Sudah lama saya (Jun) tidak melakukan perjalanan dengan bapak, kebanyakan dengan Lidia. Kalau sama anak orang saja bisa, kenapa dengan bapak sendiri tidak bisa?
Akhirnya kesempatan itu datang. Awal bulan Juli 2018 ini, bapak saya masih libur dan saya sedang tidak ada kegiatan apapun selain tidur, akhirnya kami berencana untuk road trip (lazim dikenal sebagai istilah touring) menggunakan kendaraan roda 2, Honda Vario 125. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya touring berdua dengan bapak, sebelumnya kami juga pernah touring dengan rute Gresik - Kelud – Blitar – Malang – Gresik. Touring pertama dirasa sukses, kami sepakat untuk touring melalui rute yang lebih panjang.
Taman Nasional Baluran

Tanggal 3 Juli 2018, tepat seusai sholat subuh ketika fajar menyingsing begitu syahdu, kami sudah selesai mandi dan sarapan. Setelah sarapan kami cek kembali barang bawaan, karena takut ada yang ketinggalan, termasuk baterai kamera kesayangan, gak lucu dong kalau sudah sampai tujuan tapi baterai kamera kosong. Setelah semua dirasa lengkap, sekitar pukul 6 lebih 20 menit kami gas motor menuju arah timur. 
menuju timur
Target kami, sebelum pukul 9 sudah menyentuh Pasuruan atau setidaknya sudah lepas Porong, mengingat pada jam kerja jalanan akan sangat padat. Beruntung, Gresik – Sidoarjo hanya kami tempuh dalam waktu tidak sampai 2 jam saja, sekitar pukul 8 kami sudah tiba di Sidoarjo dan berhenti untuk membeli kopi kotak karena ribet kalau harus nyari coffee shop dulu, bisa-bisa gak jadi ke Baluran.
Lanjut melintasi Kabupaten Sidoarjo menuju arah Bangil, melewati jalanan Porong yang ditambal sana sini, tidak rata, membuat pantat cepat sakit dan mulai agak panas. Setelah sampai Bangil, kami tidak istirahat dan langsung gas menuju Probolinggo. Jalanan Pasuruan – Probolinggo ini juga penuh jalan tambal, tidak rata, hati-hati untuk kalian yang berencana melintas disini, pelan-pelan saja, yang penting selamat. Sampai di Nguling (bukan rumah makan rawon) sekitar pukul 8.45, kami mengisi bahan bakar sambil beristirahat sejenak.
 
Istirahat 15 menit di salahsatu Pom Bensin di Nguling
Setelah beristirahat 15 menit, tepat jam 9 kami melanjutkan perjalanan menuju Situbondo. Jalan bergelombang di Probolinggo ke Situbondo semakin parah, mungkin kalau naik mobil pejabat guncangannya tidak akan terasa, tapi kalau naik motor rakyat jelata, rasanya pengen misuh saja, dan memang kami berdua misuh-misuh sepanjang jalan ketika melewati jalan berlubang dan bergelombang secara tiba-tiba. Ealah cuk!
Sampai di pusat Kabupaten Situbondo sekitar pukul 12.45, perut mulai terasa lapar dan cari-cari tempat makan di pinggir jalan. Mata saya tertuju pada sebuah warung makan di sebelah kiri jalan dan motor langsung saya belokkan masuk ke parkiran. Awalnya saya mengira rumah makan ini adalah rumah makan biasa, ternyata rumah makan ini adalah rumah makan yang sangat direkomendasikan di daerah Situbondo, namanya Depot Kalasan. Disini kami memesan dua porsi ayam bakar dada beserta nasi dan es teh ditambah satu paha ayam bakar, total semuanya Rp. 55.000,-.
Ayam bakar Depot Kalasan
Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Nasional Baluran. Sebelum berangkat, kami menghubungi Pak Trihari untuk menyewa satu kamar di Wisma Rusa selama dua malam, kami mendapatkan saran menginap di Wisma Rusa ini dari Mas Papanpelangi. Dari Situbondo kota menuju Taman Nasional Baluran bisa ditempuh selama 1 jam saja, 30 menit masih tampak rumah penduduk, 30 menit sisanya akan memasuki hutan Baluran yang rasanya gak ada ujungnya, karena memang gak ada ujungnya, kalau dilanjutkan ya tembus Banyuwangi.
Setelah melalui jalanan yang gelombangnya semakin parah, selama 1 jam lebih, akhirnya kami sampai di Taman Nasional Baluran sekitar pukul 2.30. Sampai disini kami langsung menuju loket pembelian tiket. Untuk 2 orang dan 1 motor dalam 2 hari (saya bilang akan 2 hari di dalam), menurut daftar tarif yang terpampang seharusnya kami membayar 2 kali lipat, tapi ternyata hanya diminta membayar tarif selama 1 hari. Disini 1 orang akan mendapatkan 2 karcis, yaitu karcis Pengamatan Hidupan Liar dan karcis Taman Nasional Baluran untuk wisatawan nusantara, ditambah karcis motor, total semuanya Rp. 35.000,-.
karcis roda 2

karcis Pengamatan Hidupan Liar

Karcis masuk pengunjung

peraturan selama berada di dalam Taman Nasional Baluran
Penderitaan kami tidak berhenti di jalanan Situbondo, bahkan setelah masuk taman nasional kami masih disiksa dengan jalan makadam yang kurang ajar sekali. Dan jalan makadam ini harus kami lalui selama 1 jam, padahal kan hanya 12km.
Jalan makadam menuju Savana Bekol (ini yang paling bagus)
Yang menarik ketika menuju Savana Bekol adalah kita akan melewati hutan Evergreen, dan sesuai namanya, hutan ini akan selalu hijau dan terlihat basah walaupun hutan di sekitarnya mengering. Analisa kami, di bawah hutan Evergreen terdapat sumber air, terlihat dari tanahnya yang lembab, padahal hutan sebelum Evergreen semuanya kering kerontang. Dan ketika lewat menjelang malam di hutan Evergreen, jika beruntung kita akan menjumpai macan tutul yang sedang jalan-jalan gitu. Sebenarnya saya bingung, bertemu macan tutul menjelang malam di hutan hujan tropis yang tertutup itu bisa dibilang beruntung atau tidak. Udah, gak usah dipikir.
Hutan Evergreen
Sampai di Savana Bekol sekitar pukul 15.20, kami langsung menuju pusat informasi untuk konfirmasi pemesanan Wisma Rusa. Setelah mendapat kunci kamar, kami langsung masuk kamar dan beristirahat sejenak, lalu mandi dan bersiap menunggu matahari terbenam.
Sunset di Savana Bekol
Wisma Rusa ini sangat di luar harapan saya, saya kira tidak akan nyaman menginap di homestay yang dibangun di tengah hutan taman nasional, nyatanya tidak. Wisma Rusa ini termasuk homestay yang nyaman sekali, pertama masuk kamarnya wangi dan tidak bau. Mungkin seperti homestay 50ribuan yang ada di perkotaan, hanya saja disini tidak ada kipas angin dan Air Conditioner alias AC. Kami yang mudah berkeringat harus membuka pintu agar angin dari lantai 2 bisa masuk ke kamar kami yang tepat berada di depan tangga. Wisma Rusa ini seperti rumah berlantai 2 pada umumnya, yang terdiri dari 7 kamar, 3 kamar di lantai bawah dan 4 kamar di lantai atas, setiap lantai punya ruang tamu. Untuk kamar mandi ada 2 buah di lantai bawah, jadi yang di lantai atas agak susah ya kalau sering-sering ke kamar mandi. Kamar di lantai bawah dindingnya dari tembok semen, sedangkan kamar di lantai atas berdindig kayu yang dilapisi anyaman bambu sedemikian rupa. Untuk yang lebih menyukai ketenangan cocok tidur di lantai bawah, sedangkan untuk yang menyukai hal yang berbau eksotisme alam akan sangat cocok tidur di lantai atas. Kami sendiri memilih tidur di lantai bawah dengan pertimbangan lebih dekat dengan kamar mandi.
Wisma Rusa tampak depan

kamar yang kami tempati

Ruang tamu lantai bawah

ruang tamu lantai atas

salah satu kamar di lantai atas
Oh iya, untuk makan setiap harinya, kami memesan di kantin yang terletak di sebelah Wisma Rusa. Kantin Bekol ini cuma buka dari pukul 7 pagi sampai menjelang maghrib, jadi untuk makan malam ya dimasaknya pada saat menjelang maghrib itu. Listrik disini hanya menyala pada pukul 5 sore sampai pukul 10 malam, tidak ada air minum yang disediakan, jadi kami membawa air minum sendiri yang kami beli di Kantin Bekol.
 
Tanggal 4 Juli 2018, pukul 7 pagi, sesudah burung merak keluar sarang dan kerbau liar sedang berkubang, kami mulai persiapan untuk menuju Pantai Bama. Jalanan menuju pantai Bama masih sama seperti sebelumnya, semuanya batu. Tapi jalanan yang menyebalkan tersebut terbayar oleh banyaknya Rusa yang berkeliaran, pemandangan yang indah, dan sempat melihat burung Merak sebanyak 5 kali tetapi kabur sebelum saya sempat mengeluarkan kamera. Duh!
 
Menuju pantai Bama

Menuju pantai Bama

Menuju Pantai Bama
Menuju Pantai Bama

Sampai di pantai Bama, saya kecewa dengan pantai ini. Fasilitasnya memang lengkap, ada toilet dengan shower untuk membersihkan diri sehabis berenang, ada kantin, ada homestay, ada musholla, ada semacam tempat terbuka dengan lantai dan atap untuk beristirahat. Tapi yang membuat saya kecewa adalah pantainya, biasa aja, pasirnya gak halus, juga gak luas, malah area fasilitas umum dan parkirnya lebih luas daripada area berpasirnya. Tapi tidak masalah, di sebelah kanan pantai Bama ada hutan Mangrove yang masih lumayan liar lah ya.
Musholla di Pantai Bama

Toilet

Hutan Bakau

Dermaga Hutan Bakau

Pendopo untuk tempat istirahat dan berteduh

Homestay di Pantai Bama

Pasirnya dikit
Puas menikmati pantai Bama yang gitu-gitu aja, kami kembali menuju Savana Bekol untuk sarapan di Kantin Bekol. Setelah sarapan, kami hunting foto di Savana Bekol dan melihat kandang konservasi Banteng. Setelah agak siang menjelang duhur, saya masuk kamar dan tidur, sedangkan bapak saya masih hunting foto. Cukup lama saya tertidur, pukul 4 sore saya bangun dan kami jalan-jalan menuju Savana Bekol untuk hunting foto matahari terbenam
Sunset lagi
Menjelang malam, kami kembali ke homestay dan tidur, karena besok kami akan menuju Taman Nasional Bali Barat dan langsung kembali ke Gresik, perjalanan akan sangat panjang karena perjalanan pulang kali ini kami berencana lewat jalur selatan untuk mampir sebentar ke seorang kawan yang sedang kuliah di Jember.
Tanggal 5 juli, pukul 3 pagi, ketika ayam jantan belum membuka mata dan gerombolan Rusa masih enggan keluar dari sarangnya, kami berkemas untuk keluar Taman Nasional Baluran. Dari gerbang Baluran, ke Pelabuhan Ketapang tidak jauh, hanya sekitar setengah jam perjalanan. Sampai di Pelabuhan Ketapang, kami langsung antri untuk naik kapal.
Sampai di Bali, kami disambut oleh gerimis yang lumayan deras karena memang langit Pulau Bali pada saat itu sedang mendung. Keluar Pelabuhan Gilimanuk, gerimis mulai reda. Dari pelabuhan Gilimanuk menuju loket tiket Taman Nasional Bali Barat hanya ditempuh dalam waktu 15 menit saja. Karena kami tidak punya banyak waktu, kami hanya mengunjungi penangkaran burung Jalak Bali yang terletak di dekat gerbang masuk taman nasional.
Gerbang pertama Taman Nasional Bali Barat

Gerbang ke- 2 Taman Nasional Bali Barat

Penangkaran Jalak Bali
Setelah puas menikmati kicauan burung Jalak Bali, kami keluar taman nasional dan langsung kembali ke Pelabuhan Gilimanuk untuk segera melanjutkan perjalanan menuju Jember. Sampai di Pelabuhan Ketapang kami langsung belok kiri, gas menuju Jember.
Sampai Jember sekitar pukul 13.00 dan kami langsung bertemu dengan teman saya, Manggala, untuk makan bersama di Warung SS Jember. Tepat pukul 14.00 kami diantar Manggala sampai keluar kota Jember, dan kami melanjutkan perjalanan panjang pulang ke Gresik. Oh iya, jalanan di jalur selatan Jawa Timur ini lebih mulus daripada jalur pantura, pantas saja banyak bis menuju Banyuwangi yang lebih memilih jalur Jember daripada jalur Situbondo. Saya sendiri pernah touring melewati jalur Gresik – Jember ini, tetapi sudah 4 tahun yang lalu, perjalanan pulang ini seperti nostalgia bagi saya ketika teringat kembali perjalanan tengah malam melewati Jatiroto yang terkenal begalnya.
Alhamdulillah, kami sampai di Gresik sekitar pukul 20.00 dengan selamat.
Beruntung tahun ini saya mengunjungi tempat yang belum pernah saya kunjungi dan melakukan hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Teringat sebuah kutipan “setidaknya setahun sekali, kunjungilah tempat yang belum pernah kamu kunjungi dan lakukanlah hal yang belum pernah kamu lakukan sebelumnya”, saya tidak ingat itu kutipan siapa, yang jelas saya berusaha memegang kutipan itu sebagai bagian dari prinsip hidup saya. Sedangkan bagi bapak saya, “usia tua bukan berarti harus berdiam diri di rumah dan bermain dengan cucu yang lucu-lucu sepanjang waktu, usia itu hanyalah angka, yang harus diisi dengan petualangan untuk melihat dunia”

“remember my friend, impossible is an invitation”
Setelah turun dari Gn. Prau, malam harinya kami mendiskusikan perjalanan untuk keesokan harinya sebelum kembali ke kota masing-masing. 

Saya yang masi setengah sadar hanya mendengarkan tanpa mencerna secara jernih pembicaraan teman-teman yang lain. Malam itu Mas Muhajir menawarkan rencana melihat Sunrise di Sikunir, saya yang setengah sadar hanya mengiyakan saja. 

Setelah itu Mas Rifqy bertanya kepada saya, kira-kira keberatan atau tidak apabila pulangnya agak siang. Sayapun hanya menjawab " Gak masalah Mas ". Setelah melalui diskusi untuk perjalanan besok, satu persatu dari kamipun pergi meninggalkan homestay. 

Saya, lagi-lagi sedang dalam keadaan setegah sadar berpikir sambil bertanya ke diri sendiri  " Masa iya, besok itu balik habis maghrib, kok jam 3 ya berangkat ke Sikunir ".  Alih-alih karena penasaran sayapun bertanya ke Mas Rendra dan Mas Eko "Mas sebenernya kita ini besok berangkat jam berapa sih ? kok jam 3 ya, apa gak kesorean ya "

Barulah serentak Mas Rendra dan Mas Eko menjawab " Lidia, besok ini kita sunrise nah siap-siapnya jam 2 pagi, intinya jam 3 pagi kita harus sudah sampai di Sikunir, bukan jam 3 sore, ingat kita ini mau sunrise bukan sunset " .

Setelah digertak bersamaan, barulah saya tersadar dan sedikit malu. Karena saya masih dalam keadaan setengah sadar, merekapun jadi suka mengejek saya dengan celetukan " Cuma Lidia yang sunrise jam 3 sore, maklum dia gak tinggal di Indonesia ". Karena guyonan itu, akhirnya kami semua tertawa. 

Setelah tertawa dan saling bercerita, kami berangkat tidur ke kamar masing-masing. Sambil saling melempar candaan kepada saya "Ingat ya, Lidia gak usah dibangunin, dia sunrisenya jam 3 sore ". Baiklah saya mengalah. 

Jam 2 Pagi, penghuni homestay sudah mulai ramai dan berisik. Akhirnya sayapun terbangun dan bersiap-siap. Kira-kira jam 3 pas kami berangkat menuju Sikunir. Jalanan menuju Sikunir ini gelap tapi tidak sepi karena banyak mobil dan bus mini melewati jalanan ini. Setibanya di area pedesaan menuju Sikunir barulah terlihat kemacetan jalanan, beberapa mobil dan bus mini sudah antri menuju Sikunir. 

Untuk masuk ke Sikunir ini, perorang dikenai tarif sebesar Rp.10.000. Saya menyarankan agar datang lebih pagi, karena parkiran kendaraan belum terlalu penuh dan tidak perlu jalan terlalu jauh dari start menuju Sikunir. 

Kami tiba di Sikunir tepat pukul 3:30 Wib pagi. Karena masi terlalu malam, akhirnya kami memutuskan untuk berdiam diri di dalam mobil sedangkan Mas Rifqy dan Mas Muhajir sudah keluar mobil terlebih dahulu. Setelah jam 4:00 Wib barulah kami keluar dari mobil dan bersiap menuju puncak Sikunir. 

Perjalanan ke Puncak Sikunir membutuhkan waktu kurang lebih sekitar 30 Menit. Sebelum masuk ke penanjakan, disebelah kanan dan kiri tampak banyak pedagang berjualan camilan, ada gorengan, bubur manis, cilok dan oleh-oleh khas Wonosobo. 

Saya sempat lapar dan ingin membeli gorengan, namun niat itu saya buang jauh-jauh karena masi terlalu pagi dan tidak baik mengonsumsi gorengan di pagi hari. 

Kondisi jalanan menuju Puncak Sikunir ini terus menanjak, tapi jalanannya sudah diberi pegangan dan layaknya berjalan di tangga. Tapi tetap harus berhati-hati karena jalanan agak basah.

Karena saya datang pada hari Minggu, tentu Sikunir ini makin ramai. Saya melangkahkan kaki secara perlahan, karena jalanan di depan saya cukup antri, jadi harus bersabar. Setelah melalui beberapa anakan tangga, kami berhenti sambil mengatur nafas masing-masing. Karena dirasa cukup istirahatnya, perjalananpun kami lanjutkan. 

Setibanya di Pos Pertama, Mas Muhajir menyarankan agar berhenti saja. Apabila nantinya kondisi sudah cerah, barulah disarankan untuk naik lebih ke atas. Waktu itu kabut begitu pekat, tapi tidak sampai menganggu jarak pandang. 

Sambil menunggu, kami semua saling bercerita, terkecuali Mba Fikha, karena Mba Fikha sedang tidur dalam keadaan berdiri. 

Setelah banyak bercerita kira-kira satu jam, akhirnya kami memutuskan untuk turun. Karena melihat kondisi kabut makin pekat dan matahari tak kunjung keluar.


Mas Rifqy, Mba Fikha, Mas Adi dan Mba Eka turun lebih awal. Sayapun bersama Mas Eko dan Mas Rendra masih sibuk mengeluarkan kamera masing-masing sambil memotret beberapa kabut yang ada di Sikunir. 

Saat saya turun, jalananpun makin terlihat padat dan macet. Jalanan semakin lincin dan sayapun harus berhati-hati. Pengunjung Sikunir ini tak kenal usia, mulai dari Ibu-ibu tua hingga anak-anak gaul ada semua di sana, untuk mengabadikan Pagi di Sikunir. 

Saya terus berjalan menurun sambil menyanyi bersama Mas Eko dan Mas Rendra. Kira-kira begini liriknya 

Kuingin marah, tak dapat cerah sudah bangun jam 2 ( Pakai nada single " Kecewa" BCL) 

Kira-kira sedikit lagi sudah sampai diturunan menuju parkiran. Saya melihat matahari muncul, sambil sedikit menyesal kenapa tidak menunggu atau sabar terlebih dahulu. Lalu Mas Muhajir bilang kepada kami " Ah itu di atas masi kabut ". Ya sudah, kamipun pasrah semoga lain waktu bisa tepat. 

Saya, Mas Eko dan Mas Rendra mengabadikan moment matahari muncul di Sikunir. Saya berpikir mungkin matahari ini ingin disemangati agar ia mau muncul dan tersenyum untuk pagi di Sikunir.


Setelah puas berfoto dan cuaca makin cerah, sayapun turun sambil melihat pertunjukan musik di Sikunir sekaligus menyantap bubur manis. 

Sambil berjalan, kami bertemu dengan yang lainnya. Karena perut kami makin lapar, akhirnya Mas Adi, Mas Rifqy dan Mas Rendra pergi membeli gorengan untuk kami makan bersama. Sambil menyatap gorengan, Mas Muhajir menawarkan kami untuk berfoto di depan tulisan SIKUNIR. Karena belum terlalu ramai, akhirnya kami befoto bersama. Setelah berfoto bersama perjalanan kami lanjutkan menuju danau kecebong, yang letaknya masi satu area dengan Sikunir. 

Kira-kira jam 5:30 Wib saya keluar tenda dan melihat suasana di luar. Pagi yang masih berkabut dan matahari pun belum muncul, saya mendengar keramaian dan obrolan dari tenda sebelah. Mas Rifqy, Mba Fikha, Mas Eko dan Mas Rendra saling melempar canda dengan keras, tapi suara keras itu tetap membuat saya tertidur. 


Sebelum turun ke Dieng dari sebelah kiri : Mas Rifqy, Mas Muhajir, Mas Adi, Mba Eka, Saya, Mba Fikha, Mas Rendra dan Mas Eko

Baca juga http://www.mesraberkelana.com/2018/04/eiger-women-series-transeat-jacket.html

Jam 9:00 pagi saya terbangun, Mba Eka bilang kalau tidurku cukup lelap. Mungkin karena kecapean dan semalaman tidak bisa tidur. Saya pun bergegas keluar dan melihat pemandangan pagi pegunungan yang berjejer di depan. Dari kejauhan tampak banyak pendaki menantikan pemandangan Sindoro dari Gunung Prau ini, sesekali kabut pergi dari hadapan Sindoro lalu beberapa kemudian datang lagi hingga Sindoro betul-betul tertutup oleh awan. 
Pagi di Gunung Prau waktu itu memang cerah namun pemandangan deretan pegunungan itu tetap tertutup awan. Sayapun sejak awal menantikan deretan pegunungan yang cantik itu.  Sempat beberapa kali mengabadikan pemandangan Sindoro Sumbing, meski tidak total terlihat setidaknya pagi itu saya tetap mengucap syukur. 


Pemandangan pagi Gn. Sindoro yang tertutup awan

Kami semua bermain di luar tenda, tidak ada acara memasak ataupun membuat sarapan, sayapun akhirnya tidak sarapan hanya mengunyah good time dan coklat bar. 

Setelah puas berfoto dan menantikan awan hilang dari depan Sindoro, kami packing dan bersiap untuk kembali turun ke Dieng. Jam 11:00 kami mulai membereskan beberapa barang bawaan dan memastikan semuanya sudah terbawa dengan rapi. 





Jam 12:00 kami melingkar dan berdoa untuk melanjutkan perjalanan turun via Dieng. Perjalanan turun ini sangat menyenangkan, jalanan yang dilewati tidak menanjak atau menurun dengan curam. Kami harus melewati beberapa bukit yang terbentang luas dan jalan mendatar sehingga tidak membuat kami capek. 

Kira-kira tiba di Pos 3 barulah saya menemui jalanan menurun, dari Pos 3 ini sampai pos 1 jalanan akan terus menurun, hal ini membuat lutut saya gemetaran didukung sayapun belum sarapan dan hanya makan coklat bar

Dari serangkaian pendakian, jalan menurun dan pulang adalah yang paling ditunggu-tunggu. Tiba di Pos 2 pun kami masih tertawa-tawa sambil bermain kuis yang dipimpin oleh Mas Eko. Di beberapa kali pemberhentian kami yang tentunya sangat lapar masih bisa bercanda, mulai dari candaan “ Ingin Menikah” sampai “Kapan ke mana lagi ?’’. 

Karena terlalu lama bercanda, pada akhirnya kami pun diam satu persatu. Jalan kami mulai terseok-seok dan sesekali tidak fokus. Saya pun tetap berusaha berjalan dan bersemangat agar cepat sampai ke homestay. Biasanya untuk melupakan rasa capek, saya selalu membiasakan diri mendegarkan musik saat sedang melakukan pendakian, beberapa putaran musik membuat saya bersemangat sekaligus melupakan rasa lapar. 

Playlist lagu-lagu Float menjadi pilihan saya, saat sedang melakukan pendakian. Menurut saya mendengarkan musik saat mendaki membuat saya semakin rileks dan tentunya tidak terlalu banyak ngobrol yang menjadi cepat haus. 


Lewat sudah 3 hari tuk selamanya
Dan kekal-lah detik-detik di dalamnya 


Setelah berjalan jauh tak terasa pos 1 sudah di depan. Kamipun memutuskan untuk berhenti sejenak, banyak pendaki yang baru memulai untuk naik. Saya mengamati wajahnya satu persatu. Ada satu yang mulai kelelehan hingga dia dituntun pelan-pelan oleh kawannya. 

Setelah agak sepi, kami melanjutkan perjalanan lagi sampai akhirnya saya meninggalkan yang lainnya. Pos 1 sudah mulai tampak, Mas Riqfy sudah berjalan tepat di belakang saya. Lalu saya pun bertanya “ Loh Mas, yang lain mana ? masih jauh mereka ? ” Mas Rifqy menjawab “ Mereka masi makan carica, tadi habis metik ”. Karena mereka masih di belakang sayapun memutuskan untuk beristirahat sebentar, sambil menunggu yang lain. 

Setelah beberapa berkumpul saya lanjut berjalan melewati hamparan perkebunan Dieng. Saya selalu suka melihat petani-petani yang sedang menanam atau sedang menebar pupuk. Bau pupuk kandang ini makin menyengat dan dibarengi panas matahari juga lebih menyengat. Saya berjalan menurun terus sampai akhirnya tibalah di gardu “ Selamat Datang di Pos Pendakian Jalur Dieng ”. 

Beberapa teman yang lain belum sampai, dan akhirnya sayapun duduk sambil melepaskan keril. Saat yang lainnya sudah datang, sebelum berangkat ke homestay kami sempat berfoto terlebih dahulu di bawah tulisan “ Selamat Datang di Pos Pendakian Jalur Dieng”. Setelah puas berfoto, kamipun melanjutkan perjalanan lagi menuju homestay. 


Kami memesan homestay yang jaraknya dekat dengan Candi Arjuna. Apabila kalian ingin melakukan pendakian Gn. Prau, homestay dekat Candi Arjuna ini bisa menjadi pilihan untuk beristirahat setelah melakukan pendakian. Info penginapan homestay maupun paket perjalanan Dieng atau sewa mobil bisa hubungi via Instagram @penginapandiengmurah atau Tlp/WA (082243727787 - Mas Muhajir). 


Berjalan dari pos pendakian jalur Dieng menuju homestay tidaklah terlalu jauh, kami lewat jalanan setapak dan rumah penduduk, sempat juga lewat ladang. Dibutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sampai menuju homestay dari Pos Pendakian Jalur Dieng. Kami berjalan terus sampai akhirnya dipertigaan Indomaret, kami mengambil arah ke Candi Arjuno. 

Di sebelah kiri jalan banyak yang menjual aneka makanan, di sisi kanannya banyak homestay-homestay yang disewakan dengan harga yang relatif murah. Pukul 3:20 kamipun akhirnya tiba di Homestay Kalitus. Saya lalu masuk meletakkan keril dan merebah di kasur. 

Saat sore hari setelah semuanya sudah mandi, akhirnya kami mencari makanan setelah setengah hari perut kami belum terisi nasi sama sekali. Kami memutuskan untuk makan di dekat homestay. Mas Muhajir mengajak kami makan di warung dekat homestay, rasa penasaran sayapun muncul pada rasa Mie Ongklok. Sejak di alun-alun Wonosobo, saya sudah penasaran dengan rasa Mie Ongklok maupun Purwaceng. Akhirnya sayapun memesan keduanya. 

Kedua pesanan datang dan saya pun mencoba. Mie Ongklok ini kuahnya seperti kuah papeda, agak kental dan seperti dicampur dengan tepung kanji, tapi saya belum tau persis kira-kira bahan kuah Mie Ongklok ini apa tepatnya. Sudah saya duga rasanya akan manis, bagi yang tidak suka manis bisa dicampur dengan sambal atau tambahkan garam saja. Untuk susu purwacengnya, saya terlalu berekspetasi tinggi kalau susunya menggunakan susu murni, ternyata waktu saya coba rasanya seperti susu kental sachet. Mungkin kalau susunya menggunakan susu murni asli tentu rasanya lebih enak dipadu dengan rempahnya. 

Setelah makan bersama, kami kembali ke homestay. Dilanjutkan dengan menonton tv di ruang tamu  sambil mendiskusikan perjalanan untuk keesokan harinya.

Catatan : Perjalanan ini dilakukan pada 13-15 April 2018. 
Pendakian Via Patak Banteng menuju Dieng

Sudah lama saya tidak mencoba es kopi di Surabaya. Saat saya pulang ke Surabaya, saya dan Jun menyempatkan diri untuk mampir ke salah satu kedai kopi yang baru buka. 

Sebetulnya kedai kopi ini belum punya tempat sendiri, jadi lokasinya gabung dengan beberapa kedai jualan. Kalau sedang ramai sih gak terlalu worth it untuk diminum di sana, baiknya dibawa pulang saja, atau order via gojek. 

Kami berdua akhirnya memutuskan berangkat menuju Jokopi setelah waktu dhuhur, saat Surabaya lagi panas-panasnya. Jokopi merupakan salah satu kopi susu yang memiliki banyak varian. Jokopi sendiri punya ciri khas yang sering disebut sebagai  " Kopi Blusukan ".

Dengan mengangkat tema " Blusukan ", pada akhirnya Jokopi dikenal dengan kopi blusukannya. Blusukan di sini memiliki 2 arti, arti yang pertama blusukan sendiri dimaknai sebagai blusukan yang mengenal dan belajar dari kedai-kedai kopi di penjuru nusantara sekaligus mengunjungi kebun kopi dan menemui petani-petani kopi. Blusukan kedua dimaknai sebagai branding dari Jokopi itu sendiri, terinspirasi dari Presiden Jokowi yang sering turun ke lapangan dan melakukan aksi blusukannya. Sehingga Jokopi pun membranding dirinya sebagai kopi blusukan yang mampu mengenalkan aneka kopi dengan gaya blusukan, mulai dari event ke event.




Segelas kopi yang dikombinasikan dengan susu menjadi modal utama Jokopi untuk memperkenalkan kopinya. Kombinasi susu ini lebih dipilih agar semua orang terutama yang tidak begitu suka dengan kopi karena rasa pahit ataupun masamnya, mampu mencoba minum kopi dan suka. Biji kopi yang digunakanpun bukan sembarang biji kopi, Jokopi menggunakan beberapa beans untuk memaksimalkan rasa kopi susunya.



Untuk saat ini Jokopi menyediakan 4 macam racikan kopi yaitu ES KOPI SUSU BLUSUKAN, ES KOPI SUSU ARUM MANIS, ES SUSU ARANG, dan ES COKLAT SUSU KRIM, dan tentunya dalam waktu dekat ini Jokopi akan mengeluarkan varian rasa terbarunya.

Saya pertama kali mencoba rasa kopi susu, rasanya pas dan tetap bisa diminum bagi sebagian orang yang kurang menyukai rasa asam pahitnya kopi. Rasa kedua yang saya coba adalah rasa kopi susu arum manis, dengan tambahan bubuk spesial arum manis dicampur dengan gula aren khas Bengkulu, racikan susu dan kopi. Meski rasa kopinya semakin manis, namun rasa kopinya masi tetap terasa meski telah diberi susu dan arum manisnya. Oh ya di sini bukan hanya Es saja tetapi bisa pesan versi hangatnya. 


Kopi ini cocok diminum kapan saja, terutama di siang hari saat Surabaya sedang panas-panasnya. Buat yang diluar kota Surabaya, tunggu saja waktunya. Karena kopi Jokopi akan selalu blusukan memperkenalkan aneka kopi-kopinya.

Alamat : Jl. Ketabang Kali No.51 A, Kel. Ketebang, Genteng, Kota SBY, Jawa Timur.
Catatan :
Harga:  dari Rp. 15.000
Bisa pesan via go food
Dekat dengan Es Krim Zangrandi, Balai Kota Surabaya.