Pagi yang menyenangkan di Ledok Sambi

/ September 07, 2018
Saya dan Imama di Ledok Sambi ( 3/9/18).

Ajakan Ce Ima ini, mengantar saya menuju Ledok Sambi di Minggu pagi (3/9/18). Ledok Sambi ini letaknya di Desa Sambi, Kaliurang, Yogyakarta. Desa Sambi merupakan salah satu desa wisata yang terletak di Kaliurang. Kami berangkat menuju Ledok Sambi tepat pukul 6.00 WIB. Dari Pogung, kami berangkat menuju area Jl. Kaliurang Km. 19,2.

Saya mengira berangkat pukul 6 ini terlalu pagi, karena saat masuk ke suatu perkampungan saya mendapati ibu-ibu sedang menyapu halaman dan membakar sebagian sampah-sampahnya.

Motor melaju memasuki perkampungan sambil mengikuti arah dari petunjuk yang dipasang di pinggir jalan. Tiba di lokasi, beberapa pemuda sedang membersihkan area Ledok Sambi.

Kami berdua memasuki area Ledok Sambi. Mba Imama berusaha memastikan, apakah Ledok Sambi sudah boleh dimasuki atau belum.

Mba Imama : " Mas ini boleh masuk ta ? " 
Mas : " Mbanya mau ngapain ya ? Survey atau Rekreasi ? "
Mba Imama : " Saya mau main-main saja Mas. " 
Mas : " Oh, yasudah masuk saja, silahkan Mba

Kami akhirnya memutuskan untuk masuk. Sebelum masuk, di depan ada kotak untuk retribusi seikhlasnya. Awal masuk, rasanya senang sekali. Udara segar, area yang cukup sepi dan sangat memberikan ketenangan.

Imama sedang merendam kakinya

Suara air yang mengalir, membuat otak kembali tenang dan segar kembali. Ternyata banyak pilihan kegiatan yang bisa dilakukan di Ledok Sambi, misalnya bermain air di pinggiran ledok, mencoba beberapa paket outbound, bermain river tubing dan lainnya.




Kami terus berjalan mengelilingi area Ledok Sambi. Udaranya yang segar serta pemandangan sawahnya, mengantar ingatan saya pada Ubud, Bali.




Dari kejauhan tampak segerombolan mahasiswa yang sedang bersiap untuk melakukan aktifitas outbound. Saya pun juga mendapati meja-meja panjang, tempat galon dan terop-terop yang sepertinya tempat ini pun cocok dijadikan sebagai tempat untuk menggelar wedding party.

Yang paling saya sukai adalah di sini tidak ada warung yang berjualan, sehingga ledok cukup terjaga kebersihannya. Letak warungnya pun berada di atas sebelum memasuki area ledok. Setelah lama berdiam diri dan bermain air di pinggiran ledok. Kami pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke kota.





Note :
* Arahan sudah jelas bisa dicek di Google Maps
* Tidak ada tarif tetap, apabila ingin bermain di sekitaran ledok, cukup masukkan uang ke kotak retribusi.
* Jaga kebersihan
* Ada kamar mandi
Saya dan Imama di Ledok Sambi ( 3/9/18).

Ajakan Ce Ima ini, mengantar saya menuju Ledok Sambi di Minggu pagi (3/9/18). Ledok Sambi ini letaknya di Desa Sambi, Kaliurang, Yogyakarta. Desa Sambi merupakan salah satu desa wisata yang terletak di Kaliurang. Kami berangkat menuju Ledok Sambi tepat pukul 6.00 WIB. Dari Pogung, kami berangkat menuju area Jl. Kaliurang Km. 19,2.

Saya mengira berangkat pukul 6 ini terlalu pagi, karena saat masuk ke suatu perkampungan saya mendapati ibu-ibu sedang menyapu halaman dan membakar sebagian sampah-sampahnya.

Motor melaju memasuki perkampungan sambil mengikuti arah dari petunjuk yang dipasang di pinggir jalan. Tiba di lokasi, beberapa pemuda sedang membersihkan area Ledok Sambi.

Kami berdua memasuki area Ledok Sambi. Mba Imama berusaha memastikan, apakah Ledok Sambi sudah boleh dimasuki atau belum.

Mba Imama : " Mas ini boleh masuk ta ? " 
Mas : " Mbanya mau ngapain ya ? Survey atau Rekreasi ? "
Mba Imama : " Saya mau main-main saja Mas. " 
Mas : " Oh, yasudah masuk saja, silahkan Mba

Kami akhirnya memutuskan untuk masuk. Sebelum masuk, di depan ada kotak untuk retribusi seikhlasnya. Awal masuk, rasanya senang sekali. Udara segar, area yang cukup sepi dan sangat memberikan ketenangan.

Imama sedang merendam kakinya

Suara air yang mengalir, membuat otak kembali tenang dan segar kembali. Ternyata banyak pilihan kegiatan yang bisa dilakukan di Ledok Sambi, misalnya bermain air di pinggiran ledok, mencoba beberapa paket outbound, bermain river tubing dan lainnya.




Kami terus berjalan mengelilingi area Ledok Sambi. Udaranya yang segar serta pemandangan sawahnya, mengantar ingatan saya pada Ubud, Bali.




Dari kejauhan tampak segerombolan mahasiswa yang sedang bersiap untuk melakukan aktifitas outbound. Saya pun juga mendapati meja-meja panjang, tempat galon dan terop-terop yang sepertinya tempat ini pun cocok dijadikan sebagai tempat untuk menggelar wedding party.

Yang paling saya sukai adalah di sini tidak ada warung yang berjualan, sehingga ledok cukup terjaga kebersihannya. Letak warungnya pun berada di atas sebelum memasuki area ledok. Setelah lama berdiam diri dan bermain air di pinggiran ledok. Kami pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke kota.





Note :
* Arahan sudah jelas bisa dicek di Google Maps
* Tidak ada tarif tetap, apabila ingin bermain di sekitaran ledok, cukup masukkan uang ke kotak retribusi.
* Jaga kebersihan
* Ada kamar mandi
Continue Reading
Maghrib tiba di kawasan Desa Wisata Bejiharjo, saya dan Mba Aqid disambut oleh Mas Ariff, Mas Aji dan Mas Hanif. Kami membicarakan trip untuk keesokan harinya  sekaligus makan malam di depan operator Dewa Bejo. Dewa Bejo merupakan operator resmi wisata di Desa Bejiharjo. Paket berwisatanya beragam, mulai dari susur Gua Pindul, Gua Gelatik, Gua Sriti, Gua Kristal, Gua Tanding, Rafting Sungai Oyo dan Offroad Pindul. 

Tempat Menginap yang nyaman 

Setelah selesai makan malam, kami diantar oleh Mas Arif ke rumah untuk beristirahat. Rumah penginapan ini tidak terlalu besar, namun cukup  untuk menginap sekeluarga paling tidak diisi 4-8 orang. Fasilitas yang ditawarkan terdiri dari 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, ruang tamu, dapur, halaman dan teras untuk menjemur pakaian. 

Malam hari saya menghabiskan waktu untuk mengobrol bersama-sama, sesekali saya keluar dan duduk di teras melihat bulan. Udara malamnya dingin menusuk, membuat kami semua tiba-tiba lapar mendadak. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari makan, namun usaha kami sia-sia karena warung di sini sudah banyak yang tutup.

Pagi harinya kami bersiap menuju operator Dewa Bejo. Kami mengawali pagi dengan sarapan di warung depan operator. Setelah sarapan, kami langsung menuju operator dan bersiap untuk susur Sungai Oyo. 

Bagi yang tidak bisa berenang tidak perlu khawatir karena sebelum susur diwajibkan untuk memakai pelampung terlebih dahulu dan tentunya ada pendamping yang sudah bersertifikat. Jarak operator Dewa Bejo menuju Sungai Oyo sedikit jauh, sehingga kami harus naik jeep untuk menuju lokasi.Tidak sedikit warga mancanegara yang menggunakan operator Dewa Bejo. Saat itu saya berbarengan dengan beberapa wisatawan dari Malaysia.

Keceriaan saat susur Sungai Oyo. Foto oleh : insan wisata
Susur Sungai Oyo. Foto oleh : Insan Wisata

Karena kondisi saat itu arus sungai tidak terlalu deras, akhirnya kami terpaksa ditarik oleh pemandu. Jarak yang ditempuh untuk susur Sungai Oyo ini lumayan panjang jadi saya pun puas.
Pemandu sempat menawarkan kami untuk berhenti dan loncat dari tebing, Mba Aqid dan Mas Hanif pun mencoba untuk loncat. Saya yang takut ketinggian memilih untuk melihat mereka dari bawah. Karena saya penasaran akhirnya saya memutuskan untuk naik ke atas juga dan berujung..


TIDAK JADI LONCAT DONG KARENA BANYAK DRAMA 

HUEHUE

Siang makin panas dan rasanya ingin cepat-cepat cari tempat berteduh. Susur Sungai Oya pun terus berlanjut, sambil mendengarkan suara burung berkicau dan bambu-bambu yang tertiup angin.

Sampai akhirnya tak terasa sudah tiba di lokasi garis akhir. Saya turun dari ban dan berjalan menuju ke pos untuk naik jeep menuju operator lagi.


Setelah tiba di operator perjalanan berlanjut lagi menuju ke Gua Pindul. Bahagianya adalah saat itu saya berkunjung ketika hari kerja, sehingga kondisi Gua Pindul tidak ramai dan relatif lebih santai dan nyaman.

Tampak sepi, berkunjung di hari kerja. Foto oleh : Insan Wisata

Dari operator ke Gua Pindul, saya harus berjalan kaki sekitar 5 menit sambil membawa ban dan tentunya bersama pemandu. Saya menikmati sekali susur Gua Pindul ini, tidak ramai dan bisa fokus mendengarkan pemandu menceritakan isi dalam Gua Pindul tersebut. Mulai dari stalaktit yang tumbuh hingga beragam cerita mitos yang bisa dipercaya atau tidak. 

Susur Gua Pindul ini kurang lebih menghabiskan waktu sekitar 45-60 menit, terkandung kondisi dalam Gua, mungkin kalau ramai bisa menghabiskan waktu lebih lama karena harus antri.
Di penghujung akhir susur Gua, pemandu menawarkan untuk loncat dan berfoto di area dalam Gua  yang atapnya agak terbuka. Namun saya memilih untuk duduk dan menikmati suasana sejuknya dalam Gua. 

Suasana sejuk di dalam Gua Pindul. Foto Oleh : Insan Wisata

Perjalanan susur Sungai Oyo dan susur Gua Pindul pun berakhir, badan mulai pegal dan kami semua kembali ke rumah untuk beristirahat. 


Tips

  1. Menuju Desa Wisata Bejiharjo, Kabupaten Gunungkidul dapat ditempuh menggunakan kendaraan mobil atau sepeda motor. Kondisi jalanannya bagus jadi aman, disarankan untuk berangkat di sore hari apabila ingin menginap atau berangkat di pagi hari tanpa menginap. (Arah dari UIN Kalijaga menuju Desa Bejiharjo sekitar 41 Km).
  2. Paket wisata Dewa Bejo bisa diakses melalui laman http://desawisatabejiharjo.net/ , tinggal klik “pesan” lalu konfirmasi ke operator. Pemandu yang berpengalaman serta bersertifikat menjadikan perjalanan tidak akan mengkhawatirkan.   
    Cara pemesanan tinggal kunjungi web, lalu klik pesan 
  3. Setelah klik pesan, maka akan muncul form ini lalu isi.

  4. Apabila ingin bermalam dan sewa rumah  atau konsultasi masalah paket wisata bisa langsung hubungi Mas Arif  berikut : 085741973511 atau 081227923007

     

Sudah lama saya (Jun) tidak melakukan perjalanan dengan bapak, kebanyakan dengan Lidia. Kalau sama anak orang saja bisa, kenapa dengan bapak sendiri tidak bisa?
Akhirnya kesempatan itu datang. Awal bulan Juli 2018 ini, bapak saya masih libur dan saya sedang tidak ada kegiatan apapun selain tidur, akhirnya kami berencana untuk road trip (lazim dikenal sebagai istilah touring) menggunakan kendaraan roda 2, Honda Vario 125. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya touring berdua dengan bapak, sebelumnya kami juga pernah touring dengan rute Gresik - Kelud – Blitar – Malang – Gresik. Touring pertama dirasa sukses, kami sepakat untuk touring melalui rute yang lebih panjang.
Taman Nasional Baluran

Tanggal 3 Juli 2018, tepat seusai sholat subuh ketika fajar menyingsing begitu syahdu, kami sudah selesai mandi dan sarapan. Setelah sarapan kami cek kembali barang bawaan, karena takut ada yang ketinggalan, termasuk baterai kamera kesayangan, gak lucu dong kalau sudah sampai tujuan tapi baterai kamera kosong. Setelah semua dirasa lengkap, sekitar pukul 6 lebih 20 menit kami gas motor menuju arah timur. 
menuju timur
Target kami, sebelum pukul 9 sudah menyentuh Pasuruan atau setidaknya sudah lepas Porong, mengingat pada jam kerja jalanan akan sangat padat. Beruntung, Gresik – Sidoarjo hanya kami tempuh dalam waktu tidak sampai 2 jam saja, sekitar pukul 8 kami sudah tiba di Sidoarjo dan berhenti untuk membeli kopi kotak karena ribet kalau harus nyari coffee shop dulu, bisa-bisa gak jadi ke Baluran.
Lanjut melintasi Kabupaten Sidoarjo menuju arah Bangil, melewati jalanan Porong yang ditambal sana sini, tidak rata, membuat pantat cepat sakit dan mulai agak panas. Setelah sampai Bangil, kami tidak istirahat dan langsung gas menuju Probolinggo. Jalanan Pasuruan – Probolinggo ini juga penuh jalan tambal, tidak rata, hati-hati untuk kalian yang berencana melintas disini, pelan-pelan saja, yang penting selamat. Sampai di Nguling (bukan rumah makan rawon) sekitar pukul 8.45, kami mengisi bahan bakar sambil beristirahat sejenak.
 
Istirahat 15 menit di salahsatu Pom Bensin di Nguling
Setelah beristirahat 15 menit, tepat jam 9 kami melanjutkan perjalanan menuju Situbondo. Jalan bergelombang di Probolinggo ke Situbondo semakin parah, mungkin kalau naik mobil pejabat guncangannya tidak akan terasa, tapi kalau naik motor rakyat jelata, rasanya pengen misuh saja, dan memang kami berdua misuh-misuh sepanjang jalan ketika melewati jalan berlubang dan bergelombang secara tiba-tiba. Ealah cuk!
Sampai di pusat Kabupaten Situbondo sekitar pukul 12.45, perut mulai terasa lapar dan cari-cari tempat makan di pinggir jalan. Mata saya tertuju pada sebuah warung makan di sebelah kiri jalan dan motor langsung saya belokkan masuk ke parkiran. Awalnya saya mengira rumah makan ini adalah rumah makan biasa, ternyata rumah makan ini adalah rumah makan yang sangat direkomendasikan di daerah Situbondo, namanya Depot Kalasan. Disini kami memesan dua porsi ayam bakar dada beserta nasi dan es teh ditambah satu paha ayam bakar, total semuanya Rp. 55.000,-.
Ayam bakar Depot Kalasan
Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Nasional Baluran. Sebelum berangkat, kami menghubungi Pak Trihari untuk menyewa satu kamar di Wisma Rusa selama dua malam, kami mendapatkan saran menginap di Wisma Rusa ini dari Mas Papanpelangi. Dari Situbondo kota menuju Taman Nasional Baluran bisa ditempuh selama 1 jam saja, 30 menit masih tampak rumah penduduk, 30 menit sisanya akan memasuki hutan Baluran yang rasanya gak ada ujungnya, karena memang gak ada ujungnya, kalau dilanjutkan ya tembus Banyuwangi.
Setelah melalui jalanan yang gelombangnya semakin parah, selama 1 jam lebih, akhirnya kami sampai di Taman Nasional Baluran sekitar pukul 2.30. Sampai disini kami langsung menuju loket pembelian tiket. Untuk 2 orang dan 1 motor dalam 2 hari (saya bilang akan 2 hari di dalam), menurut daftar tarif yang terpampang seharusnya kami membayar 2 kali lipat, tapi ternyata hanya diminta membayar tarif selama 1 hari. Disini 1 orang akan mendapatkan 2 karcis, yaitu karcis Pengamatan Hidupan Liar dan karcis Taman Nasional Baluran untuk wisatawan nusantara, ditambah karcis motor, total semuanya Rp. 35.000,-.
karcis roda 2

karcis Pengamatan Hidupan Liar

Karcis masuk pengunjung

peraturan selama berada di dalam Taman Nasional Baluran
Penderitaan kami tidak berhenti di jalanan Situbondo, bahkan setelah masuk taman nasional kami masih disiksa dengan jalan makadam yang kurang ajar sekali. Dan jalan makadam ini harus kami lalui selama 1 jam, padahal kan hanya 12km.
Jalan makadam menuju Savana Bekol (ini yang paling bagus)
Yang menarik ketika menuju Savana Bekol adalah kita akan melewati hutan Evergreen, dan sesuai namanya, hutan ini akan selalu hijau dan terlihat basah walaupun hutan di sekitarnya mengering. Analisa kami, di bawah hutan Evergreen terdapat sumber air, terlihat dari tanahnya yang lembab, padahal hutan sebelum Evergreen semuanya kering kerontang. Dan ketika lewat menjelang malam di hutan Evergreen, jika beruntung kita akan menjumpai macan tutul yang sedang jalan-jalan gitu. Sebenarnya saya bingung, bertemu macan tutul menjelang malam di hutan hujan tropis yang tertutup itu bisa dibilang beruntung atau tidak. Udah, gak usah dipikir.
Hutan Evergreen
Sampai di Savana Bekol sekitar pukul 15.20, kami langsung menuju pusat informasi untuk konfirmasi pemesanan Wisma Rusa. Setelah mendapat kunci kamar, kami langsung masuk kamar dan beristirahat sejenak, lalu mandi dan bersiap menunggu matahari terbenam.
Sunset di Savana Bekol
Wisma Rusa ini sangat di luar harapan saya, saya kira tidak akan nyaman menginap di homestay yang dibangun di tengah hutan taman nasional, nyatanya tidak. Wisma Rusa ini termasuk homestay yang nyaman sekali, pertama masuk kamarnya wangi dan tidak bau. Mungkin seperti homestay 50ribuan yang ada di perkotaan, hanya saja disini tidak ada kipas angin dan Air Conditioner alias AC. Kami yang mudah berkeringat harus membuka pintu agar angin dari lantai 2 bisa masuk ke kamar kami yang tepat berada di depan tangga. Wisma Rusa ini seperti rumah berlantai 2 pada umumnya, yang terdiri dari 7 kamar, 3 kamar di lantai bawah dan 4 kamar di lantai atas, setiap lantai punya ruang tamu. Untuk kamar mandi ada 2 buah di lantai bawah, jadi yang di lantai atas agak susah ya kalau sering-sering ke kamar mandi. Kamar di lantai bawah dindingnya dari tembok semen, sedangkan kamar di lantai atas berdindig kayu yang dilapisi anyaman bambu sedemikian rupa. Untuk yang lebih menyukai ketenangan cocok tidur di lantai bawah, sedangkan untuk yang menyukai hal yang berbau eksotisme alam akan sangat cocok tidur di lantai atas. Kami sendiri memilih tidur di lantai bawah dengan pertimbangan lebih dekat dengan kamar mandi.
Wisma Rusa tampak depan

kamar yang kami tempati

Ruang tamu lantai bawah

ruang tamu lantai atas

salah satu kamar di lantai atas
Oh iya, untuk makan setiap harinya, kami memesan di kantin yang terletak di sebelah Wisma Rusa. Kantin Bekol ini cuma buka dari pukul 7 pagi sampai menjelang maghrib, jadi untuk makan malam ya dimasaknya pada saat menjelang maghrib itu. Listrik disini hanya menyala pada pukul 5 sore sampai pukul 10 malam, tidak ada air minum yang disediakan, jadi kami membawa air minum sendiri yang kami beli di Kantin Bekol.
 
Tanggal 4 Juli 2018, pukul 7 pagi, sesudah burung merak keluar sarang dan kerbau liar sedang berkubang, kami mulai persiapan untuk menuju Pantai Bama. Jalanan menuju pantai Bama masih sama seperti sebelumnya, semuanya batu. Tapi jalanan yang menyebalkan tersebut terbayar oleh banyaknya Rusa yang berkeliaran, pemandangan yang indah, dan sempat melihat burung Merak sebanyak 5 kali tetapi kabur sebelum saya sempat mengeluarkan kamera. Duh!
 
Menuju pantai Bama

Menuju pantai Bama

Menuju Pantai Bama
Menuju Pantai Bama

Sampai di pantai Bama, saya kecewa dengan pantai ini. Fasilitasnya memang lengkap, ada toilet dengan shower untuk membersihkan diri sehabis berenang, ada kantin, ada homestay, ada musholla, ada semacam tempat terbuka dengan lantai dan atap untuk beristirahat. Tapi yang membuat saya kecewa adalah pantainya, biasa aja, pasirnya gak halus, juga gak luas, malah area fasilitas umum dan parkirnya lebih luas daripada area berpasirnya. Tapi tidak masalah, di sebelah kanan pantai Bama ada hutan Mangrove yang masih lumayan liar lah ya.
Musholla di Pantai Bama

Toilet

Hutan Bakau

Dermaga Hutan Bakau

Pendopo untuk tempat istirahat dan berteduh

Homestay di Pantai Bama

Pasirnya dikit
Puas menikmati pantai Bama yang gitu-gitu aja, kami kembali menuju Savana Bekol untuk sarapan di Kantin Bekol. Setelah sarapan, kami hunting foto di Savana Bekol dan melihat kandang konservasi Banteng. Setelah agak siang menjelang duhur, saya masuk kamar dan tidur, sedangkan bapak saya masih hunting foto. Cukup lama saya tertidur, pukul 4 sore saya bangun dan kami jalan-jalan menuju Savana Bekol untuk hunting foto matahari terbenam
Sunset lagi
Menjelang malam, kami kembali ke homestay dan tidur, karena besok kami akan menuju Taman Nasional Bali Barat dan langsung kembali ke Gresik, perjalanan akan sangat panjang karena perjalanan pulang kali ini kami berencana lewat jalur selatan untuk mampir sebentar ke seorang kawan yang sedang kuliah di Jember.
Tanggal 5 juli, pukul 3 pagi, ketika ayam jantan belum membuka mata dan gerombolan Rusa masih enggan keluar dari sarangnya, kami berkemas untuk keluar Taman Nasional Baluran. Dari gerbang Baluran, ke Pelabuhan Ketapang tidak jauh, hanya sekitar setengah jam perjalanan. Sampai di Pelabuhan Ketapang, kami langsung antri untuk naik kapal.
Sampai di Bali, kami disambut oleh gerimis yang lumayan deras karena memang langit Pulau Bali pada saat itu sedang mendung. Keluar Pelabuhan Gilimanuk, gerimis mulai reda. Dari pelabuhan Gilimanuk menuju loket tiket Taman Nasional Bali Barat hanya ditempuh dalam waktu 15 menit saja. Karena kami tidak punya banyak waktu, kami hanya mengunjungi penangkaran burung Jalak Bali yang terletak di dekat gerbang masuk taman nasional.
Gerbang pertama Taman Nasional Bali Barat

Gerbang ke- 2 Taman Nasional Bali Barat

Penangkaran Jalak Bali
Setelah puas menikmati kicauan burung Jalak Bali, kami keluar taman nasional dan langsung kembali ke Pelabuhan Gilimanuk untuk segera melanjutkan perjalanan menuju Jember. Sampai di Pelabuhan Ketapang kami langsung belok kiri, gas menuju Jember.
Sampai Jember sekitar pukul 13.00 dan kami langsung bertemu dengan teman saya, Manggala, untuk makan bersama di Warung SS Jember. Tepat pukul 14.00 kami diantar Manggala sampai keluar kota Jember, dan kami melanjutkan perjalanan panjang pulang ke Gresik. Oh iya, jalanan di jalur selatan Jawa Timur ini lebih mulus daripada jalur pantura, pantas saja banyak bis menuju Banyuwangi yang lebih memilih jalur Jember daripada jalur Situbondo. Saya sendiri pernah touring melewati jalur Gresik – Jember ini, tetapi sudah 4 tahun yang lalu, perjalanan pulang ini seperti nostalgia bagi saya ketika teringat kembali perjalanan tengah malam melewati Jatiroto yang terkenal begalnya.
Alhamdulillah, kami sampai di Gresik sekitar pukul 20.00 dengan selamat.
Beruntung tahun ini saya mengunjungi tempat yang belum pernah saya kunjungi dan melakukan hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Teringat sebuah kutipan “setidaknya setahun sekali, kunjungilah tempat yang belum pernah kamu kunjungi dan lakukanlah hal yang belum pernah kamu lakukan sebelumnya”, saya tidak ingat itu kutipan siapa, yang jelas saya berusaha memegang kutipan itu sebagai bagian dari prinsip hidup saya. Sedangkan bagi bapak saya, “usia tua bukan berarti harus berdiam diri di rumah dan bermain dengan cucu yang lucu-lucu sepanjang waktu, usia itu hanyalah angka, yang harus diisi dengan petualangan untuk melihat dunia”

“remember my friend, impossible is an invitation”