Dari sore cuaca sudah tidak bersahabat, kabut yang sangat tebal ditemani hujan, membuat kami menunda perjalanan untuk beberapa jam kedepan. Kami berlima, sembari menunggu hujan reda, memesan bakso dan makan bersama. Setelah makan bersama, kami menata ulang barang-barang serapih mungkin agar beban sesuai dan tidak membuat punggung sakit.

Sekiranya hujan tinggal rintik-rintik, kami berlima bersiap untuk berangkat. Saya, Mbak Ais, Mbak Yosi, Mas Adi dan Mas Ma’ruf bersiap untuk berangkat. Sebelum berangkat tak lupa untuk berdoa. Waktu itu saya yang memimpin doa, setelah itu masing-masing tangan diletakkan di tengah dan kami berucap “ Horas, kita pasti lancar dan pulang dengan selamat ".

Kabut-kabut hutan

Entah mengapa, dari dulu saya selalu menyukai perjalanan di hutan-hutan pada malam hari. Yang bikin enak jalan di malam hari adalah suasananya yang dingin dan jalanan gelap membuat gak terasa, dan tau-tau sudah nyampe aja di pos. Tapi saat ke Semeru ini, saya selalu berhalusinasi bertemu dengan macan kumbang. 

Perjalanan baru dimulai, kami lewat jalan pintas yang memotong jalan, agar cepat sampai di pos pertama. Meskipun harus naik-naik dan melewati semak-semak, kami tetap menikmati. Semakin lama, ritme jalan teman-teman yang lain semakin cepat, sehingga sayapun tertinggal bersama Mbak Yosi. Karena merasa sudah tertinggal terlalu jauh, saya berteriak minta ditunggu, karena pada saat itu langit hampir gelap.

Saya dan Mbak Ais beristirahat sebentar 


Setibanya di pos pertama, kami beristirahat sambil makan beberapa camilan yang sudah dibawa. Lima belas menit berlalu, kami akhirnya melanjutkan perjalanan. Makin gelap, jarak pandang saya makin susah, mau gak mau saya harus pakai headlamp. Perjalanan masih diteruskan, kami jarang sekali berhenti, pemberhentian selanjutnya saat kami mendengarkan adzan isya, berhenti lalu meluruskan kaki. Jalanan menanjak mulai tampak, untungnya malam dan gelap sehingga meski menanjak, rasanya tidak terlalu membuat saya capek berlebihan.

Tiba di Watu Rejeng, Mbak Yosi minta untuk istirahat sebentar, sebenernya saya takut sendiri apalagi denger ceritanya orang-orang. Akhirnya saya membujuk, kalau sedikit lagi sudah sampai di Ranu Kumbolo. Di perjalanan, mereka semua sedang asik menyanyi, mulai menyanyi bolang bocah petualang, sampai menyanyi lagu-lagu indie. Saya lagi asik sendiri dan makan coklat kitkat, mengunyah coklat saat melakukan pendakian memang enak, membuat saya lupa dengan capeknya perjalanan.

Jam sudah menunjukkan waktu pukul 10 malam, dan saya beserta rombongan belum sampai di Ranu Kumbolo. Semakin larut malam, perjalanan jadi membosankan. Mbak Ais dan teman-temannya mulai diam, tidak ramai seperti tadi. Beberapa menit kemudian ada suara “ Break dong.. break” . Sayapun berhenti dan istirahat sejenak, sambil minum air, dan mendengarkan musik. 

Waktu pergi kemanapun, playlist saya gak jauh-jauh dari lagunya Fiersa Besari. Malam itu saya mendengarkan lagu berjudul “ Sepasang Pendaki”, kurang lebih liriknya begini

Kita melangkah susuri hutan berdua,melarikan diri dari penatnya kota, sang senja mengintip dari balik dedaunan, tersipu malu sebab kau lebih elok darinya

Setelah istirahat sejenak kami melanjutkan perjalanan. Area perkemahan pertama sudah terlihat, Mbak Ais dan teman-temannya mulai senang, karena sebentar lagi mereka tinggal tidurnya. Tapi sayang, Area perkemahan itu belum di Ranu Kumbolonya, kami masih harus jalan lagi untuk sampai ke Ranu Kumbolo. Awalnya saya di urutan ke empat, setelah itu saya geser barisan menjadi yang paling di depan. Karena terlalu sepi, saya jadi gak sadar kalau saya terlalu didepan dan yang lain tertinggal. Karena takut di tengah hutan sendirian, akhirnya saya putuskan untuk jalan sampai ke Ranu Kumbolo. 

Tiba di Ranu Kumbolo, saya menjatuhkan tas dan berbaring sambil lihat bintang-bintang. Untungnya malam itu cerah dan Ranu Kumbolo terlihat cantik sekali. Karena gelap, saya kembali berjalan menuju plang tulisan Ranu Kumbolo sambil menunggu Mbak Ais dan teman-temannya.  Udara cukup dingin, kami cepat-cepat mencari tempat dan membangun tenda.

Ranu Kumbolo dipagi hari

Setelah membangun tenda, kami masuk ke dalam tenda dan beristirahat. Yang lain sedang asik makan mangga, sayapun hanya makan beberapa saja dan lanjut tidur sampai pagi. Matahari sudah muncul, sampai betul-betul terik saya baru bangun. Teman-teman yang lain sudah berfoto-foto, sayapun masih pakai sleeping bag. 

Ada suara dari luar

Lid, ayo kok bangun ini udaranya seger sejuk ‘’

Bukit-bukit di Ranu Kumbolo

Minion ke Ranu Kumbolo


Mbak Ais membangunkan saya, sambil memukul tenda. Dan akhirnya saya bangun sambil duduk-duduk melihat Ranu Kumbolo. Pagi itu ramai, area camp betul-betul penuh, ada yang menyetel musik kencang sekali, dan ada yang berfoto sambil tertawa-tawa. 

Saya duduk disamping tenda sambil menghirup udara segar dan melihat orang-orang disekitar .


Catatan :
Apabila ingin ke Gn. Semeru, pastikan perlengkapanmu sudah siap, terutama bawaan pribadi seperti sleeping bag, jaket, sandal, sepatu dll. Saat mau mendaki, pastikan kamu sudah reservasi terlebih dahulu di web, dan penuhi syarat-syaratnya seperti surat keterangan sehat, fotocopy ktp.

Selamat Mendaki