Tujuan pendakian Gunung Andong ini dipilih karena letaknya cukup dekat dari Yogyakarta dan juga gunung ini tidak begitu tinggi menurut kami. Kami berangkat dari Yogyakarta kira-kira jam set 7 pagi. Kami sengaja tidak camping karena memang niatnya hanya tik tok ( naik lalu turun langsung). Berbekal tanya ke teman, pendakian ke Andong ini membutuhkan waktu maksimal 2 jam untuk sampai di puncaknya. 

Sebelum tiba di area base camp Sawit, kami melewati Ketep Pass. Angin waktu itu kencang sekali, sampai plastik penutup tanah pun ikut terbang. Saya melihat atap-atap rumah penduduk ambruk dan rusak. Banyak pepohonan pun ikut tumbang di jalanan. Jun mulai mengurangi kecepatan motornya, karena angina semakin kencang. Di tengah perjalanan pun kami berjumpa dengan tim sar dan BPDP, mereka sepertinya sedang mengevakuasi. Beberapa warga berkumpul di depan rumah dan di jalanan. 

Saya mulai berpikir positive saja semoga di atas nanti anginnya tidak sekencang ini.

Kira-kira perjalanan menghabiskan waktu selama 2 jam. Tibalah kami di base camp Sawit yang letaknya di Dusun Sawit. Petunjuk ke base camp Sawit ini cukup jelas, saya pun hanya berbekal maps dari Google. Tanpa basa-basi, kami berhenti dan parker motor. 

Loketnya seperti wartel gitu kecil dan hanya ada satu petugas. 
“ Mas,  bayar buat 2 orang dan 1 motor ya”
“oiya mbak, totalnya tiga puluh ribu”

Saya pun menyerahkan uangnya dan menerima tiket masuk beserta kertas alur pendakian.

Gerbang pintu masuk pendakian

Oh iya di sini tidak perlu khawatir dengan kamar mandi ya, karena di sepanjang jalan menuju gapura pintu masuk hutan ada beberapa kamar mandi. Saya pun sebelum naik ke atas memutuskan untuk ke kamar mandi dulu. Setelah selesai kami berdua pun jalan menuju ke gapura. Gapura ini menjadi pintu awal pendakian sebelum akhirnya masuk ke hutan. Awal masuk ke gapura, jalanannya sudah baik pun sudah dipaving. Setelah itu start pendakian barulah dimulai. 

Pertama-tama saya masuk di area goa licin. Di sini saya hanya melewati beberapa anak tangga hingga akhirnya masuk ke are hutan. Menurut saya, treknya cukup nyaman dan tidak menyusahkan. Waktu itu saya lihat ada beberapa warung, hanya saja waktu itu warungnya tutup.

Pos 1

Kira-kira saya sudah berjalan selama 30 menit dan akhirnya tiba di pos 1 yaitu Pos Kemuning. Di Pos 1 ini hanya ada gubug kecil untuk tempat beristirahat. Saya menghela napas panjang dan sesekali memotret pemandangan. Di tengah perjalanan pun Jun mulai mengeluh karena angina semakin kencang dan pasir makin berterbangan masuk ke matanya. 

“ aduh mata ku kelilipan lagi nih, kamu bawa kacamata lebih gak?”
Aku pun menjawab “ aku ga bawa, kayaknya kamu perlu beli kacamata deh” 

Setiap ada pendaki turun saya agak menjauh karena takut terkena deburan pasirnya haha, ya meski saya pake kacamata tapi tetap saja, mata saya juga bias kemasukan pasir-pasir. 

Di pos 1 ini kami meghabiskan waktu kira-kira 5 menitan. Niatnya naik gunung ini cuma satu, untuk ngilangin kangennya naik gunung karena sudah setahun kami gak naik gunung. Setelah 5 menit berakhir, kami melanjutkan lagi perjalanan menuju pos 2. 

Jalanan menuju pos 2 ini mulai banyak menanjaknya dan jarang bonus seperti di awal saat mau ke Pos 1, jadi siapkan staminamu. Di tengah perjalanan angin makin kencang, pasir yang terbang ke langit pun terlihat jelas. 

Jun pun bilang ke saya “coba lihat itu, pasirnya lho terbang sampe ke atas-atas”
Kami berdua tetap melanjutkan perjalanan. Kira-kira butuh waktu 20-30 menit kami sudah tiba di pos 2 atau disebut dengan Pos Dewandaru.  Kami langsung duduk-duduk di gubug sambil melihat ke bagian atas. 

Di pertengahan menuju pos 2

Pemandangan di pos 2 ini bagus sekali, cuaca lagi cerah tapi panas juga. Angin pun terasa hangatnya. Kami saling bergantian untuk berfoto-foto. Pemukiman penduduk terlihat bagus dari atas pos 2 ini. 

Jun bilang “ nanti kalo kita ga sampe puncak, angina semakin kencang kita balik saja ya”
Aku pun menjawab “ iya balik saja gamalasah” 
Jun menyauti “ Ya daripada kita sakit paru-paru pulang dari sini to, karena debu pasir masuk ke pernafasan”.

Saya mengambil petunjuk pendakian, untuk sampai ke puncak kami harus melewati 2 tempat lagi yaitu Pos 3 Watu Wayang dan camp area selanjutnya sampai deh di puncak Andong. Di tengah pos 3  dan camp area ada puncak makam. 

Setelah beristirahat kami melanjutkan lagi perjalanan ke pos 3. Kira-kira sudah jalan beberapa langkah, Jun meminta saya untuk putar balik dan turun karena angina makin kencang dan pasir makin terbang ke atas. 

“ ayo kita turun aja, angina makin kencang gak sehat ini, kamu yang turun dulu ya, biar pasirnya gak kena ke aku, nanti tunggu di pos 2”.
Saya pun menjawab “ oke turun”.

Berhubung saya turunnya agak lama jadilah Jun akhirnya mendahului saya.
Kami turun perlahan dan berakhir dengan foto-foto di tengah hutan. Meski gak sampe puncak, kami sudah senang sekali karena bias lihat pohon-pohon pinus dan dengar suara burung. Karena kami berangkat di hari Senin, Gunung Andong ini tidak terlalu ramai ya sepi-sepi aja gitu. 

Apabila kalian berencana ke Andong dekat-dekat ini usahakan pantau kondisi cuaca. Apabila kondisi di tengah jalan tidak memungkinkan,ya turun saja tidak perlu dipaksakan. 

Catatan :
Tiket masuk @person : Rp. 12.500
Tiket parkir @motor: Rp. 5000
Parkir @bus: Rp. 50.000
Parkir @mobil: Rp. 10.000