Mendengar kata Bogor, tentu yang terlintas di kepala adalah kota hujan. Bogor memang benar adanya disebut sebagai kota hujan. Saya pernah beberapa hari mencoba untuk nginap sejenak di Bogor, menjauh dari riuhnya Jakarta.

Awalnya saya gak percaya kalo Bogor bakalan diguyur hujan meski pada bulan April harusnya sudah masuk musim kemarau. Pernah juga saya terjebak banjir karena hujan 3 hari berturut-turut tidak ada hentinya. Mulai dari pagi hingga malam dan kembali ke pagi hari.

Meski terminal Baranangsiang ini terkenal macet dicampur debu dan polusi kopadjanya, tetap saja Bogor ini banyak sisi sejuknya.

Oiya saya ingat sekali, makanan favorit saya saat main ke Bogor adalah aneka asinan. Mulai dari asinan mangga, pala yang asam kecut dan makan oncom haha

Asinan Bogor.  Sumber: id.wikipedia

Saya suka sekali menyusuri jalanan pasar-pasar induk di Bogor. Pagi-pagi hari saya mencari kue lupis dan makan soto di pasarnya. Tapi, dari keseluruhan itu yang saya suka lagi dari Bogor adalah kekayaan alamnya.

Sebelum menuju wisata alamnya Bogor, teman saya menawarkan banyak Curug untuk kami jelajahi. Saya awalnya bingung, sebenarnya Curug ini apa ya ? Ternyata orang Bogor menyebut Air Terjun dengan sebutan Curug. Filosofinya bagaimana bisa disebut dengan Curug pun, saya tidak tahu sampai saat ini.

Peta Curug Nangka Sumber : @adreka_75

Curug Nangka sumber : Instagram @adreka_75

Setelah berpikir panjang, akhirnya pilihan saya jatuh pada Curug Nangka. Karena dulu belum ada angkutan online dan kami berangkat ber-4, akhirnya kami memilih untuk naik angkutan umum dan berpindah-pindah dari satu angkutan ke angkutan yang lain. 

Rasanya nyaman sekali, hampir setiap hari  kami naik angkutan umum. Tapi beruntungnya, angkutan umum di Bogor ini bersih dan meriah. Rasanya saya seperti tidak naik angkot haha beda jauh lah dengan di Surabaya.

Perjalanan ditempuh dari Terminal Baranangsiang ke Curug Nangka, kurang lebih satu setengah jam. Untungnya lalu lintas tidak begitu padat, karena kami memilih hari aktif hihi.

Makin lama, udara makin terasa sejuk saat mulai memasuki pegunungan Halimun Salak. Waktu itu Curug Nangka sangat sepi, hanya ada kami ber-4 dan sepasang kekasih. Curug Nangka ini cocok untuk wisata keluarga, karena medan yang ditempuh tidak terlalu berat. Membawa keluarga pun tentu tidak akan kerepotan. Airnya segar sekali, wajib lah kalian mandi di sini atau minimal celup-celupin kaki aja.

Saya bersama teman-teman saya kebetulan membawa perbekalan. Akhirnya kami makan rujak sambil melihat air terjun dan celupin kaki. Di sini saya menghabiskan waktu kira-kira 3 jam. Gak terasa lho sudah siang. Karena takut gak kedapetan angkot dan malah jalannya makin jauh, akhirnya kami memutuskan untuk balik sebelum sore datang.

Oiya karena dulu villanya belum sebanyak sekarang, makanya kami memilih untuk pulang saja ke kota. Etapi karena sekarang sudah banyak sekali villa maupun hotel dan pesan pun gampang tinggal buka aplikasi Pegipegi. Ada baiknya sepulang dari curug langsung rehat sejenak di Villa atau pun hotel yang lokasinya tidak jauh dari curug.

Karena dulu belum ada sistem cari penginapan secara online, jadinya pasti ribet banget kalo harus keliling dulu dan keburu capek gitu. Nah sekarang sudah ada nih Pegipegi.com

Buat cari mau menginap di villa mana, caranya gampang tinggal download aplikasi Pegipegi lalu pilih Hotel dan klik bagian hotel lalu pilih Villa Bogor, nah nanti akan muncul beragam villa di puncak dan bisa pilih-pilih sesuai budget kamu. 

Tampak bagian depan aplikasi pegipegi
Di bagian ini kamu bisa pilih bagian hotel untuk mencari Villa untuk staycation :D, sebetulnya gak Villa aja sih, kereta api juga bisa, pesawat dan terpenting jangan lupa masukkan kode promo biar dapet kode potongan.

Nah dari sini kelihatan kan ? Kalo Villa di Bogor tuh banyak banget 

Coba pilih Villa di Puncak 


Nah ketemu deh, langsung aja transaksi dan bayar. Jangan lupa kode vouchernya biar dapet diskon :D



Mudah bukan ?

Jadi kapan lagi teman-teman mau nyobain bobo Villa di puncak dekat dengan Curug hihi.


ps : perjalanan dilakukan tahun 2008