami untuk cuci tangan terlebih dahulu. Lalu diukur suhunya dan kami bisa scan barcode untuk lihat-lihat menu. Karena kemarin buru-buru, akhirnya saya gak scan barcode dan ya lihat menunya di buku menu yang telah disediakan. Petugas di Nanamia juga menggunakan masker, meja di bersihkan terlebih dahulu dan di sana setiap meja juga dikasih hand sanitizer. Jadi menurutku mereka betul-betul menjaga dan menerapkan dengan baik. 



Kami berdua melihat-lihat menu di bukunya, ternyata menu di Nanamia Pizzeria ini banyak sekali saya pun sampai bingung mau pesan pizza rasa apa dan topping apa. Oiya di sini juga jual beragam minuman dan beer, kalau mau chill bersama teman-teman sambil makan pizza Nanamia Pizzeria juga bisa lho. Karena sudah cukup melihat menunya, akhirnya saya pesan pizzanya dengan topping tuna, paprika, tomat dll, intinya saya lupa nama menunya haha. Saya menunggu kira-kira 20-40 menit, waktu itu agak lama karena kami ke Nanamia Pizzerianya di hari Minggu jadi agak ramai.

Setelah menunggu sekitar 40 menitan, makanan pun datang. Saya dari jauh melihat bagaimana mereka menyajikan menu. Intinya buat saya, Nanamia Pizzeria gak bikin khawatir karena semua disajikan dengan hiegenis. Karena di masa seperti ini terkadang pilihan untuk makan di luar memang berat, tapi ya karena lagi pengen suasana dan rasa yang beda, ya gapapa dicoba aja.




menu lain bisa dicek di https://pizzeriananamia.com/


Bagaimana Rasanya ?


Pizza saya dari Nanamia Pizzeria sudah datang yeey. Pertama sih yang datang Bruchetee semacam roti dengan tekstur keras dan dikasih paprika, tomat dan saus di atasnya, lalu baru deh datang pizzanya. Saya pilih pizza dengan pinggiran renyah, overall saya suka sekali dengan Nanamia Pizzeria. Rasanya unik dan tempatnya juga sejuk karena banyak tanaman diserkitarnya. Kalau memang ingin tempat yang outdoor, kalian juga bisa pilih duduk di bagian outdoor.  Oiya kalau Jun sendiri bilang kurang pas dengan rasa Nanamia Pizzeria ya dia lebih pilih Pizza Hut katanya secara bumbu lebih kuat Pizza Hut. Tapi memang sih, soal makanan dan rasa cocok-cocokan dan sesuai selera masing-masing. Kalau aku jujur approved banget.






Berapa Budget Yang Harus dikeluarkan ?

Aku menghabiskan kira-kira Rp.112.000 (seratus dua belas ribu rupiah), dengan nominal segitu aku dapat 2 minuman yaitu air mineral 600 ml,  beras kencur madu, Nanamia Pizzeria ukuran Large dan Bruchetee isi 4.  Menu di sini bervariatif, mungkin bisa menghabiskan start Rp. 75.000/person.


Dimana lokasinya ?

Tirtodipuran St No.1, Mantrijeron, Yogyakarta City, Special Region of Yogyakarta 55143








8 Jan 2021

Jalan Santai Ke Gunung Api Purba Ngelanggeran



Aslinya rencana jalan santai ke Gunung Api Purba ini super mendadak. Awalnya saya minta kado ulang tahun dari Jun pergi naik Andong saja, tapi karena Desember memang bulan musim hujan, jadilah pergi ke Gunung Api Purba. Jujur saya tipikal jarang punya ekspetasi tinggi untuk sebuah destinasi. Jadi ya saya gak kecewa-kecewa amat kalau nantinya zonk. 

Seperti biasa kami bangun terlalu siang, harusnya sih pengen mulai jalan jam 6 pagi. Tapi, karena kesiangan akhirnya ya berangkat jam set 8 pagi. Kami menuju Gunung Api Purba menggunakan sepeda motor, kami melakukan perjalanan sekitar 1 jam saya. Memang sedekat itu kalau misal berangkat dari Kota Jogja. Karena gak sempat sarapan, di tengah perjalanan, saya menghabiskan Cinnamon Rolls yang semalam saya beli di Starbuck. Rutenya gampang banget, tinggal ikuti arahan google maps. Karena saya pake petunjuk sepeda motor, jadilah saya sempat masuk ke hutan dan perkampungan warga gitu. 

Tiba di perkampungan warga, kami berdua berhenti sejenak untuk isi bahan bakar dan membeli jajanan di sebuah warung. Sudah beli-beli jajan, perjalanan kami lanjutkan lagi. Gak sampe 15 menit, kami sudah tiba di loket Gunung Api Purba. Tinggal di Jogja 3 tahun, saya belum pernah sama sekali naik Gunung Api Purba. Ya karena belum ada waktu aja haha.

Waktu nyampe di lokasi, kami berdua bingung. Kok sepi ya, wah asik nih berarti ga ada orang naik gitu. Yasuda, kami langsung menuju loket untuk membayar tiket masuk. Di sini sebetulnya sudah bisa bayar pake dompet digital, tapi lagi-lagi karena petugasnya yang melayani saya belum bisa alias gatau caranya, jadilah saya bayar cash saja. Kemarin sih untuk 2 orang dan parkir motor, kami kena tarif 22.000. Jadi, 10.000 per-orang dan tarif parkirnya 2000 saja. Setelah selesai membayar, kami berdua langsung menuju pintu masuk dan langsung jalan santai. 

Awal masuk, kami berjalan menaiki tangga-tangga, jalanannya sesekali datar, dan sesekali masuk sempit-sempitan lewati batu besar haha. Sebenernya seru sih, cuma ternyata di sini banyak nyamuknya, jadi saran saya jangan lupa bawa lotion nyamuk. Oiya, saat ke sini kondisi tanahnya licin sekali, karena memang lagi  musim hujan, jadi harus berhati-hati.






Jalan santai menuju puncak ini butuh waktu kira-kira 1 jam saja kalau sama turunnya ya kurang dari 2 jam saja. Waktu tiba di pos kedua, saya kaget karena ternyata pendakian ini tidak sepi-sepi amat. Ada beberapa  gerombolan orang juga naik sampai ke puncak, ya kalo dihitung-hitung ada 10 orang lah ya. Saat menuju puncak di perjalanan terakhir saya harus menaiki tangga kayu, tangganya gak sempat saya foto soalnya buru-buru naik haha. 

Oiya karena licin banget, Jun sempat berdiri di sebuah bukit gitu dan hasilnya pas dia turun, akhirnya dia terpeleset. Aku tertawa dibalik masker haha, dia langsung berdiri dan mangkel dengan sendirinya. Sepanjang perjalanan Jun mangkel dengan sendirinya, karena banyak nyamuk, licin dan tentunya hutannya ini gak dingin justru malah panas suasananya. 

Tiba di puncak saya cepat-cepat memotret pemandangan di sekitar. Gak lama-lama, karena ternyata banyak orang. Emang sih banyak orang versi perjalanan covid dan gak covid terasa bedanya. Dulu 10 orang itu terasa dikit, tapi karena sekarang lagi Covid, jadilah saya horor sedikit. Saya berusaha menjauh dari orang-orang, cuek juga karena males dimintai tolong foto-foto haha. 

Jun masih dengan posisi kesal dan gak mau mengulang lagi ke sini haha, saya juga sebel sih karena emang panas banget. Padahal ini musim hujan lho dan sehabis hujan, kayak gak ada dingin-dingin dikitnya gitu. Setelah selesai foto-foto di atas dan tidak selfie berdua juga, karena lagi-lagi kami pengen cepet turun dan mengakhiri perjalanan ini.

Karena licin banget,  ini juga jadi kehati-hatian saya buat berjalan turun. Duh saya itu suka naik gunung, tapi emang gak jago kalo disuruh turun, kayak takut terpeleset gituloh. Jadilah kemarin hati-hati banget. Sepanjang perjalanan turun, biar gak sama-sama badmood, akhirnya Jun cerita materi-materi diklat waktu dia gabung di Majapala, mulai dari teknik berjalan yang benar, tumbuhan apa yang bisa dimakan di alam bebas dan masih banyak lagi. 




Oiya jalanan naik dan turun di Gunung Api Purba ini bedaloh rutenya, jadi kalau sudah sebel sama jalur berangkatnya, nanti gausa sebel lagi sama jalur turunnya. Soalnya turun ini lebih slow gitu jalanannya. Kami berhenti beberapa kali untuk tarik nafas sebentar dan berjalan lagi sampe berjumpa dengan rumah penduduk. Kalau sudah kelihatan halaman rumah penduduk, itu artinya kalian sudah sampai dan siap jalan ke parkiran. Oiya dari halaman rumah penduduk menuju tempat parkir itu, kami harus berjalan kira-kira 500 meter. Jadi jangan senang dulu haha

Setelah berjalan, kami menyempatkan untuk cuci tangan di tempat yang sudah disediakan. Sayangnya menurutku tempat cucinya ini belum siap sempurna gitu, karena sabunnya terlalu banyak air gitu dan tempatnya kurang bersih. Saranku sih, kalau mau pergi di masa covid gini, jangan lupa bawa sabun cuci tangan sendiri saja yang kecil, lalu tetap bawa hand sanitizer juga ya. 


(Perjalanan dilakukan tanggal 11 Desember 2020)


3 Okt 2020

Belajar Plant Based 30 Hari




Akhir Agustus bulan lalu di sebuah kedai kopi, aku dan Jun berjumpa dengan teman kami yang telah lama gak jumpa karena covid. aku masih ingat, waktu itu obrolan kami bertiga tampak dalam sekali, mulai dari ngobrolin masa depan, mau kerja apa, mau menjadi apa besok dan berujung pada obrolan tentang menjaga kesehatan tubuh. Sejujurnya semenjak menjadi mahasiswa, rutinitas makanku sangatlah buruk dengan asupan gizi yang tidak jelas menurutku karena banyaknya junk food. Belum lagi sebagai mahasiswa, gak afdol rasanya kalo tidak begadang kerjaanya setiap hari, ada gak ada tugas ya begadang aja. 

Sudah lama sih sebetulnya aku punya ketakutan ditambah jarang olahraga. Tapi ya namanya merasa " ah aku masi muda, santai aja deh". Gara-gara sebuah obrolan tentang kesehatan dan temanku merekomendasikan nonton "The Game Changer", jadilah akhirnya aku memulai untuk hidup lebih sehat lagi dan menjaga lagi. 

Setelah pulang dari ngopi, besoknya akupun langsung nonton film tersebut. Jujur kaget sih, tapi gamasalah masih ada waktu untuk merubah pola hidup yang lebih baik. Perjalanan merubah pola hidup ini ku mulai dengan mencoba belajar plant based selama 30 hari. 

 

 

Aku memulai mencoba berlatih untuk plant based  dengan mengubah pola pikir, bahwa makan apapun yang berasal dari tumbuhan tidak akan membuatmu lemah, seandainya pun pengen jajan, jajanan yang sumbernya dari protein nabati juga tersedia banyak. Dengan meninggalkan beberapa makanan daging, tidak membuatmu akan cepat lapar, intinya sih harus yakin terhadap metabolisme tubuh sendiri. Aku membuat catatan kecil, kira-kira apa ya yang perlu dihindari saat uji coba plant based ini. Ketika pola pikirku terhadap plant based sudah cukup percaya diri, jadilah aku memulai niat ini. Oiya dalam perjalanan berlatih Plant Based ini aku hanya menceritakan caraku memulai, aku bukan ahli dalam gizi atau kesehatan. Syukurnya dalam perjalanan ini, aku tidak mengalami gangguan kesehatan, kurang gizi atau lemas. 


Coba Buatlah Catatan Menu Harian 

 Sebelum berbelanja, malam harinya aku mencatat menu yang akan aku masak   dalam 3 hari ke depan, mulai dari menu pagi dan menu malam. Sejujurnya ini akan menjadi efektif, karena kita bisa lihat-lihat resep dulu mau masak apa, dan nantinya bisa menentukan budget. Oiya aku juga pernah lho bergumam saat masuk ke toko sayur, karena melihat banyaknya jenis sayuran. Akupun mempertanyakan diri sendiri " Kenapa aku harus cari produk daging ya, di sini ada paprika, bayam, buncis, lobak "  pokoknya buanyak deh. Beragam jenis sayuran ini bisa ternyata dipadu-padankan, bikinlah resep versimu sendiri. 


Tidak Perlu Takut Untuk Kembali Makan Protein Hewani !

Aku sempat membaca beberapa tulisan tentang berlatih Plant Based dan melihat beberapa video di Youtube. Intinya ketika kita masih dalam tahap belajar, gapapa kalaupun seandainya lagi pengen banget makan Protein Hewani. Istilahnya kita gak perlu ngoyoh atau forsir diri sendiri. Anggap saja ini latihan makan sayur, perlu pembiasaan dan biar gak bosen ya membiasakannya harus pelan-pelan. Semisal dalam satu minggu, yang biasanya makan ayam setiap hari nah dikurangi, dibuat hanya 3x saja pun termasuk makan telor maupun daging. 

Tentu kebiasaan mengurangi ini perlahan akan berkurang dengan sendirinya. Hal ini ku praktekkan langsung ke Jun. Jun sejak kecil gak suka sayur sama sekali, setelah nonton The Game Changer, akhirnya dia sadar dan mau belajar makan sayur. Di minggu-minggu pertama dia makan ayam, yasudah aku biarkan saja gapapa haha dia pun sesekali minta ijin ke aku, ya aku bilang " makan aja gamasalah". Tentu hari-hari berikutnya karena lebih seringnya kami makan protein nabati, jadilah mulai terbiasa dan Jun sudah tidak mencari daging ayam lagi.


 Mulai belajar Memasak Sendiri

Sebagai anak yang malas masuk dapur dan pegang pisau aja gemetaran. Jujur bulan September kemarin adalah bulan pertama aku untuk lebih berani sering memasak daripada beli di luar haha. Aku mulai belajar untuk memasak beragam sayuran dari labu siam, paprika, pare, brokolli dan banyak sayur lainnya. Ternyata memasak sayuran menggoreng tempe jatuhnya lebih gampang daripada bikin ayam kecap haha. Kalau lagi selow aku suka lihatin menu-menu di Cookpad, Youtube. atau kadang aku lihat di akun Instagram @bekalmakansiang. Memasak sayur tidak butuh waktu lama juga, karena kalau lama-lama kandungan vitaminya bisa berkurang, sayurnya layu banget dan gak krenyes-krenyes. 



     Apakah Plant Based Harus Mahal ?

Saat pertama memulai Plant Based aku kerap kali mendengar kalau memilih gaya hidup plant based  produknya mahal-mahal dan bikin kantong bolong. Tentu buatku sih ini pilih-pilih aja ya. Beberapa produk memang harganya mahal, tapi opsi lainnya masih banyak banget, fokus sama apa yang akan kamu makan. Makan enak, hiegenis dan menyehatkan tidaklah harus mahal. 

 

Gimana nih, aku masih punya produk Hewani ?

Sejujurnya aku waktu awal memulai plant based masih punya beberapa produk hewani seperti yoghurt, susu dan beberapa kaldu. Buatku sih tidak masalah, plis jangan dibuang, dipake aja sampai habis. Tapi kalau memang masih baru produknya dan bisa dikasihkan ke temanmu ya kasihkan aja. 


Ketika memulai plant based versiku ini tentu tidaklah bisa 100% berubah tanpa memakan protein hewani. Seiring berjalannya waktu tentu aku makan beberapa produk yang mengandung telur atau susu. Menurutku itu bukanlah sebuah kegagalan tapi sebuah proses. Aku juga pernah memesan seblak jamur tapi ada sayap ayamnya haha atau memesan baso Aci dan ternyata isinya adalah daging sapi. Ketika aku makan sayap ayam, aku merasa biasa aja. Tidak ada kesan " ini enak banget jadi pengen nambah lagi". Mungkin aku sudah stop makan daging ayam 3 Mingguan ya, jadi pas ketemu punya respon yang biasa aja. 

7 Mei 2020

Kita bukan pemilik skenario yang sebenarnya

Bertegur sapa di kala senja

Aku sudah lama rasanya gak menulis yang ringan dan santai seperti ini. Mau nulis tema travel kok ya belum mood dan pas waktunya. Bagaimana kabarnya semua ? Semoga senantiasa dalam keadaan baik, sehat dan kenyang. 

Sudah hampir 2 bulan ini kita semua kena musibah karena virus. Tentu semuanya mengalami kesusahan di levelnya masing-masing. Pesan " mohon bersabar " rasanya sudah jadi pesan yang membosankan. Kalau sudah bosan, mengeluh lah solusinya. Aku percaya, semua orang pasti punya jatah mengeluh masing-masing. 

Di masa-masa seperti ini tentu semua orang mengalami rasa kekecewaan. Kecewa akan target-targetnya yang akhirnya harus mundur atau tidak bisa dikerjakan sama sekali. Semua orang pasti punya tujuan, tapi Tuhan lah yang menentukan.  

Hari demi hari rasanya semua punya ujian masing-masing. Semuanya mulai bosan, mulai resah dan pasti ada juga yang mulai putus asa.

Kapan lagi bisa melihat matahari bersinar di tepi pantai

Aku jadi ingat sebuah pesan " Kita bukan pemilik skenario yang sebenarnya " 

Siapa yang pernah menyangka tahun ini akan banyak hal-hal yang pada akhirnya tidak dilaksanakan dengan semaksimal mungkin. Ini menjadi pengingat bahwa sebaik apapun rencana yang kita buat, akan ada rencana lain yang tiba-tiba datang tanpa diminta. 

Pun aku juga sedang mengingat-ingat lirik lagu dari mendiang Pakde Didi Kempot " Ning ndunyo sepiro lawase, Bebasan mung mampir ngombe" . Di dunia seberapa lamanya, cuma seperti mampir minum. Kira-kira begitulah artinya. 

Bulan-bulan ini rasanya kita semua mendapat kesadaran penuh dari yang Kuasa. Apa yang kau kehendaki, belum tentu Dia akan menghendaki.

Diantara batu-batu di Bawean

Dulu waktu SMP saat aku belajar ilmu Tauhid. Aku bertanya-tanya, apa iya Tuhan itu punya sifat buruk.  Kalo dia tidak menghendaki apakah itu merupakan sifat buruk baginya ?

Guruku menjawab, tidak menghendaki bukan berati tidak diberi melainkan akan diganti dengan yang lebih baik. Sebagaimana sang pencipta lebih mengetahui apa yang dibutuhkan oleh yang diciptakannya.

Rupa-rupanya ini bentuk ujian untuk kita semua. Tuhan seperti mendikte hambanya agar berlatih sabar, ikhlas, bersyukur dan berpasrah. Siapa yang pernah menyangka kalau Tuhan mendikte seluruh hambanya secara bersamaan. Sabar, ikhlas, bersyukur dan berpasrah memang tak semudah ketika diucapkan. Aku pun masih jauh dari kata bisa. 

Semoga ini jadi pengingat untuk semua. 


7 Feb 2020

Blackbone Coffee Kedai Kopi Untuk Semua Kalangan

Aku masih ingat pertama kali datang ke Blackbone Coffee ya yang ada di Jl. Affandi. Tapi ingat, itu Blackbone Coffee The Garage lho. Kalau di sana kedai kopinya didesain banyak pajangan motor antik mengingat konsepnya memang konsep “ The Garage”.

Karena sering keliling di Jakal, barulah aku nemuin Blackbone Coffee ini yang letaknya di Jakal (singkatan dari Jalan Kaliurang) KM 5, Gg Sitisonyo nomor 88. Pokoknya kalau sudah ketemu Mcd Jakal, kalian tinggal masuk aja ke gang yang di sebelahnya. Lurus terus, nanti di kiri jalan akan ada kedai kopinya. 

Tampak bagian depan
Kedai kopinya ini ada di dalam area rumah, namun beda bangunan. Buatku di sini nyaman banget, apalagi kalau mau menghabiskan waktu seharian pun juga bisa. Karena mereka sedia beragam menu mulai dari makan berat seperti rice bowl, spagetti, camilan ringan seperti kentang goreng, salad buah dan salad sayur, kopi, teh, non coffee dan masih banyak lagi. Intinya di sini lengkap banget. 

Dari segi tempat, jujur Blackbone Coffee ini menyediakan banyak kursi dan bisa milih mau duduk di tempat yang mana saja. Blackbone Coffee ini menyediakan ruangan ber-ac khusus perokok buat kamu yang pengen ngerokok atau ngevape tapi gak pengen panas-panasan, colaborative space yang bisa dibooking untuk rapat atau belajar bareng,  tempat duduk kayu dan beton untuk kamu yang gak pengen duduk di sofa, dan tempat duduk sofa untuk kamu yang gak pengen duduk di kursi beton dan kayu. 

Karena parkirannya cukup luas, kamu gak perlu khawatir apabila ingin membawa mobil. Paling menyenangkannya lagi adalah di sini bebas parkir haha. Bayangkan kalau setiap hari keluar hingga 5x tempat, parkir aja bisa habis sepuluh ribu nah dikali 30 hari jadi berapa coba ?

Tampak bagian luar Blackbone Coffee, mulai dari sofa, kursi beton hingga kursi kayu. 

Buatku Blackbone ini udah jadi kedai favorit. Untuk harganya sendiri tidak terlalu mahal, standar seperti kedai kopi biasanya, harga yang dijual mulai dari tiga belas ribu. 

Di sini yang paling aku suka lagi, Blackbone jual teh premium macam Early Grey, Black Current. Menurutku teh premium di sini harganya cukup murah dari kedai kopi yang biasanya aku kunjungi.Biasanya beberapa kedai kopi kasih harga sekitar dua puluh ribuan, nah kalau di sini sekitar empat belas ribuan. 

Segelas teh dan segelas es cappucino
Mau suasana panas dan hujan, buatku Blackbone tetap bikin nyaman. Aku cukup sering menghabiskan waktu di Blackbone, mulai dari ngerjakan tugas kuliah, kerjaan dan sekedar kongkow haha. Rasanya aku cukup berterima kasih pada Blackbone yang ngasih tempat ngopi senyaman ini. Berkat Blackbone, Tesisku bisa rampung.

Aku pernah juga lho menghabiskan satu hari penuh untuk di Blackbone, keluar Blackbone cuma buat ke masjid di sebelahnya saja. Seharian penuh aku pesen kopi,kentang goreng, beli rice bowl, pesen teh, sampai malamnya ku tutup dengan makan salad haha banyak juga makanku.. Tidak lain dan tidak bukan, hanya untuk menganalisa bab 4 Tesis. Buatku juga wifi di sini lancar-lancar saja, aku jarang sekali mendapati lemot jaringan saat sedang mengerjakan sesuatu. Ya kecuali kalau kedai sedang ramai sekali, biasanya sih ramai-ramainya pas malam Minggu.

Tampak bagian dalam Blackbone Coffee
Ruangan Merokok ber-ac


Aku sepakat kalau Blackbone ini nyaman banget. Gak cuma buat kumpul bareng temen aja, bareng keluarga pun juga bisa. Karena menu-menu yang dijual bisa diterima buat siapa saja. Kalau kalian berencana pengen ngopi bersama keluarga, bisa ajak ke Blackbone saja. 

Oh ya kedai kopi ini buka dari jam 9 pagi hingga jam 12 malam untuk hari Senin-Kamis. Kalau hari Jum'at, Sabtu dan Minggu, mereka tutupnya lebih lama, buka dari jam 9 pagi dan tutup jam 1 dinihari.

Jadi, kapan kamu mau ngopi di sini ?

31 Jan 2020

Pengalaman Naik Kereta KTM Berhad : RUTE BUTTERWORTH - IPOH - KUALA LUMPUR

Dua minggu sebelum keberangkatan, aku mulai googling mau pergi kemana saja saat berada di Penang. Karena aku anaknya suka naik transportasi umum, akhirnya kuputuskan untuk keliling naik kereta saja ke beberapa kota di sekitar Malaysia. Aku mulai punya ide untuk pergi ke Butterworth, Ipoh dan terakhir ke Kuala Lumpur. 



Naik kereta menjadi pilihan yang menarik karena tepat waktu dan tidak perlu khawatir untuk dipindah-pindahkan. Meski harganya terbilang lebih mahal dari bis, bagiku tak masalah asalkan aku tetap bisa merasakan perjalanan dengan nyaman. 

Tiket pertama yang ku pesan yakni rute Butterwoth menuju Ipoh. Awalnya aku memesan lewat websitenya langsung yakni via ktmb.com. Tiket sudah terbayar, namun belum ada email masuk. Aku pun saat itu agak panik, namun aku positif thingking saja, karena mungkin lagi trouble dan besok tiket akan masuk. 

Sudah beberapa hari tiket tidak kunjung masuk. Akhirnya aku pun menghubungi call center lewat twitter. Intinya adalah tidak ada history pembelianku. Aku pun menghubungi pihak bank, dan pihak bank meminta bukti surat dari pihak kereta. Karena tidak ada kejelasan yang pasti, akhirnya kurelakan saja hangus. 


Waktu itu aku sempat di DM oleh orang Malaysia. Dia pun curhat kalau tiketnya tidak terissued tapi pembayarannya sudah sukses. Beberapa orang lainnya juga banyak yang protes. Ternyata benar, pada saat itu website lagi trouble. Si mbak yang DM aku pun dia cerita, kalau saat hari H pun dia datang ke stasiun, tiket tetap tidak bisa diproses, akhirnya dia pun beli tiket baru. 

Aku pun mencari jalan dan beberapa aplikasi yang bisa booking tiket kereta KTM Berhad ini. Akhirnya ketemulah dengan apilkasi Easy Book. Easy Book ini aku download di play store. Setelah download, aku pun langsung memilih tujuan yakni Butterworth – Ipoh dan Ipoh – Kuala Lumpur. Setelah semuanya aku booking, aku pun langsung membayar. 

Easy Book punya sistem dompet gitu. Jadi aku bisa top up pake ovo atau bank lainnya. Aku memilih top up dari ovo ke dompet Easy Book. Menurutku cara ini lebihlah mudah dalam transaksi. Aku cukup berhati-hati, takutnya eror lagi dan tidak masuk ke email lagi. Prosesnya gak sampe 5 menitan, akhirnya tiket ku pun terissued semua. Aku pun siap menjajal naik KTM Berhad. 




Masi inget kan, cerita ku yang lalu saat ke Ipoh. Yap, pagi-pagi banget aku harus jalan kaki menuju pelabuhan dan menyebrang laut untuk ke Stasiun Butterworth dari Pulau Penang. 

Singkat cerita, aku langsung mengikuti petunjuk saat turun dari pelabuhan, lalu berjalan ke mall dan tiba di Stasiun Butterworth. Stasiun Butterworth ini buatku tidak terlalu luas, jadi tidak akan membuatmu kebingungan mencari loket dan peronnya. 

Tiba di loket, aku langsung menunjukkan nomor pembelianku yang dapat dari email. Aku meminta tolong petugas untuk mengeprintkan tiketnya. Sebetulnya tanpa di print juga tetap bisa kok. Pokoknya duduk sesuai dengan kursinya. 

Aku betul-betul memperhatikan, kira-kira kereta peron berapa yang harus ku naiki. Jam 7 sekian, kereta mulai datang. Aku pun langsung jalan menuju gerbong kereta dan mencari kursiku. Kebetulan kursiku dekat dengan kantin. Jadilah kalau mau makan atau sekedar ingin minuman hangat, bisalah langsung beli. 

Kereta ini menurutku terbilang bersih dan nyaman. Kamar mandinya juga bersih, ada fasilitas musollanya juga. Jadi, apabila ada yang ingin solat bisa langsung ke musollahnya saja. Kira-kira sudah duduk selama 15 menit, nanti aka nada petugas yang bagian mengecek tiket. 

Aku sangat menikmati perjalanan dari Butterworth menuju Ipoh. Dibutuhkan waktu kira-kira 3-4 jam. Menurutku itu juga tidak terasa lama, secara keseluruhan aku merasa nyaman sekali. Keretanya bersih dan wangi, mau lah kapan-kapan keliling Malaysia pakai KTM lagi. 
Beda ceritanya saat naik KTM dari Ipoh menuju Kuala Lumpur. 

Seperti biasanya aku sudah di stasiun lebih awal, berjaga-jaga agar tidak tertinggal kereta. Setelah loket dibuka, aku langsung minta tolong untuk printkan tiket. Aku menunggu kurang lebih 1 jam’an. Barulah kereta datang, tentunya tidak delay

Saat memesan tiket ini, aku sudah memilih kursi gitu. Jadi sudah jelas duduknya di kursi nomor berapa. Saat masuk ke kereta, rasanya senang sekali dapat kursi dengan bagian kakinya yang luas. Jadilah kaki aku bisa agak diselonjorkan. Tapi, nasib berkata lain. Space yang luas itu akhirnya di isi dengan koper yang besar-besar. Jadilah tempat untuk kaki ku sempit. Mirip-mirip kayak naik bis rasanya huhu. Kalau kayak gini, jadi pelajaran besok lagi bakalan pesen kursi yang di tengah-tengah aja. 

Aku cukup memaklumi sih, karena emang ga ada kuli panggul koper. Sedangkan yang membawa koper itu rata-rata orang tua. Ya pastilah mereka gak akan kuat angkat koper dan meletakkannya di kabin kereta. 

Perjalanan Ipoh- Kuala Lumpur ini ditempuh kira-kira 5 jam. Lagi-lagi aku gak terasa sih dan gak membosankan. Buatku asik sekali melihat pemandangan hijau-hijau dari balik jendela kereta. Oiya di dalam kereta tidak ada pedagang makanan keliling. Apabila ingin makan, ya langsung saja ke kantin. Gak seperti di Indonesia haha bisa duduk manis dan yang jual makanan keliling dari gerbong ke gerbong. 

Fasilitas : 
Berbicara fasilitas, sebetulnya fasilitasnya standar saja. Tidak ada audio dan tv. Kursi biasa dan ada meja untuk tempat makan atau sekedar membuka laptop. Selebihnya kamar mandi bersih, ada kantin dan musollah. 

Selengkapnya jadwal bisa dicek di ktm.com atau cek di aplikasi easybook.com



26 Jan 2020

Pretty Odd Coffee Bar Jogja tempat yang kecil dan rasa yang unik



Tampilan depan Pretty Odd
Sepulang dari Sunmor (Sunday Morning : Pasar Minggu pagi di UGM) aku dan Jun langsung mencari kedai kopi. Kami berdua bingung mau ngopi di mana, banyaknya kedai kopi di Jogja membuat kami makin bingung dan harus pilih-pilih. Saat di perjalanan dan scroll-scroll twitter, aku jadi ingat Mas Sitam pernah posting tentang kedai kopi Pretty Odd Coffee Bar, jujur sejak awal lihat aku sudah tertarik dengan minuman yang dipesan oleh Mas Sitam yakni kopi dengan nama “Stop Me If You Think You’ve Heard This One Before”.




Kalo dari Jl. Solo, petunjuknya tinggal mencari Hotel Paku Mas. Apabila ada gang menuju Hotel Paku Mas, tinggal masuk saja setelah itu tepat di kiri jalan akan ada kedai kecil. Kedai kopi ini juga dekat dengan Ambarukmo Plaza. Jadi, apabila ingin rehat sejenak dan mencicipi uniknya racikan kopi yang beda daripada yang lain. Aku merekomendasikan pergi ke Pretty Odd Coffee Bar.

Preety Odd ini punya 4 kopi yang jadi signature dan kali ini kami berdua memesan kopi yang “ Stop Me...” dan “Beginner Luck”. 

Kiri : Beginner Luck, Kanan : Stop Me If You Think You’ve Heard This One Before

“Stop Me If You Think You’ve Heard This One Before” terlihat dari namanya sangatlah unik dan panjang haha. Buatku nama racikan ini gak ada kopi-kopinya sama sekali. Jujur aku dibuat kagum dengan rasanya yang super unik. Di bagian atas kopi terdapat foam lalu ada potongan strawberry kecil-kecil. Saat diminum rasa strawberrynya akan muncul, selain rasa strawberry menurutku ada rasa lain seperti rempah-rempah. Entah apakah deskripsiku ini aneh. Sungguh aku bingung untuk mendeskripsikan haha. Sebaiknya coba aja sendiri ya. 

Jun membeli kopi dengan nama “Beginner Luck”. Menurutku saat awal diminum rasanya seperti rasa jamu, ya mirip sinom kalo aku boleh bilang, tapi ada rasa rempah-rempah juga dan kopi yang ini rasanya cenderung lebih masam karena ada potongan lemonnya. Kalau minum ini di siang hari menurutku enak sekali, apalagi pas lagi panas-panasnya. Dari pengalaman kopi-kopi yang lain, aku belum pernah nemu rasa kopi yang ini. 


Tempatnya menurutku tidak terlalu luas di sini. Di dalam hanya tersedia sekitar 10 kursi saja dengan model share table. Sedangkan di luar ada sekitar 6 kursi dengan 1 meja untuk 4 orang dan 1 mejanya untuk 2 orang. Model kedai kopi yang seperti aquarium ini menurutku memberikan kesan terasa lebih luas tempatnya, Oiya aku juga suka di sini karena tempatnya tidak begitu ramai dan cenderung tenang hanya sesekali ada mobil lewat atau motor lewat, sehingga apabila ingin mengerjakan beberapa tugas, aku pun bisa fokus. 


18 Jan 2020

Cerita Berkunjung ke Cimory Prigen

Karena lagi selow akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Cimory yang letaknya di Prigen. Lokasinya juga gak terlalu jauh kalau misalnya berangkat dari Sidoarjo, Surabaya atau Malang dan sekitarnya. Lebih senengnya lagi karena letaknya agak di ketinggian, udaranya beneran seger banget. Aku menempuh waktu perjalanan sekitar satu jam, berangkat dari sekitaran Juanda dan langsung masuk tol Sidoarjo. 


Tiba di lokasi masih tampak beberapa pembangunan. Aku pun langsung masuk menuju loket untuk membeli tiket masuk. Tiket masuk ini per-orang dikenai tarif sebesar 20.000. Cukup murah sih, tapi aku belum tahu fasilitas apa saja yang akan didapatkan.  

Setelah membayar akupun langsung masuk turun ke bawah dan langsung di arahkan menuju museum susu. Di museum susu ini aku jadi tahu beragam proses pengolahan susu, membuat yoghurt dan lainnya. Sayangnya menurutku kurang menarik karena tidak ada pemandunya. Apabila ada pemandunya menurutku menjadi nilai plus, sehingga pengunjung tidak ribet hanya ribet dengan foto-foto saja, melainkan mendapatkan pengetahuan terkait susu. 

Aku pun hanya membaca sekilas-sekilas saja, karena pada saat itu ada beberapa rombongan yang sibuk berfoto sehingga menutupi tulisan yang hendak aku baca. Keluar dari museum menuju arah belakang, aku melihat beberapa patung sapi yang lucu dan super gemas. Aku belum tahu sih ini tempat nantinya digunakan apa, karena di sini banyak sekali yang berfoto-foto. Buatku yang menjadi nilai plus di sini karena udaranya sejuk dan enak sekali.



Lanjut turun lagi ke bawah, aku bisa menukarkan tiketku ke tempat yoghurt. Jadi setiap satu tiket akan mendapatkan satu yoghurt berukuran kecil kira-kira 70 ml. Setelah itu barulah aku memasuki area semacam kebun binatang mini gitu. Di sini aku bisa melihat sapi-sapi yang bersih, domba, kuda, kuda poni, kelinci, unta, bebek, burung beo dan keledai. Di sini, pengunjung bisa berinteraksi langsung dengan beberapa hewan, semisal ingin memegang atau memberi makan. Ets tapi memberi makannya ini, aku harus membeli tiket dulu dan membayar sebesar 5000. 



Lokasinya tidak begitu luas menurutku, mungkin karena baru buka selama 2 bulanan. Rasanya senang melihat pemandangan dan hewan-hewan lucu sambal menghirup udara segara.  Oh iya di sini tidak diperbolehkan membawa makanan dari luar, apabila lapar dan ingin makan atau sekedar ngemil. Di bagian atas berdekatan dengan loket, disediakan restoran Cimory.  Paling enaknya lagi bisa pilih duduk di pinggir sambal menikmati pemandangan hijau-hijau di sekitaran cimory. 

Menurutku beberapa makanan yang ku coba rasanya standart saja. Aku belum menemukan rasa yang wow gitu. Kalau sekedar ingin nyemil saja, juga bisa. Ya tinggal pesen susu hangat dan roti bakar. 

Fasilitas di sini menurutku lengkap dan bersih. Musolla juga lumayan luas kamar mandinya pun bersih,  sehingga tidak perlu khawatir lagi.  


Menurutku yang musti dicoba di sini adalah beli oleh-oleh MOMO ROLL, entah kenapa aku suka banget sama bolu susu ini. Rasanya lembut, cokelatnya tidak bikin enek. Oleh-olehnya juga bervarian kok mulai dari camilan ringan, sosis, susu dan masih banyak lainnya.



4 Jan 2020

Seminggu Keliling Pulau Bawean (Part II)

Hari Keempat
Hari keempat ini aku berencana untuk pergi ke Gili Noko. Gili Noko merupakan sebuah pulau kecil yang tidak berpenghuni. Untuk menuju ke sana, aku harus menyewa satu kapal kecil, satu kapal kecil ini bisa menampung hingga 10 orang. 1 kapal ini sekali jalan dan pulang pergi dikenai tarif sebesar 300.000. Nantinya aku harus buat janji dulu mau dijemput jam berapa untuk kembali dari Gili Noko menuju Pulau Bawean. 

Gili Noko

Sungguh, saat kapal mulai berjalan rasanya senang sekali. Apalagi lihat lautan yang luas dan bersih lautnya. Dari Pulau Bawean ke Gili Noko, aku butuh waktu sekitar 20 menitan. Saat kapal mulai merapat ke dermaga, rasanya hati makin seneng. Lautnya birunya cantik dengan hamparan pasir yang putih. Langsung lah aku pake baju renang dan main ke laut haha. Gak peduli mau gosong atau kepanasan yang jelas seru sekali. 

Gili Noko

Gili Noko

Di dekat Gili Noko ini juga ada satu pulau yang agak besar, namanya Gili Timur. Pulau ini juga berpenghuni, namun saat itu aku belum berkesempatan untuk berkunjung ke sana. 

Selepas bermain dan berlama-lama di Gili Noko, akhirnya pukul 3 sore kami kembali ke Pulau Bawean. Setiap malam di Pulau Bawean ini aku habiskan untuk bakar-bakar ikan, gak ada bosannya makan ikan setiap hari.



Hari Kelima
Waktu sore hari aku memutuskan untuk pergi ke Pulau Cina. Pulau Cina ini letaknya ada di depan persis Kampung Nyior-Nyior. Kira-kira pukul 3 sore, aku, Jun, Agik, Sidan dan Omnya Jun pergi ke Pulau Cina. Karena air telah surut akhirnya kami hanya berjalan kaki saja. 

Batu-batuan di Pulau Cina

Menurutku butuh tenaga extra untuk keliling Pulau Cina ini. Disamping medannya yang berbatu dan licin. Kakinya harus menapak yang kuat, kalau enggak ya terpeleset haha. Beberapa kali aku sudah terpeleset, kadangpun aku tertawa sendiri kalau sudah terpeleset. 


Awalnya aku dan teman lainnya berniat untuk melihat matahari tenggalam. Karena waktu sudah mepet, aku pun harus jalan cepat karena ternyata Pulau Cina ini luas juga. Butuh waktu sekitar 4 jam untuk keliling Pulau Cina. Padahal ini hanya keliling di pinggirannya lho, gak masuk ke dalam pulaunya. 
 
Pecahan keramik yang ditemukan di Pulau Cina

Konon menurut cerita, Pulau Cina ini dijuluki sebagai Pulau Cina karena ada pelaut yang terdampar dulunya di pulau ini. Singkat cerita ditemukanlah bekas-bekas pecahan piring atau gelas yang ada tulisan Mandarinnya. Sejak saat itulah pulau tersebut dijuluki sebagai Pulau Cina. 



Pulau Cina ini juga rekomended banget buat yang ingin merasakan snorkeling lho. Karena jujur coralnya bagus. Aku waktu itu cuma bisa lihat dari atas perahu dan belum berkesempatan untuk berenang xixi. 

Hari Keenam
Hari Keenam ini aku habiskan hanya di rumah saja dan melihat sunset dari warung. Kira-kira pukul 3 sore, aku berangkat menuju warungnya dan makan mie di warung pinggiran. Aku di sini sampai dengan matahari tenggelam. Banyak kapal-kapal juga sedang berhenti sejenak. 



Oiya sebelum-sebelumnya aku sudah keliling Pulau Bawean ini menggunakan sepeda motor. Mataku disuguhi beragam keindahan mulai dari laut, bukit, sawah-sawah dan pepohonan yang rindang, 

Selain bersantai, aku pun juga membantu tante dan mamanya Jun untuk membuat beberapa oleh-oleh khas Bawean. Semisal bikin pentol, bikin kue bolu, bikin petis, bikin ikan asin dan makanan lainnya. Karena keesokan harinya aku harus kembali ke Pulau Jawa. 

23 Des 2019

Seminggu Keliling Pulau Bawean

Hello Bawean
Sebenernya ini perjalanan yang udah lumayan lama aku lakukan. Karena masih sibuk dan males nulis akhirnya ya gak ketulis-tulis. Jadilah hari ini aku bakalan cerita “ Seminggu Keliling Pulau Bawean” . 

Kemarin sempet bikin question box di Instagram tentang apa aja nih yang perlu aku share saat trip ke Pulau Bawean. Mereka sih pada tanya kayak penginapan gimana? Transportasi dll. 

Okelah aku akan bercerita. 

Karena posisi ku saat itu sedang di Yogyakarta, jadilah aku harus berangkat dulu ke Surabaya. Tiba di Surabaya, aku harus pergi ke Gresik. Dari Stasiun Gubeng, aku memutuskan untuk naik Grab saja, karena lebih singkat dan waktu itu kami ( aku, Jun dan Sidah) tiba di Surabaya saat dini hari. Cara lainnya kalo misal dari Terminal Bungurasih, kalian bisa naik bis menuju Gresik. Apabila dari Bandara Juanda, kalian bisa naik Bis Damri terlebih dahulu menuju Terminal Bungurasih. 

Sebelumnya kami sudah dipesankan tiket kapal dari Pelabuhan Gresik menuju ke Pelabuhan Bawean oleh Mamanya Jun. Jadi kami semua tak perlu khawatir. Tapi sekarang booking tiket kapal sudah bisa online lho. 

Baca tulisan berikut :




Karena waktu itu ombak lagi tinggi sekali, maka jadwal kapal pun menjadi tidak sesuai. Aku harus nunggu cuaca aman kira-kira 3 harian. Saat sudah pasti pun, kapal tiba-tiba ya gak jadi berangkat karena cuaca buruk lagi. Akhirnya kami semua kembali ke rumah kakaknya Jun untuk menginap semalam lagi. 

Hari Pertama 

Tiba di Pulau Bawean rasanya senang sekali. Aku langsung lihatin air laut yang jernihnya minta ampu. Ya maklum aku masih gak percaya sih, meski Pulau Bawean ini wilayah administrasinya ikut Gresik. Tapi dia beda sekali dengan Gresik haha. Saat kapal bersandar di dermaga, aku lihat daratan yang diselimuti sama pepohonan yang rimbung. Kalo kata Ce Ima kayak “ The Lost World “ . 
Matahari tenggelam di depan rumah tantenya Jun
Pulang dari mengambil ikan di Nyior-Nyior

Kami semua dijemput dengan sanak saudaranya Jun. Jadilah aku di sana tidak menginap di hotel. Tapi tenang, di sana penginapan juga tersedia kok. Kalian bisa menginap di wilayah Sangkapura yang letaknya dekat dari Pelabuhan Bawean. Ada beberapa home stay juga menyediakan persewaan sepeda motor. Jadi tak perlu khawatir lagi. Apabila senang bersepeda, ya bawa sepeda lipat saja. Karena jalanan di Bawean asik sekali dan tidak ada lampu lalu lintas.

Hari pertama aku hanya istirahat saja dan saat sore kami semua melihat matahari terbenam di dekat perkampungan nelayan. 

Hari Kedua 

Pagi-pagi kami semua pergi ke kampung nelayan di daerah Dedawang. Nama kampungnya ini disebut dengan Kampung Nyior-Nyior. Aku melihat aktifitas para nelayan, mereka sedang merapatkan kapal ke daratan. Ibu-ibu pun langsung menghampiri suaminya untuk mengambil jatah ikan yang nantinya akan dimasak. Sebagian ikan ada yang dijual ke pasar dan sebagian lainnya dibeli oleh orang yang memang bukan bekerja sebagai nelayan. 

Hasil Melaut
Ikan yang banyak

Setiap bulan panen di lautan bermacam-macam tergantung musimnya apa misal musim Pindang, Kerapu dll. Waktu bulan Juli kemarin saat aku ke sana, para nelayan lagi banyak-banyaknya dapat ikan pindang. Jadi setiap hari aku pun makan ikan bakar. 

Kira-kira jam 10 aku bersiap untuk berangkat menuju Tanjung Ga’ang. Kami berangkat ke Tanjung Ga’ang rame-rame. Apabila ingin ke Tanjung Ga’ang usahakan menggunakan sepeda motor saja, karena aku pun harus melewati hutan-hutan yang banyak batu marmernya. Konon katanya sih dulu lokasi tersebut pernah jadi tempat pabrik marmer. Jalananya naik turun masuk ke hutan-hutan. Meski jalan di siang bolong, bagiku panasnya tidak keterlaluan seperti di Surabaya haha. 

Motor kami parkir sembarangan saja. Tidak ada tukang parkir dan masuk pun tanpa karcis. Tapi aku sarankan kalo ke Tanjung Ga’ang ini jangan sampe terlalu sore ya, karena jalanan hutannya tidak ada lampu. 


Tanjung Ga'ang


Tiba di Tanjung Ga’ang, aku harus menaiki batu-batuan sampe ke atas agar bisa melihat lautan lepas dan jernihnya air laut. Karena batu-batuannya lancip, disarankan jangan menggunakan sandal yang tipis karena berbahaya. 




Selesai dari Tanjung Ga’ang, kami langsung berangkat lagi menuju tempat penangkaran Rusa Bawean yang letaknya di dekat Gunung Sabu, Bawean. Petunjuk menuju penangkaran Rusa Bawean ini cukup jelas kok, tinggal ikuti alur saja dan maps. Aku pun memperhatikan papan hijau penunjuk jalan. Tidak ada karcis, aku bisa lihat rusa secara leluasa tentunya dari luar pagar, karena rusa-rusa ini memang sangat takut sekali dengan manusia. Untunglah waktu itu aku datang saat jam makan. Jadilah aku sempat bertemu dengan pengurus rusa-rusa itu dan aku pun diperbolehkan masuk ke dalam kandang. 

Hari Ketiga 

Seperti biasa agenda kami setiap pagi adalah pergi ke kampung nelayan. Agak siangan kami semua sepakat untuk berangkat ke Danau Kastoba. 

Aku sangat menyarankan sebaiknya menggunakan sepeda motor saja, apabila ingin mudah dan cepat. Karena menurutku kalau pake mobil itu susah masuk ke beberapa jalanan, karena jalanannya memang tidak terlalu besar. 

Dari Dedawang kami menuju ke Danau Kastoba yang letaknya di Sangkapura. Danau Kastoba ini letaknya di dalam hutan. Jadilah kami harus trekking dulu kira-kira setengah jam untuk bisa sampai ke Danau Kastoba. Danau Kastoba merupakan danau vulkanik, karena pulau Bawean dahulunya adalah gunung berapi purba yang sekarang telah mati dan kawahnya membentuk sebuah danau. Danau itulah yang kini dikenal sebagai danau Kastoba. 

Danau Kastoba
Konon ceritanya dahulu ada pohon besar yang tumbuh di tengah pulau. Daun dari pohon tersebut dapat menyembuhkan kebutaan. Pohon tersebut dijaga oleh seorang raksasa yang berteman dengan seekor burung gagak. Raksasa berkata kepada burung gagak bahwa mereka berdua harus merahasiakan khasiat daun pohon tersebut. Suatu ketika burung gagak mengingkari janjinya, dia menceritakan kepada manusia bahwa ada pohon yang daunnya dapat menyembuhkan kebutaan. Karena cerita dari burung gagak tersebut banyak manusia yang mengambil daun dari pohon itu sehingga membuat raksasa marah. Karena kemarahan raksasa tersebut akhirnya dia mencabut pohon tersebut dan melemparkannya ke laut. Kini, bekas cabutan pohon tersebut berubah menjadi danau kastoba dan pohon yang dilempar ke laut menjadi pulau Cina. Raksasa juga mengusir burung gagak dari pulau Bawean, itulah sebabnya hingga saat ini tidak ada burung gagak di pulau Bawean. 


Suasana di Danau Kastoba ini dingin dan sejuk. Kami semua menikmati dengan santuy. Oiya di sini tidak ada toilet sama sekali. Cuma ada pondokan kecil untuk duduk-duduk. 


Setelah dari Danau Kastoba, kami menuju ke Air Terjun Laccar. 

Air Terjun Laccar merupakan air terjun tertinggi di Pulau Bawean, ketinggiannya kurang lebih mencapai 25 meter. Air terjun laccar letaknya di Desa Teluk Dalem, Kecamatan Sangkapura. Mata air yang mengalir di air terjun laccar ini cukup dipengaruhi oleh musim. Apabila musim kemarau debit air yang dikeluarkan tidak begitu banyak dibanding pada saat musim hujan. 


Akses menuju air terjun Laccar ini cukup mudah, tinggal ikuti papan petunjuk yang dipasang di jalanan. Jangan lupa bawa perbekalan sendiri, karena di dalam air terjun tidak ada orang berjualan makanan atau minuman. Agar sampai ke area air terjun, aku harus berjalan kaki sejauh 500 meter, lalu melewati hutan dan batu-batuan dari batu kecil hingga batu besar. Aku juga harus lebih berhati-hati saat melewati batu-batuan karena sangat licin. Sempet jatuh juga sih terpeleset haha. 


Pemandangan tembok batu-batuan yang dikelilingi hutan serta tingginya air terjun menjadi satu frame yang apik. Udaranya yang sejuk dan airnya yang segar sekali, akupun betah lama-lama duduk di sini. 

Cukup segini dulu aja dulu hari berikutnya akan aku tulis di postingan selanjutnya. 

Catatan : 
Beberapa Rekomendasi Penginapan 
Hotel Miranda Bawean : Jl. Umar Mas'ud, Sawah Mulya, Sangkapura. Telp : 0812-1740-6743
Fatin Motel : Jl. Dermaga Sungai Tik, Sangkapura,. Telp : 0812-5261-4664