19 Apr 2021

Menuntaskan Merbabu: Sebuah Hutang dan Janji

Sekira bulan Mei 2015, saya sempat mendaki Gunung Merbabu. Kala itu kami berduapuluhan orang, memanfaatkan libur kuliah. Pendakian saat itu tidak sampai puncak, karena kami terjebak hujan hingga menjelang siang di Sabana I, terlebih lagi waktu yang mengejar kami di bawah. Walaupun yang dikejar jadwal kegiatan hanya satu orang, kami berprinsip "jika berangkat bersama, maka pulang harus bersama". Hujan dan Idealisme membuat saya menunda untuk menginjakkan kaki di Kenteng Songo. Saya dan seorang sahabat bergumam "tenang, Merbabu gak akan kemana-mana, suatu saat kita kesini lagi".

Tiga tahun kemudian, pada bulan Agustus 2018 saya berkesempatan untuk mendaki Gunung Merbabu lagi. Saat itu saya sedang ada urusan di Yogyakarta, ketika mas Rifqi Papan Pelangi mengajak saya untuk mendaki Gunung Merbabu. Pendakian kali ini tidak berduapuluhan, tapi hanya berdelapan, yaitu saya, Lidia, mas Rifqi, mbak Dian, mbak Sukma, mbak Igna, Mas Eko, dan mas Aliko yang berangkat sendirian dari Solo. Saat itu, hanya Lidia dan mas Rifqi yang saya kenal, yang lainnya baru pertama kali bertemu, benar-benar asing.

Kami yang dari Yogyakarta memulai perjalanan ketika pagi masih remang, bahkan sebelum matahari menampakkan dirinya. Kami dijemput di sebuah hotel yang kebetulan juga dekat dengan kos mbak Sukma, di Jalan Kaliurang. Mobil mulai berjalan, merayap di jalanan aspal yang masih dingin oleh embun pagi. lurus ke arah utara menuju Magelang. Tak sampai kota Magelang, mobil berebelok kanan menuju arah timur, tepatnya di Muntilan. Dari Muntilan jalanan mulai menanjak walaupun masih cukup landai, dengan ditemani matahari yang mulai membuat perjalanan kami menghangat. Jalanan terus menanjak mengitari lereng barat merapi, kemudian terus ke lereng utara. Pemandangan di jalur ini sangat indah, melewati beberapa pasar tradisional. Keributan pasar tradisional menjadi hiburan tersendiri bagi kami, ditemani dengan suara raungan mesin mobil tua yang kami tumpangi.

Menjelang pukul tujuh atau mungkin pukul delapan, saya tidak ingat pasti, kami sampai di Selo. Sesampainya di Selo kami beristirahat di salah satu rumah warga yang kebetulan sudah menjadi tempat istirahat para pendaki sebelum mulai mendaki ke Merbabu, lupa rumah siapa. Disini kami sarapan nasi pecel, dengan teh hangat yang asapnya seakan berlomba-lomba dengan kabut pagi di luar rumah. Ya, saat itu turun kabut. Saat kabut semakin tebal, ingatan saya melayang ke tahun 2015 saat kesini pertama kali. Ketakutan yang sama muncul kembali, "apakah akan hujan?", "apakah kabut akan terus semakin tebal?", ada rasa kecewa, trauma, dan diikuti rasa ragu. Tapi saya teringat perkataan seorang sahabat, "ragu-ragu mundur!". Saya tersadar dari lamunan, kesadaran yang serta merta menepis rasa keraguan itu, saya membatin, "kali ini aku tidak boleh mundur". Kesadaran sudah kembali, saya habiskan teh hangat yang sudah mulai mendingin.

Sekira pukul sembilan, kami mulai mengemas ulang ransel kami untuk bersiap menuju perizinan. Semua sudah siap, saatnya berdoa, merapal mantra kepasrahan, sebagai puncak pengharapan agar perjalanan baik-baik saja dan tak sia-sia. Kami menuju Pos perizinan, gerbang pertama bagi para pendaki. Kami mendaki dengan santai, tak terburu-buru. Kami nikmati setiap langkah, tiupan angin yang mendesir di daun telinga, debu yang beterbangan karena pijakan kaki sendiri, daun yang bergoyang mengikuti kemana angin mendorongnya. Ingatan kembali melayang ke tahun 2015, kala itu perjalanan menuju Pos 3 kami lewati bersama hujan. Saya kala itu bahkan tak memakai jas hujan, baju basah membuat udara semakin dingin, sungguh pendakian yang penuh perjuangan.

Kembali ke 2018, siang hari kami sampai di Pos 3. Pos 3 ini menjadi tempat beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan melewati tanjakan terparah di jalur Selo. Bagaimana tidak, jalurnya saja nyaris vertikal, tak ada jalur pendakian yang bisa dilihat dari Pos 3, semua terlihat seperti tebing tanah, saking curamnya. Setelah puas beristirahat, kami melanjutkan perjalanan melewati tanjakan yang saya sebutkan tadi. Karena udara saat itu sangat terik, jalur tanah berubah menjadi debu yang sangat ringan, yang mudah sekali melayang mengganggu paru-paru dan hidung yang sedang bekerja keras. Lagi-lagi teringat memori tiga tahun lalu, saat melewati tanjakan ini tak ada debu, tanah menjadi padat. Tak ada yang mengganggu paru-paru bekerja, tapi tanah padat itu menjelma menjadi jalur air yang licin, yang bahkan seorang teman ada yang membaca syahadat, merapal basmalah, dan ada yang istighfar. Sebuah rapalan mantra religius yang sama sekali tidak saya duga akan keluar dari mulut-mulut orang yang -bisa dikatakan- tidak terlalu religius. Bisa dibayangkan bagaimana ketakutan ketika melewati tanjakan saat itu, betapa licinnya, betapa takutnya terpelanting ke bawah, juga bagaimana ketakutan-ketakutan itu sampai membangkitkan perasaan kedekatan dengan Tuhan. Ingatan-ingatan itu membawa saya kembali ke saat ini, yang kontras sekali, debu beterbangan, tak ada rasa takut yag sebesar tiga tahun yang lalu. Namun tetap, rapalan doa itu tertanam di hati.
Tanjakan menuju Sabana I, tahun 2015. Tanah menghitam dan licin.

Sampai di Sabana I hari sudah siang menjelang sore, di Sabana I saya hanya menengok tempat mendirikan tenda tiga tahun yang lalu. Tergambar jelas guyonan-guyonan dan tertawa tiga tahun yang lalu. Kami tak berlama-lama di Sabana I, karena kami tidak ingin sampai di Sabana II dalam keadaan gelap. Dari sinilah saya melepas ingatan-ingatan tiga tahun yang lalu, karena yang akan saya lalui di depan adalah jalur yang benar-benar asing. Jalur menuju Sabana II ternyata berupa tanjakan, namun masih lebih landai daripada sebelumnya. Disini saya sempat bertukar ransel dengan mas Rifqi, yang beratnya mungkin lebih dari 30kilogram. Lumayan terasa, tapi tidak apa-apa, anggap saja olahraga.

Tempat mendirikan tenda di Sabana I, tahun 2015

Sampai di Sabana II tak banyak yang kami lakukan, langsung mendirikan tenda, masak, dan bersiap untuk tidur. Malam hari kami harus istirahat cukup, karena besok perjalanan yang masih lumayan berat harus dilalui. Karena tidak boleh mundur, harus muncak.

Subuh kami sarapan, bersiap melakukan pendakian menuju puncak. Bayangan Kenteng Songo melayang-melayang di pikiran saya, ingatan janji dengan sahabat saya pun teringat. Saya harus menuntaskan hutang ini, walaupun tanpa dia, ya karena kesibukannya akhir-akhir ini. Tanjakan menuju puncak ternyata sama curamnya dengan tanjakan menuju Sabana I dan Sabana II, setidaknya level kecuraman jalur puncak berada di antaranya. Syukurlah, pendakian ke puncak ini tidak membawa beban yang terlalu berat.

Singkat cerita kami sampai di Puncak. Sampai di puncak saya bertanya-tanya dalam hati, "Kenteng Songo yang berupa batu-batu bulat itu di sebelah mana?". Sejauh mata memandang, hanya ada ada plang yang menandakan bahwa itu adalah puncak, tapi tak ada Kenteng Songo. Dalam hati saya berkata, "saya harus menemukan Kenteng Songo". Karena hutang adalah hutang, hutang Kenteng Songo harus pula dibayar dengan Kenteng Songo. Setelah kawan-kawan turun lebih dulu, saya melanjutkan mencari jalur menuju Kenteng Songo, ternyata persimpangan dua puncak ini tidak terlalu jauh. Di persimpangan, saya menelusuri jalan yang berlawanan dengan jalan yang kami lewati tadi. Sampai di atas ada tanah lapang, sayu-sayup terdengar suara pendaki, kemudian terlihat bendera merah putih. Di dasar tiang bendera itu saya melihat banyak batu berbentuk bola yang berlubang, "Kenteng Songo! Akhirnya hutangku lunas".

Kenteng Songo

Kenteng Songo

Tak bisa diungkapkan betapa bahagianya saya saat menginjakkan kaki di Puncak Kenteng Songo, saya pun mengambil beberapa foto, bersiap menunjukkan dan menceritakan kepada sahabat saya, "Mang, aku wes nang Kenteng Songo". Namun kesempatan itu tak pernah sampai, saya tidak pernah menunjukkan dan menceritakan perjalanan Merbabu ini kepada sahabat saya secara langsung. Karena sekitar bulan November 2018, sahabat terdekat saya, Manggala Pudyastawa Almukarromin, dikabarkan meninggal dunia. Kabar itu membuat saya terpukul, tapi tak apa, biarkan saya simpan dulu cerita ini. Hingga akhirnya, saya kembali menceritakan pendakian Merbabu di blog ini, yang anda baca barusan. Semoga menikmati!

Kenteng Songo

3 komentar:

  1. sering lewat selo-cepogo, tapi belum pernah naik ke merbabu hehe

    BalasHapus
  2. Cerita pendakian yang menjadi kenangan ya Kak.
    Semoga temannya diterima amal ibadahnya dan ditempatkan ditempat yang terbaik ya Kak, aamiin...

    BalasHapus
  3. Seorang sahabat pasti meninggalkan bekas mendalam ya, Jun. Kepergiannya sudah bertahun-tahun lalu, tapi kita serasa baru kemarin bertemu.

    Aku tak ingin menggurui, tapi mungkin di waktu-waktu yang akan datang kau akan mendaki gunung sekaligus menziarahi kenangan bersama sang mendiang :)

    BalasHapus

Terima Kasih Pembaca Mesra Berkelana

Tinggalkan komentarmu dan kita makin saling akrab ~