Skip to main content

Suku Bawean, lebih dekat, lebih mesra!




Bawean lagi, Bawean lagi. Kalo ngomongin Bawean memang kayaknya gak akan ada habisnya. Mulai dari alamnya sampai budayanya. Kata banyak orang, Bawean itu Madura, padahal BUKAN (SALAH BESAR). Bawean lebih condong ke MELAYU, Cuma BAHASANYA aja yang mirip Madura.
Jadi Suku Bawean ini pekerjaannya sebagian besar adalah nelayan, iya nelayan yang kerjaannya mancing ikan di laut itu. Nelayan di Bawean punya banyak pilihan cara mendapatkan ikan, bisa mancing, bisa pake jaring, dan bahkan bisa spearfishing alias pake tombak atau pake tembak, dan pastinya cara-cara itu masih tradisional dan tidak akan merusak ekosistem laut. 
Puasa kemarin saya (Jun) sempet pulang ke Bawean, pulang kampung ke Dusun Dedawang, dusun saya ini termasuk salah satu kampung nelayan terbesar di Bawean, ikannya banyak dan karang-karangnya belum
rusak. 2 minggu mudik ke bawean saya habiskan beraktifitas di laut. Sehari sebelum lebaran, saya diajak sepupu memancing ikan di laut, karena bosan di rumah dan tidak beraktifitas padat, akhirnya saya ikut memancing. Ambil pancing, pasang kail, pasang umpan, dan marilah kita mendayung sampan menuju lautam, wuhuuuuusssss asikk

dayung-dayung
Tujuan kali ini adalah keramba ikan di tengah laut yang sudah tidak terpakai karena kosong. Anak-anak Bawean memilih keramba untuk lokasi memancing karena disana ada semacam gubuk untuk tempat berteduh dan keramba ini letaknya agak ke tengah, jadi ikan-ikannya diperkirakan lebih banyak daripada di pinggir.
Mancing
1 jam kemudian, ikan pun tidak didapat, matahari semakin panas, kepala tambah pusing, tidak minum dan tidak makan, menahan dehidrasi, karena memancing di siang hari dan di tengah laut saat berpuasa adalah hal yang tidak pantas ditiru ya hueheueh, bisa bikin pingsan atau mati seketika, hanya anak-anak nelayan yang mampu melakukannya /azek/. Sekitar jam 1 siang, 1 jam berikutnya dari 1 jam yang lalu (FYI, tadi sampai di lokasi memancing jam 11) akhirnya ada yang menarik-narik tali pancing sepupu saya, dan setelah diangkat ternyata ada ikan, yeeeee, dapet ikan, asik-asik lumayan buat buka puasa. 
Lalu, sekitar 15 menit berikutnya kail saya ditarik ikan dengan jenis yang sama, ini keluarga ikan bodoh semua apa ya, abis bapaknya yang kena, sekarang anaknya yang kena.

Bapak ikan

Anak ikan

Iya, 3 jam kami mancing, Cuma dapet 2 ekor ikan. Sedih deh sedih, akhirnya kami pulang sebelum jam 2 siang.
Selesai memancing, akhirnya kami mandi, sholat, dan setelah itu siap-siap untuk Rua Rua. Apa itu Rua Rua? Rua-Rua adalah budaya suku Bawean dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Jadi dalam prosesi Rua-Rua ini, setiap kepala keluarga membuat berkat yang berisi buah-buahan, beras, dan hasil panen lainnya, selain diisi hasil panen juga diisi jajanan-jajanan desa dan makanan ringan untuk anak-anak.
Ini berkatnya

Berkat

Ini isinya
 
isi berkat

Nah untuk selanjutnya, berkat yang tadi sudah dimasukin ke dalam kantong plastik diantar ke Musholla dan Masjid terdekat, setelah itu di masjid dan musholla diadakan doa bersama berupa ucapan syukur karena telah menjalani ibadah puasa dan juga ucapan syukur atas hasil panen dan hasil laut. Setelah proses doa selesai, berkat tadi dibagikan ke masing-masing yang hadir, jadi berangkat bawa berkat pas pulang juga bawa berkat, tapi berkatnya ditukar (tukeran berkat gitulah istilah gampangnya).

doa bersama

Setelah Rua Rua, aktivitas dilanjutkan dengan sholat maghrib, daaaaan setelah sholat maghrib, siap-siap untuk takbiran keliling kampung. Takbiran keliling disini biasanya mengarak sebuah "apa ya namanya" (bingung cari istilah yang tepat), hewan-hewan atau bentuk-bentuk, atau patung yang terbuat dari bambu yang dibentuk menyerupai hewan, masjid, atau ketupat yang identik dengan lebaran, dan kebetulan lebaran tahun ini dusun saya membuat patung kuda bersayap, ada ada aja.
 

kuda bersayap

Anak-anak bawa obor dan semua orang keluar rumah (ini serius) semua rumah kosong, semua orang turun ke jalan, bahkan di masjid  gak ada orang takbiran (ini juga serius), semua warga ikut keliling dusun.

arak-arakan takbiran keliling
Setelah pulang dari takbir keliling, saatnya membuat ketupat untuk dimasak malam ini dan dimakan esok hari saat lebaran.

bikin ketupat
masak ketupat

Jadi gimana? Setelah baca-baca kebiasaan-kebiasaan orang bawean, kamu gak pengen kesana? Kamu gak pengen mancing? Kamu gak pengen bakar-bakar ikan dan makan ketupatnya orang bawean?

Kalo masih belum pengen, tunggu aja tulisan-tulisan Bawean Selanjutnya!!!

Salam Mesraa

Comments

  1. Suku Bawean kalau nggak salah sebagian besar adalah orang Madura ya mbak?. Cuma menurut info yang aku dapat dari orang-orang Madura sendiri, suku Bawean kekeuh mengaku bukan orang Madura. Tapi terlepas dari itu semua tradisi doa bersama mirip-mirip sama yang di Madura mbak. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sebagian besar pendatangnya emang madura, tapi suku aslinya sendiri bukan madura, bahasanya yg mirip madura mungkin karena terpengaruh sama pendatang yg emang lebih banyak dan sudah lama berbaur. Tapi itu tidak menghilangkan budaya adu sapi dan melaut warisan dari orang bugis dan tari mandailing dari orang2 melayu, kalau masalah doa bersama orang jawa pun mungkin ada juga kyknya mbak.
      Jadi emang bener kok orang bawean kekeuh bukan madura hahahaha

      Delete
  2. Rua-rua itu berkat ternyata ya...dulu pas kesana barengan sama maulid nabi, orang2 pada bawa rua-rua tapi lebih gede...sekeranjang gitu.


    Menarik! Jadi kangen bawean. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. yuk kesana lagi mas inggit, ajak DOI! hahahaha

      Delete
  3. wah, seneng ya bisa mengeksplore budaya kampung sendiri. jadi pengen ke sana kalau ada pemandu lokalnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kak, kalo kesana ama orang lokalnya memang lebih asik sembari belajar berbaur.

      Delete
  4. wah bawean emang menggoda ya mbak buat berkelana

    ReplyDelete
  5. wih . .
    jadi pengen berkunjung kesana . .
    pasti seru denganmasyarakat disana :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru banget dong, ayo kesana bareng kita hahahaha

      Delete
  6. sama mas, pernah juga mancing ikannya itu2 aja, nggak berubah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha mungkin mereka (ikan) sekeluarga bodoh semua kali ya 😂😂😂

      Delete
  7. Di Bawean bukannya underwaternya bagus juga yah? sempat nyobain gak snorkeling, kak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sempet mas rico, saya nyobain free-dive di pulau cina, deket rumah dan deket pulau bawean, gak dalem mungkin sekitar 3 meter, karangnya masih bagus, tapi gak sempet motret gara2 waktu itu belum punya kamera underwater hahahaha

      Delete
  8. keren, Indonesia emang gak abis-abis keindahannya

    ReplyDelete
  9. Yooo Olloh kok aku kangen berkatan nang gresik yooo, jaman cilik2 dhisek sering dapat kalo malam jumat di mushola

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahhaha pulkam pulkam lah sini siap menemani mas hahahaha

      Delete
  10. mancing siang hari + Puasa = nekat kamu mas hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, mau gimana lagi mas, diajak mancing gak bksa nolak, nekat2in aja lah hahahaha

      Delete
  11. Saya pengen banget ke Bawean. Udah penasaran sejak lama, apalagi setelah dirimu bilang kalau orang Bawean itu lebih ke Melayu, cuma bahasanya aja yang mirip Madura. O iya, kalau mau kesana caranya bagaimana? Boleh dong dishare ,,, syukur-syukur bisa bareng ke Baweannya, jadi ada teman warga lokalnya hehehehe :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dateng aja ke pelabuhan gresik mas, pesen tiket di kantornya ekspress bahari, 3 jam kemudian nyampe bawean. Tiket gampang asalkan bukan lebaran hahaha maklum banyak yg mudik tiket terbatas.
      Boleh boleh kesana bareng, ntar disana nginep di rumah saya hahaha hubungi aja lewat email, semoga saya ada waktu, maklum lagi sibuk skripsi

      Delete
  12. Beberapa kali merencanakan ke Bawean, tapi selalu gagal. Entahlah Bawean, Kangean, dan kalau bisa menyeberangi pulau-pulau lain seperti Masalembu, Keramean dll itu menyenangkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha ditunggu di Bawean mas, jemput aku buat ke Karimun Jawa hhahaha

      Delete
  13. seru sekali ya takbiran sambil keliling..

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahh seruu sekaliii, apalagi takbiran keliling kampung halaman.

      Delete
  14. Pengen banget kesana tapi belum kesampaian

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo mbak kesanaaa mainn, kontak kami ajaa pokok pas kami berdua gak sibuk kuliah Hahaha :D

      Delete

Post a Comment

Terimakasih Pembaca Mesra Berkelana
Yuk jangan lupa kasi komentarnya. Siapa tahu kita ketemu dan jadi jalan bareng.

Popular posts from this blog

Jangan Sampai Tertinggal Bus Titian Mas #28JamMataramPart1

Hari itu kami berdua memutuskan untuk segera memesan tiket bus untuk tujuan ke Mataram. Kenapa kami memilih menggunakan bus ? padahal waktu itu harga tiket pesawat dengan tiket bus tidak jauh beda, mungkin selisih sekitar lima puluh ribuan. Jawabannya adalah ?

Karena perjalanan menggunakan bus menurut kami lebih menyenangkan, dan memiliki waktu panjang dan sekaligus banyak yang bisa kami dapat di perjalanan *Azek* Tentu sebagian orang bertanya-tanya “ Tiket Cuma beda 50, kok ya capek-capek kayak orang susah “ “ Ribet, kelamaan “ Dan perkataan lainnya.. Hahaha


Setelah memesan tiket, penantian begitu panjang yang ditunggu-tunggu akhirnya selesai. Kami siap dan berangkat menuju kota yang dikenal dengan seribu masjid apalagi kalau bukan Kota Mataram.



Siang itu kami menunggu bus di Terminal Bungurasih, bus akan berangkat tepat pukul 16:00 Wib. Sudah sekitar 2 jam kami menunggu bis. Pukul 15:30 Wib kami tetap menunggu diruang tunggu, sambil melihat-lihat dan mencari dari jauh awak bus kami. Kurang …

[REVIEW by Jun] Si Ganteng Pollock

Halo semua, apa kabar? Pada tulisan saya kali ini. Saya akan menulis review atau lebih tepatnya pengalaman pribadi saat menggunakan sepatu gunung Eiger Pollock. Basa-basi dulu ya, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sepatu sangat berperan penting dalam kegiatan petualangan khususnya pendakian gunung. Mungkin banyak yang meremehkan fungsi sepatu pada saat mendaki, dan memilih untuk memakai sandal saja, padahal sepatu sangatlah penting untuk menunjang keselamatan dalam pendakian. Saking pentingnya sepatu, sekarang ini sudah banyak sepatu yang dikhususkan untuk pendakian gunung. Lebih lanjut lagi, saking pentingnya sepatu bagi pendaki gunung, maka ada beberapa tips untuk memilih sepatu untuk pendakian. Diantaranya sebagai berikut: 1.Tips yang pertama adalah, usahakan memilih sepatu yang tipe mid cut atau high cut, untuk pendakian tidak disarankan menggunakan sepatu low cut. Bingung? Yaudah saya jelaskan, yang pertama adalah high cut, jenis sepatu ini memiliki ciri-ciri menutupi bagian tumit sam…

Begini Cara Membuat Telur Asin Asap di Desa Sanankerto

Setelah mengunjungi Desa Wisata Poncokusumo, tibalah waktunya untuk berangkatmenuju Desa Wisata Sanankerto. Desa Wisata Sanakerto ini terletak di Kecamata Turen, Kabupaten Malang. 
Jadi, apabila kalian mampir ke Turen ( yang terkenal masjid jinnya itu)  jangan lupa sempatkan mampir ke Desa Wisata Sanankerto. *dekat kok*

Saya dan tim #EksplorDeswitaMalang diantar menuju lokasi pembuatan telur asin. Hari itu kami diizinkan melihat proses pembuatan telur asin dari awal. 


Oiya jangan lupa disini tidak hanya menjual telur asin biasa tapi ada telur asin asap juga loh dan jangan lupa ada bebek ungkepnya juga. 

Cara membuatnya begini :
Pertama-tama siapkan telur bebek ( ini mentah loh ya ) , pastikan telur bebeknya sudah dicuci bersih dan siap diproses pada tahap berikutnya.   Setelah itu siapkan batu bata yg telah dihancurkan, jangan lupa beri garam dalam batu bata tersebut, lalu bungkus telur bebek dengan olahan batu bata tersebut.Proses selanjutnya diamkan dan tunggu selama kurang …